Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

syiah bukan islamHukum Mengkafirkan Sahabat

Siapa yang mencaci para sahabat radhiallahu ‘anhum dan mengatakan bahwa mayoritas mereka telah murtad, maka tidak diragukan lagi kekafirannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa mengklaim bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rosululloh shallallahu’alaihi wasallam kecuali sekelompok kecil yang tidak melampaui sekian belas orang, atau sebagian besar mereka adalah orang-orang yang fasik, maka orang yang berkata seperti itu tidak diragukan lagi kekafirannya. Hal ini karena orang tersebut mendustakan nash-nash al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Alloh telah ridho terhadap mereka dan memuji mereka. Bahkan siapa yang meragukan kekafiran orang tersebut maka ia ikut kafir.

Rosululloh shallallahu’alaihi wasallam juga pernah bersabda tentang kaum Anshor:

((  لاَ يُحِبُّهُمْ إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضُهُمْ إِلاَّ مُنَافِقٌ ))

Tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafik.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Syiah Mengkafirkan para Sahabat

Agama Syi’ah dipenuhi dengan caci maki terhadap para sahabat. Mereka melontarkan berbagai tuduhan keji kepada para sahabat tersebut berdasarkan dugaan-dugaan yang buruk. Sebagian sahabat yang mereka caci itu justru termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin surga seperti: Abu Bakar, Umar bin Khoththob, Utsman bin Affan, Tholhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam radhiallahu ‘anhum.

Mereka berkeyakinan bahwa sebagian besar sahabat Rosululloh  shallallahu’alaihi wasallam telah murtad dan kembali kepada kekafiran sepeninggal beliau kecuali beberapa orang sahabat saja yang menurut mereka tetap setia dengan Kholifah Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu.

Penyusun Antologi Islam juga berkata, “Mengapa Nabi Muhammad menyamakan sahabat-sahabatnya dengan kaum Nasrani dan kaum Yahudi? Karena Alloh telah memberitahukannya bahwa sebagian besar sahabat akan berpaling, kecuali sedikit.

Ahlul Bait Berlepas Diri dari Keyakinan Syi’ah

Sebuah fakta yang berusaha disembunyikan oleh Syi’ah ialah bahwa Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu sangat mencintai para sahabat Rosululloh  shallallahu’alaihi wasallam khususnya tiga kholifah sebelumnya yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum. Beliau membai’at ketiga kholifah sebelumnya itu dengan sukarela, bahkan menjadi penasihat bagi Kholifah Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Sebagai bukti kecintaan Ali radhiallahu ‘anhu kepada tiga kholifah sebelumnya ialah beliau memberi nama seorang putranya dengan Abu Bakar, seorang lagi dengan nama Umar, dan seorang lagi dengan nama Utsman. Fakta ini ada dalam salah satu kitab rujukan Syi’ah yaitu Tarikh al-Ya’qubi. Demikian pula dengan putra beliau yaitu Hasan bin ‘Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhuma, ia memberi nama salah seorang putranya dengan Abu Bakar, dan seorang lagi dengan nama Umar. Hal ini juga termaktub dalam Tarikh al-Ya’qubi. Di samping itu Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu juga menikahkan putrinya yaitu Ummu Kultsum dengan Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu.

Bahkan tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuna ini diakui sendiri oleh Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu.  Dari Abdulloh bin Salamah radhiallahu ‘anhu ia berkata:

  سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُولُ: (( خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ  أَبُو بَكْرٍ وَخَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ أَبِى بَكْرٍ عُمَرُ. ))

Aku telah mendengar Ali berkata, “Sebaik-baik manusia setelah Rosululloh  adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik manusia setelah Abu Bakar adalah Umar.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Albani)

Imam Daruquthni meriwayatkan bahwa Ali radhiallahu ‘anhu pernah berkata:

((  لاَ يَجْتَمِعُ حُبِّيْ وَبُغْضُ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ ))

Tidak akan pernah berpadu dalam hati seorang Mukmin, mencintaiku dan membenci Abu Bakar serta Umar.”

Kemudian pada saat kaum pemberontak mengepung rumah Kholifah yang ketiga yaitu Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Ali  menyuruh kedua putranya yaitu Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhuma untuk mengawal rumah Kholifah. Ini tidak lain karena kesetiaan Ali radhiallahu ‘anhu terhadap Kholifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Kesimpulan akan Kufurnya Syiah.

Tidak diragukan lagi bahwa dengan sikapnya yang seperti itu kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum, Syi’ah telah kafir dan keluar dari millah Islam. Karena, mengkafirkan para sahabat berarti mendustakan sekian banyak nash-nash al-Qur’an yang telah menegaskan keimanan para sahabat dan keridhoan Alloh Ta’ala  kepada mereka. Padahal siapa saja yang mendustakan satu nash saja dari al-Qur’an, maka ia telah kafir.

Disalin dari “Syiah Bukan Islam?” diterbitkan oleh Pustaka MIM

—-

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Silakan like FB Fans Page ELSUNNAH

iklaniklan2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: