Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Ujian Iman

ujian imanSalah satu konsekuensi pernyataan iman, adalah bentuk kesiapan dalam menghadapi ujian yang diberikan Alloh, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan dalam menyatakan iman, apakah iman itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar klaim tanpa bukti. Alloh ta’ala berfirman :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al – Ankabut [29] :  2-3 )

Sebagian manusia ada yang mengklaim dirinya sebagai orang beriman, namun tatkala mendapat kesulitan dan marabahaya hatinya menciut, semangatnya mengendur dan menganggap ujian sebagai adzab dari Alloh ta’ala, seperti yang digambarkan Alloh ta’ala dalam firman-Nya :

Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Alloh”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Alloh, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Alloh. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Robbmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami beserta kalian.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?”  (QS. al -Ankabut [29] : 10 )

Ujian yang diberikan oleh Alloh ta’ala kepada manusia memang berbeda-beda dan beragam bentuknya, setidaknya ada empat macam ujian:

Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan

Seperti perintah Alloh ta’ala kepada Nabi Ibrohim alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan terasa tidak mungkin untuk dicerna hanya oleh akal semata tanpa disertai dengan iman yang sangat kuat di dalamnya. Bagaimana mungkin seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anak itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Alloh ta’ala sendiri mengatakan:

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. ash-Shaffat [37] : 106)

Kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan

Seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf alaihissalam yang diuji dengan perempuan cantik, istri seorang pembesar Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sangat terbuka, ketika keduanya  hanya berdua di dalam rumah dan seluruh pintu sudah terkunci. Namun Nabi Yusuf alaihissalam  membuktikan kualitas imannya, ia berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda pada umumnya, ia pun mempunyai hasrat terhadap wanita. Hal ini menunjukkan bahwa ia telah lulus dari ujian atas keimanannya.

Sikap Nabi Yusuf alaihissalam sangat penting untuk kita ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, perzinahan merebak di mana-mana, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah memasuki seluruh lini kehidupan masyarakat. Para pemuda Muslim harus selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kehancuran. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallamtelah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari Kiamat nanti sebagaimana sabdanya:

Tujuh golongan yang akan dilindungi Alloh dalam lindungan-Nya pada hari di mana tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya, ….. dan seorang laki-laki yang diajak oleh  perempuan terhormat dan cantik(untuk berzina), lalu ia berkata aku takut kepada Alloh…” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Ketiga: Ujian yang berbentuk musibah

Seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh dari hal ini adalah apa yang dialami dan diderita oleh Nabi Ayyub alaihissalam  yang diuji oleh Alloh ta’ala dengan penyakit yang sangat buruk. Sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam tubuh beliau yang selamat dari penyakit itu selain lidah dan hatinya. Seluruh hartanya habis tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakit dan untuk nafkah dirinya. Seluruh kerabat terdekat meninggalkannya, hanya istri tercinta saja yang setia menemani dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada puncaknya ia memelas sambil berdoa kepada Alloh ta’ala:

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS.al -Anbiya [21] : 83)

Begitulah ujian Alloh ta’ala kepada Nabi-Nya, masa delapan belas tahun bergelut dengan penyakit dan ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat. Namun di sini Nabi Ayub alaihissalam membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh kebanyakan kaum muslimin saat ini yang sebagian dari mereka rela menjual iman dan menukar akidahnya dengan harga yang sangat murah dan hina, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub alaihissalam ini.

Keempat: Ujian melalui tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang memusuhi Islam dan kaum Mislimin.

Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dahulu dalam perjuangan mempertahankan iman mereka, sebagaimana disampaikan oleh beliau kepada sahabat Khabbab Ibnul Arats radhiallahu ‘anhu:

Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan gergaji di atas kepalanya sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya…” (HR. Al-Bukhori)

Kemudian, perhatikan pula apa yang dialami Yasir dan istrinya, Sumayyah radhiallahu ‘anhuma dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah. Juga Bilal Ibnu Robah radhiallahu ‘anu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, kemudian diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Makkah namun beliau a justru mengucapkan kalimat tauhid “Ahad.., Ahad..”

Musibah yang dialami oleh saudara-saudara kita umat Islam di berbagai tempat sekarang  pun akibat dari kedengkian dan ketidaksukaan orang-orang kafir adalah ujian dari Alloh ta’ala, sekaligus sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di daerah dan negara lainnya.

Namun ketahuilah, bahwa ujian yang menimpa orang-orang beriman adalah satu bagian dari tanda- tanda kecintaan Alloh ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana sabda Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam:

Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Alloh mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa  ridho baginyalah keridhoan Alloh, dan barangsiapa marah baginyalah kemurkaan Alloh”. (HR. At-Tirmidzi).

Sumber: Buletin HASMI

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: