Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘mahram’

Wanita Muslimah Berdandan dan Bersolek Menurut Bimbingan Islam

Di antara ajaran Islam, yang (diberlakukan) untuk melindungi wanita dan menjaga kemuliaannya adalah dengan memerintahkannya untuk berperangan dengan akhlaq yang mulia. Salah satu akhlaq yang mulia yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam adalah sifat malu, yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri menjadikannya sebagai bagian dari iman dan cabang dari beberapa cabang iman. Tidak ada seorang pun yang mengingkari bahwa sifat  malu yang diperintahkan oleh Islam dan (yang dikenal oleh orang) sebagai adat kebiasaan adalah berupa sikap hormat atau malu dan berpengarai dengan akhlaq yang menjauhkannya  dari fitnah serta tempat-tempat yang menimbulkan sak wasangka (kecurigaan).

Juga tak diragukan lagi apa yang dipakai oleh wanita dengan menutup wajahnya dan anggota-anggota tubuh yang lainnya yang bisa menimbulkan fitnah adalah salah satu bentuk dari sifat malu yang terpuji itu. Oleh karena itu, dia bisa terjaga dan jauh dari fitnah. Sedang hijab syar’i yang seharusnya dikenakan oleh wanita muslimah adalah hijab (jilbab) yang menutupi seluruh anggota tubuhnya (dari pandangan orang lain) selain suami dan mahram-mahramnya. Sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala,

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Baca selengkapnya…. silahkan download di sini

Download:  Wanita Muslimah Berdandan dan Bersolek

Iklan

Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahram

Pada zaman kontemporer ini, jabat tangan antara  laki-laki dengan perempuan hampir menjadi tradisi. Tradisi bejat itu mengalahkan akhlak islami yang semestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya dari pada syari’at Allah Subhanahu wata’ala  yang mengharamkannya. Sehingga jika salah seorang dari mereka engkau ajak dialog tentang hukum syari’at dengan dalil-dalil yang kuat dan jelas, tentu serta merta ia akan menuduhmu sebagai orang yang kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali  silaturrahim, menggoyahkan niat baik… dan sebagainya.

Sehingga dalam masyarakat kita, berjabat tangan dengan anak (perempuan) paman atau bibi, dengan istri saudara atau istri paman, baik dari pihak ayah maupun ibu lebih mudah dari pada minum seteguk air.

Seandainya mereka melihat secara jernih dan penuh pengetahuan, tentang bahaya persoalan tersebut menurut syara’, tentu mereka tidak akan melakukan hal tersebut.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

”Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum besi, lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”[1]

Kemudian tak diragukan lagi, hal ini termasuk zina tangan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam,

”Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina.” [2]

Dan adakah orang yang hatinya lebih bersih dari hati Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wassalam. Walaupun demikian beliau mengatakan:

”Sesungguhnya aku tidak pernah menyentuh tangan wanita.”[3]

Beliau Shallallahu’alai wassalam juga bersabda:

”Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan wanita.”[4]

Dan dari Aisyah radliallahu ‘anha, dia berkata,

”Dan Demi Allah, sungguh tangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam tidak (pernah) menyentuh tangan wanita sama sekali, tetapi beliau membai’at mereka dengan perkataan”.

Hendaknya takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, orang-orang  yang mengancam cerai istrinya yang shalehah, karena ia tidak mau berjabat tangan dengan kolega-koleganya.

Perlu juga diketahui, berjabat tangan dengan lawan jenis, meski memakai alas (kaos tangan) hukumnya tetap haram.

Sumber:

Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H


[1] Hadits riwayat Thabrani dalam  Shahihul Jami’, hadits; No: 4921.

 

[2] Hadits riwayat Ahmad; 1/ 412, Shahihul Jami’; 4126.

[3] Hadits riwayat Ahmad; 6/ 357, dalam Shahihul Jami’, hadits; No: 2509

[4] Hadits riwayat Thabrani dalam Al Kabir; 24/ 342, Shahihul Jami’; 70554, lihat; Al Ishabah; 4/ 354, cet. Darul Kitab Al ‘Arabi.

Awan Tag