Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘aqidah’

Kekufuran Syiah Terhadap Hadits

aqidah syiahUmat Islam sejak zaman Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam sampai sekarang tidak pernah berbeda pendapat bahwa as-Sunnah atau al-Hadits adalah sumber kedua dalam Islam. Hadits adalah wahyu, dan wajib berpegan teguh dengannya. [lihat penjabarannya di sini]

Kaidah Ilmiah dalam Menyaring Hadits.

Untuk membuktikan bahwa sebuah hadits itu shohih, para ulama hadits telah meletakkan suatu kaidah penyaringan hadits yang sangat ketat dan sangat ilmiah serta bisa dipertanggungjawabkan. Kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan ilmu Mustholahul Hadits. Inti dari kaidah tersebut adalah penelitian sanad. Setiap perawi di dalam sanad tersebut diteliti untuk dipastikan keabsahan riwayatnya. (lebih…)

Iklan

Hal-hal yang Merusak Aqidah

hal-hal yang merusak aqidahHal-hal yang Merusak Aqidah

Penulis: Syeikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz Rahlmahullah

Sesungguhnya, mengenal aqidah yang benar adalah kewajiban utama bagi setiap muslim yang mukallaf (orang yang sudah berkewajiban menjalankan perintah syara’. pen.). Aqidah lebih penting dari segala sesuatu; balk kesehatan, makanan, minuman dan oksigen untuk bernafas. Sebab, seseorang yang kehiiangan salah satu atau seluruh dari unsur ini atau unsur terpenting apapun; akibat terburuk yang mungkin menimpanya adalah kepergiannya meninggalkan dunia yang fana. Akan tetapi, seseorang yang kehiiangan aqidah yang benar, akan berakibat bukan semata pada kehancuran hidup di dunianya, tapi juga akhiratnya; dan inilah yang lebih utama. Akhirnya,orang tersebut tidak akan mendapatkan kebaikan apapun.

Download E-book-nya di sini

(lebih…)

Iman Kepada Malaikat

A.  Definisi Malaikat.

Secara bahasa (etimologi), malaikat atau al-malā’ikah  ( اَلْمَلاَئِكَةُ )adalah bentuk jama’ (plural) dari al-mal’ak ( اَلْمَلْأَكُ ). Kata al-mal’ak ( اَلْمَلْأَكُ ) sendiri berasal dari al-ma’lak ( اَلْمَأْلَكُ ) yang berasal dari kata dasar al-alūkah ( َاْلأَلُوْكَةُ ) yang berarti ar-risālah ( اَلرِّسَالَةُ ), yaitu pengutusan atau pengiriman[i].

Adapula yang berpendapat bahwa al- malā’ikah  ( اَلْمَلاَئِكَةُ )adalah bentuk jama’ dari al-malak ( اَلْمَلَكُ ) yang berasal dari al-alūkah ( َاْلأَلُوْكَةُ ) yang berarti ar-risālah ( اَلرِّسَالَةُ )[ii].

Dan terkadang bentuk jama’ dari al-malak ( اَلْمَلَكُ ) adalah al-malā’ik ( اَلْمَلاَئِكُ )[iii].

Dari sini dapat difahami bahwa malaikat adalah hāmil ar-risālah ( حَامِلُ الرِّسَالَةِ ) yaitu pengemban risalah, atau ( رَسُوْلٌ مُنَفِّذٌ ِلأَمْرِ مُرْسِلِهِ ) yaitu utusan yang menjalankan perintah Yang mengutusnya, Allah U (Lihat: QS. Faathir (35): 1)[iv].

Sedangkan secara istilah (terminologi, syar’i), malaikat adalah:

( عَالَمٌ غَيْبِيٌّ خَلَقَهُمُ اللهُ مِنْ نُوْرٍ وَجَعَلَهُمْ طَائِعِيْنَ لَهُ مَتَذَلِّلِيْنَ لَهُ وَلِكُلٍّ مِنْهُمْ وَظَائِفُ خَصَّهُ اللهُ بِهَا )

“(Makhluk) alam ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya yang dijadikan sebagai makhluk yang taat dan tunduk patuh kepada-Nya, yang masing-masing mempunyai tugas tertentu”[v]

( أَجْسَامٌ نُوْرَانِيَّةٌ لَطِيْفَةٌ أُعْطِيَتْ قُدْرَةً عَلَى التَّشَكُّلِ بِأَشْكَالٍ مُخْتَلِفَةٍ وَمَسْكَنُهَا السَّمَوَاتُ )

“Makhluk cahaya lagi halus yang mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi beragam bentuk dan tinggal di langit”[vi] (lebih…)

Memahami Pengertian Ibadah

Memahami tauhid tanpa memahami konsep ibadah adalah mustahil. Oleh karena itu mengetahuinya adalah sebuah keniscayaan. Penulis syarah Al-Wajibat menjelaskan, “Ibadah secara bahasa berarti perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan.” (Tanbihaat Mukhtasharah, hal. 28).

Adapun secara istilah syari’at, para ulama memberikan beberapa definisi yang beraneka ragam. Di antara definisi terbaik dan terlengkap adalah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir). Maka shalat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah. Begitu pula rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, inabah (kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, merasa ridha terhadap qadha/takdir-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat (kasih sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan lain sebagainya itu semua juga termasuk bagian dari ibadah kepada Allah.” (Al ‘Ubudiyah, cet. Maktabah Darul Balagh hal. 6). (lebih…)

Awan Tag