Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘nasrani’

Pembatal Keislaman (3): Tidak Mengkafirkan Orang Kafir

kafirOrang yang tidak mengkafirkan orang kafir baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi, orang-orang musyrik atau orang yang mulhid (atheis) atau selain itu dari berbagai macam kekufuran atau ia meragukan kekufuran mereka atau ia membenarkan madzhab mereka, maka dia telah kafir.

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ketika ditanya seputar “Apakah benar tidak boleh mengkafirkan orang-orang Yahudi dan Nashrani?”, maka beliau  menjawab:

“Saya mengatakan bahwa pendapat seperti yang dikeluarkan orang ini adalah pendapat yang sesat, dan bisa jadi meru-pakan sebuah kekufuran. Hal itu karena orang-orang yahudi dan nasrani telah dikafirkan oleh Alloh dalam kitab-Nya. Alloh  berfirman: (lebih…)

Iklan

Penyebab kekafiran kaum Yahudi dan Nasrani

Ibnu Taimiyah menyatakan: “Kekafiran kaum Yahudi berpangkal dari sikap tidak mau melaksanakan hal-hal yang telah mereka ketahui. Mereka tidak mau mengamalkan
kebenaran dan tidak mau mengikutinya, baik dalam ucapan maupun perbuatan.”

Kekafiran kaum Nasrani berpangkal dari sikap mereka yang suka beramal tanpa ilmu. Mereka suka melakukan berbagai macam ibadah yang tidak ada tuntunannya dari syari‘at Allah, mereka suka berdusta atas nama Allah atas halhal yang tidak mereka ketahui. Dalam hal ini, Sufyan bin ‘Uyainah salah seorang kaum salaf menyatakan: “Kerusakan ulama kita serupa dengan kerusakan yang terjadi pada kaum Yahudi, sedangkan kerusakan kalangan awam kita serupa yang terjadi pada kaum Nasrani.”

Berkenaan dengan jalan hidup mereka, Allah telah memperingatkan kita sebagaimana pada hadits-hadits berikut:

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Narsani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu’alaihi wassalam, beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai umatku mengikuti apa yang terjadi pada kurun-kurun sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, seperti bangsa Parsi dan Romawi?” Sabda beliau: “Manusia siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu’alaihi wassalam  memberitahukan bahwa di tengah umatnya akan ada orang-orang yang meniru perilaku kaum Yahudi dan Nasrani, dan ada juga yang meniru orang ‘ajam (asing), yaitu bangsa Parsi dan Romawi, padahal Nabi Shallallahu’alaihi wassalam sejak awal telah melarangnya. Namun pada riwayat tersebut tidak menyatakan bahwa seluruh umatnya akan berbuat demikian. Pada riwayat yang populer disebutkan bahwa, beliau bersabda:

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tetap membela kebenaran sampai terjadi kiamat.” (HR. Hakim dari ‘Umar bin Khathab. Rawi-rawi hadits ini dipakai juga oleh Muslim. Hal ini dikukuhkan oleh Imam Dzahabi. Hadits yang semakna dengan hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.)

Nabi Shallallahu’alaihi wassalam  juga bersabda:

“Sungguh Allah tidak akan menyatukan umat ini dalam kesesatan.” (HR. Tirmidzi, dan dinilai hasan oleh Imam Suyuthi)

Dan sabda beliau:

“Sungguh Allah selalu menanamkan di dalam agama ini hal-hal yang menjadikan mereka (kaum muslim) melaksanakan agama ini dengan ketaatan kepada agamanya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Dari beberapa hadits di atas dapat dipahami bahwa sudah pasti di kalangan umat Islam ini ada kaum yang tetap berpegang teguh kepada hidayah Allah, yaitu Islam yang murni. Namun terdapat pula kaum yang menyimpang, yaitu mengikuti sebagian dari ajaran agama Yahudi atau Nasrani, sekalipun penyimpangan mereka tidak sampai menyebabkan mereka menjadi kafir atau fasiq. Akan tetapi penyimpangan mereka kadang sampai menjadikan mereka kafir, fasiq, berdosa atau mungkin hanya bersalah.

Perbuatan menyimpang semacam ini merupakan hal yang bersifat naluriah karena syetan menampakkan perbuatan ini di hadapan pelakunya sebagai perbuatan baik. Oleh karena itu, para hamba Allah diperintahkan untuk terus menerus memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati dengan hidayah-Nya, sehingga tidak bersikap seperti kaum Yahudi dan tidak pula seperti kaum Nasrani.

Sumber:

“Mukhtarat Iqtidha’ Ash-Shirathal Mustaqim Syaikh Ibnu Taimiyah” oleh Muhammad bin Ali Adhabi’i. Penerjemah: Drs. Muhammad Thalib. Yogyakarta: Media Hidayah

Awan Tag