Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘ru’yatul hilal’

Apakah Ru’yatul Hilal yang Dilakukan oleh Suatu Wilayah atau Negara Berlaku untuk Wilayah atau Negara Lainnya?

Pada tulisan sebelumnya pada Seri Persiapan Menyambut Ramadhan telah dibahas tentang ru’yatul hilal (melihat hilal/bulan sabit) untuk menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebagai sunnah Rasulullah saw dan bidahnya menggunakan hisab dan kebolehan menggunakan alat untuk mendekatkan pandangan pada hilal menggunakan teropong atau yang semisalnya.

Pada tulisan kali ini masih akan dibahas tentang permasalahan seputar ru’yatul hilal yaitu permasalahan yang marak di kalangan kaum muslimin dan juga marak di kalangan orang-orang yang berupaya untuk senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Permasalan ini menjadi khilaf yang sangat mashur di kalangan para ulama. Masalah tersebut ialah apablia hilal terlihat di suatu wilayah/negara apakah berlaku untuk wilayah/negara lain di seluruh dunia, atau hanya khusus untuk wilayah/negara tadi saja?

Masalah ini adalah masalah yang dikhilafkan para ulama dengan perbedaan yang cukup banyak. Hal ini sampai mendorong Imam Asy Syaukani Rahimahullah menulis secara khusus risalah tentang masalah ini. Ada sekitar delapan pendapat mengenai masalah ini. Dari delapan pendapat tersebut terdapat tiga pendapat yang terkuat dikarenakan argumentasi/hujah/dalil-dalil yang mereka bawakan. Tiga pendapat ini yang insya Allah akan kita bahas dalam tulisan ini.

Pendapat yang pertama mengatakan bahwasanya bila hilal telah terlihat di suatu negara maka itu khusus untuk negera tersebut dan yang satu matlak dengannya. Dengan begitu, masing-masing negara akan memiliki ru’yatul hilal-nya sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Ikrimah Al Qasim bin Muhamad, Salim bin Abdillah bin Umar, dan Ishak Ibnu Rohawai. Pendapat ini dihikayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari para ulama ahlul ilmu dan beliau tidak menghikayatkan pendapat yang selain ini sehingga secara dhohir Imam Tirmidzi sependapat dengan pendapat pertama ini. Al Imam Al Mawardi Rahimahullah menghikayatkan pendapat ini dari satu sisi yaitu dari pendapat Syafi’iyah. Imam An Nawawi Rahimahullah juga menyebutkan dalam Al Majmu’ Syarul Muhadzab bahwa ini adalah pendapatnya Abu Ishak As Shiraji, Abu Hanif Al-Ghozali,  Al Bandinuji, dan dishahihkan oleh Al Bandari dan Rofii dan lain-lain dari kalangan ulama-ulama Syafi’iyah.

Pendapat pertama ini dirajihkan atau dikuatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya, Tamjid. Imam An Nawawi dalam Kitabnya Al Majmu’ Syarul Muhadzab dan juga dalam syarah shahih muslim, Al Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya dan beliau menukil dari Ibnul Arobi Al Maliki. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Daqiqil ’Id dalam kitabnya Ikhsamul Ahkam, juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al Ikhtiarot Al Fiqiyah. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Al Imam Ash Shon’ani dalam Subulus Salam. Dan dikalangan para ulama sekarang yang berpendapat demikian adalah Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah dalam kitab beliau Fatawa Fiqh Ibadat, juga dikuatkan oleh Al Imam Mukbil bin Hadi Rahimahullah.

Argumentasi mereka tentang pendapat ini yaitu dari Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, Al Ikhtiarot Al Fiqiyah, beliau mengatakan bahwa yang namanya matlak (tempat munculnya hilal) itu berbeda-beda dengan kesepakatan orang-orang yang mengetahui hal ini, maka apabila matlaknya satu maka wajib bagi dia untuk berpuasa dengan ruyah negara tadi tapi jika berbeda maka dia tidak boleh mengggunakan ruyah negara tersebut. Alasan yang kedua yaitu dari pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu dimana tidak diketahui ada dikalangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhuma yang menyelisihnya (kesepakatan diam para sahabat). Alasan lainnya yaitu bahwasanya waktu-waktu harian itu berbeda-beda dari satu negara dan negara lainya, maka apabila fajar telah muncul di arah timur maka orang-orang di arah barat yang belum meuncul fajarnya maka belum diwajibkan untuk berpuasa. Dalil yang meraka bawa surat Al Baqarah 185,

”Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

Sisi pendalilannya ialah bahwasanya yang diwajibkan untuk berpuasa adalah orang-orang yang menyaksikan telah masuknya bulan Ramadhan. Maka demikianlah adanya dan orang-orang yang satu matlak dengannya, sementara wilayah lainnya yang tidak satu matlak tidak dikatakan menyaksikan. Misalnya yang menyasaksikan orang Indonesia maka orang Indonesia aja yang dianggap telah menyaksikan masuknya bulan Ramadhan, sementara negara lainya yang tidak menyaksikan tidak ikut.

Dalil yang kedua yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,

”Berpuasalah kalian dikarenakan melihat hilal dan berbukalah kalian juga dikarenakan melihat hilal”

Istinbat atau penjelasan dalam hadis ini bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa atau berbuka dikaitkan dengan yang namanya ru’yatul hilal (melihat hilal), dan yang melihat hilal ialah orang-orang yang melihatnya langsung. Hal inilah yang dimaksud atau yang dinamakan dengan ra’a ( رأى ) yaitu dia telah melihat hilal. Demikian pula orang-orang yang satu matlak dengan dia, mereka juga dikatakan ra’a ( رأى ) . Sementara wilayah/negara-negara lainnya yang tidak satu matlak tidak dikatakan dengan ra’a ( رأى ) . Kemudian argumentasi mereka yang paling kuat ialah hadis yang diriwayatkan imam muslim dalam shahihnya dari sahabat Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya Quraisy, dimana Quraisy diutus oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ke Syam untuk berjumpa dengan Muawiyah bin Abu Sufyan, dan dalam hadis tersebut ringkasnya Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Quraisy, ”Kapan kamu melihat hilal wahai Quraisy?”, dikatakan oleh Quraisy ”Kami melihat hilal pada malam Jumat”, maka Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menyatakan, ”Namun kami melihat hilal pada malam Sabtu. Maka kita terus-menerus berpuasa hingga kita menyempurnakan tiga puluh hari atau kita melihat hilal”. Jadi ada selisih satu hari, di Syam terlihat malam Jumat sementara di Madinah terlihat malam Sabtu. Ketika itu Quraisy bertanya pada Ibnu Abbsa, ”Wahai Ibnu Abbas, kenapa kamu tidak mencukupkan dengan ru’yah yang dilakukan Muawiyah dan puasanya Muawiyah?” Maksudnya kenapa tidak ikut ru’yah yang dilakukan Muawiyah yang melihat hilal pada malam jumat. Beliau menjawab ”Tidak, begitulah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kami”. Berdasarkan hadis ini jelas bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu tidak mengamalkan ru’yah-nya ahli Syam, tetapi beliau menggunakan ru’yah-nya ahli Madinah. Hal ini berarti menunjukkan bahwasanya masing-masing wilayah/negara menggunakan ru’yahnya sendiri-sendiri.

Pendapat yang kedua menyatakan bahwa bila hilal telah terlihat di sebuah negara atau wilayah maka ru’yah tersebut berlaku untuk semua negara kaum muslimin. Ini adalah pendapatnya Imam Al Laits Ibnu Saab, Imam Madzab Empat (Imam As Syafii, Imam Ahmad, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah), Ash Shoymari, Abu Qoyyid, Ad Darimi, Abu Ali As Sinji dan lainnya dari kalangan ulama Syafi’iyah. Dan pendapat ini dihikayatkan oleh Imam Qurthubi dai syaikh-syaikh beliau. Ini menunjukkan bahwasanya ini adalah pendapat kebanyakan ulama dan jumhur fuqaha (ulama ahli fiqih). Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa[1]. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam Al Mughni, Al Imam Asy Syaukani dan putranya dan ulama-ulama lainnya. Adapun ulama-ulama yang sekarang diantaranya adalah Syaikh Al Albani dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Dalil mereka pada pendapat yang kedua ini sama seperti argumentasi pada pendapat yang pertama, yaitu ayat Allah Surat Al Baqarah 185,

”Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

Adapun sisi pendalilannya dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi,

Kaum muslimin telah sepakat wajibnya puasa pada bulan Ramadhan. Dan telah tetap bahwasanya hari ini termasuk dalam bulan Ramadhan dengan persaksian orang-orang yang terpercaya, maka wajib atas segenap kaum muslimin untuk berpuasa pada hari itu.

Sehingga yang namanya bulan Ramadhan berdasarkan pendalilan ayat tadi berlaku bagi yang melihat hilal dan berlaku pula untuk orang-orang yang mendengarkan berita orang-orang yang terpercaya tentang ru’yatul hilal. Jadi intinya kaum muslimin yang mendengarkan berita tentang masuknya bulan Ramadhan maka wajib baginya untuk puasa Ramadhan.

Dalil yang kedua yaitu hadis yang sama pula yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,

Berpuasalah kalian dikarenakan melihat hilal dan berbukalah kalian juga dikarenakan melihat hilal.

Istinbat pendapat yang kedua ini adalah bahwasanya hadis ini ialah bersifat umum dan tidak dikhususkan satu orang tanpa yang lainnya. Hadis ini mengatakan ”berpuasalah kalian (semuanya) karena melihat hilal”. Dan pendapat ini lebih dekat untuk menyatukan kaum muslimin, tidak mencerai beraikan mereka, dan perkara yang semacam ini termasuk perkara yang diperhatikan oleh syariat.

Pendapat yang ketiga adalah bahwa masalah ini tergantung kepada keputusan penguasa/pemerintah. Ini adalah pendapatnya Abdul Aziz Ibnul Madisun yang merupakan salah satu murid Imam Malik Rahimahullah. Pendapat ini dihikayatkan oleh Imam Asy Syaukani dan  sebelumnya oleh Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah. Dikatakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin tentang pendapat ini,

Pendapat yang ketiga inilah yang diamalkan oleh kaum muslimin sekarang ini. Dan pendapat ini dari sisi  kemasyarakatan, ini pendapat yang kuat.

Dari ketiga pendapat tersebut, berdasarkan dalil-dalil yang dibawakan, pendapat yang kedualah yang merupakan pendapat jumhur ulama, yaitu apabila kelihatan hilal di sebuah negeri maka berlaku untuk semua negeri yang lainnya. Dikarenakan ayat dan hadis yang disebutkan itu umum tidak ada pengkhususan untuk yang satu matlak tanpa yang lainnya. Adapun pernyataan bahwasanya matlak itu berbeda-beda, tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah apakah perbedaan matlak tersebut dianggap didalam permasalahan ru’yatul hilal atau tidak? Kalau jawabannya ”Ya”, maka kita punya banyak pertanyaan disini. Apa batasan matlak itu? Sebab perkara matlak adalah perkara yang tidak baku. Jika mereka menjawab batasannya matlak ialah satu negara/satu wilayah/satu iklim, maka kita bisa menjawab dalilnya mana yang mengatakan hal demikian. Tidak ada dalil mengenai hal ini. Jawaban kedua yang dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa yaitu kalau kita menganggap suatu batasan tertentu baik itu jarak Qashar/iklim/matlak, maka jika ada seseorang diujung jarak qashar/iklim/negara dia berpuasa. Kemudian ada orang yang kedua, yang dengan orang pertama jaraknya cuma satu panah, dia tidak berpuasa, padahal jaraknya hanya satu jengkal.

Adapun hadisnya Abdulllah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu dikatakan oleh para ulama bahwasanya Ibnu Abas tidak tegas menyatakan bahwasa masing-masing negara mengamalkan ru’yah-nya sendiri-sendiri. Dan bahwasanya ini adalah ijtihadnya beliau semata, dan yang namanya hujah itu berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, bukan berdasarkan ijtihadnya Ibnu Abbas. Yang dimaksud dengan perkataan Ibnu Abbas, ”Demikianlah Rasulullah memerintahkan kami” itu maksudnya adalah seperti perkataan Ibnu Abbas sendiri yaitu ”Bahwasanya kami terus-menerus berpuasa sampai kami melihat hilal”. Ini persis seperti hadisnya Abu Hurairah dan juga hadisnya Ibnu Umar.

Nasehat Para Ulama

Mengenai hal ini, Syaikh Al-Albani menasehati kaum muslimin agar dalam berpuasa dan berhari raya mereka mengikuti penguasanya. Disebutkan oleh beliau dalam Tamamul Minnah, bahwasanya beliau berkata,

Untuk menuju upaya supaya negara-negara islam bersatu di atas prinsip ini (satu matlak), maka saya berpendapat wajib atas masyarakat setiap negeri untuk berpuasa dengan negaranya. Dan jangan sampai dia memisahkan dirinya sehingga sebagian mereka berpuasa dengan penguasanya dan sebagian yang lain berpuasa dengan negara yang lainnya. Sebab itu berakibat memperluas daerah khilaf pada satu masyarakat sebagaimana terjadi di sebagian negara-negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu wallahu musta’an”.

Inilah pendapat beliau, padalah beliau termasuk yang merajihkan pendapat jumhur ulama.

Demikian pula nasehatnya Syaikh Utsaimin Rahimullahu ta’ala ketika mejelaskan pendapat yang ketiga. Dalam kitabnya, beliau menyatakan,

”Amalannya orang-orang yang sekarang adalah atas pendapat yang ketiga ini. Apabila telah tetap pada penguasa maka semua orang yang dalam kekuasaanya harus berpuasa atau berfitri bersama dia. Dan pendapat ini dari sisi kemasyarakatan adalah pendapat yang kuat. Walaupun kami telah menshahihkan pendapat yang kedua, maka wajib bagi setiap orang yang berpendapat bahwasanya masalah ini dibangun di atas matlak supaya dia jangan menampakkan khilaf (perbedaan) terhadap apa yang dilakukan oleh masyarakatnya.”

Dalam masalah ini, kita dalam beramal supaya mengamalkan apa yang telah dinasehatkan oleh para ulama. Namun hal ini tidak mutlak yaitu dengan syarat bahwa penguasa tadi menggunakan ru’yatul hilal. Adapun kalau penguasa tadi menggunakan hisab, maka tidak perlu diikuti.

Wallahu ’alam bishawab.

Lihat juga tulisan-tulisan pada Seri Persiapan Menyambut Ramadhan disini


[1] Dalam kitab Al Ikhtiarot Ibnu Taimiyah menguatkan pendapat yang pertama, sedang dalam kitab Al Fatawa beliau menguatkan pendapat yang kedua. Hal ini menunjukkan bahwasanya Ibnu Taimiyah memiliki dua pendapat.

Iklan

Hikmah Dilarangnya Puasa Mukadimah Ramadhan, Tentang Yaumu Syak, serta Permasalahan Ru’yatul Hilal dan Hisab

III. Hikmah Dilarangnya Puasa Mukadimah Ramadhan, Tentang Yaumu Syak, serta Permasalahan  Ru’yatul Hilal dan Hisab

Pada tulisan sebelumnya pada Seri Persiapan Menyambut Ramadhan telah dibahas tentang permasalahan puasa Sya’ban, hukum mengkhususkan nishfu Sya’ban dengan puasa dan menyambut Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari.

Pada kali ini akan dibahas hikmah dilarangnya puasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan. Para ulama menjelaskan ada beberapa hikmah, diantaranya:

  1. Memperkuat diri/badan dengan berbuka untuk puasa Ramadhan supaya ketika masuk bulan Ramadhan dalam keadaan kuat dan semangat untuk berpuasa.
  2. Dikhawatirkan tercampurnya antara puasa yang sunah dengan puasa yang wajib dikarenakan tidak ada pemisah.
  3. Untuk kehati-hatian

Sekali lagi apapun hikmahnya atu apapun alasannya, yang jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam telah melarang kita untuk melakukan puasa mukadimah Ramadhan sehari atau dua hari. Kita diwajibkan untuk meninggalkan apa-apa yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam baik diketahui maupun tidak diketahui hikmahnya.

Pembahasan yang terakhir mengenai permasalahan-permasalahan sebelum Ramadhan adalah permasalahan shiyam yaumu syak (puasa pada hari-hari yang meragukan). Yanng dimaksud dengan hari meragukan disini adalah pada tanggal 29 Sya’ban dimana waktunya orang-orang untuk ru’yatul hilal tetapi terhalangi oleh mendung,  awan, asap atau yang semisalnya sehingga apakah keesokan harinya puasa atau tidak.

Tentang permasalahan ini terdapat khilaf di antara para ulama. Ada beberapa pendapat dikalangan para ulama, yaitu:

  • Jumhur ulama berpendapat hukumnya haram berpuasa pada hari itu. Mereka berhujah dengan hadis dari Ammar ibnu Yasir Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Bukhari dan disambung sanadnya oleh Al Khamsah serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم

Ammar Ibnu Yasir Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa shaum pada hari yang meragukan, maka ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad) Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam[1]

Mereka juga berhujah dengan hadis Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

َوَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ:   ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ:( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا  لَهُ  ثَلَاثِينَ ). وَلِلْبُخَارِيِّ: ( فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

“Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian melihatnya (hilal) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (hilal) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari.” Menurut riwayat Bukhari: “Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari.” [2]

Keadaan dimana pada malam 29 Sya’ban hilal tidak terlihat dikarenakan mendung, awan, asap, atau yang semisalnya sehingga menggenapkan atau menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari disebut dengan istilah ikmal.

  • Pendapat yang kedua yaitu pendapat yang mashur dari Iman Ahmad Rahimahullah, beliau berpendapat wajib berpuasa ketika itu dengan keyakinan telah masuk Ramadhan. Beliau juga berhujah dengan hadis Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu di atas dengan lafadz

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

”Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah ”,

Menurut beliau makna “faqduruulah” adalah ”persempitlah” yakni mempersempit bulan Sya’ban cukup dengan 29 hari saja dan keesokan harinya sudah memasuki bulan Ramadhan. Beliau juga berhujah dengan perbuatan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu dan sebagian sahabat yang lain.

  • Pendapat yang ketiga adalah kalau keadaanya mendung  maka dikembalikan kepada keputusan penguasa atau pemerintah dalam hal puasa dan hari raya.

Dari ketiga pendapat  tersebut, pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa haram berpuasa pada yaumu syak. Adapun argumentasi yang dibawakan oleh pendapat yang kedua ini dijelaskan dalam riwayat-riwayat yang lainnya, bahwa pengertian ”faqduruulah” ialah dikira-kirakan dalam sisi hisabnya atau hitungan bilangan Syaban yakni digenapkan menjadi 30 hari. Hal ini dijelaskan dengan riwayat yang sama dari hadis Abdullah bin Umar  Radhiyallahu ‘anhu dan juga dikuatkan dengan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

َوَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ )

Menurut riwayatnya dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu: “Maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban 30 hari.”[3]

Adapun yang meraka nukil dari perbuatan sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhuma maka jawabannya ialah mengikuti kaidah bahwa yang dianggap atau yang dijadikan pegangan ialah apa yang diriwayatkan oleh sahabat tadi bukan pendapat sahabat tadi, sebab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan hadis dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan makna pendapat jumhur ulama, sedangkan pendapat beliau sendiri pendapatnya tidak sesuai dengan riwayat yang beliau bawakan.

Pendapat jumhur ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, SyaikhulIslam Ibnu Qayim Al Jauziyah rahimahullah, Al Imam Ibnu Abdil Hadi Rahimahullah, Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah, Al Imam As Shon’ani Rahimahullah, Al Imam As Syaukani Rahimahullah,  dan lain-lainnya dari kalangan ulama kaum muslimin.

SEPUTAR RU’YATUL HILAL DAN HISAB

Kalau kita lihat di sini tidak ada satu pendapat pun dari pendapat-pendapat yang dsebutkan tadi yang mengatakan kalau terjadi mendung maka dilakukan hisab. Tidak ada satu ulama pun yang menoleh atau membicarakan masalah hisab dalam hal ini melainkan tiga pendapat di atas.

Disyariatkan untuk melihat hilal (bulan sabit) untuk menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Ini adalah salah satu prinsip kaum muslimin, salah satu prinsip agama Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini didasarkan dengan ayat Allah Subhanahu wata’ala ,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

”Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” [QS. Al Baqarah (2) : 189]

Juga berdasarkan hadis-hadis shahih, di antaranya,

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata:Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (HR. Muslim no. 1808 )

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi (Abul Qasim) bersabda, ‘Berpuasalah bila kamu melihatnya (hilal tanggal satu Ramadhan), dan berbukalah bila kamu melihatnya (hilal tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari.'” (HR. Bukhari no. 924)

Dari ayat dan hadis-hadis tersebut sangat jelaslah bahwa penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal dikaitkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ru’yatul hilal (melihat hilal/bulan sabit). Hal ini tidak hanya disabdakan tetapi juga dipraktikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Abu Dawud, Hakim, dan Ibnu Majah dengan sanad shahih dari Abdullah Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengkisahkan,

َ وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat hilal, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.[4]

Juga hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu,

َوَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: (إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا”)  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ إِرْسَالَهُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang Arab Badui menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu berkata: “Sungguh aku telah melihat hilal”. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Ia berkata: “Ya”. Beliau bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah?” Ia menjawab: “Ya”. Beliau bersabda: “Umumkanlah pada orang-orang wahai Bilal, agar besok mereka shaum.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, sedang An Nasa’i menilainya mursal.

Inilah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga diamalkan oleh para sahabat, padahal pada waku itu ilmu perbintangan/ilmu nujun/ilmu falak sangat mashur. Mereka sangat terbiasa menggunakan bintang untuk menunjuk arah termasuk arah kiblat dan yang semisalnya. Namun hal ini (penggunaah ilmu nujum/ilmu hisab) tidak ditoleh sama sekali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi beliau menggunakan cara ru’yatul hilal. Hal ini menunjukkan suatu ketetapan baku dari sunnah (red-perbuatan Rosulullah bukan hukumnya sunah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa untuk penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal menggunakan cara ru’yatul hilal bukan hisab.

Begitu juga dengan para ulama,  meraka menyatakan larangan untuk menggunakan hisab dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Diantaranya yang dikatakan oleh Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah dalam Kitab Fathul Baari. Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah berkomentar tentang hisab, beliau mengatakan,

”Madzhabnya ahli nujum atau ahli hisab ialah madzhab yang bathil. Syariat islam telah melarang kita untuk berjalan-jalan dalam mempelajari ilmu nujum (ilmu perbintangan)  sebab yang namanya ilmu nujum itu hanyalah praduga (prakiraan) dan tidak ada kepastian di dalamnya.”

Ilmu nujum adalah ilmu yang berdasarkan prasangka atau perkiraan saja di mana tidak ada kepastian di dalamnya. Islam telah melarang kaum muslimin untuk beragama seperti ini sehingga Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah madzhab yang bathil.

Al Imam Ibnu Daqiq al-‘Id Rahimahullah, seorang ulama besar dari Mesir pada jamannya, beliau mengatakan bahwa hisab tidak boleh menjadi pegangan dalam urusan puasa. Beliau juga mengatakan bahwa mengganggap hisab dalam puasa Ramadhan atau Idul Fitri berarti mengada-adakan syariat baru yang tidak diijinkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Begitu juga dengan imam madzhab yang empat juga kesemuanya menggunakan ru’yatul hilal. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik dan Imam Syafi’i Rahimakumullah semuanya sepakat penggunaan metode ru’yatul hilal dan menolak penggunaan metode hisab dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, yang berada di Saudi Arabia yang dipimpin oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah, mengeluarkan fatwa ketika ditanya tentang masalah hisab. Setelah menjabarkan panjang lebar, pada kesimpulannya mereka mengatakan bahwa merujuk kepada ilmu nujum di dalam menetapkan bulan-bulan hijriah, di dalam menetapkan awal atau akhir ibadah dengan tanpa mengamalkan ru’yatul hilal merupakan kebidahan yang tidak ada kebaikannya sama sekali dan tidak ada sandaran syariatnya sama sekali”.

Syaikh Ibnu Hutsaimin Rahimahullah, Syaikh Al Albani Rahimahullah dan ulama-ulama besar lainnya sekarang ini juga mengatakan dan memfatwakan hal yang sama. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bolehnya menggunakan hisab.

Apa hukumnya menggunakan teropong ketika Ru’yatul hilal?

Untuk masalah ini Lajnah Daimah, juga fatwa Syaikh Ibnu Hutsaimin Rahimahullah mengatakan bahwa menggunakan teropong untuk memperjelas hilal diperbolehkan, akan tetapi tidak wajib sebab dhohir hadis tentang masalah hilal itu dengan mata kepala. Namun kalau menggunakan teropong supaya lebih jelas, maka tidak mengapa karena tidak melanggar. Hal ini termasuk dalam kaidah besar para ulama yaitu bahwa yang namanya wasilah (media atau perantara) tidaklah mengapa.

Wallahu ’alam bishawab

Referensi:

–          Kajian Ramadhan Ust. Muhammad Afif

–          Bulughul Maram

Materi ini bisa di download di sini


[1] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 670.  Hadits mu’allaq riwayat Bukhari, Imam Lima menilainya maushul, sedang Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menilainya hadits shahih.

[2] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 671

[3] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 672

[4] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 673

[5] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 674

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat hilal, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.[1]


[1] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 673

Awan Tag