Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

sifat maluSaudaraku Kaum Muslimin rohimakumulloh..

Islam dikenal dengan sifat malu, Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, yang dihasankan oleh Imam Al-Bani rohimahulloh :
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu”. (HR. Thobroni)

Jika din ini telah dikenal sebagai din yang dihiasi akhlak terpuji ini yaitu malu, maka salah satu dari putra millah ini dikenal dengan sifat malunya yang luar biasa, yaitu yang dijuluki dzun-nuroin Usman bin Affan Rodhiyallohu ‘Anhu. Seolah-olah beliaulah satu-satunya yang merealisasikan akhlak Islam ini yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala fitrohkan kepadanya. Bagaimana tidak..
sungguh Rosulululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam telah memujinya:

فَإِنَّهُ أَشْبَهُ أَصْحَابِي بِي خُلُقًا

“Sesungguhnya dia adalah sohabatku yang paling miripakhlaknya denganku”. (HR. Thobroni)

Yang beliau adalah penyandang pujian dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”. (Al-Qolam: 4)

Yang teman hidupnya tercinta menggambarkan keperibadiannya, disaat dia ditanya tentang akhlak beliau, Aisyah dberkata:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak Beliau adalah Al-Qur’an”. (HR. Ahmad)

Ada pun Usman bin Affan Rodhiyallohu ‘Anhu sanagt mirip dengan pemilik akhlak yang luhur ini, yang sifat itu adalah rasa malu yang dimiliki beliau Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam yang tidak ada bandingannya, Abu sa’id al-Khudri pernah berkata yang diriwyatkan oleh Imam Bukhori rohimahulloh :

كَانَ النَّبِيُّ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا

“Sungguh Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sangat pemlu melebihi malunya seorang gadis yang berada di tempat pingitannya”. (HR. Bukhori: 3562)

Diantara sifat malu beliau Rodhiyallohu ‘Anhu, ibnu Sa’ad az-Zuhri meriwayatkan dalam At-tobaqot al-Kubro dari Bunanah seorang budak perempuan milik isrinya berturtur: “Sungguh dulu ketika itu Usman bin Affan Rodhiyallohu ‘Anhu ketika sedang mandi, lalu ku bawakan kepadanya pakaiannya, lantas dia berkata: jangan sesekali kamu melihatku, Sesungguhnya itu tidak halal bagi kamu”.

Atas dasar ini, maka pantaslah beliau Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan anugerah kesaksian dari makhluk termulia Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam, Ibunda Aisyah Rodhiyallohu ‘Anhuamenuturkan, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ مُضْطَجِعًا فِى بَيْتِى كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ وَسَوَّى ثِيَابَهُ – قَالَ مُحَمَّدٌ وَلاَ أَقُولُ ذَلِكَ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ – فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ: (أَلاَ أَسْتَحِى مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِى مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ)؟

Suatu ketika, Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam pernah berbaring di rumahku dalam keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau, kemudian Abu Bakar meminta izin menemui beliau, beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau masih dalam keadaannya. Lalu Abu Bakar bercakap-cakap dengan beliau, kemudian Umar datang meminta izin untuk masuk, beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau tetap demikian keadaannya, mereka pun berbincang-bincang. Kemudian Usman datang minta izin untuk menemui beliau, beliau pun langsung duduk dan membenahi pakaiannya, Usman pun masuk dan berbincang-bincang. Ketika Usman pulang, Aisyah bertanya:
“Abu Bakar masuk menemuimu, namun engkau tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya, begitu pula Umar masuk menemuimu, engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya pula, kemudian ketika Usman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu!”
Rosululloh menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?”. (HR. Muslim: 6362)

Maka jelas pada diri usman Rodhiyallohu ‘Anhu, dirinya telah dihiasi sifat pemalu yang rasa malu ini terlahir dari rasa hormat dari yang melihat dirinya yang dia sangat mengagungkannya beriring dengan kekurangan yang dia rasakan pada dirinya, seolah-olah beliau Rodhiyallohu ‘Anhu dikalahkan oleh rasa kagum dan hormatnya kepada Robbnya yang maha hak, dan melihat dirinya dengan pandangan yang penuh kekuranagan serta kehinaan yang itu adalah karakteristik para hamba yang mendekatkan diri kepada Robb mereka, sehingga para malaikat pun malu kepadanya, oleh karena itu Nabi Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam malu kepada usman dan waktu itu pula beliau menutup pahanya dan segera merapihkan pakaiannya saat usman masuk menemuinya.

Diriwayatkan pula satu kisah dari Bunda Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha:

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ اسْتَأْذَنَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ، وَهُوَ مُضْطَجِعٌ عَلَى فِرَاشِهِ، لاَبِسٌ مِرْطَ عَائِشَةَ، فَأَذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ وَهُوَ كَذَلِكَ، فَقَضَى إِلَيْهِ حَاجَتَهُ، ثُمَّ انْصَرَفَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ، فَقَضَى إِلَيْهِ حَاجَتَهُ، ثُمَّ انْصَرَفَ، قَالَ عُثْمَانُ: ثُمَّ اسْتَأْذَنْتُ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ، وَقَالَ لِعَائِشَةَ: (اجْمَعِي عَلَيْكِ ثِيَابَكِ!) فَقَضَيْتُ إِلَيْهِ حَاجَتِي، ثُمَّ انْصَرَفْتُ .قَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا لِي لَمْ أَرَكَ فَزِعْتَ لأَِبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، كَمَا فَزِعْتَ لِعُثْمَانَ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ : (إِنَّ عُثْمَانَ رَجُلٌ حَيِيٌّ، وَإِنِّي خَشِيتُ إِنْ أَذِنْتُ لَهُ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ، أَنْ لاَ يَبْلُغَ إِلَيَّ فِي حَاجَتِهِ)

bahwa Abu Bakar meminta izin kepada Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau sedang berbaring di tempat tidurnya sambil berselimut dengan selimut Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha Rosululloh memberinya izin dan beliau masih dalam posisi semula. Setelah Abu Bakar menyelesaikan hajatnya, ia pun pergi. Kemudian Umar datang meminta izin kepada Rosululloh. Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam memberinya izin dan beliau masih dalam posisi semula. Setelah Umar menyelesaikan hajatnya, ia pun pergi, lalu Usman berkata: “Lantas aku pun minta izin lalu Rosululloh duduk dan bersabda kepada Aisyah: “Ambillah selimutmu!”. Setelah aku menyelesaikan hajatku, akupun pergi. Aisyah berkata: “Ya Rosululloh! Aku melihat engkau menyambut Abu Bakar dan Umar tidak seperti sambutanmu terhadap Usman?”, Rosululloh bersabda: ”Sesungguhnya Usman adalah seorang pemalu, aku khawatir jika aku menyambutnya dalam posisi seperti itu, ia tidak jadi mengungkapkan keperluannya”. (HR. Muslim: 514)

dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu berkata, Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

(أَرْحَمُ أُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ، وَأَشَدُّهَا فِي دِينِ اللهِ عُمَرُ، وَأَصْدَقُهَا حَيَاءً عُثْمَانُ، وَأَعْلَمُهَا بْالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَقْرَؤُهَا لِكِتَابِ اللهِ أُبَيٌّ، وَأَعْلَمُهَا بِالْفَرَائِضِ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ، وَأَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ)

”Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas terhadap agama Alloh adalah Umar, yang paling pemalu adalah Usman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling hafal tentang al-Qur’an adalah Ubay dan yang paling mengetahui tantang ilmu waris adalah Zaid bin Sabit. Setiap umat mempunyai seorang yang terpercaya dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin Jarroh. (HR. Ahmad: 12904)

Perlu diingat bahwa rasa malu yang dimiliki beliau bukanlah malu yang dibuat-buat atau pun yang direkayasa, akan tetapi sifat mulia tersebaut telah mendarah daging bersatu dengan jiwa beliau Rodhiyallohu ‘Anhu.

Saudaraku Kaum Muslimin rohimakumulloh..

Allohu Akbar!!!
Tidak ada ilah yang hak untuk disembah melainkan Alloh…
wahai ibnu affan, betapa kagumnya kami kepadamu yang malaikat pun malu denganmu dikarenakan rasa malumu yang begitu tinggi serta engkau telah menjaga pakaianmu dari tubuhmu sehingga tidak ada bagian dari tubuhmu yang itu mereupakan aurat, dapat terlihat oleh orang lain.
Bagaiman sekiapmu jika engakau melihat realita pada zaman kita ini kaum wanitanya kami tidak berbicara kaum pria, yang semestinya kaum wanita jauh lebih memiliki rasa malu dari kaum laki-laki, tapi kaum wanita yang menampakkan aurot mereka dengan pakaian-pakian yang menimbulkan fitnah serta menampakkan bagian-bagian dari tubuh mereka yang Alloh larang untuk membukanya di hadapan laki-laki asing, dimana ima mereka? yang Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

(فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ)

“Sesungguhnya rasa malu itu bagian dari iman”. (HR. Bukhori: 6118)

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa meridhoimu Usman bin Affan, sungguh dia adalah teladan kita dalam banyak kebaikan terutama dalam masalah rasa malu yang banyak hilang di jiwa kaum muslimin.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita untuk selalu mengikuti sunnah Utusannya Muhammad Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam, dan sunnahnya Khulafaurrosyidin Rodhiyallohu ‘Anhum.
Aamiin..

.:: Wallahu Ta’ala ‘Alam ::.

Penulis: Ust. Abu Salman Yusuf, Lc
—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Silakan like FB Fans Page ELSUNNAH

iklan2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: