Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

kehidupan sementaraDi antara hal yang penting dijadikan bahan renungan, adalah bahwasanya kehidupan dunia bersifat sementara dan tidaklah abadi. Setiap manusia akan mengalami kematian. Tidak ada satupun manusia yang dapat lolos darinya. Kematian adalah sesuatu yang pasti datangnya, dan tak ada satupun manusia yang mengetahui kapan datangnya.

Alloh  ta’ala berfirman:

Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron [3]: 185).

Sudah berapa banyak orang yang tak terhitung jumlahnya meninggalkan dunia ini. Kita punsering menyaksikan, baik keluarga, kerabat, tetangga, maupun orang-orang yang tidak kita kenal, namun kita ketahui kabar kematiannya.

Sekalipun demikian jelasnya perkara kematian, namun tetap saja banyak manusia yang lalai darinya, dan tidak mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Padahal setiap detik waktu yang berlalu berarti semakin dekat pula jarak antara dirinya dengan akhir hayatnya.

Alloh  berfirman:

“Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS. Qof [50]: 19)

Rosululloh  memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat kematian, sebagaimana beliau bersabda:

((أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْر هَاذِم اللَّذَّات))

Perbanyaklah mengingat ‘pemutus berbagai kenikmatan’ yaitu kematian” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, dll)

Banyak orang yang tahu tetapi ‘pura-pura lupa’, atau memang kehidupan dunia telah menjadikannya lupa, bahwa kematian adalah pintu gerbang yang akan dimasuki oleh setiap manusia, sebagai fase awal memasuki kehidupan di alam akhirat.

Sifat lupa memang salah satu karakter yang selalu melekat pada diri manusia.  Namun lupa pada hal ihwal kematian sangat berbeda dengan urusan lainnya. Lupa yang satu ini akan sangat fatal akibatnya. Jika hal ini terjadi pada diri seorang muslim, lupa pada kematian sesungguhnya adalah indikasi yang paling jelas akan keimanannya yang sangat lemah terhadap kehidupan akhirat. Ia secara tidak sadar merasa bahwa hidupnya di alam dunia seakan abadi. Memang lisannya tidak mengatakan demikian, tetapi berbagai perbuatan dan tindak-tanduknyalah yang menjadi bukti. Ia sangat sering melakukan dosa, bahkan telah menjadikannya rutinitas keseharian. Rasa takut pada ancaman Alloh  atas perbuatan maksiat, telah lama sirna dari dalam dirinya.

Perbuatan dosa yang seharusnya terasa pedih di dalam jiwa, sudah lama tak terasa lagi. Kedurhakaan kepada Alloh dan tindakan menyelisihi syariat-Nya, sangat mungkin telah menjadi hal yang lumrah dan biasa saja.

Sebaliknya, begitu banyak janji yang Alloh  dan Rosul-Nya kabarkan berupa pahala nan agung dan berlimpah dibalik setiap bentuk amal sholih, kini tak lagi ia hiraukan. Tak lagi ada ‘kejar, lomba, dan bersegera’ dalam melakukan kebaikan. Indahnya surga tak lagi memikat baginya. Tak heran, karena memang yang dikejarnya hanyalah dunia…!!

Lupa akan kematian, benar-benar akan berefek panjang. Orang yang memiliki sifat ini, dapat dipastikan terbawa arus hawa nafsu dan setan durjana yang selalu siap ‘memangsanya’. Ia tak lagi peduli akan seperti apa kehidupannya di dalam kubur, dan selanjutnya fase kehidupan abadi di akhiratnya nanti.

Renungilah ayat Alloh  berikut ini:

….Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang tampak (saja) berupa kehidupan dunia; sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai. Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar ingkar terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka.” (QS. Ar-Rum [30]: 6-8)

Akibat kelalaian ini, Alloh  memberikan hukuman setimpal bagi mereka di akhirat kelak, sebagaimana dalam firman-Nya

Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia akan berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkanku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitupula pada hari ini kamupun dilupakan”.(QS. Thoha [20]: 124-126)

Sumber: Kehidupan Sementara yang Harus Penuh Makna oleh Ust. Ali Maulida, S.S., M.Pd.I. (alimaulida.wordpress.com)

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: