Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Sudah 14 abad usia agama islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam semenjak beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rentang waktu yang panjang sekali, sangat memungkinkan menjadi penyebab jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Apalagi, umat ini terus berganti generasi demi generasi bersamaan dengan masuknya pemahaman dan virus-virus dari iblis dalam rangka menghancurkan aqidah islam yang murni. Sehingga banyak kita jumpai sekarang ini penampilan Islam yang berwarna-warni, baik dari amalan, ucapan, dan keyakinan.

Penyakit yang disebabkan oleh virus mengerikan ini telah dibikin dan disebarkan oleh Iblis semenjak kaum Nabi Nuh alaihissalam, dan terus tak henti-hentinya di tularkan oleh iblis dan bala tentaranya kepada manusia sampai saat ini. Penyakit inilah yang telah menggerogoti aqidah  kaum Nabi Nuh alaihissalam dan menjadikan mereka berbuat syirik. Penyakit mengerikan yang harus kita waspadai itu adalah: “ghuluw” (berlebih-lebihan) kepada ulama atau orang sholeh baik ketika masih hidup atau setelah meninggal dunia.

Ghuluw yang berarti berlebihan dalam mencintai, menganggungkan dan mengangkat seseorang di atas kedudukan yang semestinya. Sebagaimana mengangkat derajat ulama atau kiyai pada posisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam atau bahkan pada posisi Allah subhanahau wata’ala.

Memang tidak dipungkiri bahwa ulama adalah sosok kharismatik yang memiliki peran dan pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat. Terlepas dari itu semua, ulama adalah manusia biasa yang tidak bisa lari dari kesalahan. Ulama bukan sosok manusia yang ma’sum (terpelihara dari kesalahan) sebagaimana nabi dan rasul, terlebih dari itu ulama bukanlah Rabb yang bisa mengatur alam dan mengetahui yang ghoib sehingga berhak untuk diibadahi.

Penyakit ghuluw kepada para ulama ini akan menutup akal dan hati manusia. Ia tidak bisa membedakan antara yang haq dan bathil, mana tauhid dan mana syirik, bersamaan dengan itu dirinya merasa berada dalam kondisi yang lurus.

Sungguh sangat menyedihkan dengan keadaan dan realita ghuluw kepada ulama yang terjadi di tengah masyarakat, diantara mereka ada yang menta’ati seseorang dengan keta’atannya yang luar biasa seolah-olah perintah dan larangan tersebut datang langsung dari Allah subhanahau wata’ala. Dilaksanakan semua perintahnya dengan penuh ketundukan tanpa melihat apakah perintah dan larangannya itu bertentangan dengan syariat islam atau tidak. Ada juga yang mengagungkan seseorang melebihi batas; merunduk dan sujud ketika menghadapnya sebagai bentuk penghormatan, memajang gambar atau foto ulama yang diagungkan terseut di rumahnya agar keberkahan  selalu meliputi rumahnya.

Dan penyakit ghuluw ini biasanya akan terus berlanjut walaupun “ulama” yang mereka agungkan tersebut telah meninggal. Mereka akan berziarah ke kuburnya; sholat, berdoa bahkan thowaf di sekeliling kuburnya, pulangnya mengambil air atau tanah dari kuburan untuk keberkahan.  (Na’udzubillah min dzalik.)

Di dalam al Quran pun Allah telah menggambarkan fenomena ghuluw yang menimpa kepada umat sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam diutus. Masyarakat jahiliyyah melakukan sikap berlebih-lebihan terhadap orang shalih yaitu: manat, lata, uza dan mengangkat mereka diatas kedudukannya sehingga mereka menjadi sesembahan-sesembahan selain Allah. Orang-orang Yahudi bersikap ghuluw terhadap Uzair, mereka mengatakan “Uzair anak Allah”. Sebagaimana kaum Nasrani yang bersikap ghuluw terhadap Isa bin Maryam, mengangkatnya dari derajat manusia dan rasul menjadi sesembahan, mereka mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah subhanahau wata’ala. Kaum Nuh juga bersikap ghuluw terhadap orang-orang shalih, mereka membuat lukisan dan patung-patung orang-orang shalih tersebut kemudian menyembahnya di samping menyembah Allah subhanahau wata’ala.

Kita sebagai hamba Allah telah dilarang ghuluw dalam beragama, sebagaimana firman Nya:

“janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian” (An Nisa: 171)

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ

Berhati-hatilah kalian terhadap sikap berlebih-lebihan dalam agama. Karena yang membinasakan umat-umat terdahulu tidak lain adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ibnu Majah & Ahmad)

Dalam hadist yang lain Rasul bersabda,

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ، وَلَكِنْ قُولُوا : عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian mengagung-agungkan diriku sebagaimana kaum Nashrani mengagung-agungkan Isa ibnu Maryam. Akan tetapi katakanlah oleh kalian: “Hamba dan utusan Nya.” (HR. Bukhari no.3445)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai manusia yang paling mulia dan paling agung di dunia ini telah melarang dengan tegas umatnya agar jangan berlebih-lebihan terhadap dirinya. Bagaimana dengan manusia selain beliau yang berada di bawah derajatnya shallallahu ‘alaihi wassalam?

Orang yang ghuluw terhadap “ulama” dalam keta’atan dan ketundukan sebenarnya tanpa sadari ia telah menjadikannya ilah (tuhan) sebagai tandingan Allah subhanahau wata’ala, hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tentang ghuluwnya orang nashoro ketika membaca firman Allah subhanahau wata’ala:

“Mereka jadikan orang-orang alim dan rahib-rahib (pendta-pendeta) mereka sebagai Tuhan selain Alloh.”  (At Taubah: 31)

Ketika mendengar ayat ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, seorang sahabat yang bernama Adi bin Hatim radhiallahu’anhu yang dulu beragama nasrani berkata, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Bukankah mereka mengharamkan yang Allah halalkan kemudian kalian ikut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan yang Allah haramkan kemudian kalian ikut menghalalkannya?” Kemudian sahabat Adi bin Hatim radhiallahu’anhu menjawab, “Ya!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Itulah bentuk peribadatan kalian kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Wallohu musta’an

Penulis: Ust. Abu Hamzah Deden Wahyudin, S.Pd.I

Artikel: https://elsunnah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: