Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

dzikirSalah satu buah dari keimanan seorang hamba adalah banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala yaitu mengingat Rabb alam semesta dengan hati atau lisannya atau dengan kedua-duanya.Dzikir adalah amalan yang dapat mengundang keridhaan Rabb, salah satu cara agar muraqabah (merasa diawasi Allah), membuka pintu rezeki, menentramkan hati dan memperkuat iman serta dzikir adalah salah satu bukti kedekatan hamba dengan Rabb-Nya.

رَوَى التِّرْمِذِيُّعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ.

Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah bahwa beliau berkata, “Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdzikir kepada Allah setiap saat.” (HR. al-Timidzi)

Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dalam banyak ayat-Nya untuk memperbanyak dzikir, yaitu mengingat Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi yang larangan-larangan-Nya, dan membasahi hati serta lisan dengan menyebut-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”(QS. al-Ahzab: 41)

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.(QS. al-Baqarah: 152)

Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk mengingat-Nya dan menjanjikan baginya balasan yang lebih baik yaitu pujian di kalangan malaikat-malaikat yang dekat dengan-Nya bagi orang yang mengingat-Nya. (al-Tafsir al-Muyassar)

Sa’id ibn Jubair berkata, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan ketaatan niscaya aku mengingat kalian dengan pahala dan ampunan.” Al-Rabi dan al-Suddi berkata, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan do’a, dengan tasbih dan dengan yang semisalnya.” (Tafsir Ibn ‘Atiyyah)

Abdurrahman ibn Nasir al-Sa’di berkata:

Dzikir  kepada Allah Ta’ala yang paling istimewa adalah dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan yaitu dzikir yang menumbuhkan kecintaan kepada-Nya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dari-Nya. Dzikir adalah puncaknya rasa syukur, oleh karena itu Allah memerintahkan hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum.(Taisir al-Karim al-Rahman)

Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk banyak berdzikir di segala kondisi, sekalipun ketika bertemu dengan musuh di medan jihad karena dzikir bisa mendatangkan pertolongan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman. apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kaliandan berdzikirlah kalian kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.”(QS. al-Anfal: 45)

Di dalam ayat tersebut terdapat perhatian bahwa hendaknya seorang hamba tidak ada yang menyibukannya kecuali dari dzikir kepada Allah, dan hendaknya ia kembali kepada-Nya ketika dalam kondisi-kondisi sulit. (Tafsir al-baidhawi)

Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang berdzikir. Di antara yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala akan balasan bagi orang yang berdzikir adalah mendapatkan ampunan, keberuntungan dan ketentraman jiwa.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. al-Ahzab: 35)

Orang yang banyak berdzikir dalam ayat ini adalah orang yang berdzikir dengan hati dan lisannya di banyak waktunya, khususnya pada dzikir yang telah ditentukan waktunya seperti dzikir pagi petang dan dzikir setelah shalat wajib.

Seseorang yang bangun malam dan membangunkan keluarganya kemudian ia pun shalat malam maka ditulis baginya termasuk orang-orang yang banyak berdzikir.

رَوَى اْلحَاكِمُ فىِ اْلمُسْتَدْرَكِوَابْنُ أَبِي شَيْبَةَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dan Ibn Abu Syaibah dari Abu Saied dan Abu Hurairah radhiallahu anhuma bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika seseorang membangunkan istrinya pada malam hari lalu keduanya shalat dua rakaat maka dituliskan bagin keduanya termasuk orang-orang yang banyak berdzikir dari kaum laki-laki dan perempuan. (HR. al-Hakim dan Ibn Abu Syaibah)

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”  (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ibn al-Jauzi menjelaskan bahwa dzikir dalam ayat ini ada dua pendapat. Salah satunya adalah al-Qur’an dan pendapat yang kedua adalah berdzikir kepada Allah secara mutlak. Adapun makna tentram terdapat dua pendapat pula; salah satunya adalah kecintaan dan kedekatan dan pendapat kedua ketenteraman. (Lihat, Ibn al-Jauzi, Zad al-Masir)

Abu Bakr Jabir al-Jazairi menjelaskan ayat di atas:

أولئك الذين أنابوا إليه تعالى إيماناً وتوحيداً فهداهم إليه صراطاًمستقيماً هؤلاء تطمئن قلوبهم أي تسكن وتستأنس بذكر الله وذكر وعده وذكر صالحي عباده محمد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه

Mereka adalah orang-orang yang kembali kepada Allah dengan keimanan dan tauhid maka Allah memberi mereka hidayah meniti shirotulmustaqim. Mereka adalah orang-orang yang tentram hatinya yaitu tentram dan merasa nyaman dengan mengingat Allah, mengingat janji-Nya, dan mengingat hamba Allah yang shalih Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya.

Demikianlah beberapa kedudukan dan keutamanaan berdzikir kepada Allah Ta’ala. Dalam hadits pun banyak ditemukan akan keagungan berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan beragam pahala dan keutamaan.

رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى إِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّى شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً ».

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa  Allah Ta’ala berfirman,“Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. al-Bukharidan Muslim)

روى البخاري عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabb-Nya dengan orang yang tidak berdzikir bagaikan orang hidup dan orang mati.” (HR. al-Bukhari)

رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah dan abu Sa’id al-Khudri radhiallah ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaih wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang berdzikir kepada Allah melainkan para malaikat akan mengelilinginya dan melimpahkan rahmat, dan diturunkan atas mereka sakinah (ketenangan) dan Allah Ta’ala menyebut mereka kepada siapa saja yang berada di sisi-Nya.” (HR. al-Tirmidzi)

Di antara bentuk dzikir adalah shalat, mengucapkan lafadz-lafadz dzikir yang disyariatkan, membaca al-Qur’an, thalabul ilmi, dan lain-lain.

Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”(QS. Thaha: 14)

Demikianlah penjelaskan tentang keutamaan dzikir dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Semoga pembahasan ringkas ini mampu memotivasi penulis dan yang membaca serta mendengar seruan dakwah ini. Amin

 

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

Disampaikan pada kajian karyawan yayasan al-Huda Bogor di Masjid Ali Jum’at 05-10-2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: