Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Islam wa sunnah2Sunnah Rasulullah Saw Antara Pembela Dan Penentangnya

Makna As Sunnah menurut bahasa, istilah dan syariah

Makna As Sunnah menurut bahasa :

Metode atau jalan, baik yang bersifat kebaikan maupun keburukan”. (Lisanul Arab : 13/221)

Sedangkan kata As Sunnah yang dipergunakan dalam istilah ilmu-ilmu agama-agama memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memaknakannya.

Para ahli hadits mengartikan As Sunnah: “Perkataan, perbuatan, taqrir, sifat dan akhlak yang dihubungkan (disandarkan) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam”.

Para ahli ushul mengartikan As Sunnah : “Perkataan, perbuatan atau taqrir dari Nabi saw yang menjadi sumber syari’ah.

Sedangkan para ahli fiqh mengartikan As Sunnah: “Ketetapan hukum dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang lebih rendah dari yang fardhu dan wajib.” (Manhaj istidlal ala masail al I’tiqod, Dr. Utsman Ali Hasan 1/82-83)

Akan tetapi As Sunnah dalam arti syari’ah adalah “Aqidah, amal dan perkataan yang dipegang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya yang mendapat petunjuk”. (Jami’ al ulum wa al hikam, Ibnu Rajab al Hanbali: 262)

Dari sini kita dapat mengerti bahwa As Sunnah dapat berarti tingkat-tingkat prinsip sebagai berikut :

  1. Seluruh agama Islam yang diajarkan dan diterapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya yang mulia. Makna ini sama dengan makna syar’iah secara umum serta yang berarti pula lawan kata bid’ah (Majmu’ fatawa, Ibnu Taimiyyah: 4/436)
  2. Seluruh prinsip-prinsip ushuluddin (pokok-pokok agama dan aqidah) dalam Islam. Karena prinsip-prinsip inilah inti dari ajaran Islam yang diatasnya didirikan berbagai tiang dan cabang-cabang yang lainnya. (Jami’al Ulum wa al hikam: 262)
  3. Setiap informasi shahih yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya sebagai salah satu sumber asasi di dalam ajaran Islam. (lihat kitab-kitab hadits dan ushul fiqh)
  4. Setiap anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada ummatnya untuk dikerjakan sebagai suatu tambahan dan keutamaan pahala yang akan didapatkan. (lihat kitab-kitab fiqh).

Kedudukan As Sunnah di dalam Islam

  • Allah subhanahu wata’ala  menegaskan bahwa As Sunnah adalah wahyu (Qs. 2:231 dan Qs. 4:113)
  • Allah subhanahu wata’ala menyandingkan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dengan ketaatan kepada-Nya (Qs. 4:80 dan Qs. 3:31)
  • Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menerima apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan meninggalkan apa saja yang dilarangnya. (Qs.59:7)
  • Allah subhanahu wata’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wassalam (Qs. 24:64)
  • Allah subhanahu wata’ala menetapkan bahwa menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam adalah kufur (Qs. 3:32)
  • Berpaling dari hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai salah satu diantara tanda-tanda nifaq. (Qs. 24:47-48)

As Sunnah antara Pembeda dan Pembela-nya

Ciri-ciri pembela As Sunnah

  • Mereka bersatu dalam Sunnah, baik dalam berilmu, beri’tiqod, beramal, berdakwah dan berjihad fi sabilillah
  • Mereka selalu menjadikan sumber hukum dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya sebagai marji’ (tempat kembali) setiap masalah apapun dalam kehidupan , mereka (yaitu sumber Al-Quran, As Sunnah dan Ijma’ para salafush shalih)
  • Mereka begitu antusias dan bersungguh-sungguh secara maksimal untuk menuntut ilmu dan menjaga kemurnian Islam dari sumber-sumber asasi tersebut.
  • Mereka selalu membenarkan apa saja yang dikhabarkan oleh Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wassalam, menjunjung tinggi perintahnya, menjauhi larangannya dan tidak beribadah kecuali mencontohnya dan apa yang disyari’atkannya
  • Mereka menjauhkan diri dan berbaro’ dari syirik, kufur, bid’ah dan maksiat, sesuai dengan tingkatannya masing-masing.
  • Mereka menerima semua hadits shahih sebagai sumber i’tiqod atau keyakinan, baik yang bersifat ahad ataupun mutawatir.

Ciri-ciri penentang Sunnah:

  1. Bertafarruq dari sunnah, baik dalam berilmu, beri’tiqod, beramal, berdakwah dan berjihad.
  2. Mencari sumber-sumber lain selain sumber-sumber yang ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya
  3. Tidak memiliki antusias atau kesungguhan maksimal untuk menuntut ilmu dan menjaga kemurnian Islam dari sumber-sumber asasi tersebut.
  4. Meragukan apa saja atau sebagian yang dikhabarkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wassalam (karena bertentangan dengan rasio, fakta yang dilihat atau mimpi atau lainnya), tidak berusaha menjunjung tinggi perintahnya, tidak bersungguh-sungguh menjauhi larangannya dan beribadah dengan hal-hal yang tidak disyari’atkannya
  5. Mereka biasa dengan kehidupan syirik, kufur, bid’ah dan maksiat karena merasa berat menjadi adat kebiasaan atau mempunyai alasan tertentu.
  6. Menolak hadits-hadits shahih, meyakini hadits mutawatir saja yang pasti, sedangkan hadits ahad tidak menjadi keyakinan, menuduh para pembawa hadits dikalangan para shahabat dengan berbagai tuduhan yang buruk. AAS (11/02/09)

Penulis Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I.

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Silakan like FB Fans Page ELSUNNAH

iklaniklan2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: