Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘shalat’

Apa yang Seorang Wanita Dapatkan Ketika Shalat di Rumahnya

Termasuk di dalam pembahasan fiqih wanita bahwa bagi seorang wanita shalat di rumahnya lebih utama daripada di masjid, baik shalat fardhu maupun shalat tarawih. Salah satu hadits tentang wanita yang membahas tentang hal ini adalah hadits dari Ummu Humaid radliallahu ‘anha bahwa beliau pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata bahwa dia sangat senang sekali bila dapat shalat bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (lebih…)

Video

Kesalahan-kesalahan Dalam Shalat

Kesalahan-kesalaham Dalam Shalat:

Semoga bermanfaat

[Video] Bagaimana Setan Menggoda Kita di Waktu Tidur Malam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”. Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembiraJika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

 

Bagaimana cara menghidupkan Lailatul Qadar

Malam-Lailatul-QadarBagaimana cara menghidupkan Lailatul Qadar, apakah dengan shalat, membaca Al-Qur’an atau sejarah nabi, atau dengan menyampaikan ceramah, atau dengan merayakan hal itu di masjid?
Alhamdulillah.

Pertama, biasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam ibadah seperti shalat, membaca (Al-Qur’an) dan berdoa dalam sepuluh malam akhir di bulan Ramadan melebihi ibadahnya di malam selain Ramadan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu’anha sesungguhnya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Biasanya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki sepuluh (malam terakhir) menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan kainnya (semangat beribadah dan menghindari isterinya).(lebih…)

Sebab-sebab Ampunan di Bulan Ramadhan

ramadhanSEBAB-SEBAB AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN

Dalam bulan Ramadhan, banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan. Di antara sebab-sebab itu adalah:

  • Melakukan puasa di bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

((مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)) متفق عليه.

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah  lalu.” (Muttafaq alaih). (lebih…)

Doa Tasyahud

TasyahudTASYAHUD

52- التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

52. “Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya. Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.” [67]

MEMBACA SALAWAT NABI SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM SETELAH TASYAHUD (lebih…)

Sifat Shalat Nabi

sifat-shalat-nabi1Sungguh, kitab yang kini di tangan pembaca adalah kitab  monumental. Bagaimana tidak. Kitab ini mengupas secara tuntas dan gamblang bagaimana Nabi meiaksanakan shalat sejak  takbir hingga salam. Seakan penulis tidak lagi memberikan kesempatan kepada selainnya untuk menulis kitab seperti ini. Kekuatan pembahasan, baik dari sisi hadits maupun fiqih yang disertai kelugasan dan kecermatan dalam mengolah alur demi alur bahasan ilmiyah, argumentasi yang memukau dalam setiap pasal pembahasan, bahkan dalam setiap bab permasalahan, adalah karakter kuat yang nampak pada kitab-kitab dan karya ilmiyah beliau. Dan kitab ini adalah salah satu di antaranya. Di hadapan pembaca budiman, akan nampak figur seorang ulama Rabbani, sehingga tidak salah jika lisan berucap: Inilah satu- satunya Atsar Ulama As-Salaf yang pernah menyertai kita di zaman ini. (Pengantar Penerbit)

Download di sini: Jilid 1 | Jilid 2 | Jilid 3

Anda juga bisa membeli buku ini di sini 
(lebih…)

Berpuasa Tapi Meninggalkan Shalat

berpuasa tapi meninggalkan shalatBerpuasa Tapi Meninggalkan Shalat

Barangsiapa berpuasa tapi meninggalkan shalat, berarti ia meninggalkan rukun terpenting dari rukun-rukun islam setelah tauhid. Puasanya sama sekali tidak bermanfaat baginya, selama ia meninggalkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, di atasnya-lah agama tegak. Dan orang yang meninggalkan shalat hukumnya adalah kafir. Orang kafir tidak diterima amalnya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

(( العَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُم الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ )) رواه أحمد وأهل السنن من حديث بريدة.

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad dan para penulis kitab sunan dari hadits Buraidah)([1]). (lebih…)

Hukum Shalat Berjama’ah

sholat-dzikirHukum shalat lima waktu berjama’ah adalah wajib bagi setiap mukmin yang tak ada adzur (halangan) syar’i untuk mengikutinya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Suatu kampung atau dusun yang dihuni oleh tiga orang dan disitu tidak ditegakkan shalat berjama’ah, maka pasti mereka akan dikalahkan oleh syetan.  Maka wajib atas kamu shalat berjama’ah.  Karena serigala akan menerkam kambing yang jauh dari kawannya.”[1] (lebih…)

Shalat Tarawih

shalat tarawihShalat tarawih termasuk qiyam Ramadhan. Karena itu, hendaklah bersungguh-sungguh dan memperhatikannya serta mengharapkan pahala dan balasannya dari Allah. Malam Ramadhan adalah kesempatan yang terbatas bilangannya dan orang mu’min yang berakal akan memanfaatkannya dengan baik tanpa terlewatkan.

Jangan sampai ditinggalkan shalat tarawih, agar memperoleh pahala dan ganjarannya. Dan jangan pulang dari shalat tarawih sebelum imam selesai darinya dan dari shalat witir, agar mendapatkan pahal shalat semalam suntuk.  Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu’alaihi wassalam: (lebih…)

Doa Ruku

rukuDOA RUKU

33- ((سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ)) ×3.

33. “Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung”. (Dibaca tiga kali). [48]

34- سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ.

34. “Maha Suci Engkau, ya Allah! Tuhanku, dan dengan pujiMu. Ya Allah! Ampunilah dosaku.” [49]

35- سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ.

35. “Engkau, Tuhan Yang Maha Suci (dari kekurangan dan hal yang tidak layak bagi kebesaranMu), Maha Agung, Tuhan malaikat dan Jibril.” [50] (lebih…)

Ajarkan Anak Shalat Sejak Dini

shalat dini - mutiara hadits pilihan

 

Sholatlah Kamu Sebelum Kamu Disholatkan

Sholatlah Kamu Sebelum Kamu Disholatkan

Sholatlah Kamu Sebelum Kamu Disholatkan

Shalatlah kamu di belakang imam sebelum kamu dishalatkan di hadapan imam.

Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat

Pertanyaan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : ‘Apa yang harus dilakukan oleh seseorang, apabila ia telah menyuruh keluarganya untuk mengerjakan shalat namun mereka tidak memperdulikannya, apa ia tetap tinggal bersama mereka dan bergaul dengan mereka atau keluar dari rumah itu ?’

Jawaban

Jika keluarganya tidak mau melaksanakan shalat selamanya, berarti mereka kafir,murtad, keluar dari Islam, maka ia tidak boleh tinggal bersama mereka. Namun demikian ia wajib menda’wahi mereka dan terus menerus mengajak mereka, mudah-mudahan Allah memberi mereka petunjuk, karena orang yang meninggalkan shalat hukumnya kafir berdasarkan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta pendapat para sahabat dan pandangan yang benar. Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah tentang orang-orang musyrik. ‘Artinya : Jika meerka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu segama’ [At-Taubah : 11] Artinya, jika mereka tidak melakukan itu, berarti mereka bukanlah saudara-saudara kita. Memang persaudaraan agama tidak gugur karena perbuatan maksiat walaupun besar, namun persaudaraan itu akan gugur ketika keluar dari Islam. Dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Artinya : Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat’ [Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman (82)] (lebih…)

Tata Cara Shalat Gerhana

Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah ‘Azza wa Jalla tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.

Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi) (lebih…)

Panduan Sholat-Sholat Sunnah

Sholat Sunnah Rowatib.

Sholat sunnah adalah ibadah yang sangat agung, dapat menambal kekurangan dalam sholat fardu, mendapatkan kebaikan selama berada dalam sholatnya, dan meraih kecintaan dari Alloh.

Sholat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah sholat fardu disebut dengan sholat sunnah rowatib yaitu: dua atau empat rokaat sebelum dan sesudah sholat dzuhur, dua atau empat rokaat sebelum ashar, dua rokaat sesudah sholat magrib dan dibolehkan juga sholat sunnah sebelum sholat magrib, dua rokaat sesudah sholat isya dan dua rokaat sebelum sholat shubuh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ اْلمُسْلِمُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الصَّلاَةُ الْمَكْتُوْبَةُ فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلاَّ قِيْلَ أُنْظُرُوْا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أَكْمَلَتِ اْلفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ يَفْعَلُ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ اْلمَفْرُوْضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ ))

Dari Abu hurairoh berkata: Aku Mendengar Rosululloh bersabda:” Sesungguhnya amalan hamba muslim yang pertama kali dihitung pada hari kiamat adalah sholat wajib, jika ia menyempurnakan-nya (maka ia telah beruntung), jika tidak maka dikatakan kepada (para malaikat) : Perhatikanlah..! Adakah ia memiliki amalan sholat sunnah? Jika ia memilikinya maka lengkapilah (kekurangan) amalan sholat fardunya dengan amalan sholat sunnahnya, kemudian seluruh amalan sholat wajib diperlukan seperti itu.” (Shohih: shohih Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan An-Nasai’) (lebih…)

MENDAHULUI IMAM SECARA SENGAJA DALAM SHALAT

Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya,  Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

”Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”(Q.S; Al Israi: 11).

Nabi Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Sifat perlahan-lahan adalah dari Allah Subhanahu wata’ala, dan tergesa-gesa adalah dari syaitan” .[1]

Dalam shalat berjama’ah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam  ruku’ dan sujud, takbir perpindahan, dan bahkan hingga mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga terjadi pada dirinya sendiri.

Perbuatan yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat Islam itu  oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam diperingatkan dan diancam secara keras, dalam sabdanya:

”Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai” .[2]

Jika saja orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, apalagi dengan shalat itu sendiri.

Tetapi terkadang orang memahami larangan mendahului imam itu dengan harus terlambat dari gerakan imam. Hendaknya dipahami, sebagaimana para fuqaha telah menyebutkan kaidah yang baik dalam masalah ini, yaitu hendaknya makmum segera bergerak ketika imam telah selesai mengucapkan takbir. Ketika imam selesai melafadzkan huruf (ra’) dari kalimat Allahu Akbar, saat itulah makmum harus segera mengikuti gerakan imam, tidak mendahului dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Jika demikian maka batasan itu menjadi jelas.

Dahulu para sahabat Nabi  radhiallahu ‘anhum sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi Shallallahu’alai wassalam. Salah seorang sahabat bernama Al Barrai Bin Azib Radhiallahu’anhu berkata:

”Sungguh mereka (para shahabat) shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi wassakan. Maka  jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, saya tak melihat seorang pun yang membungkukkan punggungnya sehingga Rasulullah Shallallahu’alai wassalam meletakkan keningnya di atas bumi, lalu orang yang ada di belakangnya sujud (bersamanya)”.[3]

Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam mulai udzur, dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat di belakangnya:

“Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah gemuk [lanjut usia], maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud …”.[4]

Dalam shalat, Imam hendaknya melakukan sunnahnya takbir. Yakni sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Rhadiallahu’anhu:

”Bila Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’, kemudian  bertakbir ketika turun (hendak sujud), kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahhud pertama)”.[5]

Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam sebagaimana disebutkan di atas, maka jama’ah dalam shalat tersebut menjadi sempurna.

Sumber:

Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H


[1] Hadits riwayat Baihaqi dalam As Sunanul Kubra:10/104; dalam  As Silsilah As Shahihah  hadits; No: 1795.

[2] Hadits riwayat Muslim; 1/ 320-321.

[3] Hadits riwayat Muslim, hadits; No: 474,tahqiq. Abdul Baqi.

[4] Hadits riwayat Baihaqi; No: 2/ 93, dan hadits tersebut dihasankan dalam Irwa’ul Ghalil; 2/ 290.

[5] Hadits riwayat Bukhari, hadits; No:  476, cet.  Al Bagha.

BANYAK MELAKUKAN GERAKAN SIA-SIA DALAM SHALAT

Sebagian umat Islam hampir tak terelakkan dari bencana ini, yakni melakukan gerakan yang tak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:

”Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu)dengan khusyu’”. (Q.S; Al Baqarah: 238).

Juga tidak memahami firman Allah Subhanahu wata’ala:

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam Shalatnya”. (Q.S; Al Muiminuun: 1-2).

Suatu saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam ditanya tentang hukum meratakan tanah ketika sujud.

Beliau Shallallahu’alaihi wassalam menjawab:

”Janganlah engkau mengusap sedangkan engkau dalam keadaan shalat, jika (terpaksa) harus melakukannya maka (cukup ) sekali meratakan kerikil”.[1]

Para ulama  menyebutkan, bahwasanya banyak gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apalagi jika yang dilakukan tidak ada gunanya dalam shalat.

Berdiri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sambil melihat jam tangan, membetulkan pakaian, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar pandangan ke kiri, kanan, atau ke atas langit. Ia tidak takut kalau-kalau Allah Subhanahu wata’ala mencabut penglihatannya, atau syaitan melalaikannya dari ibadah shalat.

Sumber:

Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H


[1] Hadits riwayat Abu Dawud; 1/ 581; dalam shahihil jamii hadits; No: 7452 (Imam Muslim meriwayatkan hadits senada dari Mu’aiqib , Bin Baz)

TIDAK THUMA’NINAH DALAM SHALAT

Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

”Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”, mereka bertanya: ”Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Beliau  menjawab: “(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”.[1]

Meninggalkan  thuma’ninah[2] , tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika rukui’dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk diantara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin.

Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.

Thumaininah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

”Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud”.[3]

Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.

Abu Abdillah Al Asyiari Rahimahullah berkata: ”(suatu ketika) Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam shalat bersama shahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu rukui lalu sujud dengan cara mematuk[4] , maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam barsabda:

”Apakah kalian menyaksikan orang ini?, barang siapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (shalatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk  darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya”.[5]

Zaid bin Wahb rahimahullah berkata: “Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan  ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata: “Kamu belum shalat,  seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini), niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad Shallallahu’alaihi wassalam“.

Orang yang tidak thumaininah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thumaininah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits:

”Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”.

Sumber:

Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H


[1] Hadits riwayat Imam Ahmad,  5/  310 dan dalam Shahihul jamii hadits no: 997.

[2] Thumaininah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan, para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat  fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124 ( pent).

[3] Hadits riwayat Abu Daud; 1/ 533, dalam shahihul jami’, hadits; No: 7224.

[4] Sujud dengan cara mematuk maksudnya: Sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna, sujud  yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wassalam besabda: “Jika seseorang hamba sujud maka ia sujud denga tujuh anggota badan(nya), wajah, dua telapak tangan,dua lutut dan dua telapak kakinya”. HR. Jama’ah, kecuali Bukhari, lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq: 1/ 124.

[5] Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya: 1/ 332, lihat pula shifatus shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal: 131.

Untuk mendapatkan artikel-artikel keislaman lainnya kunjungi http://muhamadilyas.wordpress.com

Sifat Shalat Nabi (Edisi Lengkap)

Sifat-Shalat-Nabi-1-set-Jilid-1-2-3Judul: Sifat Shalat Nabi (Edisi Lengkap)
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Ukuran: 15.5 x 24 cm
Tebal: Jilid 1: 522 hal. Jilid 2: 532 hal. Jilid 3: 300 hal.
Jenis: Hard Cover
Harga:
1 Set: Rp 250.000,-

Dapatkan sekarang juga di sini, 

Info dan Pemesanan SMS ke 0896 1669 5643 (lebih…)

Awan Tag