Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

pukulan yang mendidikTidak dapat dipungkiri bahwa dalam diri setiap manusia terdapat dua kecenderungan, yaitu kecenderungan untuk durhaka dan kecenderungan untuk bertakwa. Dalam hal ini Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

Dan demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Alloh  subhanahu wata’ala  mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams [91]: 7-8).

Karena itu, salah satu sarana untuk menguatkan dan mengasah potensi ketakwaan adalah dengan memberikan motivasi berupa penghargaan setiap kali seseorang itu melakukan perbuatan baik. Sebaliknya,  salah satu sarana untuk mencegah dan meminimalkan potensi fujur (durhaka) pada diri seseorang adalah dengan memberikan sanksi yang setimpal setiap kali melakukan perbuatan buruk.

Dalam memberikan sanksi yang bersifat pukulan, ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Nashih ‘Ulwan rahimahullah menjelaskannya dalam kitabnya Tarbiyatul Aulad, “Persyaratan dalam memberikan hukuman yang berupa pukulan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidik tidak terburu-buru menggunakan metode pukulan kecuali setelah menggunakan semua metode lembut lain yang mendidik dan membuat jera.
  2. Pendidik tidak dibenarkan memukul ketika ia dalam keadaan sangat marah, karena  memukul dalam keadaan seperti ini dikhawatirkan menimbulkan bahaya terhadap anak.
  3. Ketika memukul, hendaknya menghindari anggota badan yang peka seperti kepala, wajah, dada dan perut. Tentang larangan memukul wajah ada sebuah hadits Rosululloh   yang berbunyi, “Dan janganlah kamu memukul wajah…” (HR. Abu Dawud)
  4. Pukulan pertama untuk hukuman hendaknya tidak terlalu keras dan tidak menyakiti. Diarahkan pada kedua tangan atau kaki dengan tongkat yang tidak besar. Hendaknya pula, pukulan berkisar antara satu hingga tiga kali pada anak yang masih kecil. Sedangkan pada orang dewasa setelah tiga pukulan tidak membuatnya jera, maka boleh ditambah hingga sepuluh kali.
  5. Tidak memukul anak sebelum ia berusia sepuluh tahun. Hal ini sebagaimana pesan Rosululloh, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka telah berusia sepuluh tahun serta pisahkanlah antara mereka dalam tempat tidurnya.” (HR.  Abu Dawud)
  6. Jika kesalahan anak itu untuk yang pertama kalinya maka hendaknya ia diberi kesempatan untuk meminta maaf dan bertaubat dari perbuatan yang telah dilakukannya itu. Pendidik mengambil janji dari anak untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Ini jauh lebih baik daripada memukul si anak atau mengecamnya di hadapan orang.
  7. Pendidik hendaknya memukul anak dengan tangannya sendiri, tidak menyerahkan kepada kakak si anak atau temannya. Hal ini untuk mencegah timbulnya rasa dendam atau kebencian di antara mereka.
  8. Jika anak sudah menginjak usia dewasa dan pendidik melihat bahwa pukulan sepuluh kali tidak juga membuatnya jera, maka ia boleh menambah sehingga anak menjadi baik kembali.

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: