Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

jujurKejujuran[1] di jaman sekarang adalah suatu yang sangat langka. Bahkan kebanyakan orang berpikir kalau kita terlalu jujur justru susah untuk jadi orang sukses, susah untuk kaya, susah untuk naik jabatan. Intinya kejujuran akan membawa kepada kesusahan. Pola pikir seperti inilah yang akhirnya menggiring kebanyakan untuk tidak berlaku jujur dalam setiap aktivitas dan profesi mereka.

Benarkah pola pikir seperti ini?

Tentu pola pikir seperti ini adalah pola pikir yang sangat salah. Pola pikir seperti  ini harus segera dirubah. Bahkan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mensabdakan sebaliknya. Kejujuran akan melahirkan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seseorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong).” (HR. Bukhori)

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ

“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan”

Sebagai seorang mukmin seharusnya kita memiliki pola pikir seperti ini. Seharusnya kita mengimani apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya tersebut. Tidaklah suatu kejujuran dilakukan oleh seseorang pasti kebaikan akan menyertainya. Walaupun mungkin dhohirnya dalam pandangan manusia dia mendapatkan kesusahan (seperti susah kaya, susah naik jabatan dan sebagainya) karena budaya yang berkembang adalah budaya kebohongan, tapi yakinlah pada akhirnya kebaikan yang akan menyertainya.

Salah satu kisah yang bisa kita ambil pelajaran darinya tentang hal ini adalah kisah tertinggalnya Ka’ab bin Malik dalam Perang Tabuk yang bisa dibaca di sini. Karena kejujurannya, ka’ab mendapatkan kebaikan yang besar walaupun di awalnya terasa pahit dan sempit baginya.

Wallahu a’lam

Bogor, 12 Desember 2013

Muhammad Ilyas

Disarikan dari Kajian Pagi Masjid Ali bin Abi Thalib tanggal 3 Desember 2013 oleh Ust. Ade Abdul Kohar, S.Pd.I.


[1] Jujur berarti selaras antara lahir dan batin, ucapan dan perbuatan, serta antara berita dan fakta

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: