Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘neraka’

Teman yang Jelek Menggiringmu ke Neraka

Sahabat,

Waspadalah terhadap teman-teman yang jelek. Mereka yang jelek agamanya. Teman yang jelek dapat menggiringmu masuk neraka berbeda dengan teman yang shalih dia akan mengajakmu masuk surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ (41) تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ

“Wahai kaumku, bagaimanakah ini. Aku menyeru kalian kepada keselamatan, namun kalian mengajakku menuju ke Neraka? Mengapa kalian menyeruku untuk kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya, sedangkan aku senantiasa menyeru kalian (untuk beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?” (QS. al-Mu’min: 41-42)

 

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Iklan

Apakah Makanan dan Minuman Penghuni Neraka

Soal: Apakah makanan dan minuman yang disediakan buat penghuni neraka?

Jawab: Allah ta’ala berfirman,

“Sungguh, Kami menjadikannya (pohon zaqqum) sebagai azab bagi orang-orang zholim. Pohon itu keluar dari dasar neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala-kepala setan. Maka sungguh mereka benar-benar memakan sebagian darinya, dan mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian setelah mereka makan (buah zaqqum) mereka mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas.” (QS. Ash Shoffat: 63-67)

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang banyak dosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (QS. Ad-Dukhan: 43-46)

Nu’udzubillahi min dzalik..!!

Ya Allah… !! Kami berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.. Aamiin.

Semoga dengan merenungi ayat-ayat tentang siksa neraka menjadikan hati kita tunduk, lembut dan takut kepada Allah ta’ala.
—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

 

Dianjurkan Memberi Kabar Gembira Dengan Datangnya Bulan Ramadhan

memupuk kerinduan dengan mengetahui keutamaan bulan ramadhanDari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepada kalian ramadhan bulan yang penuh berkah. Allah azza wa jalla mewajibkan atas kalian berpuasa Ramadhan . Pada bulan ini dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Siapa yang diharamkan dari kebaikannya maka sungguh dia telah-benar-benar diharamkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). (lebih…)

Ramadhan: Terbukanya Pintu Surga, Tertutupnya Pintu Neraka

selamat-menyambut-ramadhan2Segala puji bagi Alloh yang mempertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini, bulan yang penuh dengan keistimewaan-keistimewaan di dalamnya, keistimewaan yang tidak ada pada bulan-bulan yang lainnya. Semoga kita semua dapat memaksimalkan kesempatan yang telah diberikan kepada kita semua.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada uswah kita,  Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad , juga kepada seluruh keluarga dan para sahabat-sahabatnya serta kepada mereka yang setia mengikuti jejak langkah orang-orang terdahulu yang sholeh. Semoga kita termasuk bagian dari mereka yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik. (lebih…)

Dahsyatnya Siksaan Neraka

nerakaSeringkali kita mendengar tentang neraka, namun hati kita terlalu keras untuk menerima kebenaran akan adanya neraka dengan segala kepedihan di dalamnya.

Allah ta’ala berfirman: “Maka takutlah kalian kepada neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan bebatuan, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. Al-Baqoroh [2]: 24)

Berikut ini, kami mencoba menghadirkan kedahsyatan adzab yang tidak pernah terbayangkan, yaitu adzab neraka, balasan yang telah disiapkan oleh Alloh ta’ala bagi orang kafir, munafik, dan para pelaku dosa. (lebih…)

Syirik, Virus Kemurnian Islam

Jangan-SyirikBerabad-abad lamanya Iblis berusaha menebarkan benih virus ini ke tubuh kaum muslimin.  Sejak pertama kali Alloh mengutus Adam as ke bumi ini dan dijadikannya seorang Nabi untuk menjalankan Islam yang murni mendakwahkan dan mengawalnya. Iblis terus menyebarkan virus ini namun ia tidak  mampu untuk memasukkan virus ke dalam tubuh kaum muslimin saat itu. Sepuluh generasi lamanya menanti, Iblis baru bisa memasukkan virus keyirikan ini…

Saudaraku kaum muslimin…!

Sangat mengerikan sekali ketika melihat realita yang terjadi pada umat ini. Ketidaksadaran umat akan bahaya kesyirikan, mereka begitu menikmati ritual-ritual keyirikan ini, sesama makhluk saling menyembah yang lainnya, memberikan sifat-sifat, hak-hak Alloh atau memberikan peribadatan yang seharusnya dipersembahkan kepada Alloh ternyata diberikan kepada Dzat selain-Nya baik sebagian maupun seluruhnya serta menyamakan Alloh dengan makhluk-Nya atau menjadikannya sebagai tandingan-Nya. Itu semua dianggap sebagai aset budaya bangsa yang harus dilestarikan, padahal kesyirikan inilah penyebab terbesar dari semua jenis keterpurukan. (lebih…)

Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !

Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat.

Alloh berfirman,

“Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120).

Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. (lebih…)

Berilah Peringatan

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab)”. (QS. Ath-Thuur: 26)

Seorang anak yang cerdas bertanya kepada ayahnya di suatu malam halaqah keluarga, ” Boleh nggak orang yang takut masuk neraka tidurnya nyenyak?” Sepertinya bahasan kali itu membuat seluruh anggota keluarga ketakutan, hingga si anak dengan rasa kantuknya bertanya demikian. Ayahnya bangga mendengar pertanyaan yang terkesan polos namun menggetarkan. Teringat dengan firman Allah, ‘Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?’ (QS. Al-’Araf: 97)

Membahas neraka membutuhkan kejernihan hati, sebab apa? hati yang keras lagi kotor akan jauh dari rasa takut, sedangkan khauf (takut) ialah satu ibadah yang pahalanya melebihi ibadah lainnya. Ibnu Iyadh berkata, “Khauf lebih utama daripada raja’ (harap), bagi orang yang betul-betul normal.” Mereka akan benar-benar melihat bagaimana dahsyatnya tempat kembalinya orang-orang yang durhaka lagi kafir itu saat hati mereka jernih.

Hendaklah Takut

Kita akan menilik sedikit kepada apa yang telah sang ayah dalam keluarga tadi sampaikan dalam halaqah. Neraka!! tapi sebelumnya atur posisi duduk anda lebih nyaman dan fokus.

“Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan adzab itu.” (QS. Az-Zumar: 15-16)

Inilah alasan kenapa sang ayah tak ingin keluarganya dalam kerugian. Berada dalam gumulan api yang menyala-nyala, berlapis-lapis di atas dan di bawahnya, sungguh kerugian yang nyata.

Telah diketahui sekarang, Allah berfirman, “Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatanginya (neraka).” (QS. Maryam: 71) Setiap kita, manusia, anak cucu Adam , telah menjadi ketetapan dari Allah Yang Maha Kuasa pasti akan mendatangi neraka itu. Qatadah menafsirkan kata ‘mendatangi’ dengan melewati.

Rasulullah bersabda, “Manusia pasti akan melewatinya sesuai dengan amalnya masing-masing.” Mereka yang beriman, menyakini dengan sepenuh hati, tulus takut (baca: bertakwa) pasti akan diselamatkan, sedang mereka yang durhaka, menyembah kepada selain Allah akan diseret di atas mukanya dan didorong ke dalam neraka, seburuk-buruknya tempat yang didatangi dengan paksa seperti binatang yang kehausan.

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا

“Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga.” (QS. Maryam: 86)

Allah mengumpulkan orang-orang durhaka pada hari kiamat dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Mereka dijadikan kayu bakar bagi neraka, setiap kali panas neraka itu menurun, ditambah lagi nyala apinya untuk mereka. Merasakan tamparan api neraka di wajah, dibolak-balikkan dalam kobaran api dan cairan tembaga disiramkan pada tubuh dan tidak dapat menyelamatkan diri darinya dan di antara air yang mendidih yang telah memuncak panasnya.

Apa belum ada juga yang bergetar takut dengan adzab Allah ini? Anak-anak dalam keluarga tadi tambah ketakutan ketika sang ayah melanjutkan pembahasan.

Neraka memiliki tujuh pintu yang bertingkat-tingkat yang terdiri dari Jahanam, Lazha, Al-Huthamah, As-Sa’ir, Saqar, Jahim, dan Al-Hawiyah. Abu Hurairah berkata, “Mereka yang dilempar ke dalam Jahanam pada Hari Kiamat, api membakar mereka. Tidak ada daging yang menempel pada tulang, kecuali akan terbakar dan binasa.”

Mereka terkurung dalam neraka tertutup rapat dengan api yang berwarna kemerah-merahan lebih hitam dari aspal, sedang mereka dibelenggu di tiang yang panjang melintang.

Panasnya neraka itu melontarkan bunga api laksana istana pencakar awan. Apinya merupakan salah satu bagian dari seratus macam neraka Jahanam, tiada yang masuk ke dalamnya melainkan orang-orang yang paling celaka, yakni generasi yang jahat, mengabaikan shalat, dan mengikuti syahwat, karena itu mereka akan menemui kebinasaan, dimasukkan ke dalam jurang neraka Jahanam yang sangat dalam dan baunya tidak sedap.

Pohon zaqqum yang tumbuh di lembah-lembah Jahanam menjadi hidangan. Pohon yang dijadikan sebagai siksaan yang memiliki mayang seperti kepala-kepala setan yang menakutkan. Kemudian sesudah mendapatkan makan buah zaqqum akan disediakan minuman dari air yang panas lagi mendidih yang harus diminum seperti minumnya unta yang kehausan. Duh, sungguh mengerikan.

“Maka bagi orang-orang yang kafir akan dibuatkan pakaian dari api (neraka).” (QS. Al-Hajj: 19).

Ketika membaca ayat ini Ibrahim At-Taimi berkata, “Mahasuci Allah yang menciptakan pakaian dari api neraka.” Bayangkan pakaian yang terbuat dari api neraka seperti apa, pakaian dari tembaga yang panas, yang tentunya membakar seluruh tubuh yang asalnya indah. Ini ancaman bagi mereka yang melanggar tuntunan Nabi dalam kitab shahih Bukhari yang diriwayatkan Abu Hurairah , “Pakaian yang panjangnya sampai di bawah dua mata kaki akan menarik seseorang ke dalam neraka.” Sendal di neraka pun terbuat dari api yang terbakar hingga mendidihkan otak, dan dipakaikan sendal ini seringan-ringannya adzab di Jahanam.

Kemudian Allah berfirman,

“Mereka mendapat alas tidur dari neraka Jahanam dan di atas mereka selimut api neraka. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-’Araf: 41)

Maksudnya seperti itulah kelak balasan bagi mereka yang zhalim dan melampaui batas, memperoleh tikar dan alas dari api neraka serta selimut api neraka. Lantas bagaimana mereka dapat tidur nyenyak? Mereka tidak mungkin mendapatkannya, mereka dikepung oleh api neraka dari segala penjuru, dari bawah, atas, samping kanan, kiri, depan dan belakang.

Tiba-tiba terdengar suara adzan Isya’, kajianpun dihentikan sejenak, sang ayah mengajak tiga anak laki-lakinya berangkat menuju masjid dekat rumah. Seusai menunaikan shalat Isya’ berjama’ah, keluarga tersebut melanjutkan kajiannya membahas tentang neraka. Mereka sangat takut sekali dengan apa yang disampaikan sang ayah.

Ketakutan Mereka

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan neraka, kemudian menciptakan penghuni bagi masing-masing keduanya. Kemudian Allah mengeluarkan keturunan Nabi Adam kemudian berfirman, ‘Aku meminta persaksian kepada mereka, ‘Bukankah Aku adalah Rabb kalian?’ Mereka berkata, ‘Benar.’ Kemudian Dia membalikkan mereka dan berfirman, ‘Mereka ini masuk surga dan mereka ini masuk neraka. Ahli surga mudah melakukan amalan ahli surga dan ahli neraka mudah melakukan amalan ahli neraka.’” (HR. Thabrani)

Kalau kita menengok kehidupan dan kondisi ulama salaf, maka kita akan mengetahui bahwa mereka sangat takut beramal amalan-amalan penghuni neraka, takut menjadi penghuni neraka yang akan merasakan siksaan neraka. Mereka sangat percaya, siapa yang Allah tetapkan masuk neraka maka masuklah ia ke dalamnya.

Adalah Umar bin Al-Khaththab berkata,

“Jika penyeru dari langit menyerukan, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan masuk surga, kecuali seorang saja. Tentu saya takut jika seorang itu adalah saya.”

Abu Nuh Al-Anshari berkata,

“Rumah Ali bin Husain terbakar saat ia sedang sujud, kemudian orang-orang memanggilnya, Wahai cucu Rasulullah, ada api. Ia tetap sujud dan tidak mengangkat kepalanya sampai api itu padam. Seseorang berkata kepadanya, Apa yang membuat engkau tidak menghiraukan rumahmu yang terbakar api? Ia menjawab, Api yang lain (api neraka).”

Yazid Ar-Ruqqasyi banyak menangis dan dikatakan kepadanya,

“Apabila api neraka benar-benar diciptakan untukmu, tentu kamu akan menangis lebih banyak lagi melebihi hal ini. Ia berkata, Bukankah api diciptakan untuk saya, sahabat-sahabat saya, jin dan manusia? Bacalah, ‘Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepada kalian hai manusia dan jin.’ (QS. Ar-Rahman: 31), dan “Kepada kalian (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kalian tidak dapat menyelamatkan diri daripadanya.”(QS. Ar-rahman: 35).”

Dari Atha’ Al-Khurasani ia berkata,

“Uwais Al-Qarni pernah berhenti pada dua tempat pengolahan besi, kemudian ia memperhatikan para pekerja, bagaimana mereka memanaskan besi sehingga meleleh. Ia juga mendengarkan suara api membakar besi itu, kemudian ia terdiam.”

Di antara ulama salaf ada yang apabila memikirkan neraka maka bergetar hatinya dan berubah keadaannya.

Dari Mahdi ia berkata,

“Sufyan Ats-Tsauri selalu tidur lebih awal dan terbangun pada malam harinya, kemudian ia menyeru, Ada api.. ada api.. saya sibuk memikirkan api neraka daripada tidur dan syahwat. Kemudian ia wudhu dan setelah itu berdoa, Ya Allah sesungguhnya Engkau lebih mengetahui kebutuhanku yang tidak diketahui orang lain. Saya hanya memohon kepada-Mu agar selamat dari api neraka.”

Malik bin Dinar berkata,

“Putri Rabi’ bin Khatsim berkata, Wahai ayah kenapa engkau tidak tidur di kala manusia sedang tidur? Ia berkata, Sesungguhnya neraka yang menyebabkan ayahmu ini tidak bisa tidur.”

Itulah beberapa riwayat yang menjelaskan keadaan para ulama salaf yang sangat takut kepada adzab neraka. Mereka memperbanyak ibadah kepada Allah , mereka terjaga di malam hari dan mereka berusaha mengekang nafsu syahwatnya.

Dan nampaknya malam pun semakin larut, melihat sayup mata anak-anaknya sang ayah mulai berinteraktif memberi kesempatan untuk bertanya, siapa yang ingin bertanya? Seorang anaknya sekilas tangkas mengacungkan tangan, “Boleh nggak orang yang takut masuk neraka tidurnya nyenyak?” namun ia terlihat begitu kantuk. Sang ayah tersenyum.

Lima Golongan dan Mayoritas Ahli Neraka

Dalam kitab shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Iyadh bin Himar bahwa Rasulullah bersabda di dalam khutbahnya,

“Ahli surga ada tiga golongan, yaitu para penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk keadilan dan kebenaran, seorang yang penyayang dan lembut hatinya kepada siapa saja, dan orang muslim yang yang bisa menjaga diri dari kemaksiatan. Sedangkan ahli neraka ada lima golongan, yaitu orang lemah yang tidak peduli dengan sesamanya, para pengkhianat, penipu yang memperdaya keluarga dan harta orang lain, kikir dan pendusta, serta orang yang berakhlak tercela.”

Dijelaskan oleh Rasulullah bahwa golongan pertama ahli neraka yakni orang lemah yang tidak mempunyai daya untuk menjaga dirinya dan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Adalah mereka tidak berusaha untuk melakukan amal-amal shalih dan amalan ketakwaan lainnya. Golongan ini merupakan golongan manusia yang paling jelek, karena mereka tidak mempunyai usaha untuk sukses di dunia dan akhirat, cita-citanya hanya seputar perut dan kemaluan.

Golongan kedua, para pengkhianat yang merusak persatuan umat dan menjadi penyebab kegagalan dalam sebuah perjuangan. Sebagian ulama salaf berkata,

“Kami membicarakan tentang penghuni neraka, di antaranya adalah pengkhianat yang tidak takut kepada Allah .”

Golongan ketiga, para penipu yang pekerjaannya siang dan malam memperdaya orang lain, keluarga dan hartanya. Penipu merupakan salah satu sifat munafik, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah karena karakternya adalah menampakkan kebaikan, padahal yang ada dalam benaknya dan apa yang direncanakannya adalah kejahatan. Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukanlah termasuk golongan kami, orang yang melakukan konspirasi dan tipu daya tempatnya adalah neraka.” (HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud)

Golongan keempat, pembohong dan orang yang bakhil. Keduanya merupakan embrio dari sifat tamak, yang berarti mengambil harta orang lain yang bukan haknya, sedangkan seorang yang bakhil berusaha menguasai harta miliknya secara berlebihan. Ibnu Mas’ud meriwayatkan,

“Sesungguhnya setan berkata, ‘Barangkali keturunan Adam akan mengalahkanku, tetapi aku akan mengalahkan mereka dengan tiga hal; membujuk mereka mengambil harta orang lain yang bukan haknya, atau menafkahkan harta bukan pada jalan yang benar, atau menguasai hartanya dan tidak mau menafkahkannya ke jalan Allah.’”

Dari sifat tamak pula, muncul sifat-sifat lain seperti pembohong, tipu daya dan mengharapkan sesuatu yang bukan haknya, sehingga ia ingin mendapatkannya dengan jalan yang haram. Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya kebohongan itu mendorong seseorang untuk berbuat dosa dan perbuatan dosa mendorong seseorang masuk neraka.” (HR. Bukhari)

Adapun golongan kelima ahli neraka adalah mereka yang berakhlak tercela, Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang pada Hari Kiamat di sisi Allah adalah siapa yang ditinggalkan oleh manusia lain (di dunia) karena mereka takut akan bahaya perbuatannya.” (HR. Bukhari)

“Oleh karena itu kamu harus senantiasa menjaga akhlak dengan baik, di saat sendiri maupun dalam keramaian. Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tersembunyi maupun yang nampak.” Papar sang ayah saat-saat mengakhiri halaqah malam itu. “Dan semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada keluarga kita yakni terhindar dari adzab neraka.”

Rasulullah juga menyebutkan dua golongan lainnya seperti dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ,

“Dua golongan ahli neraka yang tidak akan saya lihat yaitu, kaum yang membawa cambuk seperti cambuk sapi yang dipergunakan untuk mencambuk manusia, serta wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma surga dapat dicium seseorang dari jarak yang jauh.” (HR. Muslim)

Kemudian mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita, sebuah hadits dari Ibnu Abbas dari Nabi beliau bersabda,

“Saya menengok neraka dan saya melihat isinya kebanyakan adalah wanita.” (HR. Muslim)

“Dengan selalu menjaga sunnah-sunnah Rasulullah , seperti mengerjakan shalat tepat waktu, menambah shalat-shalat nafilah (yang disunnahkan), membaca doa berlindung dari adzab Jahanam setiap selesai membaca doa tasyahud akhir,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku ber-lindung kepada-Mu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Al-masih Dajjal.”

Berbuat baik kepada orang tua, mentaati suami. Membaca dzikir-dzikir sebelum tidur, seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi mengajarkan doa sebelum tidur,

“Ya Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan nabi yang Engkau utus.”

Insya Allah, kalian akan dijaga ketika tidur, sehingga cukup istirahatnya.” Nasihat sang ayah sebelum membaca doa kafaratul majelis sekaligus menjawab pertanyaan anak laki-lakinya yang cerdas tadi yang tampak telah bersandar pada pundak sang ibu tercinta.

Sampaikan Peringatan Ini..

Fenomena laknat-melaknat antara manusia akan terjadi di neraka, para penghuninya saling mendoakan serta berharap kepada Allah untuk menimpakan siksaan dan menambah siksaan tersebut. Mereka bertengkar, orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang sombong lagi kafir, “Sesungguhnya kami ini dahulu pengikut kalian.”

Allah selalu mengingatkan mereka untuk introspeksi sebelum masuk neraka itu, karena Dia tidak akan memasukkan hamba-Nya dengan zhalim. Dia adalah Dzat Yang Maha Adil atas segala hukum yang diberlakukan kepada hamba-Nya. Bahkan penghuni neraka mengakui bahwa mereka mendustakan para rasul dan tidak beriman kepada mereka dan kepada Allah . Merekalah yang telah menzhalimi diri mereka sendiri dengan mengikuti pemimpin-pemimpin yang kafir lagi enggan mengikuti petunjuk.

Kemudian para ahli neraka akan melihat orang-orang mukmin yang dahulunya mereka hina dan mereka cela berhasil mendapatkan ridha Allah dan selamat dari murka-Nya. Mereka telah mendapatkan kenikmatan yang tiada tara seraya berkata, “Kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kami kepada kami.” (QS. Al-’Araf: 44)

Jangan mau dihinakan oleh iblis laknatullah’alaihi, di neraka nanti iblis akan berkelit tidak ingin menanggung siksa atas apa yang telah dia serukan sewaktu di dunia, sebagaimana orang-orang yang kafir mengelak, “Sesungguhnya kita semua berada di neraka.” Dan memang,

“Orang-orang kafir yang pernah menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan yang semestinya, sebagai balasan atas pengrusakan yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 88)

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS. Fathir: 36)

“Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada adzab yang berat.” (QS. Ibrahim: 17)

Rasulullah bersabda,

“Sedangkan orang-orang yang betul-betul ahli neraka, mereka tidak mati dan tidak hidup, mereka mendapatkan siksaan di neraka karena dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, Nasa’i)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 56)

Hilangnya kasih sayang sesama mereka di dunia,

“Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, dan istrinya atau saudaranya, dan sanak keluarganya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi selu-ruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al-Ma’arij: 11-18)

Maka berbahagialah manusia yang menyambut seruan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahriim: 6)

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa: 214-215)

Mereka yang membersihkan diri, menyucikan hati serta mejernihkannya dengan pendekatan Ilahiyah dalam rangka meningkatkan takwa, akan bisa merenungkan ini sebagai peringatan dan menjadikannya tuntunan hidup di dunia yang fana lagi sementara. Sampaikanlah kepada orang di dekat Anda, bahwa kita akan mendatanginya.

Wallahu’alam

(bacagerimis.wordpress.com)

Mengharap Surga dan Takut Neraka dalam Beribadah

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan ini sengaja saya susun untuk menjawab beberapa permasalahan mengenai pertanyaan bagaimanakah seorang muslim mengharapkan surga atau ingin supaya dijauhkan dari api neraka dalam beribadah?
Ketika saya searching menggunakan google, ternyata tidak sedikit yang membahas mengenai hal ini. Dari beberapa tulisan yang saya baca, ada beberapa yang bisa saya simpulkan dari tulisan tersebut, di antaranya:

–          Ketika seseorang dalam beribadah terdapat pengharapan terhadap surga dan atau dijauhkan dari neraka, maka masih ada ketidakikhlasan kita dalam beribadah untuk memperoleh ridhoNya.

–          Ketika seseorang dalam beribadah terdapat pengharapan terhadap surga dan atau dijauhkan dari neraka, maka orang tersebut belum mencapai tingkat keimanan yang hakiki atau tingkat keimanan yang tinggi.

–          Ada juga yang mengatakan ”Kami tidak mencari surga, tidak beramal untuk surga dan tidak menginginkan surga. Kami hanya beramal karena ridha Allah, baik dimasukan ke dalam surga maupun ke dalam neraka”, dan beberapa kata-kata lain yang senada hal tersebut.

Sebelumnya membahas hal-hal tersebut, perlu diperhatikann dalam setiap aktivitas, apalagi ibadah, baik batin maupun lahir, harus diukur dengan dalil Al Quran dan Hadits. Jika ada sebuah pendapat mengenai hal agama hendaklah sekiranya disebutkan juga dalilnya baik Al Quran maupun Hadits, jadi supaya jelas apakah pendapat tersebut sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam atau tidak? Karena islam itu sumbernya jelas yaitu Al Quran dan Hadis, kalau pun ada ijma keduanya harus bersumber pada dua tadi. Dan kita pun telah diwasiatkan oleh Rosulullah salallahu ’alaihi wassalam untuk berpegang teguh pada keduanya. Kita sebagai seorang yang mengaku mencintai beliau, semestinya kita menjalankan wasiat tersebut.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian bersengketa tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” [QS. an-Nisa’ (4): 59]

Juga sabda Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam,

(( تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ ))

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang tidak akan sesat kalian selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Kitabulloh (al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

Oleh karena itu, dalam beragama kita harus beritiba kepada Rasulullah saw. Ittiba’ berarti pengikutan”. Ittiba’ yang dimaksud sebagai dasar agama Islam adalah pengikutan kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wassalam dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang berasal dari Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berasal dari Allah subhanahu wata’ala dan tidak ada sedikit pun produk dari beliau sendiri.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ’Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh akan men-cintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali ‘Imron (3): 31]

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengi-kuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya).” [QS. al-A’rof (7): 3]

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى  ,  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. an-Najm (53): 3-4]

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ  ,  لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ  ,  ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sesuatu perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami hantam dia dengan tangan kanan. Kemudian Kami putuskan urat tali jantungnya.” [QS. al-Haqqoh (69): 44-46]

Oleh karena itu dalam membahas hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas, insya Allah akan disertakan juga dalil-dalil baik dari Al Quran maupun Hadits.

Kembali ke pokok pembahasan, yaitu mengenai pendapat yang mengatakan hal-hal tersebut di atas, atau pendapat tidaklah pantas seorang hamba dalam beribadah dengan mengharapkan surga atau dijauhkan dari neraka. Apakah Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wassalam, seorang rosul, manusia termulia yang tentunya memiliki tingkatan keimanan tertinggi tidak mengharapkan surga?

Untuk menyamakan pemahaman, pertama yang harus ditegasakan terlebih dahulu bahwa sudah menjadi kewajiban kita, sebagai seorang hamba Allah subhanahu wata’ala, dalam melakukan segala sesuatu, terutama ibadah, harus dilandasi keikhlasan dan hanya diniatkan karena Allah subhanahu wata’ala sebagaimana firman Allah subahanahu wata’ala berikut,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (tulus ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah (98): 5)

Dan dalil-dalil lain yang membahas mengenai niat, juga sebuah hadis yang berbunyi sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Kita semua sepakat mengenai hal tersebut. Sedangkan yang akan diuraikan lebih lanjut kali ini adalah permasalahan tentang pengharapan terhadap surga atau dijauhkan dari neraka dalam beribadah, tidak untuk memperdebatkan masalah niat. Pengharapan terhadap surga atau dijauhkan dari neraka pun harus dilandasai karena Allah Subhanahu wata’ala dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya melalui syariat yang dibawa oleh Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam.

Alllah subhanahu wata’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقاً قَالُواْ هَـذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُواْ بِهِ مُتَشَابِهاً وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Baqarah (2) : 25)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar” . (QS. Al Buruuj (85): 11)

وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

”Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)” . (QS. Yunus (10):25)

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali ’Imran (3):133)

Dari ayat-ayat di atas dan beberapa ayat lain yang membicarakan tentang surga, Allah bermaksud memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman tentang apa yang akan mereka dapat di akhirat yaitu surga. Allah pun menyeru manusia kepada surgaNya dan memerintahkan untuk bersegera kepada surgaNya yang luas. Dengan kabar ini maka sudah sewajarnya orang yang beriman, bahkan seluruh manusia, berharap untuk mendapatkannya karena itu adalah fitrah manusia. Kalau ada orang yang ditanya siapa yang mau surga? Pasti semuanya serentak menjawab mau, kalo ada yang menjawab tidak saya yakin pada dasarnya dalam hatinya menginginkannya.

Lalu bagaimana Rasulullah shalallahu alahi wassaalam dan para sahabatnya menyikapi mengenai kabar gembira ini (surga)? Berikut saya cantumkan hadits-hadits shahih dari Kitab Riyadus Shalihin.

”Dari Ibnu Mas’ud rodhiullahuanhuma., katanya: ’Kita semua berada bersama-sama Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam. dalam sebuah kemah, kira-kira ada empatpuluh orang, lalu beliau shalallahu ’alaihi wassalam. bersabda: ’Relakah engkau semua jikalau engkau semua – ummat Muhammad semuanya ini – menjadi seperempatnya ahli surga?’ Kita semua menjawab: ’Ya.’ Beliau shalallahu ’alaihi wassalam bersabda pula: ’Relakah engkau semua kalau menjadi sepertiga ahli surga.’ Kita semua menjawab: ’Ya.’ Beliau shalallahu ’alaihi wassalam lalu bersabda: ’Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya saya mengharapkan kalau engkau semua itu akan menjadi setengahnya ahli surga. Yang sedemikian itu karena sesungguhnya surga itu tidak dapat dimasuki melainkan oleh seseorang yang Muslim, sedangkan engkau semua bukanlah ahli kemusyrikan, melainkan seperti rambut putih dalam kulit lembu yang hitam atau seperti rambut hitam dalam kulit lembu yang merah.’” (Muttafaq ‘alaih)

Hadis tersebut di atas terdapat pada Kitab Riyadus Shalihin dari Imam Nawawi, hadis ke 430, Bab 51. Dari hadis tersebut kita bisa melihat bahwa Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam dan para sahabatnya pun mengharapkan surga Allah subhanahu wata’ala, bahkan pengharapannya itu ditujukan untuk umat ini secara umum. Kita pasti sepakat bahwa Rosulullah shalallahu ’alaihi wassalam dan para sahabatnya adalah orang-orang yang tidak diragukan keimanannya (Rosulullah tingkatan tertinggi dan para sahabatnya berada pada posisi setelahnya), orang yang paling ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah subhanahu wata’ala, dan paling paham tentang Al Quran dan Hadits. Namun demikian Rosulullah shalallahu ’alai wassalam dan para sahabatnya tetap mempunyai pengharapan terhadap Allah subhanahu wata’ala bahkan pengharapan tersebut mereka ungkapkan bukan hanya untuk mereka sendiri tetapi untuk kaum muslimin secara keseluruhan. Ketika Rosulullah bertanya kepada para sahabatnya, apakah mereka rela, apakah engkau mau menjadi ahli surga, mereka pun menjawab ’Ya’. Lalu bagaimana dengan kita, kita yang tingkat keimanannya mungkin tidak bisa menyamai keimanan para sahabat, kemudian menjawab tidak membutuhkannya dengan berdalih sudah mencapai tingkatan keimanan tertentu yang tidak membutuhkan surga. Ini adalah perkataan yang tidak ada dasarnya dalam islam.

”Dari Ibrahim bin Abdur Rahman bin ‘Auf, bahwasanya Abdur Rahman bin ‘Auf r.a. diberi hidangan makanan, sedangkan waktu itu ia berpuasa, lalu ia berkata: ’Mus’ab bin Umair itu terbunuh – fi-sabilillah. Ia adalah seorang yang lebih baik daripada-ku, tetapi tidak ada yang digunakan untuk mengafaninya – mem-bungkus janazahnya – kecuali selembar burdah. Jikalau kepalanya ditutup, maka tampaklah kedua kakinya dan jikalau kedua kakinya ditutup.maka tampaklah kepalanya. Selanjutnya untuk kita sekarang ini dunia telah dibeberkan seluas-luasnya – banyak rezeki. Atau ia berkata: ’Kita telah dikaruniai rezeki dunia sebagaimana yang kita terima ini – amat banyak sekali. Kita benar-benar takut kalau-kalau kebaikan-kebaikan kita ini didahulukan untuk kita sekarang – sejak kita di dunia ini, sedang di akhirat tidak dapat bagian apa-apa.’ Selanjutnya ia lalu menangis dan makanan itu ditinggalkan. (Riwayat Bukhari).

Hadits yang satu ini terdapat dalam Kitab Riyadus shalihin, hadits no 453 Bab 54. Dari hadits tersebut dikisahkan sahabat Abdurahman bin Auf radhiallahuanhuma merasa khawatir akan kondisinya kelak di akhirat tidak memiliki apa-apa, dengan kata lain Abdurahman bin Auf radhiallahuanhuma khawatir tidak mendapatkan surga ataupun isinya. Dan beliau pun menangis takut dan penuh pengharapan akan kenikmatakan akhirat ( surga Allah beserta isinya ).

Demikian juga Umar bin Khatab pernah diberitahukan oleh Rasulullah saw ketika Rasulullah masuk ke dalam surga dan kita yakin seyakin-yakinya karena berita ini datangnya dari Rosulullah utusan Allah, kita beriman kepada beliau dan beliau sudah masuk ke dalam surga. Dan beliau shalallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan bahwa beliau melihat suatu istana megah, besar, terbuat dari emas, semuanya serba indah dan sebagainya. Ketika beliau saw mau masuk ke dalam istana tersebut, dan saat itu beliau sangat ingin masuk ke dalam istana tersebut karena megahnya dan tidak ada di muka bumi istana semegah itu. Namun Rasulullah saw diberitahu “Istana sebesar ini disediakan untuk orang dari Bani Quraisy”. Dan Muhammad saw dari Bani Quraisy, namun ternyata bukan beliau. Lalu siapa? ternyata Umar bin Khatab radhiallahuanhuma. Dan ketika itu Umar bin Khatab duduk di hadapan Rasulullah sedang bermajelis dan diberitakan hal tersebut. Mendengar kabar dari Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, alangkah bahagianya Umar bin Khatab saat itu.

Dan begitulah sifat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat beliau dimana mereka merasa gembira dan berharap akan berita gembira itu dan merasa takut sampai-sampai menangis karena takut tidak mendapatkan kenikmatan di akhirat kelak. Sedangkan kita tau bahwa para sahabat adalah orang yang ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka. Hal ini diabdikan Allah dalam firmanNya,

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al Taubah (9) : 100)

Sesungguhnya ayat ini adalah pengakuan dari Allah subhanahu wata’ala bahwasanya para sabahat telah mendapatkan keridhoan Allah. Tetapi meskipun demikian pengharapan surga dan ketakutan terhadap neraka atau kekhawatiran akan tidak mendapatkannya nikmat akhirat tidak berkurang sedikitpun dari mereka. Tidak seperti orang yang mengatakan ”Kami tidak mencari surga, tidak beramal untuk surga dan tidak menginginkan surga. Kami hanya beramal karena ridha Allah, baik dimasukan ke dalam surga maupun ke dalam neraka”. Ya, kita yakin bahwa para sahabat adalah orang yang juga mengharapkan ridho Allah, tetapi mereka tidak mengatakan bahwa mereka tidak butuh surga atau pun tidak takut neraka.

Kita juga hendaknya menyeimbangkan antara pengharapan terhadap surga dan ketakutan terhadap neraka.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Andaikata seseorang mu’min itu mengetahui bagaimana keadaan siksa yang ada di sisi Allah, tentu tidak seorangpun akan loba dengan surgaNya. Tetapi andaikata seseorang kafir itu mengetahui bagaimana besarnya kerahmatan yang ada di sisi Allah, tentu tidak seorangpun yang akan berputus asa untuk dapat memasuki surgaNya.” (Riwayat Muslim)

Hadits yang terdapat dalam Kitab Riyadus shalihin, hadits nomer 442 bab ke 53 berikut ini menjelaskan bagaimana seharusnya kita memiliki ketakutan dan pengharapan kepada Allah subhanahu wata’ala yang sama nilainya. Ketakutan akan siksa Allah, pengharapan terhadap rahmat Allah Azza wa Jalla yaitu berupa surgaNya. Bukan malah menghilangkan pengharapan surga dan ketakukan neraka.

Allah subhanahu wata’ala juga mengkisahkan orang-orang beriman, orang-orang yang saleh dalam berdoa dalam pengharapannya terhadap surga dan permohonannya untuk dijauhkan dari neraka yang bisa menjadi contoh dan perumpamaan bagi kita, diantaranya adalah sebagai berikut,

”Dan orang-orang yang berkata: ’Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’”. (QS Al Furqon (25): 65).

”Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: ’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’”. (QS Al Baqarah (2): 201)

”Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ’Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS At Tahrim ayat 11)

Wallahu’alam bishawab.

oleh muhamad ilyas

Awan Tag