Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Assalamualaikum. Apa yang harus saya lakukan/sikap apa yang harus saya ambil. Adik ipar saya perempuan, pacaran, sikapnya cuek(bermesraan) meskipun di rumah, sampai-sampai tidak menunaikan jum’atan si laki-lakinya. Tapi sama keluarga istri dibiarkan saja, sedangkan saya ingin menasehati tapi gak bisa karena saya orang lain di rumah ini. Bagaimana solusinya?

Jawaban

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radliallohu ‘anhu, ia mengatakan: Aku mendengar Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat sebuah kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia belum sanggup, maka hendaklah ia menggunakan lisannya. Jika ia masih belum sanggup, maka hendaklah ia menggunakan hatinya. Itu adalah selemah-lemah keimanan”. (HR Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bagaimana tahapan-tahapan dalam merubah kemungkaran. Siapa saja yang mampu untuk merubah kemungkaran tersebut dengan tangannya maka dia wajib menempuhnya dengan cara tersebut. Dalam hal ini bisa dilakukan oleh orang yang berkuasa. Kalau dirumah berarti orang tua atau pemilik rumah atau yang memiliki kekuasaan atau kewenangan.

Apabila yang bersangkutan bukan termasuk orang yang berhak merubah dengan tangan maka kewajabannya baginya adalah dengan menggunakan lisan yang bisa dia lakukan. Hendaknya melalui nasehat secara langsung atau kalau tidak didengar bisa ditempuh dengan berdiskusi dengan istri dan mertua. Untuk meminimalisir kemungkaran tersebut bisa juga ditempuh dengan cara ikut menyertai mereka. Maksudnya adalah ketika mereka sedang berpacaran di dalam rumah. Ikut duduk dengan mereka, sibukkan si laki-laki tersebut untuk mengobrol dengan Anda, nasehati dia. Mudah-mudahan dengan begitu ada rasa malu pada diri mereka untuk bermesrahan. Jangan biarkan mereka berdua-duaan saja.

Dan kalau hal tersebut tidak mampu juga untuk ditempuh maka dia berkewajiban untuk merubahnya dengan hati, dan itulah selemah-lemah iman. Meruba dengan hati maksudnya adalah dengan membenci kemungkaran itu.

Wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: