Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

meratapKematian seorang hamba sudah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Tidak ada manusia yang bisa mempengaruhi datangnya kematian. Datangnya kematian merupakan awal kehidupan abadi bagi orang yang meninggal dan ujian bagi orang yang ditinggalkan khususnya dari keluarga dan kerabat.

Bersedih ketika ditinggal mati seseorang dibolehkan dalam Islam karena bersedih adalah perasaan manusiawi. Tauladan ummat Islam Rasulallah shallallahu alaihi wasallam pun pernah bersedih ketika ditinggal wafat putranya Ibrahim dan juga putrinya, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Sesungguhnya mata akan meneteskan air dan hati akan bersedih. (Akan tetapi) kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang akan diridhai Rabb kami dan sesungguhnya kami sungguh sangat sedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.”(HR. al-Bukhari)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas radhiallahu anhu bahwa ia berkata: Aku menyaksikan putri Rasulallah shallallahu alaihi wasallam dimakamkan dan Rasulallah shallallahu alahi wasallam duduk di atas kubur, dan aku melihat kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukan bahwa bersedih atas meninggalnya seseorang diperbolehkan. Sayyid Sabiq rahimahullah dalam fiqh sunnah berkata, “Para ulama sepakat, dibolehkan menangisi mayit jika tidak disertai teriakan dan ratapan.”, Adapun sikap yang benar lagi terpuji yang harus dilakukan oleh seseorang tatkala ditimpa musibah adalah sabar, ridha dan ikhlas menghadapi ujian kematian seseorang, serta tetap berprasangka baik kepada Allah Ta’ala.

Antara sabar menghadapi ujian dan dibolehkannya bersedih tidaklah bertentangan, karena kesedihan yang dimaksud bukan kesedihan yang berlebihan, melainkan kesedihan manusiawi dengan tetap sabar dan ridha akan takdir Allah. Rasulallah shallallahu alaihi wasallam pun menangis hanya meneteskan air mata tanpa disertai dengan suara tangisan yang keras.

Mengomentari dua hadits yang seakan-akan bertentangan yaitu hadits tentang dilarangnya wanita meratapi mayat dan hadits bersedihnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka Muhammad ibn Isma’il al-Shan’ani rahimahullah berkata, “Yang dilarang adalah dengan mengeraskan suara atau berteriak, atau larangan itu dikhususkan untuk perempuan karena tangisannya berbentuk ratapan. Jadi, larangan larangan perempuan untuk menangis adalah sebagai tindakan pencegahan.” (Subulus Salam, I/886)

Berikut adalah dalil diharamkannya meratapi orang yang meninggal:

رَوَي مُسْلِمٌ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :« اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ»

Muslim merwayatkan dari Abu Hurairoh radhiallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Dua hal yang ada pada manusia dan keduanya menyebabkan mereka kafir: mengingkari keturunan dan meratapi kematian.” (HR. Muslim)

رَوَي مُسْلِمٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ »

Muslim meriwayatkan dari Abdulloh radhiallahu anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Bukanlah dari golongan kami orang yang menampari pipi (ketika ditimpa kematian), merobek pakaian dan yang mengeluh serta meratapi seperti kebiasaan jahiliah.”(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukan bahwa meratapi kematian merupakan perbuatan yang diharamkan. Meratapi mayit termasuk perbuatan orang-orang kafir, akhlak orang-orang jahiliyyah sebelum Islam, termasuk perbuatan kufur nikmat dan bisa menyebabkan kepada kekafiran. Muhammad ibn Isma’il al-Shan’ani rahimahullah berkata, “Meratapi mayat adalah menangis dengan mengeraskan suara sambil menyebutkan sifat dan keadaan mayat serta perbuatan dan jasa-jasa baiknya. Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya yang demikian, dan ini disepakati ulama” (Subulus Salam, 1/880)

Imam Ibnu Daqiq al-Ied rahimahullah menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan termasuk adalah ungkapan perasaan tidak ridha terhadap ketetapan takdir, mak perbuatan termasuk pun diharamkan. (Ihkam al-Ahkam, Hlm.264)

Imam al-Nawawi rahimahullah berkata, “Meratap adalah perbuatan haram dan sangat buruk. Ia harus ditinggalkan dan dicegah karena dapat menambah duka, menyingkirkan kesabaran, menyalahi kepasrahan terhadap ketetapan Allah, dan tidak tunduk pada perintah-Nya.”(Syarh Shahih Muslim, VI/336)

Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah berkata, “Apapun yang Allah ambil dan berikan, semuanya adalah milik-Nya, dan dibalik itu ada hikmah sempurna dan tindakan yang tepat. Siapapun yang menentang hikmah ini, ia sekan menentang putusan dan takdir Allah yang justru inti maslahat, hikmah, asas keadilan dan kebaikan.” (Fikih Hadits Bukhari Muslim, Hlm.430-431)

Dengan demikian sangatlah jelas, bagaimana Islam memberikan bimbingan kepada setiap muslim dan muslimah yang sedang diuji dengan kematian seseorang. Haramnya meratapi kematian seseorang bertentangan dengan akhlak seorang hamba yang mengimani takdir Allah Ta’ala, sehingga banyak hadits yang melarang perbuatan meratapi mayit. Selain hadits di atas, masih banyak hadits-hadits lain, diantaranya:

رَوَي مُسْلِمٌ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَيَقُولُ: « مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

Al-Mughiroh bin Syu’bah berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa saja yang diratapi akan disiksa dengan ratapan itu pada hari kiamat nanti.”(HR. Muslim)

Dari Abu Burdah bin Abi Musa. Ia berkata, “Abu Musa al-Asy’ari jatuh sakit hingga tak sadarkan diri sementara kepalanya berada di pangkuan istrinya. Lalu berteriaklah istrinya hingga tak dapat mengendalikan dirinya. Ketika Abu Musa siuman, ia berkata, ‘Sungguh aku terbebas dari orang yang Rasulullah telah terbebas darinya. Sesungguhnya Rasulullah terbebas dari kebiasaan wanita yang berteriak-teriak ketika tertimpa musibah dan wanita yang biasa mencukur rambutnya serta merobek-robek bajunya.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang wanita yang meratapi mayat jika tidak bertaubat sebelum matinya, pada hari kiamat kelak ia akan dibangkitkan dengan jubah dari ter dan perisai dari kudis.” (HR. Muslim)

Al-Bazzar dalam Musnadnya meriwayatkan bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada dua suara yang dilaknat di dunia dan di akherat; suara seruling saat dianugerahi nikmat dan ratapan saat ditimpa musibah.” (HR. al-Bazzar)

Hadits-hadits di atas, harus dijadikan sebagai panduan seorang muslim dan muslimah ketika menghadapi musibah. Adapun maksud, seorang mayit akan diadzab atas ratapan kepadanya adalah jika sang mayit pernah mewasiatkan agar ditangisi setelah ia mati, dan perbuatan wasiat untuk diratapi itu memang dilakukan oleh masyarakat jahiliyah kuno.

Banyaknya hadits-hadits yang melarang seorang wanita meratapi musibah karena pada umumnya seorang wanita yang banyak melakukannya dan karena wanita memiliki tabiat tidak sabar serta mudah cemas saat ditimpa musibah. Akan tetapi, hukum larangan meratapi berlaku untuk semua, baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Ditulis oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc, M.E.I.

Ma’had Huda Islami Program Beasiswa Sarjana Qur’ani Bogor

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: