Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

silaturahimSesungguhnya salah satu jalan untuk masuk surga adalah menyambung silaturahim. Hal ini sebagaimana sebuah hadits dari Abdulloh bin Salam radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ،  وَصِلُوا الأَرْحَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلامٍ  .

“Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”. (Shohih, HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Mengingat pentingnya menjalin dan menyambung silaturahim dengan berbagai keutamaannya (lihat artikel sebelumnya), maka hendaknya kita senantiasa berupaya untuk menyambung silaturahim di antara kerabat-kerabat kita, yaitu menjaga hubungan dengan orang-orang yang masih mempunyai hubungan nasab (kekeluargaan) dengan kita.

Di antara cara-cara atau sarana yang bisa dilakukan dalam rangka menyambung silaturahim di antaranya adalah:

  • Dengan cara bertanya

Diantara cara untuk menyambung silaturahim adalah dengan cara bertanya. Yaitu bertanya kepada kerabat tentang kabar dan keadaan mereka. Berusaha mencari tahu tentang keberadaan mereka apabila kita tidak mengetahui di mana keberadaan meraka. Ikut merasakan duka dan derita apabila mereka sedang mengalami musibah.

Hendaknya kita perhatian dengan kerabat-kerabat kita dengan cara menanyakan bagaimana kabar mereka.

Bertanya tentang keadaan mereka bisa secara langsung ketika kita bertemu dengan kerabat kita. Bertanya bisa juga secara tidak langsung, yaitu dengan bertanya kepada orang yang kita jumpai yang tau tentang keberadaan kerabat kita, tahu tentang kabar dan kondisi mereka. Kita pun bisa bertanya kepada kerabat-kerabat kita melalui surat, sms, maupun telepon.

  • Dengan cara mendoakan kerabat kita

Cara menjalin silaturahmi bisa juga dilakukan dengan cara mendoakannya. Bahkan doa merupakan sarana yang paling kuat dan kokoh pengaruhnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

دعوة المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة عند رأسه ملك موكل كلما دعا لأخيه بخير قال الملك الموكل به آمين ولك بمثل

“Doa seorang muslim kepada saudaranya yang dilakukan tidak dihadapannya adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada seorang malaikat yang diberikan tugas setiap kali dia mendoakan kebaikan kepada saudaranya maka malaikat yang bertugas tadi mengucapkan: “Amin, semoga bagimu juga mendapatkan demikian.” [HR Muslim (2733)]

Doa seorang muslim kepada saudara muslim lainnya yang dilakukan ketika saudara muslim tersebut dihadapannya adalah mustajab. Hadits ini terkandung anjuran untuk mendoakan saudara muslim lainnya, maka tentunya ketika saudara muslim tersebut adalah kerabat kita maka ia jauh lebih berhak lagi untuk didoakan dan jauh lebih dianjurkan untuk mendoakannya.

  • Dengan harta, membantu kebutuhannya, menghilangkan kesusahannya.

Salah satu cara untuk menyambung tali silaturahim adalah dengan memberikan bantuan berupa harta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اَلصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَ هِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ  :  صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ

Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3858)

Memberikan harta (sedekah) kepada keluarga dan kerabat lebih besar nilainya daripada sedekah yang diberikan kepada selainnya.

Allah ta’ala berfirman,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta….. “ (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

Dalam ayat tersebut Allah ta’ala mendahulukan kerabat daripada lainnya dalam hal pemberian harta. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian harta kepada kerabat merupakan amalan yang besar nilainya di sisi Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-KabirShahihul Jami’ no. 1110)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »

Dinar yang paling utama adalah dinar yang dikeluarkan seseorang untuk menafkahi keluarganya, dinar yang dikeluarkan untuk kendaraannya (yang digunakan) di jalan Allah dan dinar yang dikeluarkan kepada kawannya di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Barangsiapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari sebuah kesulitan diantara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat…..” (HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946, Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu ‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84)

  • Dengan cara menyeru kepada petunjuk

Berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu (Muhammad) yang terdekat“. (QS. Asy-Syu’ara: 214)

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Tahrim 66:6)

  • Dengan cara Berkunjung

Ibnu Bathol rahimahullah berkata,

الزيارة من صلة الرحم

Berkunjung adalah bagian dari silaturahim

Berkunjung kepada kerabat juga merupakan suatu amalan yang agung yang akan mendatangkan kecintaan Allah ta’ala sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخاً لَهُ فِيْ قَرْيَةٍ أُخْرَى ، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا ( أَيْ: أَقْعَدَهُ عَلَى الطَّرِيْقِ يَرْقُبُهُ ) فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيْدُ؟ قَالَ: أُرِيْدُ أَخاً لِيْ فِيْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لاَ ، غَيْرَ أَنِّيْ أَحْبَبْتُهُ فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، قَالَ: فَإِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكَ ، بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيْهِ )) [ رَوَاْهُ مُسْلِمٌ: 6549 ].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah – radhiyallahu ‘anhu – dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Bahwasanya seorang laki-laki mengunjungi saudaranya pada sebuah perkampungan lain, maka Allah mengutus seorang malaikat yang menunggunya di sebuah jalan. Setelah sampai kepadanya, ia (malaikat) berkata: Hendak kemanakah kamu? Ia menjawab: Aku ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini. Ia berkata: Apakah kamu mempunyai kepentingan terhadapnya? Ia berkata: Tidak, tetapi aku mencintainya karena Allah ta’ala, Ia berkata: Sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim).

Disarikan dari materi kajian ba’da Maghrib Masjid Ali bin Abi Thalib Selasa 29 Oktober 2013/24 Dzulhijjah 1434 H oleh pemateri Ust. Arifin, S.H.I. (dengan beberapa penambahan), ilustrasi gambar @al3malka.com

Penulis: Muhammad Ilyas

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Jika Anda menyukai artikel ini, mohon like FB Fans Page ELSUNNAH
dan bagikan artikel melalui tombol sosmed dibawah artikel ini.
Like, Share, and Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: