Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘surga’

Teman yang Jelek Menggiringmu ke Neraka

Sahabat,

Waspadalah terhadap teman-teman yang jelek. Mereka yang jelek agamanya. Teman yang jelek dapat menggiringmu masuk neraka berbeda dengan teman yang shalih dia akan mengajakmu masuk surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ (41) تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ

“Wahai kaumku, bagaimanakah ini. Aku menyeru kalian kepada keselamatan, namun kalian mengajakku menuju ke Neraka? Mengapa kalian menyeruku untuk kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya, sedangkan aku senantiasa menyeru kalian (untuk beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?” (QS. al-Mu’min: 41-42)

 

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Iklan

Nabi Muhammad Dijamin Masuk Surga

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sehubungan dengan acara tafsi r al-misbah di Metro TV pd tgl 12 juli 2014. Bp. Quraish Shihab mengatakan “Tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan syurga dari Allah S.W.T”. Mohon penjelasannya.

Video:

Salam,
Dari Roy

Jawaban: (lebih…)

Dianjurkan Memberi Kabar Gembira Dengan Datangnya Bulan Ramadhan

memupuk kerinduan dengan mengetahui keutamaan bulan ramadhanDari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepada kalian ramadhan bulan yang penuh berkah. Allah azza wa jalla mewajibkan atas kalian berpuasa Ramadhan . Pada bulan ini dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Siapa yang diharamkan dari kebaikannya maka sungguh dia telah-benar-benar diharamkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). (lebih…)

Ramadhan: Terbukanya Pintu Surga, Tertutupnya Pintu Neraka

selamat-menyambut-ramadhan2Segala puji bagi Alloh yang mempertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini, bulan yang penuh dengan keistimewaan-keistimewaan di dalamnya, keistimewaan yang tidak ada pada bulan-bulan yang lainnya. Semoga kita semua dapat memaksimalkan kesempatan yang telah diberikan kepada kita semua.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada uswah kita,  Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad , juga kepada seluruh keluarga dan para sahabat-sahabatnya serta kepada mereka yang setia mengikuti jejak langkah orang-orang terdahulu yang sholeh. Semoga kita termasuk bagian dari mereka yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik. (lebih…)

Cantiknya Bidadari

bungaTerheran-heran. Tapi itulah kenyataan. Seseorang  – yang mungkin dengan mudahnya – melepas jilbabnya dan merasa enjoy mempertontonkan kecantikannya. Entah dengan alasan apa, kepuasan pribadi, materi dunia, popularitas yang semuanya berujung pada satu hal, yaitu hawa nafsu yang tak terbelenggu.

Padahal… nun di surga sana, terdapat makhluk yang begitu cantik yang belum pernah seorang pun melihat ada makhluk secantik itu. Dan mereka sangat pemalu dan terjaga sehingga kecantikan mereka hanya dinikmati oleh suami-suami mereka di surga.

Berikut ini adalah kumpulan ayat dan hadits yang menceritakan tentang para bidadari surga. (lebih…)

Ujian Iman

ujian imanSalah satu konsekuensi pernyataan iman, adalah bentuk kesiapan dalam menghadapi ujian yang diberikan Alloh, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan dalam menyatakan iman, apakah iman itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar klaim tanpa bukti. Alloh ta’ala berfirman :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al – Ankabut [29] :  2-3 ) (lebih…)

Kejujuran Akan Melahirkan Kebaikan

jujurKejujuran[1] di jaman sekarang adalah suatu yang sangat langka. Bahkan kebanyakan orang berpikir kalau kita terlalu jujur justru susah untuk jadi orang sukses, susah untuk kaya, susah untuk naik jabatan. Intinya kejujuran akan membawa kepada kesusahan. Pola pikir seperti inilah yang akhirnya menggiring kebanyakan untuk tidak berlaku jujur dalam setiap aktivitas dan profesi mereka.

Benarkah pola pikir seperti ini?

Tentu pola pikir seperti ini adalah pola pikir yang sangat salah. Pola pikir seperti  ini harus segera dirubah. Bahkan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mensabdakan sebaliknya. Kejujuran akan melahirkan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. (lebih…)

Keutamaan Silaturrahim

keutamaan silaturahimPada kesempatan ini kali ini kita akan sedikit mengulas beberapa keutamaan dari silaturrahim. Semoga dengan mengetahui keutamaannya kita terdorong untuk meningkatkannya jika memang sudah berjalan dengan baik dan segera memperbaiki jika memang hubungan tersebut belum berjalan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa keutamaan menjaga hubungan silaturrahim:

  • Silaturrahim merupakan salah satu amalan yang paling dicintai Allah ta’ala

Ada seorang laki-laki dari Bani Khots’am, dia bertanya kepada Rosululloh `:

أَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : ” إِيمَانٌ بِاللَّهِ ” ، ، ثُمَّ مَهْ ؟ قَالَ : ” ثُمَّ صِلَةُ الرَّحِمِ “

Amal apa yang paling dicintai Alloh? Beliau menjawab, Iman kepada Alloh… kemudian dia bertanya lagi, kemudian amal apa lagi? Beliau menjawab, “Silaturrahim.” (HR. Abu Ya’la, Hadits hasan) (lebih…)

Taubat, Jalan Menuju Surga

taubat jalan menuju surgaSesungguhnya maksiat nnerupakan sebab segala bencana dan kesengsaraan. Jika dia tumbuh di sebuah negeri, akan nnenjadi penyebab hancurnya negeri tersebut, jika dia tersebar di sebuah masyarakat juga akan menjadi penyebab hancur dan binasanya masyarakat tersebut.

Maksiat merupakan sebab kehinaan seorang hamba di sisi Rab-nya. Jika dia telah rendah dalam penilaiain Allah Ta’ala, maka tidak ada seorang pun yang menghormatinya.
Allah Ta’ala berfirman,

Dan siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. ” (QS. al-Haj: 18)

Allah Ta’ala telah memberikan taufiq kepada saya untuk menyajikan e-book ini yang mengingatkan kepada taubat dan mendorong realisasinya. Semoga Allah Ta’ala yang Pennurah menjadikan hal ini bermanfaat bagi kehidupan saya dan nnenambah berat timbangan kebaikan saya di hari kiamat, serta menghapuskan dosa-dosa saya, mengangkat deraja saya. Juga semoga buku ini dijadikan bermanfaat bagi kita semua dan . Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan. Allah Maha pemberi Taufiq dalam kebenaran dan kepadaNya saya bertawakkal dan kembali.

Ebook bisa di download di sini

Atau bisa langsung dibaca secara online di sini

—–

Artikel: ELSUNNAH.wordpress.com

Benih-benih Kebaikan Dunia adalah Buah-buah Surga

benih-benih kebaikan

Benih-benih kebaikan dunia adalah buah-buah surga.
Barangsiapa mengarungi lautan panas perbuatan baik di dunia,
maka ia bisa beristirahat di bawah rindangnya nikmat-nikmat Alloh  di akhirat kelak.

Rosululloh  bersabda,

أَهْلُ الْمَعْرُوفِ فِي الدُّنْيَا أَهْلُ الْمَعْرُوفِ فِي الآخِرَةِ ، وَأَهْلُ الْمُنْكَرِ فِي الدُّنْيَا أَهْلُ الْمُنْكَرِ فِي الآخِرَةِ

“Sesungguhnya pemilik kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat. Dan pelaku keburukan di dunia adalah pemilik keburukan di akhirat.” (HR. ath-Thobroni, shohih)

Dengan karunia-Nya, Alloh telah menyediakan pintu-pintu kebaikan bagi para hamba-Nya yang mau meraih pintu tersebut dan membukanya. Keti
Perbanyaklah menabur benih kebaikan di dunia ini, maka engkau akan banyak memetik buahnya di akhirat.ka seorang Muslim turut prihatin dengan penderitaan kaum Muslimin lainnya dan berempati pada mereka, ia bisa mewujudkannya dengan beragam cara seperti dengan harta, kehormatan, bantuan tenaga, nasihat dan petunjuk, dakwah, doa dan istighfar untuk mereka serta turut merasakan duka yang mereka alami.

Karena Cantik, Aku memilihmu

Jika kalian telah diberi tahu tentang sesorang dengan ciri-ciri yang luar biasa, manakah yang akan kamu pilih??, yang biasa atau yang luar biasa??, pasti kalian akan lebih memilih yang luar biasa.., Jadi untuk apa kalian tertipu dengan wanita-wanita dunia yang tidak halal bagi kamu??, sedangkan di Akhirat kelak kalian memiliki kesempatan unutk mendapatkan wanita-wanita yang luar biasa. Aku dan Kamu pun sama-sama menyukai wanita, dan aku tau kamu juga pasti normal. Tapi sadarlah bahwa syetan dan tipu dayanya akan terus menjerumuskan dirimu.

Bagi yang sudah memiliki pacar atau Pasangan yang tidak halal, bandingkanlah dengan wanita-wanita penghuni Surga yang kelak menemanimu di Surga. apakah pacarmu lebih baik dari ini??, Jika tidak maka segeralah bertobat dan memohon ampun kepada Allah dan jika kamu sudah mampu segera halalkanlah hubunganmu. (lebih…)

Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !

Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat.

Alloh berfirman,

“Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120).

Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. (lebih…)

Apakah Kita Akan Masuk Surga dengan Amalan Kita?

Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah Subhanahu Wata’ala akan memasukkan kita ke dalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyaj beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah merasa aman kalau mereka pasti akan masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika mereka menyongsong perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam.

Bukankah kita harus bercermin pada generasi terbaik umat Islam? Tatkala mereka membuktikan diri dengan pengorbanan hijrah. Bukankah mereka menghadapi kenyataan suram dengan meninggalkan sanak keluarga dan harta benda? Namun, harapan yang lebih besar telah menghujam di dada mereka; Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itulah pilihan yang tidak mereka sia-siakan. Dengan pengorbanan menghadapi maut di saat perang Badar dan peperangan lainnya. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besari, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Al-Baqarah ayat 214.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”

Diketik ulang dari Rubrik Tausiyah, Majalah Ummatie Edisi 08/Thn.II April 2009

Mengharap Surga dan Takut Neraka dalam Beribadah

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan ini sengaja saya susun untuk menjawab beberapa permasalahan mengenai pertanyaan bagaimanakah seorang muslim mengharapkan surga atau ingin supaya dijauhkan dari api neraka dalam beribadah?
Ketika saya searching menggunakan google, ternyata tidak sedikit yang membahas mengenai hal ini. Dari beberapa tulisan yang saya baca, ada beberapa yang bisa saya simpulkan dari tulisan tersebut, di antaranya:

–          Ketika seseorang dalam beribadah terdapat pengharapan terhadap surga dan atau dijauhkan dari neraka, maka masih ada ketidakikhlasan kita dalam beribadah untuk memperoleh ridhoNya.

–          Ketika seseorang dalam beribadah terdapat pengharapan terhadap surga dan atau dijauhkan dari neraka, maka orang tersebut belum mencapai tingkat keimanan yang hakiki atau tingkat keimanan yang tinggi.

–          Ada juga yang mengatakan ”Kami tidak mencari surga, tidak beramal untuk surga dan tidak menginginkan surga. Kami hanya beramal karena ridha Allah, baik dimasukan ke dalam surga maupun ke dalam neraka”, dan beberapa kata-kata lain yang senada hal tersebut.

Sebelumnya membahas hal-hal tersebut, perlu diperhatikann dalam setiap aktivitas, apalagi ibadah, baik batin maupun lahir, harus diukur dengan dalil Al Quran dan Hadits. Jika ada sebuah pendapat mengenai hal agama hendaklah sekiranya disebutkan juga dalilnya baik Al Quran maupun Hadits, jadi supaya jelas apakah pendapat tersebut sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam atau tidak? Karena islam itu sumbernya jelas yaitu Al Quran dan Hadis, kalau pun ada ijma keduanya harus bersumber pada dua tadi. Dan kita pun telah diwasiatkan oleh Rosulullah salallahu ’alaihi wassalam untuk berpegang teguh pada keduanya. Kita sebagai seorang yang mengaku mencintai beliau, semestinya kita menjalankan wasiat tersebut.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian bersengketa tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” [QS. an-Nisa’ (4): 59]

Juga sabda Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam,

(( تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ ))

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang tidak akan sesat kalian selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Kitabulloh (al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

Oleh karena itu, dalam beragama kita harus beritiba kepada Rasulullah saw. Ittiba’ berarti pengikutan”. Ittiba’ yang dimaksud sebagai dasar agama Islam adalah pengikutan kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wassalam dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang berasal dari Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berasal dari Allah subhanahu wata’ala dan tidak ada sedikit pun produk dari beliau sendiri.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ’Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh akan men-cintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali ‘Imron (3): 31]

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengi-kuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya).” [QS. al-A’rof (7): 3]

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى  ,  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. an-Najm (53): 3-4]

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ  ,  لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ  ,  ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sesuatu perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami hantam dia dengan tangan kanan. Kemudian Kami putuskan urat tali jantungnya.” [QS. al-Haqqoh (69): 44-46]

Oleh karena itu dalam membahas hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas, insya Allah akan disertakan juga dalil-dalil baik dari Al Quran maupun Hadits.

Kembali ke pokok pembahasan, yaitu mengenai pendapat yang mengatakan hal-hal tersebut di atas, atau pendapat tidaklah pantas seorang hamba dalam beribadah dengan mengharapkan surga atau dijauhkan dari neraka. Apakah Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wassalam, seorang rosul, manusia termulia yang tentunya memiliki tingkatan keimanan tertinggi tidak mengharapkan surga?

Untuk menyamakan pemahaman, pertama yang harus ditegasakan terlebih dahulu bahwa sudah menjadi kewajiban kita, sebagai seorang hamba Allah subhanahu wata’ala, dalam melakukan segala sesuatu, terutama ibadah, harus dilandasi keikhlasan dan hanya diniatkan karena Allah subhanahu wata’ala sebagaimana firman Allah subahanahu wata’ala berikut,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (tulus ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah (98): 5)

Dan dalil-dalil lain yang membahas mengenai niat, juga sebuah hadis yang berbunyi sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Kita semua sepakat mengenai hal tersebut. Sedangkan yang akan diuraikan lebih lanjut kali ini adalah permasalahan tentang pengharapan terhadap surga atau dijauhkan dari neraka dalam beribadah, tidak untuk memperdebatkan masalah niat. Pengharapan terhadap surga atau dijauhkan dari neraka pun harus dilandasai karena Allah Subhanahu wata’ala dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya melalui syariat yang dibawa oleh Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam.

Alllah subhanahu wata’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقاً قَالُواْ هَـذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُواْ بِهِ مُتَشَابِهاً وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Baqarah (2) : 25)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar” . (QS. Al Buruuj (85): 11)

وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

”Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)” . (QS. Yunus (10):25)

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali ’Imran (3):133)

Dari ayat-ayat di atas dan beberapa ayat lain yang membicarakan tentang surga, Allah bermaksud memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman tentang apa yang akan mereka dapat di akhirat yaitu surga. Allah pun menyeru manusia kepada surgaNya dan memerintahkan untuk bersegera kepada surgaNya yang luas. Dengan kabar ini maka sudah sewajarnya orang yang beriman, bahkan seluruh manusia, berharap untuk mendapatkannya karena itu adalah fitrah manusia. Kalau ada orang yang ditanya siapa yang mau surga? Pasti semuanya serentak menjawab mau, kalo ada yang menjawab tidak saya yakin pada dasarnya dalam hatinya menginginkannya.

Lalu bagaimana Rasulullah shalallahu alahi wassaalam dan para sahabatnya menyikapi mengenai kabar gembira ini (surga)? Berikut saya cantumkan hadits-hadits shahih dari Kitab Riyadus Shalihin.

”Dari Ibnu Mas’ud rodhiullahuanhuma., katanya: ’Kita semua berada bersama-sama Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam. dalam sebuah kemah, kira-kira ada empatpuluh orang, lalu beliau shalallahu ’alaihi wassalam. bersabda: ’Relakah engkau semua jikalau engkau semua – ummat Muhammad semuanya ini – menjadi seperempatnya ahli surga?’ Kita semua menjawab: ’Ya.’ Beliau shalallahu ’alaihi wassalam bersabda pula: ’Relakah engkau semua kalau menjadi sepertiga ahli surga.’ Kita semua menjawab: ’Ya.’ Beliau shalallahu ’alaihi wassalam lalu bersabda: ’Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya saya mengharapkan kalau engkau semua itu akan menjadi setengahnya ahli surga. Yang sedemikian itu karena sesungguhnya surga itu tidak dapat dimasuki melainkan oleh seseorang yang Muslim, sedangkan engkau semua bukanlah ahli kemusyrikan, melainkan seperti rambut putih dalam kulit lembu yang hitam atau seperti rambut hitam dalam kulit lembu yang merah.’” (Muttafaq ‘alaih)

Hadis tersebut di atas terdapat pada Kitab Riyadus Shalihin dari Imam Nawawi, hadis ke 430, Bab 51. Dari hadis tersebut kita bisa melihat bahwa Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam dan para sahabatnya pun mengharapkan surga Allah subhanahu wata’ala, bahkan pengharapannya itu ditujukan untuk umat ini secara umum. Kita pasti sepakat bahwa Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam dan para sahabatnya adalah orang-orang yang tidak diragukan keimanannya (Rosulullah tingkatan tertinggi dan para sahabatnya berada pada posisi setelahnya), orang yang paling ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah subhanahu wata’ala, dan paling paham tentang Al Quran dan Hadits. Namun demikian Rosulullah shalallahu ’alai wassalam dan para sahabatnya tetap mempunyai pengharapan terhadap Allah subhanahu wata’ala bahkan pengharapan tersebut mereka ungkapkan bukan hanya untuk mereka sendiri tetapi untuk kaum muslimin secara keseluruhan. Ketika Rosulullah bertanya kepada para sahabatnya, apakah mereka rela, apakah engkau mau menjadi ahli surga, mereka pun menjawab ’Ya’. Lalu bagaimana dengan kita, kita yang tingkat keimanannya mungkin tidak bisa menyamai keimanan para sahabat, kemudian menjawab tidak membutuhkannya dengan berdalih sudah mencapai tingkatan keimanan tertentu yang tidak membutuhkan surga. Ini adalah perkataan yang tidak ada dasarnya dalam islam.

”Dari Ibrahim bin Abdur Rahman bin ‘Auf, bahwasanya Abdur Rahman bin ‘Auf r.a. diberi hidangan makanan, sedangkan waktu itu ia berpuasa, lalu ia berkata: ’Mus’ab bin Umair itu terbunuh – fi-sabilillah. Ia adalah seorang yang lebih baik daripada-ku, tetapi tidak ada yang digunakan untuk mengafaninya – mem-bungkus janazahnya – kecuali selembar burdah. Jikalau kepalanya ditutup, maka tampaklah kedua kakinya dan jikalau kedua kakinya ditutup.maka tampaklah kepalanya. Selanjutnya untuk kita sekarang ini dunia telah dibeberkan seluas-luasnya – banyak rezeki. Atau ia berkata: ’Kita telah dikaruniai rezeki dunia sebagaimana yang kita terima ini – amat banyak sekali. Kita benar-benar takut kalau-kalau kebaikan-kebaikan kita ini didahulukan untuk kita sekarang – sejak kita di dunia ini, sedang di akhirat tidak dapat bagian apa-apa.’ Selanjutnya ia lalu menangis dan makanan itu ditinggalkan. (Riwayat Bukhari).

Hadits yang satu ini terdapat dalam Kitab Riyadus shalihin, hadits no 453 Bab 54. Dari hadits tersebut dikisahkan sahabat Abdurahman bin Auf radhiallahuanhuma merasa khawatir akan kondisinya kelak di akhirat tidak memiliki apa-apa, dengan kata lain Abdurahman bin Auf radhiallahuanhuma khawatir tidak mendapatkan surga ataupun isinya. Dan beliau pun menangis takut dan penuh pengharapan akan kenikmatakan akhirat ( surga Allah beserta isinya ).

Demikian juga Umar bin Khatab pernah diberitahukan oleh Rasulullah saw ketika Rasulullah masuk ke dalam surga dan kita yakin seyakin-yakinya karena berita ini datangnya dari Rosulullah utusan Allah, kita beriman kepada beliau dan beliau sudah masuk ke dalam surga. Dan beliau shalallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan bahwa beliau melihat suatu istana megah, besar, terbuat dari emas, semuanya serba indah dan sebagainya. Ketika beliau saw mau masuk ke dalam istana tersebut, dan saat itu beliau sangat ingin masuk ke dalam istana tersebut karena megahnya dan tidak ada di muka bumi istana semegah itu. Namun Rasulullah saw diberitahu “Istana sebesar ini disediakan untuk orang dari Bani Quraisy”. Dan Muhammad saw dari Bani Quraisy, namun ternyata bukan beliau. Lalu siapa? ternyata Umar bin Khatab radhiallahuanhuma. Dan ketika itu Umar bin Khatab duduk di hadapan Rasulullah sedang bermajelis dan diberitakan hal tersebut. Mendengar kabar dari Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, alangkah bahagianya Umar bin Khatab saat itu.

Dan begitulah sifat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat beliau dimana mereka merasa gembira dan berharap akan berita gembira itu dan merasa takut sampai-sampai menangis karena takut tidak mendapatkan kenikmatan di akhirat kelak. Sedangkan kita tau bahwa para sahabat adalah orang yang ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka. Hal ini diabdikan Allah dalam firmanNya,

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al Taubah (9) : 100)

Sesungguhnya ayat ini adalah pengakuan dari Allah subhanahu wata’ala bahwasanya para sabahat telah mendapatkan keridhoan Allah. Tetapi meskipun demikian pengharapan surga dan ketakutan terhadap neraka atau kekhawatiran akan tidak mendapatkannya nikmat akhirat tidak berkurang sedikitpun dari mereka. Tidak seperti orang yang mengatakan ”Kami tidak mencari surga, tidak beramal untuk surga dan tidak menginginkan surga. Kami hanya beramal karena ridha Allah, baik dimasukan ke dalam surga maupun ke dalam neraka”. Ya, kita yakin bahwa para sahabat adalah orang yang juga mengharapkan ridho Allah, tetapi mereka tidak mengatakan bahwa mereka tidak butuh surga atau pun tidak takut neraka.

Kita juga hendaknya menyeimbangkan antara pengharapan terhadap surga dan ketakutan terhadap neraka.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Andaikata seseorang mu’min itu mengetahui bagaimana keadaan siksa yang ada di sisi Allah, tentu tidak seorangpun akan loba dengan surgaNya. Tetapi andaikata seseorang kafir itu mengetahui bagaimana besarnya kerahmatan yang ada di sisi Allah, tentu tidak seorangpun yang akan berputus asa untuk dapat memasuki surgaNya.” (Riwayat Muslim)

Hadits yang terdapat dalam Kitab Riyadus shalihin, hadits nomer 442 bab ke 53 berikut ini menjelaskan bagaimana seharusnya kita memiliki ketakutan dan pengharapan kepada Allah subhanahu wata’ala yang sama nilainya. Ketakutan akan siksa Allah, pengharapan terhadap rahmat Allah Azza wa Jalla yaitu berupa surgaNya. Bukan malah menghilangkan pengharapan surga dan ketakukan neraka.

Allah subhanahu wata’ala juga mengkisahkan orang-orang beriman, orang-orang yang saleh dalam berdoa dalam pengharapannya terhadap surga dan permohonannya untuk dijauhkan dari neraka yang bisa menjadi contoh dan perumpamaan bagi kita, diantaranya adalah sebagai berikut,

”Dan orang-orang yang berkata: ’Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’”. (QS Al Furqon (25): 65).

”Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: ’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’”. (QS Al Baqarah (2): 201)

”Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ’Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS At Tahrim ayat 11)

Wallahu’alam bishawab.

oleh muhamad ilyas

Awan Tag