Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘syirik’

Jangan Karena Iseng Kau Pertaruhkan Akidahmu

Sahabat ELSUNNAH, pasti pernah dengar apa yang namanya Ramalan Zodiak atau Horoskop. Ramalan singkat yang berisi tentang kehidupan pribadi, asmara, karir, keuangan, ataupun yang lainnya. Zodiak atau horoskop ini biasanya muncul di majalah-majalah, layanan SMS, atau pun ramalan sejenis muncul sebagai aplikasi-aplikasi yang tersebar di sosial media. Tahukah sahabat bahwa ramalan ini dilarang keras dalam islam?

“Tapi saya hanya iseng, ga betul-betul percaya ko..” Mungkin sebagian kita hanya berdalih iseng, cuma baca-baca tidak percaya terhadap isinya.

Tahukah sahabat, sekalipun hanya membaca dan tidak mempercainya, itu sudah termasuk dosa yang besar. Ancamannya adalah sholatnya selama 40 hari tidak Allah ta’ala terima.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230)

Dan lebih parah lagi jika ia membenarkan apa yang dikatakan oleh ramalan tersebut. Maka ia terjatuh dalam kekufuran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan)

Syaikh Sholih Alu Syaikh hafizhohullah mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih Alu Syaikh Bab “Maa Jaa-a fii Tanjim”)

Semoga Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menjaga kita dari hal-hal yang dapat merusak akidah kita.

Sebarkan jika Anda menyukai tulisan ini, insya Alloh pahala besar menanti Anda.

Diteruskan oleh
ELSUNNAH Tausiyah WhatsApp Broadcast (ELSUNNAH TWB)
Daftar: 089616695643 (via WA)
Arsip ELSUNNAH http://goo.gl/qlZ1Kd
http://www.elsunnah.wordpress.com

ELSUNNAH BC

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Layanan Tausiyah WhatsApp Gratis dari ELSUNNAH dan Konsultasi Syariah Klik Di Sini

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH

Bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah ini.
Like, Comment, and Share

Iklan

Apabila Dihinggapi Rasa Takut dan Kesepian Ketika Tidur

doa-takutApabila Dihinggapi Rasa Takut dan Kesepian Ketika Tidur

Agama kita yang sempurna telah mengajarkan kepada kita berbagai hal. Di antaranya adalah doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan ketika kita mengalami perasaan takut dan kesepian ketika tidur.

Keadaan seperti ini wajar terjadi menghinggapi seseorang terutama ketika seseorang berada pada malam hari dan dalam keadaan sendiri. Ketika hal ini terjadi maka hendaknya seseorang memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala. (lebih…)

Pembatal Keislaman (1): Syirik Dalam Beribadah Kepada Alloh

syirikSebesar-besar perkara yang menjadikan seorang murtad adalah syirik dalam beribadah kepada Alloh , yaitu dia beribadah kepada Alloh  juga beribadah kepada selain-Nya. Seperti do’a, menyembelih, nadzar, istighotsah (minta diselamatkan dari perkara yang sulit dan membinasakan), isti’anah (memohon pertolongan) dalam perkara yang tidak mampu untuk melaksanakannya melainkan hanya Alloh , berdo’a kepada mayit, istighotsah kepada kuburan, meminta pertolongan kepada orang yang telah mati, bahkan ada juga istilah-itilah yang sudang ngetrend di sekitar kita seperti “numpang”, “permisi” kepada pohon “keramat” atau kuburan ketika melewatinya.

Ini adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling besar, mayoritas orang yang mengaku Islam telah terjatuh padanya, menyembelih untuknya, bernadzar dan mendekatkan diri padanya. Mereka mengatakan bahwa hal ini dalam rangka mendekatkan diri mereka kepada Alloh , mereka mendekatkan diri padanya dengan anggapan bisa mendekatkan diri mereka kepada Alloh . Alloh  telah berfirman: (lebih…)

Kesyirikan Syiah terhadap Sebagian Ahlul Bait

Syiah SesatKesyirikan terhadap Sebagian Ahlul Bait (Menempatkan Sebagian Ahlul Bait pada Derajat Uluhiyah)

Termasuk dari sikap ghuluw kaum Syi’ah terhadap Ali radhiallahu’ anhu adalah pernyataan penyusun Antologi Islam menyatakan bahwa tidak ada orang yang dapat melintasi shiroth (jembatan di atas neraka) kecuali dengan izin ‘Ali. Keyakinan semacam ini jelas syirik sebab hanya Alloh subhanahu wata’ala sajalah yang dengan izin-Nya seseorang dapat selamat melintasi shiroth atau celaka.

Al-Kulaini juga meriwayatkan dalam Ushul al-Kaafi pada bab: Innal Ardho kullaha lil-Imaam sebuah perkataan dari Imam Abu Abdillah  yang berkata, “Dunia dan akhirat itu milik imam. Ia meletakkannya sebagaimana yang ia inginkan dan memberikannya kepada siapa yang ia inginkan.(lebih…)

Syirik, Virus Kemurnian Islam

Jangan-SyirikBerabad-abad lamanya Iblis berusaha menebarkan benih virus ini ke tubuh kaum muslimin.  Sejak pertama kali Alloh mengutus Adam as ke bumi ini dan dijadikannya seorang Nabi untuk menjalankan Islam yang murni mendakwahkan dan mengawalnya. Iblis terus menyebarkan virus ini namun ia tidak  mampu untuk memasukkan virus ke dalam tubuh kaum muslimin saat itu. Sepuluh generasi lamanya menanti, Iblis baru bisa memasukkan virus keyirikan ini…

Saudaraku kaum muslimin…!

Sangat mengerikan sekali ketika melihat realita yang terjadi pada umat ini. Ketidaksadaran umat akan bahaya kesyirikan, mereka begitu menikmati ritual-ritual keyirikan ini, sesama makhluk saling menyembah yang lainnya, memberikan sifat-sifat, hak-hak Alloh atau memberikan peribadatan yang seharusnya dipersembahkan kepada Alloh ternyata diberikan kepada Dzat selain-Nya baik sebagian maupun seluruhnya serta menyamakan Alloh dengan makhluk-Nya atau menjadikannya sebagai tandingan-Nya. Itu semua dianggap sebagai aset budaya bangsa yang harus dilestarikan, padahal kesyirikan inilah penyebab terbesar dari semua jenis keterpurukan. (lebih…)

Gambar

Memakai Jimat Itu Syirik

jimat - mutiara hadits pilihan

Fenomena Ahli Hikmah

“Ahli hikmah”, itulah gelar atau panggilan yang lazim masyarakat memberikannya kepada seorang ustadz atau kiyai yang suka membuat zimat, wafaq, rajah dan memiliki ilmu kebatinan seperti bisa menangkap jin, atau bisa mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Mereka meyakini ilmu “hikmah” ini adalah ilmu yang tidak bisa dipelajari, dan ilmu ini adalah pemberian khusus dari Allah subhanahu wata’ala yang diberikan hanya kepada orang-orang tertentu, mereka merujuk kepada firman Allah subhanahu wata’ala:

“Allah menganugerahkan Al Hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al Baqoroh: 269). (lebih…)

Wafaq antara kedholiman dan tipuan

Suburnya pertumbuhan dan perkembangan wafaq di Indonesia dengan berbagai jenis dan bentuknya serta beragam fungsi dan manfaatnya, menjadikan benda mati tersebut mashur dan terkenal, hampir mayoritas kaum muslimin mengenal dan menganggapnya hal yang lumrah, bahkan sebagian mereka menjadikannya sebagai “kebutuhan” dalam kehidupan sehari-harinya.

Tentunya pesat perkembangan wafaq ini tidak lepas dari peran aksi para dukun yang “sok” menjadi pahlawan “penjerumus kesesatan”, dengan memasang iklan di Internet atau media elektronik lainnya. Sehingga wafaq sudah menjadi komoditi dagang yang laris di jual.

Realitanya banyak orang yang tertipu, mereka ngantri membeli dan pesan wafaq setiap harinya, baik untuk pelancar rezeki, supaya disayang pacar atau suami/istri, agar tampil berani melawan musuh dan lain-lain, sesuai keinginan dan pesanan konsumen. (lebih…)

Negeriku “Negeri 1001 Hantu”

Belum lama ini sebagian masyarakat Ciranjang Jawa Barat menjadi resah karena “si rawing” telah menampakkan dirinya di sungai Cisokan-Ciranjang (salah satu sungai selain Citarum yang dilewati jalur Jakarta-Bandung via Puncak).

“Si Rawing” orang-orang setempat me-nyebutnya demikian, seekor ikan siluman beranting yang diyakini oleh warga setempat bahwa ikan tsb (si rawing) jika telah menam-pakkan dirinya ke permukaan sungai maka pasti akan terjadi musibah atau kecelakaan di daerah itu. Sehingga setiap kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di sekitar jembatan Cisokan baik kecelakaan lalu lintas ataupun kecelakaan lainnya pasti dikaitkan dengan aksinya “si rawing”.

Ini merupakan salah satu gambaran yang memprihatinkan dari sekian ratus fenomena yang ada di masyarakat Indonesia. Seperti di Demak Jawa Tengah juga digegerkan oleh isu tentang “Hantu Cekik”. Banyak pengakuan korban yang mengaku dicekik oleh hantu cekik saat tidur sendirian. Memang, negeri kita ini paling kaya akan nama dan jenis hantu. (lebih…)

Ghuluw, Virus aqidah sepanjang zaman

Sudah 14 abad usia agama islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam semenjak beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rentang waktu yang panjang sekali, sangat memungkinkan menjadi penyebab jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Apalagi, umat ini terus berganti generasi demi generasi bersamaan dengan masuknya pemahaman dan virus-virus dari iblis dalam rangka menghancurkan aqidah islam yang murni. Sehingga banyak kita jumpai sekarang ini penampilan Islam yang berwarna-warni, baik dari amalan, ucapan, dan keyakinan.

Penyakit yang disebabkan oleh virus mengerikan ini telah dibikin dan disebarkan oleh Iblis semenjak kaum Nabi Nuh alaihissalam, dan terus tak henti-hentinya di tularkan oleh iblis dan bala tentaranya kepada manusia sampai saat ini. Penyakit inilah yang telah menggerogoti aqidah  kaum Nabi Nuh alaihissalam dan menjadikan mereka berbuat syirik. Penyakit mengerikan yang harus kita waspadai itu adalah: “ghuluw” (berlebih-lebihan) kepada ulama atau orang sholeh baik ketika masih hidup atau setelah meninggal dunia.

Ghuluw yang berarti berlebihan dalam mencintai, menganggungkan dan mengangkat seseorang di atas kedudukan yang semestinya. Sebagaimana mengangkat derajat ulama atau kiyai pada posisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam atau bahkan pada posisi Allah subhanahau wata’ala. (lebih…)

Empat Kaidah Memahami Tauhid Syarah Qowa’id al-Arba

Penulis: Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Tauhid adalah suatu perkara penting bagi seorang muslim untuk memahaminya. Sebab poros dari agama Islam sejak awak diciptakannya manusia hingga hari kiamat nanti adalah tauhid.

Bagaimana mungkin seorang muslim yang tidak mengenal apa itu tauhid dan syirik, bahkan menganggao syirik itu tauhid atau sebalinya bisa masuk jannah?

Kitab ini menjelaskan tentang empat kaedah penting untuk memahami permasalahan tauhid dan syirik, diuraikan secara ringkas dengan bahwa yang insya Allah mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan, dengan harapan dapat memberikan manfaat dan faedah kepada islam dan kaum muslimin.

DOWNLOAD

Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !

Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat.

Alloh berfirman,

“Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120).

Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. (lebih…)

RIYA’ DALAM BERIBADAH

Di antara syarat diterimanya amal shaleh adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat oleh orang lain, maka ia telah terjerumus kepada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya melaksanakan shalat agar dilihat orang lain.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan Allah. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (Q.S; An Nisaa’: 142).

Demikian pula jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, maka ia termasuk syirik kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassala memberikan peringatan kepada mereka dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu:

“Barangsiapa melakukan perbuatan sum’ah (ingin didengar oleh orang lain), niscaya Allah akan menyebarkan aibnya, dan barang siapa melakukan perbuatan riya’, niscaya Allah akan menyebarkan aibnya”. (Hadits riwayat Muslim, 4/ 2289.)

Barang siapa melakukan suatu ibadah tetapi ia melakukannya karena mengharap pujian manusia di samping ridha Allah Subhanahu wata’ala, maka amalannya menjadi sia-sia belaka, seperti disebutkan dalam hadits qudsi :

“Aku adalah yang Maha Cukup, tidak memerlukan sekutu, barang siapa melakukan suatu amalan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya”. (Hadits riwayat Muslim, hadits; No : 2985.)

Barang siapa melakukan suatu amal shaleh, tiba-tiba terdetik dalam hatinya perasaan riya’, tetapi ia membenci perasaan tersebut dan ia berusaha untuk melawan serta menyingkirkannya, maka amalannya tetap sah.

Berbeda halnya jika ia hanya diam dengan timbulnya perasaan riya’ tersebut, tidak berusaha untuk menyingkirkan dan bahkan malah menikmatinya, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama, amal yang dilakukannya menjadi batal dan sia-sia.

Sumber:

“Dosa-dosa yang Dianggap Biasa” oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh al Munajjid Bab 2 RIYA’ DALAM BERIBADAH

Syirik

Syirik atau menyekutukan Allah Azza wa Jalla adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang

diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar (tiga kali) ? mereka menjawab: ya, wahai Rasulullah! beliau bersabda: ‘Menyekutukan Allah’ “. (Muttafaq ‘alaih. Bukhari, hadits; No: 2511 cet. Al Bugha)

Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah Azza wa Jalla, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah  berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya”. (Q.S; An Nisa: 48).

Di antara bentuk syirik adalah syirik besar. Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan, jika meninggal dunia dalam keadaan demikian, maka ia akan kekal di dalam neraka. Di antara fenomena syirik yang umum terjadi di

sebagian besar negara-negara Islam adalah:

  • Menyembah Kuburan

Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini, mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia”. (Q.S; Al Isra’ :23).

Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para Nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafa’at atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan ( yang lain )?”.  (QS An Naml: 62)

Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, di setiap situasi sulit, ketika ditimpa petaka, musibah atau kesukaran hidup. Di antaranya ada yang menyeru: “Wahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut: “Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut: “Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut: “Wahai Rifai”. Yang lain lagi: “Al Idrus sayyidah Zainab”, ada pula yang menyeru: “Ibnu ‘Ulwan”, dan masih banyak lagi. Padahal Allah Azza wa Jalla telah menegaskan:

“Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu”. (Q.S; Al A’raaf: 194).

Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium disetiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian mereka bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat kepada mereka. Ada yang minta disembuhkan dari penyakit, mendapatkan keturunan, dimudahkan urusannya dan juga tak jarang di antara mereka yang menyeru: “Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh, maka janganlah engkau kecewakan aku”. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. (Q.S; Al Ahqaaf: 5).

Nabi Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah Azza wa Jalla, niscaya ia akan masuk neraka”. ( Hadits riwayat Bukhari, Fathul Bari : 8/ 176)

Sebagian mereka, mencukur rambutnya di perkuburan, sebagian lagi membawa buku yang

berjudul: “Manasikul hajjil masyahid” (tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan dengan masyahid adalah kuburan-kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan untuk mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi mudharat dan manfaat. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya”. (Q.S; Yunus: 107).

Termasuk perbuatan syirik adalah bernadzar untuk selain Allah Subhanahu wata’ala, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar untuk memberi lilin dan lampu bagi para penghuni kubur. Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. (Q.S; Al Kautsar: 2).

Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala dan atas nama-Nya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”. (Hadits riwayat Muslim, kitab shahih Muslim; No : 1978, tahqiq. Abdul Baqi)

Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan;

Pertama: Penyembelihannya untuk selain Allah Subhanahu wata’ala, dan kedua: Penyembelihannya dengan atas nama selain Allah Subhanahu wata’ala. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah- yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin. (Lihat Taisirul Azizil Hamid , cet. Al Ifta’. Hal: 158 )

Di antara contoh syirik besar -dan hal ini umum dilakukan- adalah menghalalkan apa yang

diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala atau sebaliknya. Atau kepercayaan bahwa seseorang memiliki hak dalam masalah tersebut selain Allah Subhanahu wata’ala. Atau berhukum kepada perundang-undangan jahiliyah secara sukarela dan atas kemauannya, seraya menghalalkannya dan kepercayaan bahwa hal tersebut dibolehkan. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan kufur besar ini dalam firman-Nya:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. (Q.S; At Taubah: 31).

Ketika Adi bin Hatim Radhiallahu anhu mendengar ayat tersebut yang sedang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wassallam ia berkata: “orang-orang itu (Yahudi) tidak menyembah mereka (para alim dan rahib-rahibnya). Rasulullah Shallallahu ‘alahi wassallam dengan tegas bersabda:

“Benar, tetapi meraka (orang-orang alim dan para rahib itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, sehingga mereka menganggapnya halal. Dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, sehingga mereka menganggapnya sebagai barang haram, itulah bentuk ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib.” (Hadits riwayat Baihaqi, As Sunanul Kubra; 10/ 116. Sunan Tirmidzi; No: 3095. Syaikh AlBani rahimahullah menggolongkannya kedalam hadits hasan. Lihat Ghaayatul Maram : 19)

Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan, di antara sifat orang-orang musyrik adalah sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan meraka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak

beragama dengan agama yang benar (agama Allah)”.(Q.S; At Taubah: 29).

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan kedustaan atas Allah?”. (Q.S; Yunus: 59).

Termasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan mereka mempelajari sesuatu yang member mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat”. (Q.S; Al Baqarah: 102).

“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. (Q.S; Thaha: 69).

Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir

(mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Q.S; Al Baqarah: 102).

Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan kepadanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, memohon kesembuhan dengan Kalam-Nya, seperti dengan mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.

Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan kepadanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat

garis di atas pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan, cangkir, bola kaca, cermin, dan sebagainya.

Jika sekali waktu mereka benar, maka Sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengenang, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan,

mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya. Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”.(Hadits riwayat Ahmad; 2/ 429 dalam Shahihul Jami’)

Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Barang siapa mendatangi peramal, lalu ia menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam”.(Shahih Muslim, 4/ 1751)

Hal ini harus dibarengi pula dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atas

perbuatannya.

  • Kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia.

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radiallahu’anhu, Ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam shalat bersama kami, shalat subuh di Hudaibiyah -di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya berkata:

“Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian?”, mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir, adapun orang yang berkata: “Kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang, adapun orang yang berkata: “Hujan ini turun karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang”.(Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari ; 2/ 333.)

Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang), seperti yang banyak kita baca di Koran (surat kabar) dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka ia telah terjatuh kepada syirik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan, maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Sebab tidak diperbolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal yang termasuk syirik. Di samping syaitan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak dijadikan demikian oleh Allah Subhanahu wata’ala. Seperti kepercayaan sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbau syirik, kalung dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya

sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun menurun. Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang melalui pandangan matanya; kena mata). Demikian anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut pada badan, menggantungkannya di mobil atau di rumah, atau mereka mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala’ atau untuk menghilangkannya.

Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan (perintah) tawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dan tidaklah hal itu menambah kepada manusia, selain kelemahan. Belum lagi jika ia berobat dengan sesuatu yang diharamkan.

Berbagai bentuk jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan meminta pertolongan kepada sebagian jin atau syaitan, gambar-gambar yang tak bermakna, tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang tenung menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mencampur-adukkannya dengan hal-hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan sesuatu yang najis atau dengan darah haid. Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah haram. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alahi wassalam :

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik .(Hadits riwayat Ahmad, 4/ 156 dan dalam Silsilah Shahihah, No; 492)

Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa hal itu bisa mendatangkan manfaat atau mudharat (dengan sendirinya) selain Allah maka ia telah masuk kedalam golongan pelaku syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa hal itu merupakan sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah Subhanahu wata’ala tidak menjadikannya sebagai sebab, maka ia telah terjerumus kepada perbutan syirik kecil, dan ini masuk dalam kategori syirk asbab.

Sumber:

“Dosa-dosa yang Dianggap Biasa” oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh al Munajjid Bab 1 Syirik

Awan Tag