Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

kaab-bin-malikMengapa Ka’ab bin Malik tak ikut serta bersama kita?
‘ Seorang sahabat dari Bani Salimah menjawab; ‘Ya Rasulullah, sepertinya Ka’ab bin Malik lebih mementingkan dirinya sendiri daripada perjuangan ini?

‘ Mendengar ucapan sahabat tersebut, Muadz bin Jabal berkata; ‘Hai sahabat, buruk sekali ucapanmu itu! Demi Allah ya Rasulullah, saya tahu bahwasanya Ka’ab bin Malik itu adl orang yg baik.’ Kemudian Rasulullah diam. Ketika beliau terdiam seperti itu, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yg memakai helm besi yg sulit di kenali. Lalu Rasulullah berkata:
‘Kamu pasti Abu Khaitsamah?

‘ Ternyata orang tersebut adl memang benar-benar Abu Khaitsamah Al Anshari, sahabat yg pernah menyedekahkan satu sha’ kurma ketika ia dicaci maki oleh orang-orang munafik. Ka’ab bin Malik berkata; ‘Ketika saya mendengar bahwasanya Rasulullah telah bersiap-siap kembali dari perang Tabuk, maka saya pun diliputi kesedihan. Lalu saya mulai merancang alasan untuk berdusta. Saya berkata dalam hati; ‘Alasan apa yg dapat menyelamatkan diri saya dari amarah Rasulullah?

‘ Untuk menghadapi hal tersebut, saya meminta pertolongan kepada keluarga yg dapat memberikan saran. Ketika ada seseorang yg berkata kepada saya bahwasanya Rasulullah hampir tiba di kota Madinah, hilanglah alasan untuk berdusta dari benak saya. Akhirnya saya menyadari bahwasanya saya tak dapat berbohong sedikit pun kepada Rasulullah . Oleh karena itu, saya pun harus berkata jujur kepada beliau. Tak lama kemudian Rasulullah tiba di kota Madinah. Seperti biasa, beliau langsung menuju Masjid – sebagaimana tradisi beliau manakala tiba dari bepergian ke suatu daerah – untuk melakukan shalat. Setelah melakukan shalat sunnah, Rasulullah langsung bercengkrama bersama para sahabat. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yg tak sempat ikut serta bertempur bersama kaum muslimin seraya menyampaikan berbagai alasan kepada beliau dgn bersumpah. Diperkirakan mereka yg tak turut serta bertempur itu sekitar delapan puluh orang lebih. Ternyata Rasulullah menerima keterus terangan mereka yg tak ikut serta berperang, membai’at mereka, memohon ampun untuk mereka, & menyerahkan apa yg mereka sembunyikan dalam hati mereka kepada Allah. Selang beberapa saat kemudian, saya datang menemui Rasulullah . Setelah saya memberi salam, beliau tersenyum seperti senyuman orang yg marah. Kemudian beliau pun berkata; ‘Kemarilah! ‘ Lalu saya berjalan mendekati beliau hingga saya duduk tepat di hadapan beliau. Setelah itu Rasulullah bertanya: ‘Mengapa kamu tak ikut serta bertempur bersama kami hai Ka’ab?

Bukankah kamu telah berjanji untuk menyerahkan jiwa ragamu untuk Islam?
‘ Saya menjawab; ‘Ya Rasulullah, demi Allah seandainya saya duduk di dekat orang selain diri engkau, niscaya saya yakin bahwasanya saya akan terbebaskan dari kemurkaannya karena alasan & argumentasi yg saya sampaikan. Tetapi, demi Allah, saya tahu jika sekarang saya menyampaikan kepada engkau alasan yg penuh dusta hingga membuat engkau tak marah, tentunya Allah lah yg membuat engkau marah kepada saya. Apabila saya mengemukakan kepada engkau ya Rasulullah alasan saya yg benar & jujur, lalu engkau akan memarahi saya dgn alasan tersebut, maka saya pun akan menerimanya dgn senang hati. Biarkanlah Allah memberi hukuman kepada saya dgn ucapan saya yg jujur tersebut. Demi Allah, sesungguhya tak ada uzur yg membuat saya tak ikut serta berperang. Demi Allah, saya tak berdaya sama sekali kala itu meskipun saya mempunyai peluang yg sangat longgar sekali untuk ikut berjuang bersama kaum muslimin.’ Mendengar pengakuan yg tulus itu, Rasulullah pun berkata:
‘Orang ini telah berkata jujur & benar. Oleh karena itu, berdirilah hingga Allah memberimu keputusan. Akhirnya saya pun berdiri & beranjak dari sisi beliau. Tak lama kemudian, ada beberapa orang dari Bani Salimah beramai-ramai mengikuti saya seraya berkata; ‘Hai Ka’ab, demi Allah, sebelumnya kami tak mengetahui bahwasanya kamu telah berbuat suatu kesalahan/dosa. Kamu benar-benar tak mengemukakan alasan kepada Rasulullah sebagaimana alasan yg dikemukakan para sahabat lain yg tak turut berperang. Sesungguhnya, hanya istighfar Rasulullah untukmulah yg menghapus dosamu.’ Ka’ab bin Malik berkata setelah itu; ‘Demi Allah, mereka selalu mencerca saya hingga saya ingin kembali lagi kepada Rasulullah lalu saya dustakan diri saya.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Apakah ada orang lain yg telah menghadap Rasulullah seperti diri saya ini?

‘ Orang-orang Bani Salimah menjawab; ‘Ya. Ada dua orang lagi seperti dirimu. Kedua orang tersebut mengatakan kepada Rasulullah seperti apa yg telah kamu utarakan & Rasulullah pun menjawabnya seperti jawaban kepadamu.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Lalu saya pun bertanya; ‘Siapakah kedua orang tersebut hai para sahabat?

‘ Mereka, kaum Bani Salimah, menjawab; ‘Kedua orang tersebut adl Murarah bin Rabi’ah Al Amin & Hilal bin Ummayah Al Waqifi.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Kemudian mereka menyebutkan dua orang sahabat yg shalih yg ikut serta dalam perang Badar & keduanya layak dijadikan suri tauladan yg baik. Setelah itu, saya pun berlalu ketika mereka menyebutkan dua orang tersebut kepada saya.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Beberapa hari kemudian, Rasulullah melarang kaum muslimin untuk berbicara dgn kami bertiga yg tak ikut serta dalam perang Tabuk. Sejak saat itu, kaum muslimin mulai menjauhi & berubah sikap terhadap kami bertiga hingga bumi ini terasa asing bagi kami. Sepertinya, bumi ini bukanlah bumi yg pernah saya huni sebelumnya & hal itu berlangsung lima puluh malam lamanya.’ Dua orang teman saya yg tak ikut serta dalam perang Tabuk itu kini bersimpuh sedih di rumahnya sambil menangis, sedangkan saya adl seorang anak muda yg tangguh & tegar. Saya tetap bersikap wajar & menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Saya tetap keluar dari rumah, pergi ke masjid untuk menghadiri shalat jama’ah bersama kaum muslimin lainnya, & berjalan-jalan di pasar meskipun tak ada seorang pun yg sudi berbicara dgn saya. Hingga pada suatu ketika saya menghampiri Rasulullah sambil memberikan salam kepadanya ketika beliau berada di tempat duduknya usai shalat. Saya bertanya dalam hati; ‘Apakah Rasulullah akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salam ataukah tidak? Kemudian saya melaksanakan shalat di dekat Rasulullah sambil mencuri pandangan kepada beliau. Ketika saya telah bersiap untuk melaksanakan shalat, beliau memandang kepada saya. Dan ketika saya menoleh kepadanya, beliaupun mengalihkan pandangannya dari saya.’ Setelah lama terisolisir dari pergaulan kaum muslimin, saya pun pergi berjalan-jalan hingga sampai di pagar kebun Abu Qatadah. Abu Qatadah adl putera paman saya (sepupu saya) & ia adl orang yg saya sukai. Sesampainya di sana, saya pun mengucapkan salam kepadanya. Tetapi, demi Allah, sama sekali ia tak menjawab salam saya. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya; ‘Hai Abu Qatadah, saya bersumpah kepadamu dgn nama Allah, apakah kamu tak mengetahui bahwasanya saya sangat mencintai Allah & Rasul-Nya?

‘ Ternyata Abu Qatadah hanya terdiam saja. Lalu saya ulangi lagi ucapan saya dgn bersumpah seperti yg pertama kali. Namun ia tetap saja terdiam. Kemudian saya ulangi ucapan saya & ia pun menjawab; ‘Sesungguhnya Allah & Rasul-Nya lebih mengetahui tentang hal ini.’ Mendengar ucapannya itu, berlinanglah air mata saya & saya pun kembali ke rumah sambil menyusuri kebun tersebut. Ketika saya sedang berjalan-jalan di pasar Madinah, ada seorang laki-laki dari negeri Syam yg berjualan makanan di kota Madinah bertanya; ‘Siapakah yg dapat menunjukkan kepada saya di mana Ka’ab bin Malik?

‘ Lalu orang-orang pun menunjukkan kepada saya hingga orang tersebut datang kepada saya sambil menyerahkan sepucuk surat kepada saya dari raja Ghassan. Karena saya dapat membaca & menulis, maka saya pun memahami isi surat tersebut. Ternyata isi surat tersebut sebagai berikut; ‘Kami mendengar bahwasanya temanmu (maksudnya adl Rasulullah ) telah mengisolirmu dari pergaulan umum, sementara Tuhanmu sendiri tidaklah menyia-nyiakanmu seperti itu. Oleh karena itu, bergabunglah dgn kami, niscaya kami akan menolongmu.’ Selesai membaca surat itu, saya pun berkata; ‘Sebenarnya surat ini juga merupakan sebuah bencana bagi saya.’ Lalu saya memasukkannya ke dalam pembakaran & membakarnya hingga musnah. Setelah empat puluh hari lamanya dari pengucilan umum, ternyata wahyu Tuhan pun tak juga turun. Hingga pada suatu ketika, seorang utusan Rasulullah mendatangi saya sambil menyampaikan sebuah pesan; ‘Hai Ka’ab, sesungguhnya Rasulullah memerintahkanmu untuk menghindari istrimu.’ Saya bertanya; ‘Apakah saya harus menceraikan atau bagaimana?

‘ Utusan tersebut menjawab; ‘Tidak usah kamu ceraikan. Tetapi, cukuplah kamu menghindarinya & janganlah kamu mendekatinya.’ Lalu saya katakan kepada istri saya; ‘Wahai dinda, sebaiknya dinda pulang terlebih dahulu ke rumah orang tua dinda & tinggallah bersama dgn mereka hingga Allah memberikan keputusan yg jelas dalam permasalahan ini.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Tak lama kemudian istri Hilal bin Umayyah pergi mendatangi Rasulullah sambil bertanya; ‘Ya Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah lanjut usia & lemah serta tak mempunyai pembantu. Oleh karena itu, izinkanlah saya merawatnya.’ Rasulullah pun menjawab: ‘Jangan. Sebaiknya kamu tak usah menemaninya terlebih dahulu & ia tak boleh dekat denganmu untuk beberapa saat.’ Isteri Hilal tetap bersikeras & berkata; ‘Demi Allah ya Rasullah, sekarang ia itu tak mempunyai semangat hidup lagi. Ia senantiasa menangis, sejak mendapatkan permasalahan ini sampai sekarang.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Beberapa orang dari keluarga saya berkata; ‘Sebaiknya kamu meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah dalam masalah istrimu ini. Karena Rasulullah sendiri telah memberikan izin kepada Hilal bin Umayyah untuk merawat suaminya.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Saya tak akan meminta izin kepada Rasulullah dalam persoalan istri saya ini. Karena, bagaimanapun, saya tak akan tahu bagaimana jawaban Rasulullah nanti jika saya meminta izin kepada beliau sedangkan saya masih muda belia.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Ternyata hal itu berlangsung selama sepuluh malam hingga dgn demikian lengkaplah sudah lima puluh malam bagi kami terhitung sejak kaum muslimin dilarang untuk berbicara kepada kami. Ka’ab bin Malik berkata; ‘Lalu saya melakukan shalat fajar pada malam yg ke lima puluh di bagian belakang rumah. Ketika saya sedang duduk dalam shalat tersebut, diri saya diliputi penyesalan & kesedihan. Sepertinya bumi yg luas ini terasa sempit bagi diri saya. Tiba-tiba saya mendengar seseorang berteriak dgn lantangnya menembus cakrawala; ‘Hai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! ‘ Maka saya pun tersungkur sujud & mengetahui bahwasanya saya telah terbebas dari persoalan saya. Ka’ab bin Malik berkata; ‘Kemudian Rasulullah mengumumkan kepada kaum muslimin usai shalat Shubuh bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menerima taubat kami. Lalu orang-orang pun segera memberitahu kepada kami seraya mendatangi dua orang teman saya untuk memberitahukan kepada mereka berdua. Sementara itu, orang-orang dari Bani Aslam datang kepada saya dgn mengendarai kuda & berjalan menyusuri gunung, sedangkan suara mereka lebih cepat dari kuda mereka. Ketika orang yg memberi kabar gembira itu telah datang kepada saya, maka saya pun segera melepaskan dua pakaian luar saya & memakaikan kepadanya sebagai imbalan jasa pemberitahuannya kepada saya. Demi Allah, pada saat itu yg saya miliki hanyalah dua pakaian luar tersebut. Akhirnya saya meminjam dua pakaian (kepada seorang sahabat saya) & langsung mengenakannya. Setelah itu, saya pun menghadap Rasulullah, sementara orang-orang berduyun-duyun menemui saya untuk memberikan ucapan selamat atas terkabulnya taubat saya. Lalu saya masuk ke dalam masjid, tempat yg biasa digunakan Rasulullah untuk duduk-duduk & bercengkrama bersama para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri & berjalan mendekati saya serta menjabat tangan saya seraya mengucapkan selamat kepada saya. Demi Allah, pada saat itu tak ada sahabat kaum Muhajirin yg berdiri untuk memberi selamat selain Thalhah. Perawi hadits berkata; ‘Ka’ab tak pernah melupakan penyambutan Thalhah tersebut.’ Ka’ab berkata; ‘Lalu saya memberi salam kepada Rasulullah yg kala itu wajahnya terlihat berseri-seri. Tak lama kemudian beliau berkata: ‘Bergembiralah hai Ka’ab, karena kamu mendapatkan sebaik-baik yg telah kamu lalui sejak kamu dilahirkan oleh ibumu.’ Ka’ab berkata; ‘Kemudian saya bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah pengampunan untuk diri saya ini berasal dari engkau ataukah dari Allah?

‘Rasulullah menjawab; ‘Dari Allah’. Sesungguhnya, manakala Rasulullah sedang senang, maka wajah beliau terlihat bersinar bagai bulan purnama & kami pun mulai memahaminya. Ka’ab berkata; ‘Ketika telah duduk di hadapan Rasulullah saya berkata; ‘Ya Rasulullah di antara rasa syukur diterimanya taubat saya, maka saya akan menyerahkan sebagian harta saya ini sebagai sedekah kepada Allah & Rasul-Nya.’ Rasulullah menjawab: ‘Hai Ka’ab, sisakanlah sebagian hartamu, maka yg demikian itu lebih baik untukmu.’ Akhirnya saya pun berkata; ‘Baiklah. Saya akan menyisakan harta saya yg menjadi bagian saya di Khaibar.’ Saya berkata; ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan saya hanya karena kejujuran saya & di antara taubat saya adl bahwasanya saya tak akan berbicara kecuali dgn sejujur-jujurnya selama sisa umur saya. Demi Allah, saya tak tahu ada seorang muslim yg di uji Allah dalam kejujuran ucapannya sejak saya ceritakan hal ini kepada Rasulullah hingga sekarang ini & ia lebih baik daripada apa yg telah diujikan Allah kepada saya. Demi Allah, saya tak ingin berdusta sejak saya ucapkan kata-kata ini kepada Rasulullah sampai sekarang. Selain saya selalu berharap semoga Allah memelihara saya dari kedustaan dalam sisa umur saya.’ Ka’ab bin Malik berkata; ‘Akhirnya Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat Al Qur’an yg berbunyi:

‘Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, & orang-orang Anshar yg mengikuti Nabi dalam kesulitan setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka terhadap tiga orang yg di tangguhkan penerimaan taubatnya hingga bila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas & jiwa mereka pun terasa sempit serta mereka telah mengetahui bahwasanya tak ada tempat untuk berlindung dari siksa Allah melainkan kepada-Nya. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah & hendaklah kamu bersama orang-orang yg jujur.’ (Qs. At-Taubah (9): 117-119).

Ka’ab berkata; ‘Demi Allah, tak ada nikmat yg telah di berikan Allah kepada saya, setelah Allah menunjukan kepada saya Islam, yg saya anggap lebih besar daripada kejujuran. Seandainya saya berdusta, maka saya akan celaka sebagaimana orang-orang yg telah berdusta. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan keburukan orang-orang yg berdusta ketika Allah menurunkan ayat yg berbunyi:

‘Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dgn nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah kamu dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu najis & tempat mereka adl jahannam sebagai balasan dari apa yg telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu supaya kamu ridla kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tak ridla kepada orang-orang yg fasik itu.’ (Qs. At-taubah (9): 95-96).

Ka’ab berkata kepada dua orang temannya; ‘Kita bertiga ini adl orang-orang yg tertinggal dari kelompok yg telah diterima Rasulullah ketika mereka bersumpah, lalu beliau membai’at mereka & memohonkan ampun untuk mereka. Ternyata Rasulullah menangguhkan persoalan kita hingga ada keputusan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang persoalan kita ini. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman: Dan terhadap tiga orang yg penerimaan taubat mereka di tangguhkan hingga bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas. (Qs. At-taubah (9): 118). Ka’ab berkata; ‘Apa yg disebutkan Allah dalam ayat ini bukankah tertinggalnya kami dari peperangan, melainkan tentang ketidakikutsertaannya kami dari kelompok orang-orang yg bersumpah & beralasan kepada Rasulullah , lalu beliau menerima alasannya. [HR. Bukhari No.4066].

Disalin dari http://www.mutiarahadits.com/92/90/75/hadits-ka-b-bin-malik.htm

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Comments on: "Kisah Ka’ab bin Malik Saat Tertinggal dalam Perang Tabuk" (1)

  1. […] tentang hal ini adalah kisah tertinggalnya Ka’ab bin Malik dalam Perang Tabuk yang bisa dibaca di sini. Karena kejujurannya, ka’ab mendapatkan kebaikan yang besar walaupun di awalnya terasa pahit dan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: