Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Sahabat ELSUNNAH, dikisahkan pada masa kekhilafahan Abbasiyyah ada seorang laki-laki mendatangi rumah seorang wanita. Lalu ia mengetuk pintu dan memintanya melunasi hutangnya.

Perempuan itu menampakkan ketidakmampuannya untuk melunasi hutang sehingga orang itu marah dan memukulnya lantas pergi.

Kemudian dia datang sekali lagi menemui wanita tersebut. Akan tetapi, kali ini yang membukakan pintu adalah anak laki-laki dari wanita itu yang masih kecil. Tamu itu menanyakan di mana ibunya. Anak tersebut menjawab, “Ibuku pergi ke pasar.”

Laki-laki itu menyangka bahwa anak tersebut berdusta sehingga ia memukul anak itu dengan pukulan yang tidak begitu keras. Tiba-tiba ibunya muncul dan melihat laki-laki itu memukul putranya maka ia menangis sejadi-jadinya. 

Laki-laki itu bertanya kepadanya, “Aku tidak memukulnya dengan keras, mengapa engkau menangis? Padahal kemarin aku memukulmu lebih keras, tetapi engkau tidak menangis.”
☘️☘️☘️Sang ibu menjawab, “Kemarin engkau memukul kulitku, dan sekarang engkau memukul hatiku ….”.

Laki-laki tersebut terharu dan memaafkannya, serta bersumpah untuk tidak menuntut hutangnya lagi semenjak itu.

Sahabat, begitulah orang tua kita. Mereka biarkan kesedihan dan keletihan demi senyuman kita. Mereka curahkan segenap pengorbanan demi kebahagiaan kita.

Kini kita telah dewasa. Kita mampu mengarungi kehidupan dengan mandiri. Maka di momen kita berkumpul dengan mereka di saat lebaran nanti, jagalah perasaan mereka. Hadirkanlah senyuman dan keceriaan di wajahnya. Jangan kau ceritakan kesusahan-kesusahanmu karena hal itu akan memilukan hatinya. Cukup ceritakan kesenangan-kesenanganmu.  

Jangan sebaliknya, kau tampil dihadapan teman-temanmu seolah-olah kau orang yang paling sukses dan paling bahagia. Tapi saat kau berjumpa dengan orang tuamu banyak keluhan yang kau sampaikan seolah-olah kau orang paling menderita di dunia ini. Mari kita ambil ibrah dari kisah berikut ini.

Seorang tabiin sedang sakit. Tatkala saat ibunya datang menjenguk diapun mengganti baju dan berdiri menyambutnya seolah-olah sehat. Setelah ibunya keluar diapun terkulai jatuh pingsan.

Saat dia ditanya oleh sahabatnya, “Kenapa anda melakukan itu?”

Dia menjawab, “Karena hati seorang ibu akan tersiksa katika mendengar rintihan anaknya, dan saya tidak ingin dia tersiksa karena rintihanku.”

Sebarkan jika Anda menyukai tulisan ini dengan tetap mencantumkan sumber, insya Alloh pahala besar menanti Anda.
Diteruskan oleh
*ELSUNNAH Tausiyah WhatsApp Broadcast ( ELSUNNAH TWB )*

Daftar: 089616695643 (via WA)

http://www.elsunnah.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: