Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Bersama Pendeta Buhaira

Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajaknya berdagang ke negeri Syam. Sesampainya di perkampungan Bushra yang waktu itu masuk wilayah negeri Syam mereka disambut oleh seorang pendeta bernama Buhaira. Semua rombongan turun memenuhi jamuan pendeta Buhaira kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada pertemuan tersebut, Abu Thalib menceritakan perihal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sifat-sifatnya kepada pendeta Buhaira. Setelah mendengar ceritanya, sang pendeta langsung memberitahukan bahwa anak tersebut akan menjadi pemimpin manusia sebagaimana yang dia ketahui dari kitab-kitab dalam agamanya. Maka dia meminta Abu Thalib untuk tidak membawa anak tersebut ke negeri Syam, karena khawatir di sana orang-orang Yahudi akan mencelakakannya. Akhirnya Abu Thalib memerintahkan anak buahnya untuk membawa pulang kembali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Mekkah.

Perang Fijar

Pada usia 15 tahun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut serta dalam perang Fijar yang terjadi antara suku Quraisy yang bersekutu dengan Bani Kinanah melawan suku Qais Ailan. Peperangan dimenangkan oleh suku Quraisy. Pada peperangan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membantu paman-pamannya menyiapkan alat panah.

Hilful-Fudhul

Setelah perang Fijar usai, diadakanlah perdamaian yang dikenal dengan istalah Hilfil-Fudhul, disepakati pada bulan Dzulqaidah yang termasuk bulan Haram, di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimi.

Semua kabilah dari suku Quraisy ikut dalam perjanjian tersebut. Di antara isinya adalah kesepakatan dan upaya untuk selalu membela siapa saja yang dizalimi dari penduduk Mekkah. Dan mereka akan menghukum orang yang berbuat zhalim sampai dia mengembalikan lagi hak-haknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut serta menyaksikan perjanjian tersebut, bahkan setelah beliau menjadi Rasul, beliau masih mengingatnya dan memujinya, seraya berkata,

“Saya telah menyaksikan perjanjian damai di rumah Abdullah bin Judian yang lebih saya cintai dari onta merah. Seandainya saya diundang lagi setelah masa Islam, niscaya saya akan memenuhinya”

Disalin dari “Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam” yang disarikan dari Kitab Ar-Rahiqul Makhtum karya Syaikh Shafiyyur-Rahman al-Mubafakfurry

Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH

Bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah ini.
Like, Comment, and Share

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: