Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Suburnya pertumbuhan dan perkembangan wafaq di Indonesia dengan berbagai jenis dan bentuknya serta beragam fungsi dan manfaatnya, menjadikan benda mati tersebut mashur dan terkenal, hampir mayoritas kaum muslimin mengenal dan menganggapnya hal yang lumrah, bahkan sebagian mereka menjadikannya sebagai “kebutuhan” dalam kehidupan sehari-harinya.

Tentunya pesat perkembangan wafaq ini tidak lepas dari peran aksi para dukun yang “sok” menjadi pahlawan “penjerumus kesesatan”, dengan memasang iklan di Internet atau media elektronik lainnya. Sehingga wafaq sudah menjadi komoditi dagang yang laris di jual.

Realitanya banyak orang yang tertipu, mereka ngantri membeli dan pesan wafaq setiap harinya, baik untuk pelancar rezeki, supaya disayang pacar atau suami/istri, agar tampil berani melawan musuh dan lain-lain, sesuai keinginan dan pesanan konsumen.

Mereka telah meyakini bahwa wafaq tersebut bisa memberikan manfaat dan pengaruh positif bagi pemiliknya secara terus menerus, selama pemiliknya melaksanakan amalan-amalan yang menjadi konsekuensi kepemilikan wafaq tersebut (seperti: wiridan dan tawasulan kepada pemilik/khodam wafaq itu setiap malam jum’at, mengolesinya dengan minyak/parfum tertentu dan lain sebagainya), serta ia tidak boleh melanggar ketentuan tertentu yang bisa menghilangkan pengaruh positif dari wafaq tersebut (seperti: dibawa ke dalam wc, makan daging yang disate dan lain sebagainya).

Diperparah lagi praktek pembuatan dan penjualan wafaq tersebut didukung bahkan didistribusikan oleh sebagian para “kiyai” yang menjadi tokoh masyarakat.

Apakah benar memakai wafaq itu dianjurkan dalam islam dan bisa menjadikan pemiliknya tenang?

Jika seandainya jimat dan wafaq ini adalah perkara yang disyari’atkan, tentunya kita akan mendapatkan tuntunannya dalam hadist-hadist rasul, tapi yang ada justru sebaliknya larangan yang sangat keras dari Rasulullah saw mengenai hal ini,

Imron bin Husain ra menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya :

ما هذه؟ قال: من الواهنة، فقال: انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا، فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدا

“Apakah itu ?” orang laki-laki itu menjawab: “Gelang penangkal penyakit”, lalu Nabi bersabda: “Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama lamanya.” (HR. Ahmad).

Rasulullah saw bersabda :

من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية من تعلق تميمة فقد أشرك.

“Barang siapa yang menggantungkan tamimah maka Allah tidak akan mengabulkan keinginannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah maka Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya”, dan dalam riwayat yang lain Rasul bersabda : “Barang siapa yang menggantungkan tamimah maka ia telah berbuat kemusyrikan”. (HR. Ahmad)

Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan di leher sebagai penangkal penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang dan bisa menyelesaikan setiap persoalannya, maka Rasulullah saw mendoakan agar Allah tidak mengabulkan doa orang yang memakai tamimah.

Adapun wada’ah adalah sesuatu yang diambil dari laut, menyerupai rumah kerang, termasuk dalam pengertian ini adalah jimat dan wafaq; yang diyakini bisa memberikan keselamatan dan kesejahteraan, maka Rasulullah saw mendoakan agar tidak adanya ketenangan bagi orang yang mengenakan wada’ah tsb.

Dari dua hadist di atas telah jelas bagi kita bahwa menggunakan zimat, wafaq atau gelang dengan tujuan menolak bahaya atau meraih suatu manfaat adalah suatu kedholiman (syirik) terhadap Allah, karena dia telah meminta sesuatu (berupa manfaat dan menolak bahaya) kepada selain Allah. Bahkan diapun mendapatkan doa yang pasti mustajab dari seorang Rasul yang mulia agar menimpakan kesialan dan keresahan bagi orang yang memakai zimat dan wafaq dalam kehidupannya.

Rasul saw bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik”. [HR. Abu Dawud]

Ketika ada yang mengingkari dari kalangan para pemakai zimat dengan alasan bahwa zimat yang mereka pakai hanya sebagai sarana dan sebab saja. Maka alasan inipun tidak bisa menjadikan mereka terbebas dari kemaksiatan berupa kesyirikan.

Para ulama telah sepakat bahwa meyakini sesuatu benda sebagai “sebab” dan “sarana” padahal ia bukan “sebab” maka ini tergolong syirik ashghor (termasuk dosa yang paling besar), yang bisa menjadi peluang berubah ke syirik akbar (keluar dari islam) jika meyakini bahwa benda tsb secara dzatnya bisa memberikan manfaat dan menolak madhorot.

Lantas benarkah asumsi mereka yang meyakini bahwa zimat, wafaq dan rajah itu hanyalah suatu sebab yang diperbolehkan dalam islam?

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami terlebih dahulu:

Pertama, kita harus meyakini bahwa hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang bisa memberikan manfaat dan madhorot, firman Allah:

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. (Yunus: 107)

Kedua, setiap benda atau sesuatu yang boleh diyakini sebagai “sebab” harus memiliki landasan dalil syar’i (quran sunnah) atau dalil kauni (experiment).

Sebab syar’i ialah meyakini bahwa suatu benda memiliki manfaat berdasarkan nash al quran dan sunnah, contoh: percaya bahwa madu dan jintan hitam sebagai sebab dari kesembuhan, dengan landasan dalil yang menyatakan hal tsb dalam al quran dan sunnah, sebagaimana firman Allah:

di dalamnya (madu) terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. (an nahl: 69).

Sabda Rasulullah saw:

الحبة السوداء شفاء لكل داء إلا السام والسام الموت

Jintan hitam adalah penyembuh bagi setiap penyakit kecuali as sam, yaitu kematian (HR. Ahmad).

Sebab kauni adalah percaya kepada sesuatu benda bisa memiliki manfaat setelah melakukan penelitian dan experiment (percobaan) oleh para ahli di bidangnya. Contoh: obat-obatan kedokteran yang telah teruji bisa menambah daya tahan tubuh, menurunkan suhu panas badan, menghilangkan rasa sakit dll.

Walhasil, menjadikan zimat, wafaq atau rajah sebagai sebab yang bisa memberikan manfaat tidak memiliki dalil baik secara syar’i maupun dalil kauni. Sehingga menggunakan zimat dan wafaq adalah suatu bentuk kesyirikan yang nyata.

Wallohu ta’ala ‘alam.

Penulis: Deden wahyudin, S.Pd.I

Artikel https://elsunnah.wordpress.com

Comments on: "Wafaq antara kedholiman dan tipuan" (3)

  1. mr.jeng said:

    assalamualaikum wr.wb
    misi om saya maunumpang tanya nh .
    saya kan punya batu, kertas bertuliskan arab(jimat) .
    tapi yg ngasih begituan ke saya bilang katanya punya begitu mah gapapa, asalkan kita tetap memintanya kepada Allah SWT, dan barang itu hanya sebagai perantaranya saja .
    nah terus tanggapannya menurut islam bgmana?
    apakah saya termasuk syirik ?
    mohon penjelasannya maksih🙂

  2. m.ganti said:

    assalamualaikum wr.wb
    penjelasan anda cocok untuk saya.(sependapat).
    katakanlah yang benar itu benar,dan yang salah tetap salah..terimakasih penjelasannya

    • ELSUNNAH™ said:

      Waalaikumsalam warahmatullah…
      sama-sama
      Na’am, jazakallahu khair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: