Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘Sirah’

Kisah Ka’ab bin Malik Saat Tertinggal dalam Perang Tabuk

kaab-bin-malikMengapa Ka’ab bin Malik tak ikut serta bersama kita?
‘ Seorang sahabat dari Bani Salimah menjawab; ‘Ya Rasulullah, sepertinya Ka’ab bin Malik lebih mementingkan dirinya sendiri daripada perjuangan ini?

‘ Mendengar ucapan sahabat tersebut, Muadz bin Jabal berkata; ‘Hai sahabat, buruk sekali ucapanmu itu! Demi Allah ya Rasulullah, saya tahu bahwasanya Ka’ab bin Malik itu adl orang yg baik.’ Kemudian Rasulullah diam. Ketika beliau terdiam seperti itu, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yg memakai helm besi yg sulit di kenali. Lalu Rasulullah berkata:
‘Kamu pasti Abu Khaitsamah? (lebih…)

Rasulullah Ditinggal Ibu Tercinta, di Bawah Asuhan Sang Kakek, Kemudian di Pangkuan Pamannya

nabi muhammadDitinggal Ibu Tercinta

Setelah beberapa lama tinggal bersama ibunya, pada usia 6 tahun, sang ibu mengajaknya berziarah ke makam suaminya di Yatsrib. Maka berangkatlah mereka keluar dari kota Mekkah,  menempuh perjalanan sepanjang 500 km, ditemani oleh Ummu Aiman dan dibiayai oleh Abdul Mutthalib. Di tempat tujuan, mereka menetap selama sebulan.

Setelah itu mereka kembali pulang ke Mekkah. Namun di tengah perjalanan, ibunya menderita sakit dan akhimya meninggal di perkampungan Abwa’ yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah. (lebih…)

Kehidupan di Bani Sa’ad dan Peristiwa Pembelahan Dada (Syaqqus Shadr)

Muhammad_PBUH_Name_32196Selain ibunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam disusukan juga oleh Tsuwaibah; budak Abu Lahab. Kemudian, sebagaimana adat kebiasaan masyarakat perkotaan waktu itu- Ibunya mencari wanita pedesaan  untuk menyusui putranya. Maka terpilihlah seorang wanita yang  bernama Halimah binti Abi Dzu’aib dari suku Sa’ad bin Bakr, yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Halimah as-Sa’diyah.

Sesungguhnya atas kehendak Allah jualah, hingga Halimah as- Sa’diyah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika kecilnya. Sebab ketika pertama kali ditawarkan untuk menyusuinya, dia terasa enggan menerimanya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam anak yatim yang tidak dapat diharapkan imbalan materi yang layak darinya. Tetapi, ketika tidak didapatkan lagi bayi lain untuk disusui, maka diapun menerima bayi Muhammad untuk disusui di perkampungan Bani Sa’ad. (lebih…)

Kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

kelahiran rasulullahKelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari Senin pagi, 9 Rabi’ul Awwal, tahun gajah. Bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan dari suku Quraisy, yaitu suku yang paling terhormat dan terpandang di tengah masyarakat Arab pada waktu itu. Dari suku Quraisy tersebut, beliau berasal dari Bani Hasyim, anak suku yang juga paling terhormat di tengah suku Quraisy.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , lahir dalam keadaan yatim. Karena bapaknya; Abdullah, telah meninggal ketika ibunya, Aminah, mengandungnya dalam usia dua bulan. (lebih…)

Kelahiran Rasulullah

Kelahiran RasulullahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari Senin pagi, 9 Rabi’ul Awwal, tahun gajah. Bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan dari suku Quraisy, yaitu suku yang paling terhormat dan terpandang di tengah masyarakat Arab pada waktu itu. Dari suku Quraisy tersebut, beliau berasal dari Bani Hasyim, anak suku yang juga paling terhormat di tengah suku Quraisy.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lahir dalam keadaan yatim. Karena bapaknya; Abdullah, telah meninggal ketika ibunya, Aminah, mengandungnya dalam usia dua bulan. (lebih…)

Kehidupan Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Rasulullah

kehidupan bangsa arab sebelum di kelahiran rasullahjpg

Kehidupan Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Rasulullah

Kehidupan Agama

Pada awalnya mayoritas bangsa Arab mengikuti agama Ibrahim alaihissalam, yaitu agama tauhid untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Namun setelah waktu berjalan sekian lama, mereka melalaikan hal tersebut, meskipun masih ada sisa-sisa peninggalan ajaran tauhid Nabi Ibrahim alaihissalam. Hingga kemudian di Mekkah ada seorang yang bernama ‘Amr bin Luhay dari suku khuza’ah yang sangat dihormati dan dimuliakan kaumya karena kedermawanannya dan perilakunya yang baik. Suatu ketika dia pergi ke Syam dan di sana melihat masyarakatnya menyembah berhala sebagai bentuk ibadah. Dia menyimpulkan bahwa itu adalah perbuatan baik. Maka ketika kembali ke Mekkah dia membawa satu berhala yang bernama Hubal dan diletakkan di dalam Ka’bah. Lalu dia mengajak kaumnya untuk melakukan apa yang dilakukan penduduk Syam. Karena pengaruh kedudukannya, maka tak lama kemudian, penyembahan berhala menjadi keyakinan tersendiri penduduk Mekkah pada saat itu, dan kemudian dengan cepat menyebar ke wilayah Hijaz (Mekkah dan sekitarnya) hingga menyebar meliputi Jazirah Arabia. Bahkan di sekitar Ka’bah ada ratusan berhala yang disembah. (lebih…)

Mari Mengkaji Sirah Nabawiyyah

SIRAH NABI-MUHAMMAD-SAWSejarah kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam merupakan hal yang sangat penting diketahui setiap muslim. Darinya seseorang yang mendapatkan gambaran utuh tentang kehidupan seorang muslim yang ideal dalam semua sisi dan fase kehidupannya.

Dengan membaca sejarah hidup Rasulullah saw akan mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa agama Islam disebarkan dengan perjuangan yang berat, tantangan yang beraneka ragam, dan upaya-upaya yang manusiawi dengan mencari berbagai sebab yang ada setelah kepasrahan yang total kepada Sang Khaliq, Allah Ta’ala.  Kesimpulan berikutnya yang akan muncul dari pemahaman tersebut adalah bahwa kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambukanlah cerita fiksi atau kahayalan, tetapi dia adalah kisah nyata dengan segudang pelajaran di dalamnya dan karenanya tidak mustahil bagi umatnya yang beriman kepadanya untuk menapaki jejak dan langkah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karenanya, marilah kita bersama-sama mengkaji sirah Nabawiyyah atau sejarah perjalanan hidup Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersama ELSUNAH™ insya Allah.

—-

Cek secara berkala untuk update rubrik Sirah Nabi di ELSUNAH™.

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Tangisan Salafus Sholeh dari Hilangnya Amal

renungan-hari-akhirTangisan Salafus Sholeh dari Hilangnya Amal

Berikut adalah beberapa contoh tangisan para salafus sholeh karena kehilangan kesempatan untuk beramal,

  • Abu Hurairah

Ketika kematian datang menjemputnya, beliau menangis. Maka dikatakan kepadanya; “Apa yang membuat anda menangis?, beliau menjawab: “Aku tidaklah menangisi dunia kalian ini, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanku dan sedikitnya perbekalanku. Dan sekarang aku mendaki untuk menuruni ke arah jannah dan neraka, dan aku tidak tahu kemana Allah akan mengambilku?”.

  • Yunus bin Ubaid

Seorang tabi’in Jalil yang telah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu’anhu, (lebih…)

‘Ali bin Abi Thalib, Pahlawan yang zuhud, dalam peperangan Khaibar

benteng khaibarSeusai ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyyah di bulan Dzulqa’dah tahun keenam Hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin merasa lega karena musuh yang paling sengit selama ini memerangi kaum muslimin yaitu Quraisy telah menawarkan perdamaian dan gencatan senjata selama 10 tahun. Akan tetapi masih ada satu musuh lagi yang selalu menunjukkan permusuhannya dan melancarkan berbagai jurus makarnya untuk menghabisi kaum muslimin atau melemahkan kekuatan Islam. Musuh tersebut adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali melakukan pengkhianatan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin. Ketika awal mula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin berhijrah ke Madinah beliau telah membuat suatu perjanjian dengan kaum Yahudi yang isinya adalah kesepakatan bersama untuk hidup berdampingan secara damai di kota Madinah dan bersama-sama menjaga keamanan kota tersebut dari setiap serangan yang datang dari luar. Tetapi perjanjian tersebut mereka langgar berulang kali, bahkan salah satu suku dari mereka yaitu Bani Nadzir pernah membuat suatu makar jahat yaitu upaya pembunuhan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (lebih…)

Siroh Singkat Sa’ad bin Abi waqos

Amirul Mu’minin al-Faruq Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu bertanya kepada para sahabatnya, pada saat hendak memerangi Persia “Menurut kalian, siapakah yang akan kami utus ke Irak?” Semuanya diam berpikir. Tiba-tiba Abdurrahman bin Auf radhiyallahu’anhu berteriak, “Aku mendapatkannya.” Umar bertanya, “Siapakah dia?” Abdurrahman menjawab, “Singa yang ganas dengan cakarnya, Sa’d bin Malik az-Zuhri.” Yaitu Sa’d bin Abi Waqqash. Siapakah Sa’d bin Abi Waqqash? Siapakah Singa yang ganas dengan cakar-cakarnya? Siapakah orang ini yang ketika datang kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan beliau di tengah para sahabatnya, maka beliau menghormati dan mencandainya seraya berkata,

هذَا خَالِيْ، فَلْيَرِنِيْ امْرُؤٌ خَالَهُ

Ini pamanku, maka hendaklah seseorang memperlihatkan paman-nya kepadaku.” (HR. al-Hakim, 3/ 498)

Ia adalah Sa’d bin Abi Waqqash. Pamannya bernama Uhaib bin Manaf, paman Sayyidah Aminah ibunda Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam. Ia masuk Islam pada saat berusia 17 tahun, dan keislamannya tergolong awal. Ia bercerita tentang dirinya, “Suatu hari datang padaku, dan aku adalah orang ketiga dari tiga orang yang pertama kali masuk Islam.(lebih…)

Hudzaifah Ibnul Yaman

“Jika kamu ingin digolongkan sebagai kaum muhajirin, maka kamu memang seorang muhajir (orang yang hijrah). Jika kamu ingin digolongkan kaum anshar, kamu memang seorang anshar. Pilihlah mana yang kamu sukai.”

Itulah kalimat yang diucapkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam  kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, ketika dia pertama kali bertemu muka dengan beliau Shallallahu’alaihi wassalam di Mekkah. Mengenai pilihan itu, ada cerita tersendiri.

Berikut kisahnya. Al-Yaman adalah ayah Hudzaifah, ia berasal dari Bani Abbas di kota Mekkah. Karena terlibat hutang darah dalam kaumnya, dia terpaksa menyingkir dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Di sana dia minta perlindungan kepada Bani Abd Asyhal dan bersumpah setia kepada mereka untuk menjadi keluarga dalam persukuan Bani ‘Abd Asyhal. Kemudian dia menikah dengan anak perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka hilanglah halangan yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Mekkah. Sejak itu dia bebas pulang pergi antara Mekkah dan Madinah. Namun begitu, dia lebih banyak tinggal dan menetap di Madinah.

Ketika Islam memancarkan cahayanya ke seluruh jazirah Arab, Al-Yaman termasuk salah seorang utusan dari sepuluh orang Bani Abbas, untuk menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam dan menyatakan Islam di hadapan beliau Shallallahu’alaihi wassalam. Peristiwa tersebut terjadi sebelum hijrah Rasulullah  ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu menurut garis keturunan ayah, maka Hudzaifah adalah orang Mekkah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.

Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, Hudzaifah telah memeluk agama Islam sebelum bertemu Rasulullah .

Kerinduan Hudzaifah hendak bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memenuhi setiap rongga hatinya. Dia senantiasa menunggu-nunggu berita, dan menyimak kepribadian dan ciri-ciri Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Jika ada yang menceritakan hal itu kepadanya, cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam semakin bertambah.

Karena keinginan itu semakin menggebu-gebu, dia memutuskan untuk berangkat ke Mekkah menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Saat itulah ia bertanya kepada Rasulullah , “Apakah saya ini seorang Muhajir atau Anshar, ya Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam?

Jika kamu ingin disebut Muhajir, kamu memang muhajir, dan jika kamu ingin disebut Anshar, kamu memang orang Anshar. Pilihlah mana yang kamu suka!” ujar Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam.

Aku memilih Anshar, ya Rasulullah!” jawab Hudzaifah.

Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam perang Badar. Karena pada saat itu ia dan ayahnya sedang berada di luar kota Madinah dan ditangkap oleh kaum kafir Quraisy. Mereka tidak dibebaskan kecuali setelah berjanji untuk tidak memerangi kaum Quraisy. Namun ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, beliau memerintahkan untuk membatalkan perjanjian dan minta ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Karena itu, ketika terjadi perang Uhud, Hudzaifah  turut memerangi kaum kafir bersama-sama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam peperangan itu Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya meninggal dunia di medan Uhud. Yang sangat disayangkan, ayahnya mati syahid di tangan kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.

Ceritanya, pada hari terjadinya perang Uhud, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menugaskan Al-Yaman dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat para wanita dan anak-anak, karena keduanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan sengit, Al-Yaman berkata kepada temannya, “Bagaimana pendapatmu, apalagi yang harus kita tunggu? Umur kita sudah tua, tinggal menunggu detik saja. Kita mungkin saja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik kita ambil pedang, lalu menyerbu ke tengah-tengah musuh membantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Mudah-mudahan Allah  memberi kita rezeki menjadi syuhada bersama-sama dengan Nabi-Nya“. Lalu keduanya mengambil pedang dan terjun ke arena pertempuran.

Tsabit bin Waqsy syahid di tangan kaum musyrikin. Tetapi Al-Yaman, menjadi sasaran pedang kaum muslimin sendiri, karena mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah  berteriak, “Itu bapakku!”, “Itu bapakku!

Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya, sehingga bapaknya jatuh tersungkur oleh pedang teman-temannya sendiri. Hudzaifah tidak berkata apa-apa, kecuali hanya berdo’a, “Semoga Allah  mengampuni kalian, Dia Maha Pengasih dari yang paling pengasih.”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) bapak Hudzaifah kepada anaknya, Hudzaifah. Namun Hudzaifah menolak, “Bapakku menginginkan agar dia mati syahid. Keinginannya itu kini telah tercapai. Ya Allah, saksikanlah! Sesungguhnya saya menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin.

Mendengar pernyataan itu, penghargaan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam terhadap Hudzaifah bertambah tinggi dan mendalam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menilai dalam pribadi Hudzaifah terdapat tiga keistimewaan yang menonjol.

Pertama, cerdas tiada bandingan, sehingga dia dapat meloloskan diri dari situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya kapan saja. Ketiga, cermat dan teguh memegang rahasia dan berdisiplin tinggi, sehingga tak seorang pun dapat mengorek keterangan darinya.

Sudah menjadi salah satu kebijak-sanaan Rasulullah , berusaha me-nyingkap keistimewaan para sahabat-nya, dan menyalurkannya sesuai de-ngan bakat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yaitu menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang dilancarkan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam dan para sahabat. Dalam menghadapi kesulitan itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam mempercayakan sesuatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja.

Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menugaskan Hudzaifah memantau setiap gerak dan kegiatan mereka untuk mencegah bahaya yang mengancam kaum muslimin. Karena itu, Hudzaifah digelari oleh para sahabat dengan ‘Shahibu Sirri Rasulullah’ (pemegang rahasia Rasulullah).

Pada suatu ketika, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang sangat berbahaya dan membutuhkan keterampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan berdisiplin tinggi. Peristiwa itu terjadi pada puncak peperangan Khandaq.

Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tak tertanggungkan, serta kesulitan-kesulitan yang tak teratasi semakin hari situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati. Bahkan menjadikan sebagian kaum muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah .

Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menentukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik tidak lebih baik keadaannya daripada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, maka Allah Subhanahu wata’ala menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah Subhanahu wata’ala meniupkan angin topan yang sangat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk, kuali dan belanga, memadamkan api, menyiram muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.

Dalam situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih dahulu mengeluh, dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan info-info secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan mengambil putusan dalam musyawarah.

Ketika itulah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memerlukan keterampilan Hudzaifah, untuk mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka beliau Shallallahu’alaihi wassalam memutuskan untuk mengirim Hudzaifah ke jantung pertahanan mush, dalam kegelapan malam yang hitam pekat. Marilah kita dengarkan dia bercerita, bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut.

Hudzaifah bertutur, “Malam itu kami (tentara muslim) duduk berbaris. Saat itu, Abu Sufyan dan pasukannya kaum musyrikin Mekkah mengepung kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari sendiri. Angin bertiup sangat kencang, sehingga desirnya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin pulang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah mereka terkunci.

Setiap orang yang meminta izin pulang, diperkenankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, tidak ada yang dilarang atau ditahan beliau Shallallahu’alaihi wassalam. Semuanya keluar dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap bertahan, hanya tinggal 300 orang.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam berdiri dan berjalan memeriksa kami satu persatu. Setelah beliau sampai di dekatku, saya sedang meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusuk-nusuk, selain sehelai sarung butut kepunya-an istriku, yang hanya dapat menu-tupi hingga lutut. Beliau mendekati-ku yang sedang menggigil, seraya bertanya, “Siapa ini!”

“Hudzaifah!” Jawabku.

“Hudzaifah?” tanya Rasulullah minta kepastian.

Aku merapat ke tanah, malas ber-diri karena sangat lapar dan dingin, “Betul, ya Rasulullah!” jawabku.

“Ada beberapa peristiwa yang di-alami musuh. Pergilah ke sana de-ngan sembunyi-sembunyi untuk men-dapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera!” kata Be-liau memerintah.

Aku bangun dari ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk, de-ngan diiringi do’a Rasulullah , “Ya Allah, lindungilah dia dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas dan dari bawah.”

Demi Allah! setelah Rasulullah  berdo’a, ketakutan yang menghantui dalam dadaku, dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seke-tika, sehingga saya merasa segar dan perkasa. Tatkala saya memalingkan diriku dari Rasulullah , beliau me-manggilku dan berkata, “Hai, Hu-dzaifah! Sekali-kali jangan melaku-kan tindakan yang mencurigakan me-reka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapor kepadaku!”

Jawabku, “Saya siap, ya Rasulul-lah!”

Lalu saya pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Saya berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah saya anggota pasukan mereka. Belum lama saya berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba ter-dengar Abu Sufyan memberi koman-do.

“Hai pasukan Quraisy, dengarkan saya berbicara kepada kamu sekalian. Saya sangat khawatir apa yang akan kusampaikan ini didengar oleh Mu-hammad atau pengikutnya. Karena itu telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian ma-sing-masing!”

Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, saya segera memegang tangan orang yang di sampingku seraya ber-tanya, “Siapa kamu?”

Jawabnya, “Aku si Anu anak si Anu!”

Sesudah dirasanya aman, Abu Su-fyan melanjutkan bicaranya, “Hai pa-sukan Quraisy, Demi Tuhan, sesung-guhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat me-ninggalkan kita. Angin topan menye-rang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah ka-lian sekarang, dan tinggalkan tempat ini. Saya sendiri akan berangkat se-karang.”

Selesai berkata begitu, Abu Suf-yan langsung mendekati untanya. Di-lepaskannya tali penambat binatang itu, lalu dinaiki dan dipacunya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah  tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sung-guh telah kubunuh Abu Sufyan de-ngan pedangku.

Aku kembali ke pos komando me-nemui Rasulullah . Kudapati beliau sedang shalat di tikar kulit, milik sa-lah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu kulaporkan kepada beliau sega-la kejadian yang kulihat dan kude-ngar. Beliau sangat senang dan ber-suka hati, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah .

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang mu-nafik selama hidupnya. Sehingga ke-pada para khalifah sekalipun, yang mencoba mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Pada saat pemerintahan Umar bin Khattab , jika ada orang muslim yang me-ninggal, Umar  bertanya, “Apakah Hudzaifah  turut menyalatkan jena-zah orang itu?” jika mereka menja-wab, ada, beliau turut menyalatkan-nya. Bila mereka katakan tidak, beliau enggan menyalatkannya.

Pada suatu ketika, Khalifah Umar  pernah bertanya kepada Hudzai-fah dengan cerdik, “Adakah dianta-ra pegawai-pegawaiku orang muna-fik?”

Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”

Kata Umar, “Tolong tunjukkan ke-padaku, siapa?”

Jawab Hudzaifah, “Maaf Khalifah saya dilarang Rasulullah  menga-takannya.”

“Seandainya aku tunjukkan, ten-tu khalifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan,” kata Hudzaifah bercerita.

Selain itu, Hudzaifah juga adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dai-nawar, Hamadzan, dan Rai. Dia mem-bebaskan kota-kota tersebut bagi kaum muslimin dari genggaman ke-kuasaan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragam-an mushaf Al-Qur’an.

Ketika Hudzaifah sakit keras men-jelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya te-ngah malam. Hudzaifah bertanya ke-pada mereka, “Pukul berapa seka-rang?”

Jawab mereka, “Sudah dekat Su-buh.”

Kata Hudzaifah, “Aku berlindung kepada Allah, dari subuh yang me-nyebabkan saya masuk neraka.”

Kemudian dia bertanya, “Adakah Tuan-tuan membawa kafan?”

Jawab mereka, “Ada!”

Kata Hudzaifah, “Tidak perlu ka-fan yang mahal. Jika diriku baik da-lam penilaian Allah , Dia akan meng-gantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika saya tidak baik dalam pandangan Allah , Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuh-ku.”

Sesudah itu dia berdo’a, “Wahai Allah ! sesungguhnya kamu tahu, bah-wa saya lebih suka fakir daripada ka-ya, saya lebih suka sederhana dari-pada mewah, dan saya lebih suka mati daripada hidup.” Setelah mem-baca doa itu, ruhnya pun pergi me-ninggalkan jasad. Selamat jalan intel dan Pembisik Rasulullah

Sofiyah Binti Abdul Muthalib

Kita akan menelusuri jejak langkah tokoh-tokoh sohabiyah muslimah atau sohabiyah yang perkasa yang tak pernah melupakan fitroh kewanitaannya, yang cemerlang watak dan kepribadiannya, yang cerdas pola pikirannya, yang tegar diterpa badai cobaan, yang nama mereka pun harum sepanjang masa.
Pada kesempatan kali ini kita akan menelusuri jejak Sofiyah binti Abdul Muthalib, sang bibi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Beliau adalah seorang mukminah yang telah berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, seorang mujahidah, wanita yang sabar, ahlus syair yang mulia. Dan Sofiyah binti Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdul Manaf bin Kusoy bin Kilab, beliau adalah wanita Quraisy dari Bani Hasim. Beliau adalah bibi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, saudari dari singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib, beliau juga seorang ibu dari sahabat agung, yaitu Zubair bin Awam. Sofiyah radhiallahu’anha tumbuh di rumah Abdul Muthalib pemuka Quraisy dan orang yang memiliki kedudukan yang tinggi, terpandang dan juga mulia, dialah yang dipercaya yang mengurus pendatang yang berhaji. Faktor lingkungan inilah yang membentuk Sofiyah menjadi seorang wanita yang kuat.

Beliau adalah seorang wanita yang fasih lisannya dan ahli bahasa. Seorang cendekiawan dan seorang penunggang kuda yang pemberani. Beliau radhiallahu’anha termasuk wanita yang awal dalam mengimani putra saudaranya yang jujur dan juga terpercaya yaitu Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, dan juga bagus keislamannya. Beliau berhijrah bersama putranya yang bernama Zubair bin Awam untuk menjaga keislamannya.

Sofiyah radhiallahu’anha menyaksikan tersebarnya Islam dan turut andil dalam menyebarkannya. Melihat perkembangan sikap kaum musyrik Quraisy yang semakin keras terhadap kaum muslimin, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam merasa khawatir para sahabatnya akan sedikit banyak berpengaruh dengan siksaan-siksaan pedih yang mereka terima, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengijinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah. Sofiyah beserta putranya ikut serta berhijrah meninggalkan kampung halamannya dan juga harta kekayaannya dengan meraih pahala dan juga keridhoan dari Allah SWT.

Meraka semua tinggal di tengah-tengah kaum Anshor yang memberikan perhatian penuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh tamu-tamu agungnya. Di sanalah Sofiyah menghabiskan masa-masa yang paling indah dalam hidupnya karena senantiasa berada di tengah komunitas yang menjunjung nilai keimanan dan jauh dari siksaan dan kekejaman kaum musyrikin. Walaupun pada saat itu Sofiyah mencapai umur 60 tahun, namun faktor usia tidak menghalanginya untuk memberi andil yang sangat berharga di medan jihad yang tidak mungkin dilupakan oleh sejarah dan akan tetap menjadi lentera yang menerangi jalan-jalan para generasi islam pada masa berikutnya untuk meraih kemuliaan perjuangan dan juga pengorbanan.
Sungguh, jihad merupakan darah dagingnya. Oleh karena itu, beliau tidak menyianyiakan kesempatan pada hari Uhud menjadi pelopor bagi para wanita yang ikut keluar untuk membantu para mujahidin dan mengobarkan semangat mereka untuk bertempur disamping beliau juga mengobati para mujahidin yang luka-luka di antara mereka.

Tatkala takdir Allah menghendaki kaum muslimin terpukul mundur karena pasukan pemanahnya menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai panglima. Maka banyak pasukan yang berpencar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Namun Sofiyah tetap berdiri dengan berani. Ia mengambil tombak dan mengacung-acungkannya kepada kaum muslimin yang lari berhamburan seraya berteriak, ”Kalian hendak meninggalkan Rasulullah berjuang seorang diri?”. Manakala Sofiyah mendengar kesyahidan Hamzah bin Abdul Muthalib radhiallahu’anhu yang dijuluki sebagai singa Allah yang dibunuh dengan sadis, maka Sofiyah memberikan teladan yang agung bagi kita semua dalam hal kesabaran ketabahan dan juga ketegaran.
Pada hari terbunuhnya Hamzah, saudaranya, Zubair bin Awam sang putra tercinta menemui ibunya dan mengatakan bahwa Rasulullah menyuruh Sofiyah untuk kembali. Akan tetapi Sofiyah mengatakan, ”Sungguh telah sampai kepadaku tentang dibincangkannya saudaraku. Namun dia syahid karena Allah. Kami sangat ridho dengan apa yang telah terjadi. Sungguh aku akan bersabar dan juga tabah, insya Allah.”
Setelah Zubair radhiallahu’anhu memberitahukan kepada Rasulullah tentang komentar Sofiyah tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberikan jalan untuknya, maka Sofiyah mendapatkan Hamzah dan langsung ber-istirja, ”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. Kemudan Sofiyah memohonkan ampun baginya. Dan setelah itu, Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menguburkannya.

Tatkala terjadi perang khondaq, saat pasukan Yahudi mencoba menyerang tempat kaum wanita dan ketika itu ketika kaum muslimah dan anak-anak berada dalam sebuah benteng. Di sana ada juga Hasan Bin Tsabit radhiallahu’anhu. Tatkala ada orang Yahudi mengelilingi benteng, sedangkan kaum muslimin sedang menghadapi musuh, maka berdirilah Sofiyah radhiallahu’anha dan menyuruh Hasan untuk membunuh Yahudi tersebut. Akan tetapi Hasan mengatakan bahwa membunuh bukanlah keahliannya. Ketika Sofiyah mendengarkan jawaban Hasan, beliau langsung bangkit dan dengan semangat yang ada di jiwanya beliau mengambil tongkat yang keras kemudian turun dari benteng. Beliau menunggu kesempatan lengahnya orang Yahudi tersebut lalu beliau memukulnya tepat pada ubun-ubun secara bertubi-tubi hingga dapat membunuhnya. Beliau memang wanita pertama yang membunuh laki-laki. Beliau kembali ke benteng dan tersirat kegembiraan pada kedua matanya karena mampu menghabsi musuh Allah yang berarti pula menjaga rahasia persembunyian para wanita dan juga kaum muslimah dari mereka.

Begitulah kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam peperangan ini dari jiwa yang beriman dan juga pemberani yang tidak kenal istilah mustahil dalam meraih jalan kemenangan.

Tatkala perang Khaibar, Sofiyah radhiallahu’anha keluar bersama kaum muslimah untuk memompa semangat kaum muslimin. Mereka membuat perkemahan di medan jihad untuk mengobati pasukan yang terluka karena perang. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam merasa senang dengan peran para mujahidah sehingga mereka juga mendapatkan bagian dari rampasan perang. Nabi Shallallahu alaihi wasallam mencintai bibinya, Sofiyah radhiallahu’anha, dan memuliakan beliau serta memberikannya kepada beliau bagian yang banyak.

Tatkalah turun ayat
وَأَََََََنذِرْعَشِيرَتَكَﭐﻷَقْرَبِينَ
”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. Asy syu’araa’ ayat 214).
Beliau bersabda, ”Hai Fatimah binti Muhammad. Hai Sofiyah binti Abdul Muthalib. Wahai Bani Abdul Muthalib aku tidak kuasa menolong kalian dari siksa Allah. Mintalah padaku apa saja yang ada padaku”.

Sofiyah radhiallahu’anha mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sejak kecilnya dan juga mengikutinya. Beliau takjub dengan keadaan nabi dan akhirnya mengimani kenabian beliau, menyertai beliau dalam peperangan dan merasa sedih tatkala wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Sofiyah radhiallahu’anha hidup sepeninggalan Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam dengan penuh kewibawaan dan juga dimuliakan. Semua orang mengetahui keutamaan dan juga kedudukan beliau. Beliau tetap memegang teguh ajaran-ajaran Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Dia tetap tekun beribadah, rajin shalat malam, serta pasrah kepada Allah SWT.

Akhirnya Sofiyah meninggal dunia pada tahun 20 H pada usia 70 tahun lebih pada jaman khalifah Umar bin Khatab. Semoga Allah meridhoi Sofiyah binti Abdul Muthalib. Ia adalah seorang wanita yang pantas menjadi teladan ideal bagi setiap wanita muslimah. Ia adalah seorang wanita pendidik yang telah berhasil melahirkan orang-orang besar dan semoga Allah merahmati Sofiyah dan sungguh beliau ibarat menara yang tinggi dalam sejarah islam dan dalam perjalanan hidup yang sangat baik dalam hal pengorbanan dan juga jihad untuk menolong agama Allah.

Demikian sirah sohabiyah kali ini.

Wallahu ’alam.

Ditulis dari siaran radio fajri

[Buku] Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul

perjalanan hidup empat khalifah rasul Penulis : Ibnu Katsir
Harga :Rp.125.000,-
Deskripsi : xlii + 736 hal. (HC)

Dapatkan sekarang juga di sini, 

Harga Normal Rp 125.000,00

Info dan Pemesanan SMS ke 0896 1669 5643

Benarkah Khalifah Pertama Abu Bakar ash-Shiddiq diracun hingga menyebabkan kematian beliau? Benarkah penyebab dicopotnya Khalid bin al-Walid dari jabatannya sebagai panglima pasukan karena adanya intrik pribadi antara dia dengan Umar bin al-Khaththab? Benarkah isu-isu tendensius yang menyebutkan bahwa Utsman bin Affan lebih mengutamakan karib kerabat untuk memegang jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan seperti yang dituduhkan sebagian orang? Apa yang melatar-belakangi peperangan Jamal yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dengan az-Zubair, Thalhah dan ‘Aisyah? Dan Apa pula yang melatarbelakangi peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah? Benarkah isu yang menyebutkan bahwa al-Hasan bin Ali diracun oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan hingga menyebabkan kematiannya? (lebih…)

Awan Tag