Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

atheismIlhad Perusak Iman Kepada Allah subhanahu wata’ala

Pada dewasa ini, ilhād merupakan penyakit yang melanda seluruh dunia. Dunia Barat, Eropa dan Amerika meskipun mewarisi aqidah Nashrāniyyah yang meyakini adanya kebangkitan, syurga dan neraka, namun aqidah tersebut telah jauh ditinggalkan. Oleh karena itu, keimanan mereka hanyalah sebatas terhadap kehidupan duniawi semata. Maka gereja bagi mereka hanyalah seonggok warisan yang tiada berharga. Dan akhirnya, jadilah ilhād sebagai agama resmi yang dijadikan sumber pegangan dalam setiap undang-undang. Hal ini sering diistilahkan dengan nama ‘ilmāniyyah (sekulerisme) atau lādīniyyah (tidak beragama, ateis).

 Adapun di dunia Timur, maka telah berdiri negara terbesar yang berdasarkan ilhād yaitu Rusia (sekarang telah hancur berpecah belah) yang mengusung aqidah syuyū’iyyah (komunisme), yang mengingkari alam ghaib dan memandang terlalu berlebihan terhadap segala aspek kehidupan dunia, sehingga pandangan mereka hanya bersifat materialistis belaka.

Yaitu kufur (ingkar) kepada Allah subhanahu wata’ala, atau kepada salah satu bagian tauhid atau dengan mengerjakan salah satu dari pembatal Islam.

Di antara perusak iman kepada Allah subhanahu wata’ala yang paling berbahaya, karena dapat menghancurkannya secara total adalah virus al-ilhād [i].

Makna Ilhād.

Secara etimologi (bahasa), al-ilhād  ( َاْلإِلْحَادُ )berarti al-mayl  ( اَلْمَيْلُ )atau al-‘udūl ( اَلْعُدُوْلُ ), yaitu condong, cenderung atau miring [ii].

Sedangkan secara terminologi (istilah), al-ilhād adalah [iii]:

( اَلْمَيْلُ عَمَّا يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَوْ عَمَلُهُ )

“Miring atau menyimpang dari keyakinan atau pengamalan yang semestinya (wajib atau benar)”

Dan dalam pembahasan ini, yang dimaksud dengan ilhād adalah:

( اَلْكُفْرُ بِاللهِ وَالْمَيْلُ عَنْ طَرِيْقِ أَهْلِ اْلإِيْمَانِ وَ الرُّشْدِ وَ التَّكْذِيْبُ بِالْبَعْثِ وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَتَكْرِيْسُ الْحَيَاةِ كُلِّهَا لِلدُّنْيَا فَقَطْ وَتَكْذِيْبُ الرُّسُلِ وَإِنْكَارُ وُجُوْدِ الرَّبِّ )

“Ingkar kepada Allah, menyimpang dari jalan ahli iman dan petunjuk, mendustakan kebangkitan, surga dan neraka, mentasbihkan hidup hanya untuk kepentingan duniawi, mendustakan para rasul dan mengingkari wujud-Nya” [iv]

Macam Ilhād

Ilhād ada 2 (dua) macam, yaitu [v]:

1. Ilhād terhadap asmā’ Allah subhanahu wata’ala, yaitu menyimpang dari kebenaran hakiki terhadapnya. Dalam hal ini ada 4 (empat) macam, yaitu [vi]:

  • Mengingkari salah satu atau sebagian nama Allah subhanahu wata’ala atau mengingkari sifat yang dikandungnya.
  • Menganggap nama Allah subhanahu wata’ala serupa dengan makhluk-Nya.
  • Menamakan Allah subhanahu wata’ala dengan nama yang tidak pernah Allah subhanahu wata’ala berikan kepada diri-Nya.
  • Memecah dari nama Allah subhanahu wata’ala tersebut nama yang diperuntukan bagi berhala.

2. Ilhād terhadap ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala, dalam hal ini ada 2 (dua) macam, yaitu [vii]:

  • Ilhād terhadap ayat-ayat syar’iyyah, yaitu ajaran atau syari’at yang dibawa oleh para rasul, baik berupa hukum maupun khabar-berita. Bentuknya adalah dengan menyelewengkan atau mendustakan khabar berita, atau dengan tidak mentaati ketentuan hukumnya.
  • Ilhād terhadap ayat-ayat kawniyyah, yaitu alam semesta. Bentuknya adalah dengan:

–  menyandarkan penciptaan alam kepada selain Allah subhanahu wata’ala,

–  atau dengan menyekutukan-Nya, bahwa dalam penciptaannya Allah subhanahu wata’ala memiliki sekutu,

–  atau dengan menganggap bahwa dalam penciptaannya Allah subhanahu wata’ala memer-lukan bantuan.

 

Hukum Ilhād

Hukum ilhād dengan kedua macam jenis-nya adalah haram, bahkan terkadang dapat menjerumuskan seseorang kepada tindak perbuatan syirik atau kekufuran [viii]. [QS. al-A’rāf (7): 180 & Fushshilat (41): 40]

 

Disalin dari Majalah as-Silmi edisi V

 

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Silakan like FB Fans Page ELSUNNAH

 


 [i]al-Hamd, al-Īmān billah, hal. 66.

[ii] al-Hamd, al-Īmān billah, hal. 66 & Dr. Nāshir al-Qafariy, Nawāqidh Tawhīd al-Asmā’ wa ash-Shifāt (Riyadh: Dār Thayyibah, 1419 H), hal. 63.

[iii] al-Hamd, al-Īmān billah, hal. 67 & Muhammad bin Shālih al-‘Utsaymīn, Fath Rabb al-Bariyyah bi Talkhīsh al-Hamawiyyah (Dammam: Dar Ibm al-Jawziy, 1424 H), hal. 18-19. Lihat pula: al-‘Utsaymin, al-Qawā’id al-Mutslā’ fī Shifāt Allah wa Asmā’ihi al-Husnā’ (Riyadh: Maktabah Adwā’ as-Salaf, 1996), hal. 49.

[iv] al-Hamd, al-Īmān billah, hal. 67.

[v] al-‘Utsaymīn, Fath ar-Rabb, hal. 18 & al-Qafariy, Nawāqidh at-Tawhīd, hal. 66-67. Lihat pula: al-Qawa’id al-Mutslā’, hal. 49-50 dan Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah al-Juz’ al-Awwal (Dammam: Dar Ibn al-Jawziy, 1415 H), hal. 119-126; al-Qafariy, Nawāqidh at-Tawhīd, hal. 66-67.

[vi] Lihat pula: al-‘Utsaymin, Fath ar-Rabb, hal. 19, al-Qawa’id al-Mutslā’, hal. 49-50 dan Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hal. 119-126; al-Qafariy, Nawāqidh at-Tawhīd, hal. 63-67; al-‘Abd al-Lathīf, Nawāqidh al-Īmān al-Qaw-liyyah wa al-‘Amaliyyah (Riyadh: Dar al-Wathan, 1415 H), hal. 118 & ‘Abd ar-Rahmān bin Nāshir as-Sa’diy, al-Qawl as-Sadīd – Syarh Kitāb at-Tawhīd, ed. Shabrī bin Salāmah Syāhīn (Riyadh: Dār ats-Tsabāt, 1425 H), hal. 257.

[vii] Lihat pula: al-‘Utsaymin, Fath ar-Rabb, hal. 19.

[viii] al-Hamd, al-Īmān billah, hal. 18-19. Lihat pula: al-‘Utsaymin, Fath ar-Rabb, hal. 19-20.

iklaniklan2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: