Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Archive for the ‘Spesial Bekal Ramadhan’ Category

Menggapai Lailatul Qodr

Sungguh, waktu demikian cepat berlalu, terasa baru beberapa hari saja kita berpuasa, ternyata kini kita akan memasuki 10 hari yang terakhir dari bulan ini dimana Lailatul Qodr turun di salah satu malamnya. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Maka amalam-amalan ibadah yang dilakukan ketika itu sama dengan amalan-amalan ibadah selama 1000 bulan bahkan lebih baik.

Allah ta’ala berfirman,

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3-5)

Masya Allah sungguh keutamaan yang sangat besar, ma sepatutnya kita menghidupkan 10 hari malam terakhir yaitu menghidupkan mayoritas waktu malam dengan ibadah. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan kita, beliau tambah giat beribadah di malam 10 hari terakhir di bulan Ramadhan dan membangunkan keluarganya untuk ikut serta beribadah.

Ibunda Aisyah rodhiallohu ‘anha menceritakan,

“Jika Rasulullah telah memasuki sepuluh (malam terakhir di bulan Ramdhan), maka beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, lebih bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Muslim)

Mari kita hidupkan malam-malam terakhir di bulan Ramadhan ini dengan itikaf, shalat, dzikir, tilawah Al Qur’an, berdoa, dan amalan-amalan ibadah lainnya.

Semoga Anda adalah hamba terpilih yang mendapatkan malam Lailatul Qodr dan Anda mendapatkan maafNya dan pengabulan setiap doa. Aamiin

ELSUNNAH BC

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Layanan Tausiyah WhatsApp Gratis dari ELSUNNAH dan Konsultasi Syariah Klik Di Sini

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH

Bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah ini.
Like, Comment, and Share

Iklan

Bangun Ketika Adzan Subuh, Belum Sempat Sahur

Maaf mau bertanya. Bagaimana jika kita ketiduran dan tidak sempat sahur karena bangun pas adzan subuh telah berkumandang, dan saat itu langsung berniat untuk puasa tanpa sahur. Tapi ragu-ragu juga apakah itu bisa atau tidak karena saya berniat di waktu imsak (pukul 4.42). Apakah puasanya bisa tetap dilanjut atau tidak. Syukran

Rahmat, Mamuju

Jawaban

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ } رَوَاهُ الْخَمْسَةُ ، وَمَالَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ إلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ ، وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ { لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ }

Dari Hafshoh Ummul Mukminin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah) (lebih…)

Shalat Tahajud setelah Tarawih

Jadi, bila ingin tahajud dlm sepertiga mlm terakhir, dilakukan stlh witir jamaah di masjid?

Pak Kukuh

Jawaban

Betul orang yang sudah witir di awal malam kemudian hendak tahajud di akhir malam, maka dia bisa shalat sesuai yang dia inginkan, hanya saja, dia tidak boleh witir lagi. Tidak boleh dua kali witir dalam satu malam.Ini berdasarkan hadis, (lebih…)

Bergembiralah Ramadhan Telah Datang

Alhamdulillah, hilal bulan Ramadhan telah terlihat. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Tim Rukyatul Hilal dari MUI dan Depag. Dengan demikian, awal puasa bulan Ramadhan 1437 H jatuh pada hari Senin (6/6/2016).

Marhaban Ya Ramadhan!
Ramadhan Mubarak.

قَدْ جَاءَكُمْ شهر رَمَضَانُ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ. فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ.

(lebih…)

Sholat Tarawih di Rumah Bersama Istri

Pertanyaan

Sholat tarawaih itu dilakukan dengan istri dirumah boleh pak?

Pak Anwari (Kendal)

Jawaban

Sholat tarawih pada asalnya boleh-boleh saja dikerjakan dirumah baik sendiri maupun berjamaah bersama Istri. Akan tetapi di sana ada banyak keutamaan yang bisa didapatkan ketika dilakukan secara berjamaah di masjid dan sangat dianjurkan untuk sholat tarawih berjamaah bersama Imam di masjid. Ini adalah pendapat jumhur ulama bahwa lebih utama sholat tarawih berjamaah di masjid. (lebih…)

[Video] Tujuan Puasa – Syaikh Muhammad al-‘Arifi

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Puasa Tidak Hanya Sekedar Menahan Lapar dan Dahaga

puasa-ilustrasiPuasa adalah menahan dari makan, minum dan jima’ disertai dengan niat. Akan tetapi perlu diketahui bahwasanya puasa tidak hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum serta jima’ saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroni) (lebih…)

Tuntunan Berbuka Puasa

kurmaDiriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad , bahwa Rasulullah   bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسَ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Umat manusia akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” [HR. As-Syaikhân (al-Bukhari dan Muslim)]

Disunahkan berbuka sebelum shalat magrib. Berbuka puasa dengan apa yang mudah didapatkan baginya dari hal-hal tersebut dalam hadits berikut. Berbuka dengan kurma mengkal, jika tidak ada dengan kurma masak, jika tidak ada dengan beberapa teguk air, jika tidak ada dengan makanan apapun atau minuman apa saja yang halal. Sebagaimana yang dikatakan Anas -radiallahu’anhu- : (lebih…)

Tuntunan Sahur

sahurDiriwayatkan dari Anas  radhiallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” [HR. Syaikhân (al-Bukhari dan Muslim)] (lebih…)

Wajibnya Niat Puasa Ramadhan Sebelum Terbit Fajar

Puasa-Puasa-UBRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar (Shubuh), maka puasanya tidak sah.” (HR. Abu Daud no. 2454, Tirmidzi no. 730, dan An Nasa’i, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.) (lebih…)

Dianjurkan Memberi Kabar Gembira Dengan Datangnya Bulan Ramadhan

memupuk kerinduan dengan mengetahui keutamaan bulan ramadhanDari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepada kalian ramadhan bulan yang penuh berkah. Allah azza wa jalla mewajibkan atas kalian berpuasa Ramadhan . Pada bulan ini dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Siapa yang diharamkan dari kebaikannya maka sungguh dia telah-benar-benar diharamkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). (lebih…)

Bagaimana Bulan Ditetapkan?

hilalDiriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمِيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعُدُّوْا ثَلاَثَيْنِ

“Berpuasalah kalian karena telah melihatnya (bulan) dan berbukalah kalian karena telah melihatnya pula. Dan jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka hitunglah bulan (Sya’ban) menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari, an-Nasa’i dan Muslim) (lebih…)

Beberapa Hadits Keutamaan Ramadhan

hukum dan keutamaan qiyam ramadhanDari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhandengan penuh keimanan  dan mengharap pahala, niscaya dosa-dosanya yang telan berlalu akan diampuni.” (lebih…)

Ramadhan: Terbukanya Pintu Surga, Tertutupnya Pintu Neraka

selamat-menyambut-ramadhan2Segala puji bagi Alloh yang mempertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini, bulan yang penuh dengan keistimewaan-keistimewaan di dalamnya, keistimewaan yang tidak ada pada bulan-bulan yang lainnya. Semoga kita semua dapat memaksimalkan kesempatan yang telah diberikan kepada kita semua.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada uswah kita,  Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad , juga kepada seluruh keluarga dan para sahabat-sahabatnya serta kepada mereka yang setia mengikuti jejak langkah orang-orang terdahulu yang sholeh. Semoga kita termasuk bagian dari mereka yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik. (lebih…)

Hikmah Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan Meraih Syafaat Al-Qur'anSegala puji bagai Allah. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi terakhir, Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabat dan siapa saja yang mengambil petunjuknya hingga hari kiamat.

Adapun selanjutnya:

Sesungguhnya apa yang Allah syariatkan kepada hamba-Nya dari berbagai ibadah memiliki hikmah yang sempurna dan paripurna. Karena Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan makhluk, syariat dan balasan-balasannya. Satu dari ibadah itu adalah puasa, yang memiliki hikmah besar, di antaranya:

Puasa merupakan ibadah untuk Allah. Seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhan-nya dengan meninggalkan apa-apa yang dicintai jiwa dan nafsunya baik makanan, minuman maupun hubungan kelamin. Dari situ nampak ketulusan iman seorang hamba, kesempurnaan penghambaannya, kecintaannya kepada Tuhan-nya dan harapnya kepada pahala-Tuhan-nya. Karena seseorang tidaklah meninggalkan apa-apa yang dicintainya kecuali untuk sesuatu yang lebih agung. Karena itu saudaraku Muslim, hendaknya engkau termasuk mereka yang berpuasa demi mengharap apa-apa yang ada di sisi Allah dan menghinakan diri kepada-Nya dengan ibadah ini.

(lebih…)

Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah

Sleep LessHadits ‘Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah’ Adalah Lemah

Saya mendengar salah seorang khatib menyampaikan salah satu hadits Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Apakah hadits ini shahih?

Alhamdulillah.

Hadits ini tidak shahih. Tidak ada ketetapan dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Baihaqi di kitab “Syu’abul Iman”, 3/1437, dari Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu ’anhu sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: (lebih…)

Kedudukan Bulan Rajab Dan Bulan-Bulan Haram Lainnya

kedudukan bulan rajab dan bulan haramTidak terasa kita telah memasuki bulan Rajab tepatnya tanggal 2 Rajab 1434 H/ 12 Mei 2013. Perlu diketahui bahwasanya bulan Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan Haram.

 

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah (9): 36)

Ke-empat bulan haram itu adalah Dzul qa’dah, Dzul hijjah, muharram dan Rajab sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Bakrah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkhutbah ketika haji wada’, beliau bersabda, (lebih…)

Apakah Ru’yatul Hilal yang Dilakukan oleh Suatu Wilayah atau Negara Berlaku untuk Wilayah atau Negara Lainnya?

Pada tulisan sebelumnya pada Seri Persiapan Menyambut Ramadhan telah dibahas tentang ru’yatul hilal (melihat hilal/bulan sabit) untuk menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebagai sunnah Rasulullah saw dan bidahnya menggunakan hisab dan kebolehan menggunakan alat untuk mendekatkan pandangan pada hilal menggunakan teropong atau yang semisalnya.

Pada tulisan kali ini masih akan dibahas tentang permasalahan seputar ru’yatul hilal yaitu permasalahan yang marak di kalangan kaum muslimin dan juga marak di kalangan orang-orang yang berupaya untuk senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Permasalan ini menjadi khilaf yang sangat mashur di kalangan para ulama. Masalah tersebut ialah apablia hilal terlihat di suatu wilayah/negara apakah berlaku untuk wilayah/negara lain di seluruh dunia, atau hanya khusus untuk wilayah/negara tadi saja?

Masalah ini adalah masalah yang dikhilafkan para ulama dengan perbedaan yang cukup banyak. Hal ini sampai mendorong Imam Asy Syaukani Rahimahullah menulis secara khusus risalah tentang masalah ini. Ada sekitar delapan pendapat mengenai masalah ini. Dari delapan pendapat tersebut terdapat tiga pendapat yang terkuat dikarenakan argumentasi/hujah/dalil-dalil yang mereka bawakan. Tiga pendapat ini yang insya Allah akan kita bahas dalam tulisan ini.

Pendapat yang pertama mengatakan bahwasanya bila hilal telah terlihat di suatu negara maka itu khusus untuk negera tersebut dan yang satu matlak dengannya. Dengan begitu, masing-masing negara akan memiliki ru’yatul hilal-nya sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Ikrimah Al Qasim bin Muhamad, Salim bin Abdillah bin Umar, dan Ishak Ibnu Rohawai. Pendapat ini dihikayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari para ulama ahlul ilmu dan beliau tidak menghikayatkan pendapat yang selain ini sehingga secara dhohir Imam Tirmidzi sependapat dengan pendapat pertama ini. Al Imam Al Mawardi Rahimahullah menghikayatkan pendapat ini dari satu sisi yaitu dari pendapat Syafi’iyah. Imam An Nawawi Rahimahullah juga menyebutkan dalam Al Majmu’ Syarul Muhadzab bahwa ini adalah pendapatnya Abu Ishak As Shiraji, Abu Hanif Al-Ghozali,  Al Bandinuji, dan dishahihkan oleh Al Bandari dan Rofii dan lain-lain dari kalangan ulama-ulama Syafi’iyah.

Pendapat pertama ini dirajihkan atau dikuatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya, Tamjid. Imam An Nawawi dalam Kitabnya Al Majmu’ Syarul Muhadzab dan juga dalam syarah shahih muslim, Al Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya dan beliau menukil dari Ibnul Arobi Al Maliki. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Daqiqil ’Id dalam kitabnya Ikhsamul Ahkam, juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al Ikhtiarot Al Fiqiyah. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Al Imam Ash Shon’ani dalam Subulus Salam. Dan dikalangan para ulama sekarang yang berpendapat demikian adalah Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah dalam kitab beliau Fatawa Fiqh Ibadat, juga dikuatkan oleh Al Imam Mukbil bin Hadi Rahimahullah.

Argumentasi mereka tentang pendapat ini yaitu dari Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, Al Ikhtiarot Al Fiqiyah, beliau mengatakan bahwa yang namanya matlak (tempat munculnya hilal) itu berbeda-beda dengan kesepakatan orang-orang yang mengetahui hal ini, maka apabila matlaknya satu maka wajib bagi dia untuk berpuasa dengan ruyah negara tadi tapi jika berbeda maka dia tidak boleh mengggunakan ruyah negara tersebut. Alasan yang kedua yaitu dari pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu dimana tidak diketahui ada dikalangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhuma yang menyelisihnya (kesepakatan diam para sahabat). Alasan lainnya yaitu bahwasanya waktu-waktu harian itu berbeda-beda dari satu negara dan negara lainya, maka apabila fajar telah muncul di arah timur maka orang-orang di arah barat yang belum meuncul fajarnya maka belum diwajibkan untuk berpuasa. Dalil yang meraka bawa surat Al Baqarah 185,

”Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

Sisi pendalilannya ialah bahwasanya yang diwajibkan untuk berpuasa adalah orang-orang yang menyaksikan telah masuknya bulan Ramadhan. Maka demikianlah adanya dan orang-orang yang satu matlak dengannya, sementara wilayah lainnya yang tidak satu matlak tidak dikatakan menyaksikan. Misalnya yang menyasaksikan orang Indonesia maka orang Indonesia aja yang dianggap telah menyaksikan masuknya bulan Ramadhan, sementara negara lainya yang tidak menyaksikan tidak ikut.

Dalil yang kedua yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,

”Berpuasalah kalian dikarenakan melihat hilal dan berbukalah kalian juga dikarenakan melihat hilal”

Istinbat atau penjelasan dalam hadis ini bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa atau berbuka dikaitkan dengan yang namanya ru’yatul hilal (melihat hilal), dan yang melihat hilal ialah orang-orang yang melihatnya langsung. Hal inilah yang dimaksud atau yang dinamakan dengan ra’a ( رأى ) yaitu dia telah melihat hilal. Demikian pula orang-orang yang satu matlak dengan dia, mereka juga dikatakan ra’a ( رأى ) . Sementara wilayah/negara-negara lainnya yang tidak satu matlak tidak dikatakan dengan ra’a ( رأى ) . Kemudian argumentasi mereka yang paling kuat ialah hadis yang diriwayatkan imam muslim dalam shahihnya dari sahabat Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya Quraisy, dimana Quraisy diutus oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ke Syam untuk berjumpa dengan Muawiyah bin Abu Sufyan, dan dalam hadis tersebut ringkasnya Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Quraisy, ”Kapan kamu melihat hilal wahai Quraisy?”, dikatakan oleh Quraisy ”Kami melihat hilal pada malam Jumat”, maka Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menyatakan, ”Namun kami melihat hilal pada malam Sabtu. Maka kita terus-menerus berpuasa hingga kita menyempurnakan tiga puluh hari atau kita melihat hilal”. Jadi ada selisih satu hari, di Syam terlihat malam Jumat sementara di Madinah terlihat malam Sabtu. Ketika itu Quraisy bertanya pada Ibnu Abbsa, ”Wahai Ibnu Abbas, kenapa kamu tidak mencukupkan dengan ru’yah yang dilakukan Muawiyah dan puasanya Muawiyah?” Maksudnya kenapa tidak ikut ru’yah yang dilakukan Muawiyah yang melihat hilal pada malam jumat. Beliau menjawab ”Tidak, begitulah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kami”. Berdasarkan hadis ini jelas bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu tidak mengamalkan ru’yah-nya ahli Syam, tetapi beliau menggunakan ru’yah-nya ahli Madinah. Hal ini berarti menunjukkan bahwasanya masing-masing wilayah/negara menggunakan ru’yahnya sendiri-sendiri.

Pendapat yang kedua menyatakan bahwa bila hilal telah terlihat di sebuah negara atau wilayah maka ru’yah tersebut berlaku untuk semua negara kaum muslimin. Ini adalah pendapatnya Imam Al Laits Ibnu Saab, Imam Madzab Empat (Imam As Syafii, Imam Ahmad, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah), Ash Shoymari, Abu Qoyyid, Ad Darimi, Abu Ali As Sinji dan lainnya dari kalangan ulama Syafi’iyah. Dan pendapat ini dihikayatkan oleh Imam Qurthubi dai syaikh-syaikh beliau. Ini menunjukkan bahwasanya ini adalah pendapat kebanyakan ulama dan jumhur fuqaha (ulama ahli fiqih). Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa[1]. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam Al Mughni, Al Imam Asy Syaukani dan putranya dan ulama-ulama lainnya. Adapun ulama-ulama yang sekarang diantaranya adalah Syaikh Al Albani dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Dalil mereka pada pendapat yang kedua ini sama seperti argumentasi pada pendapat yang pertama, yaitu ayat Allah Surat Al Baqarah 185,

”Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

Adapun sisi pendalilannya dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi,

Kaum muslimin telah sepakat wajibnya puasa pada bulan Ramadhan. Dan telah tetap bahwasanya hari ini termasuk dalam bulan Ramadhan dengan persaksian orang-orang yang terpercaya, maka wajib atas segenap kaum muslimin untuk berpuasa pada hari itu.

Sehingga yang namanya bulan Ramadhan berdasarkan pendalilan ayat tadi berlaku bagi yang melihat hilal dan berlaku pula untuk orang-orang yang mendengarkan berita orang-orang yang terpercaya tentang ru’yatul hilal. Jadi intinya kaum muslimin yang mendengarkan berita tentang masuknya bulan Ramadhan maka wajib baginya untuk puasa Ramadhan.

Dalil yang kedua yaitu hadis yang sama pula yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,

Berpuasalah kalian dikarenakan melihat hilal dan berbukalah kalian juga dikarenakan melihat hilal.

Istinbat pendapat yang kedua ini adalah bahwasanya hadis ini ialah bersifat umum dan tidak dikhususkan satu orang tanpa yang lainnya. Hadis ini mengatakan ”berpuasalah kalian (semuanya) karena melihat hilal”. Dan pendapat ini lebih dekat untuk menyatukan kaum muslimin, tidak mencerai beraikan mereka, dan perkara yang semacam ini termasuk perkara yang diperhatikan oleh syariat.

Pendapat yang ketiga adalah bahwa masalah ini tergantung kepada keputusan penguasa/pemerintah. Ini adalah pendapatnya Abdul Aziz Ibnul Madisun yang merupakan salah satu murid Imam Malik Rahimahullah. Pendapat ini dihikayatkan oleh Imam Asy Syaukani dan  sebelumnya oleh Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah. Dikatakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin tentang pendapat ini,

Pendapat yang ketiga inilah yang diamalkan oleh kaum muslimin sekarang ini. Dan pendapat ini dari sisi  kemasyarakatan, ini pendapat yang kuat.

Dari ketiga pendapat tersebut, berdasarkan dalil-dalil yang dibawakan, pendapat yang kedualah yang merupakan pendapat jumhur ulama, yaitu apabila kelihatan hilal di sebuah negeri maka berlaku untuk semua negeri yang lainnya. Dikarenakan ayat dan hadis yang disebutkan itu umum tidak ada pengkhususan untuk yang satu matlak tanpa yang lainnya. Adapun pernyataan bahwasanya matlak itu berbeda-beda, tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah apakah perbedaan matlak tersebut dianggap didalam permasalahan ru’yatul hilal atau tidak? Kalau jawabannya ”Ya”, maka kita punya banyak pertanyaan disini. Apa batasan matlak itu? Sebab perkara matlak adalah perkara yang tidak baku. Jika mereka menjawab batasannya matlak ialah satu negara/satu wilayah/satu iklim, maka kita bisa menjawab dalilnya mana yang mengatakan hal demikian. Tidak ada dalil mengenai hal ini. Jawaban kedua yang dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa yaitu kalau kita menganggap suatu batasan tertentu baik itu jarak Qashar/iklim/matlak, maka jika ada seseorang diujung jarak qashar/iklim/negara dia berpuasa. Kemudian ada orang yang kedua, yang dengan orang pertama jaraknya cuma satu panah, dia tidak berpuasa, padahal jaraknya hanya satu jengkal.

Adapun hadisnya Abdulllah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu dikatakan oleh para ulama bahwasanya Ibnu Abas tidak tegas menyatakan bahwasa masing-masing negara mengamalkan ru’yah-nya sendiri-sendiri. Dan bahwasanya ini adalah ijtihadnya beliau semata, dan yang namanya hujah itu berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, bukan berdasarkan ijtihadnya Ibnu Abbas. Yang dimaksud dengan perkataan Ibnu Abbas, ”Demikianlah Rasulullah memerintahkan kami” itu maksudnya adalah seperti perkataan Ibnu Abbas sendiri yaitu ”Bahwasanya kami terus-menerus berpuasa sampai kami melihat hilal”. Ini persis seperti hadisnya Abu Hurairah dan juga hadisnya Ibnu Umar.

Nasehat Para Ulama

Mengenai hal ini, Syaikh Al-Albani menasehati kaum muslimin agar dalam berpuasa dan berhari raya mereka mengikuti penguasanya. Disebutkan oleh beliau dalam Tamamul Minnah, bahwasanya beliau berkata,

Untuk menuju upaya supaya negara-negara islam bersatu di atas prinsip ini (satu matlak), maka saya berpendapat wajib atas masyarakat setiap negeri untuk berpuasa dengan negaranya. Dan jangan sampai dia memisahkan dirinya sehingga sebagian mereka berpuasa dengan penguasanya dan sebagian yang lain berpuasa dengan negara yang lainnya. Sebab itu berakibat memperluas daerah khilaf pada satu masyarakat sebagaimana terjadi di sebagian negara-negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu wallahu musta’an”.

Inilah pendapat beliau, padalah beliau termasuk yang merajihkan pendapat jumhur ulama.

Demikian pula nasehatnya Syaikh Utsaimin Rahimullahu ta’ala ketika mejelaskan pendapat yang ketiga. Dalam kitabnya, beliau menyatakan,

”Amalannya orang-orang yang sekarang adalah atas pendapat yang ketiga ini. Apabila telah tetap pada penguasa maka semua orang yang dalam kekuasaanya harus berpuasa atau berfitri bersama dia. Dan pendapat ini dari sisi kemasyarakatan adalah pendapat yang kuat. Walaupun kami telah menshahihkan pendapat yang kedua, maka wajib bagi setiap orang yang berpendapat bahwasanya masalah ini dibangun di atas matlak supaya dia jangan menampakkan khilaf (perbedaan) terhadap apa yang dilakukan oleh masyarakatnya.”

Dalam masalah ini, kita dalam beramal supaya mengamalkan apa yang telah dinasehatkan oleh para ulama. Namun hal ini tidak mutlak yaitu dengan syarat bahwa penguasa tadi menggunakan ru’yatul hilal. Adapun kalau penguasa tadi menggunakan hisab, maka tidak perlu diikuti.

Wallahu ’alam bishawab.

Lihat juga tulisan-tulisan pada Seri Persiapan Menyambut Ramadhan disini


[1] Dalam kitab Al Ikhtiarot Ibnu Taimiyah menguatkan pendapat yang pertama, sedang dalam kitab Al Fatawa beliau menguatkan pendapat yang kedua. Hal ini menunjukkan bahwasanya Ibnu Taimiyah memiliki dua pendapat.

Hikmah Dilarangnya Puasa Mukadimah Ramadhan, Tentang Yaumu Syak, serta Permasalahan Ru’yatul Hilal dan Hisab

III. Hikmah Dilarangnya Puasa Mukadimah Ramadhan, Tentang Yaumu Syak, serta Permasalahan  Ru’yatul Hilal dan Hisab

Pada tulisan sebelumnya pada Seri Persiapan Menyambut Ramadhan telah dibahas tentang permasalahan puasa Sya’ban, hukum mengkhususkan nishfu Sya’ban dengan puasa dan menyambut Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari.

Pada kali ini akan dibahas hikmah dilarangnya puasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan. Para ulama menjelaskan ada beberapa hikmah, diantaranya:

  1. Memperkuat diri/badan dengan berbuka untuk puasa Ramadhan supaya ketika masuk bulan Ramadhan dalam keadaan kuat dan semangat untuk berpuasa.
  2. Dikhawatirkan tercampurnya antara puasa yang sunah dengan puasa yang wajib dikarenakan tidak ada pemisah.
  3. Untuk kehati-hatian

Sekali lagi apapun hikmahnya atu apapun alasannya, yang jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam telah melarang kita untuk melakukan puasa mukadimah Ramadhan sehari atau dua hari. Kita diwajibkan untuk meninggalkan apa-apa yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam baik diketahui maupun tidak diketahui hikmahnya.

Pembahasan yang terakhir mengenai permasalahan-permasalahan sebelum Ramadhan adalah permasalahan shiyam yaumu syak (puasa pada hari-hari yang meragukan). Yanng dimaksud dengan hari meragukan disini adalah pada tanggal 29 Sya’ban dimana waktunya orang-orang untuk ru’yatul hilal tetapi terhalangi oleh mendung,  awan, asap atau yang semisalnya sehingga apakah keesokan harinya puasa atau tidak.

Tentang permasalahan ini terdapat khilaf di antara para ulama. Ada beberapa pendapat dikalangan para ulama, yaitu:

  • Jumhur ulama berpendapat hukumnya haram berpuasa pada hari itu. Mereka berhujah dengan hadis dari Ammar ibnu Yasir Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Bukhari dan disambung sanadnya oleh Al Khamsah serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم

Ammar Ibnu Yasir Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa shaum pada hari yang meragukan, maka ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad) Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam[1]

Mereka juga berhujah dengan hadis Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

َوَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ:   ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ:( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا  لَهُ  ثَلَاثِينَ ). وَلِلْبُخَارِيِّ: ( فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

“Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian melihatnya (hilal) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (hilal) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari.” Menurut riwayat Bukhari: “Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari.” [2]

Keadaan dimana pada malam 29 Sya’ban hilal tidak terlihat dikarenakan mendung, awan, asap, atau yang semisalnya sehingga menggenapkan atau menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari disebut dengan istilah ikmal.

  • Pendapat yang kedua yaitu pendapat yang mashur dari Iman Ahmad Rahimahullah, beliau berpendapat wajib berpuasa ketika itu dengan keyakinan telah masuk Ramadhan. Beliau juga berhujah dengan hadis Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu di atas dengan lafadz

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

”Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah ”,

Menurut beliau makna “faqduruulah” adalah ”persempitlah” yakni mempersempit bulan Sya’ban cukup dengan 29 hari saja dan keesokan harinya sudah memasuki bulan Ramadhan. Beliau juga berhujah dengan perbuatan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu dan sebagian sahabat yang lain.

  • Pendapat yang ketiga adalah kalau keadaanya mendung  maka dikembalikan kepada keputusan penguasa atau pemerintah dalam hal puasa dan hari raya.

Dari ketiga pendapat  tersebut, pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa haram berpuasa pada yaumu syak. Adapun argumentasi yang dibawakan oleh pendapat yang kedua ini dijelaskan dalam riwayat-riwayat yang lainnya, bahwa pengertian ”faqduruulah” ialah dikira-kirakan dalam sisi hisabnya atau hitungan bilangan Syaban yakni digenapkan menjadi 30 hari. Hal ini dijelaskan dengan riwayat yang sama dari hadis Abdullah bin Umar  Radhiyallahu ‘anhu dan juga dikuatkan dengan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

َوَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ )

Menurut riwayatnya dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu: “Maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban 30 hari.”[3]

Adapun yang meraka nukil dari perbuatan sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhuma maka jawabannya ialah mengikuti kaidah bahwa yang dianggap atau yang dijadikan pegangan ialah apa yang diriwayatkan oleh sahabat tadi bukan pendapat sahabat tadi, sebab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan hadis dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan makna pendapat jumhur ulama, sedangkan pendapat beliau sendiri pendapatnya tidak sesuai dengan riwayat yang beliau bawakan.

Pendapat jumhur ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, SyaikhulIslam Ibnu Qayim Al Jauziyah rahimahullah, Al Imam Ibnu Abdil Hadi Rahimahullah, Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah, Al Imam As Shon’ani Rahimahullah, Al Imam As Syaukani Rahimahullah,  dan lain-lainnya dari kalangan ulama kaum muslimin.

SEPUTAR RU’YATUL HILAL DAN HISAB

Kalau kita lihat di sini tidak ada satu pendapat pun dari pendapat-pendapat yang dsebutkan tadi yang mengatakan kalau terjadi mendung maka dilakukan hisab. Tidak ada satu ulama pun yang menoleh atau membicarakan masalah hisab dalam hal ini melainkan tiga pendapat di atas.

Disyariatkan untuk melihat hilal (bulan sabit) untuk menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Ini adalah salah satu prinsip kaum muslimin, salah satu prinsip agama Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini didasarkan dengan ayat Allah Subhanahu wata’ala ,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

”Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” [QS. Al Baqarah (2) : 189]

Juga berdasarkan hadis-hadis shahih, di antaranya,

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata:Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (HR. Muslim no. 1808 )

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi (Abul Qasim) bersabda, ‘Berpuasalah bila kamu melihatnya (hilal tanggal satu Ramadhan), dan berbukalah bila kamu melihatnya (hilal tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari.'” (HR. Bukhari no. 924)

Dari ayat dan hadis-hadis tersebut sangat jelaslah bahwa penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal dikaitkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ru’yatul hilal (melihat hilal/bulan sabit). Hal ini tidak hanya disabdakan tetapi juga dipraktikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Abu Dawud, Hakim, dan Ibnu Majah dengan sanad shahih dari Abdullah Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengkisahkan,

َ وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat hilal, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.[4]

Juga hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu,

َوَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: (إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا”)  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ إِرْسَالَهُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang Arab Badui menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu berkata: “Sungguh aku telah melihat hilal”. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Ia berkata: “Ya”. Beliau bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah?” Ia menjawab: “Ya”. Beliau bersabda: “Umumkanlah pada orang-orang wahai Bilal, agar besok mereka shaum.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, sedang An Nasa’i menilainya mursal.

Inilah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga diamalkan oleh para sahabat, padahal pada waku itu ilmu perbintangan/ilmu nujun/ilmu falak sangat mashur. Mereka sangat terbiasa menggunakan bintang untuk menunjuk arah termasuk arah kiblat dan yang semisalnya. Namun hal ini (penggunaah ilmu nujum/ilmu hisab) tidak ditoleh sama sekali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi beliau menggunakan cara ru’yatul hilal. Hal ini menunjukkan suatu ketetapan baku dari sunnah (red-perbuatan Rosulullah bukan hukumnya sunah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa untuk penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal menggunakan cara ru’yatul hilal bukan hisab.

Begitu juga dengan para ulama,  meraka menyatakan larangan untuk menggunakan hisab dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Diantaranya yang dikatakan oleh Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah dalam Kitab Fathul Baari. Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah berkomentar tentang hisab, beliau mengatakan,

”Madzhabnya ahli nujum atau ahli hisab ialah madzhab yang bathil. Syariat islam telah melarang kita untuk berjalan-jalan dalam mempelajari ilmu nujum (ilmu perbintangan)  sebab yang namanya ilmu nujum itu hanyalah praduga (prakiraan) dan tidak ada kepastian di dalamnya.”

Ilmu nujum adalah ilmu yang berdasarkan prasangka atau perkiraan saja di mana tidak ada kepastian di dalamnya. Islam telah melarang kaum muslimin untuk beragama seperti ini sehingga Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah madzhab yang bathil.

Al Imam Ibnu Daqiq al-‘Id Rahimahullah, seorang ulama besar dari Mesir pada jamannya, beliau mengatakan bahwa hisab tidak boleh menjadi pegangan dalam urusan puasa. Beliau juga mengatakan bahwa mengganggap hisab dalam puasa Ramadhan atau Idul Fitri berarti mengada-adakan syariat baru yang tidak diijinkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Begitu juga dengan imam madzhab yang empat juga kesemuanya menggunakan ru’yatul hilal. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik dan Imam Syafi’i Rahimakumullah semuanya sepakat penggunaan metode ru’yatul hilal dan menolak penggunaan metode hisab dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, yang berada di Saudi Arabia yang dipimpin oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah, mengeluarkan fatwa ketika ditanya tentang masalah hisab. Setelah menjabarkan panjang lebar, pada kesimpulannya mereka mengatakan bahwa merujuk kepada ilmu nujum di dalam menetapkan bulan-bulan hijriah, di dalam menetapkan awal atau akhir ibadah dengan tanpa mengamalkan ru’yatul hilal merupakan kebidahan yang tidak ada kebaikannya sama sekali dan tidak ada sandaran syariatnya sama sekali”.

Syaikh Ibnu Hutsaimin Rahimahullah, Syaikh Al Albani Rahimahullah dan ulama-ulama besar lainnya sekarang ini juga mengatakan dan memfatwakan hal yang sama. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bolehnya menggunakan hisab.

Apa hukumnya menggunakan teropong ketika Ru’yatul hilal?

Untuk masalah ini Lajnah Daimah, juga fatwa Syaikh Ibnu Hutsaimin Rahimahullah mengatakan bahwa menggunakan teropong untuk memperjelas hilal diperbolehkan, akan tetapi tidak wajib sebab dhohir hadis tentang masalah hilal itu dengan mata kepala. Namun kalau menggunakan teropong supaya lebih jelas, maka tidak mengapa karena tidak melanggar. Hal ini termasuk dalam kaidah besar para ulama yaitu bahwa yang namanya wasilah (media atau perantara) tidaklah mengapa.

Wallahu ’alam bishawab

Referensi:

–          Kajian Ramadhan Ust. Muhammad Afif

–          Bulughul Maram

Materi ini bisa di download di sini


[1] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 670.  Hadits mu’allaq riwayat Bukhari, Imam Lima menilainya maushul, sedang Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menilainya hadits shahih.

[2] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 671

[3] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 672

[4] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 673

[5] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 674

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat hilal, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.[1]


[1] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 673

Definisi Puasa, Nama lain Bulan Ramadhan, dan Puasa-puasa Sya’ban

Pada tulisan sebelumnya pada “Seri Persiapan Menyambut Ramadhan” telah dibahas pentingnya mempersiapkan diri dengan mencari ilmu tentang Ramadhan. Pada keseempatan kali ini akan dibahasa mengenai Definisi Puasa, Nama lain Bulan Ramadhan, dan Puasa-puasa Sya’ban.

Puasa Bulan Ramadhan memiliki beberapa nama, diantaranya yaitu

  • As Shiyam atau As Shaum yang berarti puasa dan ini adalah nama yang masyhur atau nama yang umum dikalangan kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

Al Baqarah 183

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al Baqarah (2) : 183]

  • As Shobri  yang berarti kesabaran, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam,

”Puasa pada bulan-bulan kesabaran , dan puasa tiga hari setiap bulan itu sama dengan puasa setahun penuh.”

Beberapa sebab kenapa disebut bulan Ramadhan, diantaranya adalah

  • Dikarenakan me-rhamad-kan (menghapuskan/ menghancurkan) dosa-dosa pelakunya berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam,

Manshoma Ramadhana

’’Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (ganjaran dari Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.( Riwayat Bukhari (2014) dan Muslim (1778))

  • Ada yang mengatakan disebut dengan Ramadhan dikarenakan rasa panasnya lapar, Dikarenakan orang yang berpuasanya merakan panasnya di perut karena lapar dan berusaha untuk menahan perihnya berpuasa. Berdasarkan hadis Zaid bin Mutsabit,

”Shalatnya orang-orang yang banyak taubat ialah ketika anak onta mulai kepanasan (yaitu awal awalnya teriknya matahari)”

  • Ada juga yang mengatakan dikarenakan memang kebiasaaan orang arab menamai  bulan di ambil dari bahasa-bahasa yang dulu, sesuai dengan keadaan jaman yang terjadi ketika itu. Ketika awal diwajibkannya puasa ramadhan terjadi tepat jatuh pada masa musim panas. Sama seperti nama bulan Rabiul awal, karena pada saat itu merupakan  musim semi pertama.

Jadi demikianlah asal muasal nama Ramadhan dan nama inilah yang terkenal sampai sekarang karena disebutkan juga dalam Al Quran dan Al Hadis. Sebenarnya mengetahui asal muasal penamaan Ramadhan tidaklah begitu krusial bagi kita, tetapi untuk sekedar pengetahuan bagi kita bahwasanya inilah yang menjadi pembahasan para ulama.

Selanjutnya mengenai jenis-jenis puasa, Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Kitab Puasa pada Syarah Umdah beliau menjelaskan bawa ada lima jenis puasa,

  1. Puasa yang diwajibkan oleh syariat, yaitu puasa pada bulan Ramadhan
  2. Puasa untuk membayar hutang puasa Ramadhan (qadha)
  3. Puasa yang wajib dalam hal kafarat (penebusan dosa). Misalnya kafarat  bagi orang yang berhubungan dengan istri pada siang hari pada bulan Ramadhan dengan cara membebaskan budak yang beriman atau puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang. Dan misalnya kafarat membunuh orang tanpa sengaja dengan cara puasa dua bulan berturut-turut.
  4. Puasa yang wajib karena nadzar
  5. Puasa Sunnah atau Puasa Tathowwu

Hal-hal  yang perlu diperhatikan berkaitan sebelum masuknya bulan Ramadhan

Bulan yang datang sebelum bulan Ramadhan adalah bulan Sya’ban. Pada bulan ini disyariatkan untuk menggiatkan atau memperbanyak puasa. Hal ini berdasarkan hadis berikut,

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasa berpuasa sehingga kami menyangka beliau tidak akan berbuka dan beliau berbuka sehingga kami menyangka beliau tidak akan berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban.” Muttafaq Alaihi.

Maksud dari hadis tersebut di atas adalah bahwa Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sering sekali berpuasa, dimana beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa sebulan penuh hanya pada bulan Ramadhan. Selain dari bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam paling bayak atau paling sering berpuasa adalah pada bulan Sya’ban. Dan puasa yang dilakukan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada bulan Sya’ban ini adalah puasa mutlak. Maksudnya adalah tidak mengkhususkan pada hari-hari tertentu keculai waktu-waktu yang disunahkan seperti senin-kamis, puasa Dawud, puasa tiga hari di tengah bulan (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah), dan sebagainya.

Menurut para ulama terdapat hikmah dari disyariatkan atau disunahkan untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, di antaranya:

  • Dimaksudnkan untuk mengagungkan atau memuliakan bulan Ramadhan. Puasa di bulan Sya’ban ini diibarakatkan seperti ibadah qabliah seperti shalat sunnah qabliah sebelum melaksanakan shalat yang fardu.
  • Sebagai latihan atau persiapan untuk menjalankan Puasa Ramadhan. Hal ini dimaksudkan supaya orang tidak terbiasa puasa tidak kaget ketika menjalani Puasa Ramadhan sebulan penuh.
  • Disebutkan oleh para ulama bahwa dikarenakan bulan syaban ialah bulan yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin. Hal ini dikarenakan bulan Sya’ban jatuh di antara dua bulan yang besar dalam islam yaitu bulan Rajab dan Ramadhan. Sehingga dalam rangka mengingatkan kaum muslimin bahwa sesungganya bulan Sya’ban juga merupakan bulan yang penting,  maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam banyak-banyak berpuasa di bulan ini. Hal ini berdasar  hadis yang dikeluarkan oleh Imam An Nasai dalam sunnahnya, ketika Usamah Radliyallaahu ‘anhu bertanya, ”Kenapa engkau wahai Rasulullah sering kali puasa sya’ban?” maka di jawab oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, ”Sya’ban itu bulan yang sering dilalaikan oleh orang-orang, ia jatuh antara Rajab dan Ramadhan, dan bulan itu ialah bulan di mana amalan-amalan hamba dinaikkan kepada Allah, saya ingin ketika amalan saya diangkat kepada Allah dalam keadaan saya sedang berpuasa.

Puasa Nishfu Sya’ban

Puasa Nishfu Sya’ban adalah puasa sehari yang dilakukan pada pertengahan bulan Sya’ban yaitu tanggal 15. Puasa ini sangat terkenal di kalangan kaum muslimin. Mengenai masalah ini, Puasa Nishfu Sya’ban dapat dilakukan perincian.

Kalau seseorang berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban karena memang sudah menjadi kebiasaannya pada tiap bulan hijriah, maka hal itu tidaklah mengapa dan diperbolehkan. Kebiasaan di sini maksudnya adalah bahwasanya orang tersebut mempunyai kebiasaan berpuasa pada tiap pertengahan bulan hijriah yaitu pada tangal 13, 14 dan 15.

Adapun kalau seseorang secara khusus atau sengaja mengkhususkan pada pertengahan Sya’ban untuk berpuasa sedangkan pada hari-hari lainnya tidak berpuasa, maka hal ini tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Adapun hadis yang biasa disampaikan oleh orang-orang tentang nishfu Sya’ban ini adalah hadis yang katanya dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berikut,

”Kalau sudah malam pertengahan syaban maka hendaklah kalian qiyamul lail dan hendaklah kalin puasa di siang harinya”

Katanya pada malam nifsyu Sya’ban, Allah Subhanahu wata’ala  akan turun ke langit dunia. Hal ini persis seperti hadis nuzulnya mutafaq alaih Bukhari Muslim yaitu hadisnya Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tetapi bukan untuk sepertiga malam terakhir melainkan untuk malam nishfu Sya’ban.

Ternyata hadis tersebut adalah maudu’ atau palsu. Hadis tersebut maudu’ dikarenakan pada sanadnya terdapat seorang rawi yang terkenal sebagai pemalsu hadis. Hadis ini dikeluarkan oleh Al Imam Ibnu Majah dalam sunnahnya. Pada sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Abu Bakar bin Abdillah bin Muhammad bin Abi Sabrah Al madani. Imam Ahmad Ibnu Hambal menyatakan bahwa orang ini tidak ada apa-apanya, orang ini adalah orang yang biasa memalsukan hadis dan pendusta. Jadi sesungguhnya hadis ini bukanlah hadis, tetapi merupakan hasil rekayasa dari Abu Bakar Al Madani tadi, Sang Pemalsu Hadis. Al Imam Al Alamah Muhammad Nassiruddin Al Albani rahimahullah menghukumi hadis ini sebagai hadis maudu’ atau hadis palsu sehingga tidak bisa dijadikkan hujjah.

Adapun tentang shalat malam (qiyamul lail) nishfu Sya’ban yang diterangkan dalam Kitab Al I’thisam yang diceritakan oleh Ath-Thartushi dari Abu Muhammad Al Maqdisi, ia berkata, “Sesungguhnya shalat anjuran yang dilakukan pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban tidak pernah ada sebelumnya pada kehidupan kami di Baitul Maqdis. Pertama kali terjadinya perkara tersebut yaitu pada tahun 448 H, setelah seorang laki-laki yang dikenal dengan panggilan Ibnu Abu Al Hamra’ datang kepada kami di Baitul Maqdis. la termasuk orang yang bacaan Al Qur’annya bagus. la lalu shalat di masjidil Aqsha pada malam pertengahan bulan Sya’ban dan diikuti oleh seseorang di belakangnya, lalu berikutnya terbentuklah satu shaf, lalu dua shaf, lalu tiga shaf, dan akhirnya ia mempunyai jamaah yang banyak. Pada tahun berikutnya ia datang kembali dan melakukan hal yang sama. Banyak orang shalat bersamanya berjam-jam di dalam masjid, hingga tersebarlah shalat tersebut di masjidil Aqsha dan di tempat tinggal mereka. Hal itu terus berjalan hingga seakan-akan menjadi Sunnah, sampai zaman kita ini.” Saya katakan kepadanya, “Saya melihatmu shalat bersama jamaah.” Ia menjawab, “Ya, tetapi saya telah memohon ampunan kepada Allah darinya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab beliau Al Iqtidho hal 302 beliau rahimahullah menjelaskan,

”Adapun puasa nishfu Sya’ban secara khusus, maka tidak ada asalnya sama sekali dalam agama ini bahkan mengkhususkannya dengna puasa itu sangat di benci dalam islam, demikian pula menjadikan nishfu Sya’ban sebagai acara musiman, itu merupakan musiman-musiman yang bidah”

Pernyataan-pernyataan para ulama tadi mengacu pada hadis Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam,

hadis amalan tertolak

”Barang siapa mengamalkan amalan yang tidak tedapat padanya perkara kami, maka hal itu tertotak”(HR. Muslim).

Sebagaimana yang ditegaskan oleh ulama-ulama tadi dan ulama yang lainnya,  puasa yang dilakukan pada bulan Sya’ban adalah puasa mutlak, tidak mengkhususkan sehari saja pada pertengahan Sya’ban.

Hukum Berpuasa Setelah Pertengahan Sya’ban

Apakah diperbolehkan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban (tanggal 16, 17,  dan seterusny) baik puasa sunnah, puasa qadha atau kafarat? Ada ikhtilaf di kalangan para ulama, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat tidak mengapa dikarenakan tidak ada dalil yang melarang kaum muslimin untuk berpuasa setelah pertengahan Sya’ban. Yang ada larangannya adalah larangan mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari. Adapun puasa setelah pertengahan Sya’ban tangal 16 – 27 diperbolehkan.

Pendapat yang kedua ialah pendapat Imam As Syafii rahimahullah dan yang semadzhab dengan beliau dan lainya menyatakan tidak diperbolehkan berpuasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban. Mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasai, Ibnu Hiban, dan Al Hakim, semuanya dari jalan Al Ala bin Abdurrahman Maula Huroqah dari bapaknya (Abdurrahman) dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

”Apabila telah sampai pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kamu berpuasa”.

Hadis tersebut dishahihkan oleh Imam At tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, At Thahawi, Ibnu Abdil Bar dan yang lainnya, dihasankan oleh mereka ada juga yang menshahihkannya dikarenakan dhohir sanadnya memang hasan atau shahih.

Yang benar adalah pendapatnya jumhur ulama yang berpendapat tidak mengapa berpuasa sunnah walaupun Sya’ban telah mencapai pertengahan. Adapun hadis Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ini adalah hadis mungkar, hadis yang ganjil,dan diingkari oleh para ulama. Dijelaskan oleh Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullahita’ala dalam kitab beliau Lathoibul Ma ãrif bahwa para ulama berikhtilaf mengenai keshahihan hadis ini dalam perkara mengamalkannya. Ada pun penshahihannya banyak dishahihkan oleh para ulama diantaranya Imam At tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, At Thahawi, Ibnu Abdil Bar. Namun kata beliau hadis ini diperbincangkan oleh para ulama yang lebih besar dan lebih alim daripa para ulama tadi. Mereka mengatakan bahwa hadis ini ialah hadis yang mungkar[1], yang sangat ganjil, yang tidak bisa diamalkan. Diantara ulama-ulama tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah, Al Akram, dan Ad Daraquthni. Mereka menyatakan bahwa hadis Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ini mungkar dikarenakan hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu yang dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Janganlah engkau mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa berpuasa, maka bolehlah ia berpuasa.”

Inilah hadis yang shahih dari riwayat Bukhari Muslim dari sahabat yang sama pula (Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu). Larangannya itu hanya berlaku kalau puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa kalau puasa yang dilaksanakan tiga hari, empat hari dan seterusnya sebelum Ramadhan tidaklah mengapa , dan hadis ini lebih shahih. Oleh Karena itu, Imam Hanbali rahimahullah mengatakan bahwa hadis yang mengatakan dilarangnya puasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban adalah hadis yang ganjil yang menyelisihi hadis-hadis yang shahih. Maka kesimpulannya tidak mengapa puasa setelah pertengahan Sya’ban dan yang diarang adalah puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Sampai sini dulu tulisan perdana mengenai Puasa Bulan Ramadhan dan insya Allah nanti akan dilanjutkan mengenai materi-materi lain berkaitan dengan persiapan dalam rangka menyamput bulan suci Ramadhan.

Wallahu’alam,

Daftar Pustaka:

–          Kajian Puasa Ramadhan Ustadz Muhammad Afifuddin, http://www.darussunnah.com

–          Bulughul Maram Bab Puasa karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqolani

–          Al I’tisham karya Imam Asy Syathibi

Download tulisan ini disini.


[1] Lihat juga penjelasan pada Kitab Bulughul Maram, Kitab Puasa Bab Puasa Sunnah dan Puasa yang Terlarang, Hadis no. 711

Awan Tag