Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘amal’

Kematian Itu Pasti Datangnya

kematian datang kapan saja

Semua kita akan mengalami kematian jika sampai ajalnya. Ketika kematian datang, tak seorang pun dapat mengelak atau menundannya.

Sudah siapkah kita?

Jawab dengan Iman dan Amal Sholeh kita.

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Hakikat Umur dan Kehidupan Kita

Hakikat UmurSesungguhnya tujuan hidup ini bukan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Jika hanya untuk itu, maka kita tidak ada bedanya dengan binatang dan orang-orang kafir.

Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka Makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.(QS. Muhammad: 12)

Akan tetapai tujuan hidup dan keberadaan kita beserta segala yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kita di bumi ini adalah agar kita beribadah kepada-Nya. Dunia ini adalah ladang untuk mengumpulkan bekal, mengumpulkan sebanyak mungkin amal kebaikan sebelum ajal tiba, mengumpulkan sebanyak mungkin pahala sebelum jatah umur kita habis. (lebih…)

Hukum Meluangkan Waktu Penuh Untuk Ibadah di Bulan Ramadhan

Hukum Meluangkan Waktu Penuh Untuk Ibadah di Bulan RamadhanPertanyaan :

Apakah termasuk sunnah meluangkan waktu penuh pada bulan Ramadhan untuk melakukan amal-amal saleh dan berkonsentrasi untuk istirahat dan beribadah?

Jawaban :

Seorang muslim seluruh amalnya adalah ibadah. Kewajiban-kewajiban yang ditunaikan jika betul niatnya, seluruhnya adalah ibadah. Ibadah bukan hanya shalat atau puasa saja. Menuntut ilmu dan mengajarkannya, berdakwah kepada Allah, mendidik anak-anak dan mengayomi mereka, mengerjakan tugas keluarga, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah, mencurahkan tenaga untuk membantu manusia, meringankan orang yang kesusahan dan kesedihan, memberi manfaat kepada manusia dengan amal yang dibolehkan dan mencari rezeki yang halal, itu semua adalah ibadah kepada Allah –ta’ala– jika benar niatnya. (lebih…)

Kutipan

Antara Amal dan Tawakal

Muslim bin Yasar rahimahullah berkata,

“Beramallah seperti halnya amalan seorang lelaki yang tidak bisa menyelamatkan dirinya kecuali amalnya. Dan bertawakallah sebagaimana tawakalnya seorang lelaki yang tidak akan menimpa dirinya kecuali apa yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla untuknya.”

(lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 561)

Menata Hati – Riya Penghapus Amalan

[audio http://archive.org/download/RiyaPenghapusAmalan/RecordedAudioJul-06-200902-29-23PmRiya.mp3]

Download

menata hati - riya penghapus amal

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

”Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Maka ia menjawab, ”Sungguh aku telah berperang karena Engkau, sehingga aku mati syahid.” Maka Allah berfirman, ”Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang supaya dikatakan pemberani, dan pujian itu telah engkau dapatkan,” kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. (lebih…)

Gambar

Ilmu Sebelum Amal

ilmu sebelum amal - mutiara hadits pilihan

Tangisan Salafus Sholeh dari Hilangnya Amal

renungan-hari-akhirTangisan Salafus Sholeh dari Hilangnya Amal

Berikut adalah beberapa contoh tangisan para salafus sholeh karena kehilangan kesempatan untuk beramal,

  • Abu Hurairah

Ketika kematian datang menjemputnya, beliau menangis. Maka dikatakan kepadanya; “Apa yang membuat anda menangis?, beliau menjawab: “Aku tidaklah menangisi dunia kalian ini, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanku dan sedikitnya perbekalanku. Dan sekarang aku mendaki untuk menuruni ke arah jannah dan neraka, dan aku tidak tahu kemana Allah akan mengambilku?”.

  • Yunus bin Ubaid

Seorang tabi’in Jalil yang telah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu’anhu, (lebih…)

Dorongan-dorongan untuk Beramal

ilmu iman amalDi antara dorongan-dorongan untuk beramal adalah

  • a.     Bertambahnya Iman

Sesungguhnya motif terbesar yang mendorong seseorang untuk beramal shalih adalah keimanan kepada Allah Swt. Setiap kali iman di dalam hati bertambah, setiap kali itu pula dorongan untuk beramal semakin membara.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. 49:15)

Kedudukan Amal dalam Islam

amal_solehAmal adalah setiap perilaku mahluk hidup yang disertai suatu maksud, apakah perilaku tersebut baik ataukah buruk.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh.” (QS.Al Baqoroh[2]:277)

مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An Nisa [4]:123).

(Raghib Ar Ishfahani, Mufradat Alfadz Al Qur`an : 587)

Sedangkan amal sholeh adalah: (lebih…)

Amal Sholih Obat Berbagai Kekalutan

قَالَ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ السَّعْدِيُّ رَحِمَهُ اللهُ

 مَا دَامَتِ الدُّنْيَا لاَ تَخْلُوْ مِنْ أَكْدَارٍ، فَالدَّاءُ النَّاجِحُ أَنْ يَشْتَغِلُ اْلإِنْسَانُ بِعَمَلٍ نَافِعٍ

يَمْلأُ عَلَيْهِ وَقْتَهُ، وَ يُبْعِدُ عَنْهُ دَوَامَ التَفْكِيْرِ فِي هِذِهِ اْلأَكْدَارِ، وَ يَنْبَغِي أَنْ

 يَكُوْنَ هَذَا الْعَمَلُ مِمَّا تَأْنَسُ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَ تَشْتَاقُهُ

“Selama kehidupan dunia masih dihinggapi berbagai kekalutan, maka obat mujarab bagi seseorang untuk meredamnya adalah dengan menfokuskan waktunya untuk menyibukkan diri dengan mengerjakan amal shaleh. Dan dapat dipastikan, bahwa amal shaleh tersebut akan dapat menenteramkan dan menyejukkan jiwanya”

Tidak Bertakwa Tapi Menyuruh Manusia Bertakwa

Syaikh Muhammmad Hasan Misriy

Urgensi Niat Ikhlas dalam Setiap Amal Perbuatan

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ    يَقُوْلُ:

(( إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ))

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري و أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb rda, dia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya dan setiap orang pun (akan dibalas) sesuai dengan yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang-siapa yang hijrahnya karena urusan duniawi yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Catatan Penting:

1. Diriwayatkan oleh al-Bukhāriy, Mus-lim, Ashhāb as-Sunandan lainnya. (lebih…)

Syarat Diterimanya Amal

Ibadah yang diterima di sisi Allah–Subhānahu wa Ta’ālā–harusterpe-nuhi dua syarat, yaitu: niat yangikhlash dan kesesuaian dengan syari’at. Sering diungkapkan dengan itilah al-ikhlash dan al-mutaba’ah.

Ketika Fudha’il bin `Iyad –Rahimahullah– membaca ayat:

(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya..” [QS. al-Mulk (67): 2]

Maka, beliau berkata:

( أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ )

(Yang lebih baik amalnya) yaitu yang paling ikhlash (murni) dan shawab (tepat).

Kemudian para sahabat beliau bertanya:

( يَا أَبَا عَلِيِّ، مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ! )

Wahai Abu Ali, apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlash dan shawab itu?”

Beliau menjawab:

( إِذَا كَانَ الْعَمَلُ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ إَذَا كَانَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّوَابُ إَذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ )

Apabila sebuah amal khalis, tetapi tidak shawab, niscaya tidak akan diterima. Apabila sebuah amal shawab, tetapi tidak khalis, niscaya tidak diterima hingga amal tersebut khalis dan shawab. Khalis berarti amal tersebut karena Allah semata. Sedangkan shawab berarti amal tersebut berdasarkan sunnah.”1

1 Hilyah al-Awliya’ 8/95, al-Bidayah wa an-Nihayah 10/199 dan Madarij as-Salikin 2/89.

Apakah Kita Akan Masuk Surga dengan Amalan Kita?

Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah Subhanahu Wata’ala akan memasukkan kita ke dalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyaj beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah merasa aman kalau mereka pasti akan masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika mereka menyongsong perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam.

Bukankah kita harus bercermin pada generasi terbaik umat Islam? Tatkala mereka membuktikan diri dengan pengorbanan hijrah. Bukankah mereka menghadapi kenyataan suram dengan meninggalkan sanak keluarga dan harta benda? Namun, harapan yang lebih besar telah menghujam di dada mereka; Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itulah pilihan yang tidak mereka sia-siakan. Dengan pengorbanan menghadapi maut di saat perang Badar dan peperangan lainnya. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besari, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Al-Baqarah ayat 214.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”

Diketik ulang dari Rubrik Tausiyah, Majalah Ummatie Edisi 08/Thn.II April 2009

Pahala Sedekah dapat Dikirimkan kepada Orang yang Sudah Meninggal

Allah SWT telah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tua.  Allah Azza Wa Jala memerintahkan untuk terus menyambungkan tali silaturahim dengan kerabat dan berbuat baik dengan orang lain. Sedangkan bentuk bakti dan kebaikan dan silaturahin yang paling baik adalah mengirimkan kebaikan dan pahala kepada orang tua dan kerabat yang sudah meninggal, sebab dalam kondisi ini amal dan perbuatan mereka telah terputus dan mereka sangat membutuhkan tambahan kebaikan dan pahala.

Di antara amal perbuatan tersebut adalah sedekah atas nama orang yang sudah meninggal karena pahala dan kebaikan pahala ini bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal tersebut sebagaimana yang telah menjadi ijma yang telah menjadi konsensus dan telah menjadi kesepakatan para ulama ahlussunnah wal jamaah dan juga telah dijelaskan oleh banyak dalil. Di antaranya adalah hadis dari Aisyah ra: ”Seorang laki-laki datang kepada Nabi solallahu alaihi wasallam dan berkata: ’Wahai Rosulullah ibuku meninggal secara mendadak dan ia tidak sempat berwasiat apa-apa. Aku pikir apabila ia sempat berwasiat sepertinya dia akan berwasiat untuk mensedekahkan hartanya. Apakah dia akan mendapatkan pahala apabila aku yang akan melakukan sedekah itu?’ Beliau solallahu alaihi wassalam menjawab: ’Ya’.”

Juga hadis dari Abu Hurairah ra, ”Seorang laki-laki bertanya kepada Rosulullah solallahu alaihi wassalam dan berkata: ’Bapakku meninggal dunia dan meninggalkan harta. Akan tetapi dia tidak sempat berwasiat. Apakah jika aku bersedekah dapat menghapuskan dosa-dosanya?’ Beliau solallahu alaihi wassalam menjawab: ’Ya’.”

Ketentuan ini tidak hanya berlaku antara anak dan orang tuanya atau kerabatnya bahkan seorang sahabat pun jika bersedekah untuk temannya yang meninggal pahalanya akan sampai kepadanya. Sebagaimana hadis wasilah Ibnu Asqa ra beliau berkata: ” Ketika kami bersama Rosulullah saw dalam perang tabuk, sekelompok orang dari Bani Salim mendatangi Nabi saw, mereka berkata: ’Wahai Rosulullah, seorang teman kami telah berhak mendapatkan api neraka.’ Rosulullah saw bersabda: ’Bebaskan seorang budak atas nama temanmu itu. Niscahya Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari api neraka’.”

Setelah para sahabat mengetahui keistimewaan sedekah ini mereka pun bergegas mensedekahkan hartanya atas nama orang-orang yang telah meninggal. Di antaranya adalah Abudrahman Ibnu Auf ra yang bersedekah atas nama ibunya dengan membebaskan sepuluh orang budak. Sementara itu Aisyah ra bersedekah dengan membebaskan budak-budaknya atas nama saudaranya yang telah meninggal saat tidur.

Wahai orang-orang yang berbudi yang tidak melupakan orang yang telah berjasa kepada kita dan kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita, balaslah jasa dan kebaikan mereka dengan yang lebih besar lagi. Muliakanlah mereka dengan kemuliaan yang lebih tinggi lagi. Di alam kubur mereka adalah orang-orang yang paling membutuhkan pertolongan dan kebaikan kita. Hari terus berganti, keburukan yang kita lakukan akan dibalas keburukan dan kebaikan kita kepada orang tua dan keluarga kita akan dibalas pula dengan kebaikan oleh anak-anak dan keluarga kita.

Di tuliskan oleh muhamad ilyas dari siaran Radio Fajri : tanggal 25 Mei 2009 jam 11.00

Awan Tag