Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

syiah menikam ahlul baitMereka (Syi’ah) Bukan Menjunjung Tinggi Ahlul bait tetapi Mencela Ahlul bait.

Syiah sering kali mengklaim sebagai pembela dan pecinta Ahlul bait. Benarkah klaim tersebut? Riwayat-riwayat berikut yang bersumber dari literatur Syiah akan menyingkap kebohongan mereka dalam klaimnya tersebut.

Al-Majlisi meriwayatkan dalam Biharul Anwar, sesungguhnya Amirul Mukminin (‘Ali bin Abi Tholib) berkata, “Saya bepergian bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sementara tidak ada pelayan bagi beliau selain diriku. Beliau mempunyai selimut yang tidak berselimut dengannya kecuali saya, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan ‘Aisyah. Beliau tidur di antara saya dan ‘Aisyah. Sementara tidak ada di atas kami bertiga selimut yang lain. Jika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bangun untuk shalat malam beliau menyingkapkan selimut itu dengan tangannya dari bagian tengah, yaitu antara saya dan ‘Aisyah hingga selimut tersebut menyentuh alas tidur yang ada di bawah kami.”

Riwayat di atas sangat merendahkan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan ‘Ali radhiallahu ‘anhu sekaligus. Sebab riwayat itu menyifati Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Bagaimana mungkin Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan istrinya tidur satu ranjang dengan seorang laki-laki yang bukan mahromnya? Kemudian bagaimana mungkin ‘Ali radhiallahu ‘anhu ridho dengan hal tersebut? Hal ini jelas melecehkan kepribadian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan ‘Ali radhiallahu ‘anhu.

Disebutkan dalam kitab Biharul Anwar bahwa diriwayatkan dari Abu Abdillah , ia berkata, ‘Didatangkan kepada Umar seorang wanita yang telah terikat dengan seorang laki-laki Anshor dan ia sangat mengingi-kannya. Lalu dia mengambil sebutir telur dan menumpahkan bagian putihnya pada baju dan kedua paha wanita itu. Maka Ali berdiri dan melihat kedua pahanya kemudian menuduh keduanya (berbuat zina).”

Pantaskah jika Ali radhiallahu ‘anhu dikatakan melihat kedua paha wanita yang bukan mahramnya dan menuduh seseorang berbuat zina tanpa mendatangkan empat saksi? Ini sanjungan ataukah celaan?

Diriwayatkan dalam kitab Rijalul Kisysyi, bahwa Sufyan bin Abi Laila masuk kepada Hasan  sementara ia sedang ada di dalam rumahnya, maka ia berkata kepada Imam Hasan, “Assalamu ‘alaika wahai orang yang menghinakan kaum Mukminin!”

Riwayat ini jelas mencaci Hasan dengan sebutan yang tidak terhormat yaitu wahai orang yang menghinakan kaum mukminin. Padahal Hasan telah disabdakan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghulu para pemuda surga.

Ahlul Bait yang Masuk Kategori Sahabat Dikafirkan

Al-Kisysyi dalam kitabnya Rijalul Kissyyi menyatakan bahwa Muhammad al-Baqir pernah berkata, “Pada suatu hari ada seorang datang kepada ayahku (yakni ‘Ali Zainal Abidin) lalu berkata, “Abdulloh bin Abbas mengklaim bahwa dirinya mengerti setiap ayat al-Qur’an, kapan dan berkenaan dengan soal apa ayat itu diturunkan. ‘Ali Zainal Abidin menjawab, “Coba tanyakan kepadanya tertuju kepada siapakah ayat-ayat ini ketika turunnya:

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isro [17]: 72)

Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kalian. Sekiranya Alloh hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Tuhan kalian dan kepada-Nya-lah kalian dikembalikan.” (QS. Hud [11]: 34)

“Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Alloh supaya kalian beruntung.(QS. Ali Imron [3]: 200)

Tatkala orang itu mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ayat-ayat tersebut Ibnu Abbas menjawab, “Aku lebih suka kalau engkau mempertemukan aku dengan orang yang menyuruhmu membawa pertanyaan-pertanyaan ini, tapi tanyakanlah dulu kepadanya: Apakah ‘Arsy itu, kapan ia diciptakan dan bagaimana keadaannya?!

Orang itu lalu pergi menghadap ayahku dan mengatakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Ayahku bertanya, “Apakah Ibnu Abbas menjawab pertanyaan mengenai ayat-ayat yang kupesankan kepadamu?” Orang itu menyahut, “Tidak.” Ayahku melanjutkan, “Baiklah sekarang kuterangkan kepadamu mengenai ayat-ayat itu berdasarkan cahaya dan ilmu, bukan dengan mengaku-ngaku. Ayat pertama dan kedua diturunkan berkenaan dengan ayah Abdullah bin Abbas (yakni Abbas bin Abdul Mutthalib paman Nabi), sedangkan ayat yang ketiga diturunkan berkenaan dengan ayahku dan kami (Ahlul bait).”

Riwayat di atas menisbatkan Abbas bin Abdul Muttholib radhiallahu ‘anhu kepada kekafiran karena kedua ayat tersebut berkenaan dengan orang-orang kafir. Padahal Abbas bin Abdul Muttholib radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang Ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Disalin dari “Syiah Bukan Islam?”, Lajnah Ilmiah HASMI, Penerbit Pustaka MIM

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Silakan like FB Fans Page ELSUNNAH

iklaniklan2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: