Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

aqidah syiahUmat Islam sejak zaman Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam sampai sekarang tidak pernah berbeda pendapat bahwa as-Sunnah atau al-Hadits adalah sumber kedua dalam Islam. Hadits adalah wahyu, dan wajib berpegan teguh dengannya. [lihat penjabarannya di sini]

Kaidah Ilmiah dalam Menyaring Hadits.

Untuk membuktikan bahwa sebuah hadits itu shohih, para ulama hadits telah meletakkan suatu kaidah penyaringan hadits yang sangat ketat dan sangat ilmiah serta bisa dipertanggungjawabkan. Kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan ilmu Mustholahul Hadits. Inti dari kaidah tersebut adalah penelitian sanad. Setiap perawi di dalam sanad tersebut diteliti untuk dipastikan keabsahan riwayatnya. Perawi yang diketahui sebagai pendusta atau tidak adil akan ditolak riwayatnya. Demikian pula perawi yang majhul (tidak diketahui jelas) biografinya, riwayatnya tidak diterima. Kesimpulannya, sebuah riwayat dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam harus benar-benar disampaikan oleh orang-orang yang ‘adil (terpercaya), sempurna hafalan-nya, dengan sanad yang bersambung, dan selamat dari cacat atau cela yang bisa menurunkan kualitas riwayat tersebut. Jika tidak demikian maka hadits tersebut tertolak. Dan penelitian semacam ini telah dilakukan oleh para ulama hadits dengan mengerahkan jerih payah ilmiah yang sangat besar yang belum pernah ada seperti itu dalam sejarah.

Kekufuran Syiah terhadap Hadits.

Kaum Muslimin telah bersepakat dan bahkan ijma’ akan keshohihan Kitab Shohih Bukhori dan  Kitab Shohih Muslim. Kedua kitab ini telah diterima oleh umat Islam di seluruh dunia dengan penerimaan yang baik. Tidak ada yang menyelisihi ijma’ ini selain Syi’ah. Kemudian disusul kitab-kitab sunan seperti Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Kaum muslimin senantiasa menjadikan kitab-kitab hadits tersebut sebagai rujukan setelah al-Qur’an. Adapun Syi’ah mereka menolak mentah-mentah semua kitab hadits tersebut. Dalam pandangan Syi’ah, kitab Shohih Bukhori tidak ada nilainya meskipun seberat sayap lalat.

Apa alasan kaum Syi’ah tidak mau menerima hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam yang sudah jelas-jelas shohih itu? Alasannya adalah Syi’ah tidak menerima ‘adaalah (integritas pribadi) para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Dengan kata lain, mereka tidak percaya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam adalah orang-orang yang ‘uduul (istiqomah dan bisa dipercaya). Syi’ah berkata: “Adapun semacam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh, Samuroh bin Jundub, Marwan bin Hakam, Amran bin Haththon, ‘Amr bin ‘Ash, maka di sisi Syi’ah mereka itu tidak memiliki sedikit nilai walau senilai lalat sekali pun.”[1]

Karena itu tidak mengherankan jika Syiah tidak mengakui dan tidak menerima Shahih al-Bukhori, Shahih Muslim, dan kitab-kitab sunan yang lainnya karena para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut tidak mereka percayai bahkan mereka kafirkan.

Hadits-hadits Syiah tidak ada yang bisa diterima.

Syi’ah tidak bersandar kepada hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam kecuali hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Ahlul bait. Mereka menolak setiap hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait.

Mereka tidak memperhatikan keshohihan sanad, tidak juga kaidah-kaidah ilmiah untuk menyeleksi riwayat. Di kalangan Syi’ah tidak dikenal ilmu Mustholahul Hadits. Oleh karena itu, setiap riwayat yang mereka terima, asal dinisbatkan kepada Ahlul bait akan mereka percayai. Sering sekali terdapat dalam kitab-kitab referensi Syi’ah hadits yang diriwayat-kan dengan sanad sebagai berikut:

((  عن محمد بن إسماعيل عن بعض أصحابنا عن رجل عنه أنه قال: … ))

“Dari Muhammad bin Isma’il dari sebagian para sahabat kami dari seseorang yang meriwayatkan darinya bahwa ia berkata….”[2]

Sanad seperti di atas jelas ditolak dan tidak dianggap sama sekali karena di dalamnya terdapat dua perawi yang majhul (tidak dikenal). Tetapi di kalangan Syi’ah, sanad yang sangat meragukan seperti itu diterima. Kitab-kitab Syi’ah penuh dengan puluhan ribu hadits-hadits maudhu’ (palsu). Hal ini karena mereka tidak pernah menyaring riwayat-riwayat yang mereka terima. Di atas riwayat-riwayat yang palsu itulah mereka membangun agama meraka.

Oleh karena itu, Syuraik rahimahullah (seorang ulama tabi’in) berkata, “Terimalah dari setiap ahli ilmu yang engkau jumpai kecuali dari golongan Rafidhah (Syi’ah), karena mereka itu membuat-buat hadits dan menjadikannya sebagai agama.”

Hal ini diakui sendiri oleh Ibnu Abil Hadid, penyusun Syarah Nahjul Balaghoh, ia berkata dalam kitabnya tersebut, “Sesungguhnya sumber kepalsuan dalam hadits-hadits fadhail adalah berasal dari Syi’ah. Mereka telah mengarang hadits-hadits tentang keutamaan para imam mereka. Mereka melakukan semua itu karena kebencian mereka terhadap lawan-lawan mereka.”[3].

Kedustaan Syiah atas Nama Ahlul bait

Syi’ah sangat banyak sekali berdusta atas nama Ahlul bait. Terlalu banyak sekali bukti-bukti kebohongan mereka.Sebagai contoh, diriwayatkan oleh Al-Majlisi dalam kitabnya, Haqqul Yaqiin, bahwa hamba sahaya Ali bin Husain berkata kepadanya, “Bagiku atasmu hak pelayanan, ceritakan kepadaku tentang Abu Bakar dan Umar.” Maka ia menjawab, “Mereka berdua adalah kafir, dan orang yang cinta kepadanya juga termasuk kafir.”

Riwayat di atas tidak diragukan lagi kebohongannya. Sebab bagaimana mungkin Ali bin Husain  (yang dijuluki Zainal ‘Abidin) itu mengkafirkan Abu Bakar dan Umar  padahal kakeknya yaitu ‘Ali bin Abi Tholib  telah membai’at kedua khalifah tersebut dengan sukarela, bahkan menjadi penasihat bagi keduanya.

Sebagai bukti kecintaan Ali  kepada tiga khalifah sebelumnya ialah beliau memberi nama seorang puteranya dengan Abu Bakar, seorang lagi dengan nama Umar, dan seorang lagi dengan nama Utsman[4]. Di samping itu Ali bin Abi Tholib  juga menikahkan puterinya yaitu Ummu Kultsum dengan Umar bin Khoththob . Mungkinkah ‘Ali  menikahkan puterinya dengan seorang kafir?

Salah satu hadits dusta karangan Syi’ah atas nama Ahlul Bait adalah:

Sayid Fathulloh al-Kasyani meriwayatkan dalam Tafsir Minhajus Shodiqin dari Nabi  sesungguhnya beliau bersabda, “Barangsiapa yang melakukan mut’ah satu kali, maka derajatnya seperti Husain . Barangsiapa yang melakukan mut’ah dua kali, maka derajatnya seperti derajat Hasan . Barangsiapa yang melakukan mut’ah tiga kali, maka derajatnya seperti Ali bin Abi Tholib  dan barangsiapa yang melakukan mut’ah empat kali, maka derajatnya seperti derajatku.”

Lalu bagaimanakah jika ada seorang laki-laki yang fasik melakukan mut’ah, apakah derajatnya sama seperti Husain radhiallahu’anhu? Jika dia melakukan mut’ah dua atau tiga kali, atau empat kali maka apakah derajatnya akan seperti Hasan, ‘Ali dan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam? Sungguh ini adalah kebohongan Syi’ah atas nama Ahlul bait.

Kesimpulan akan Kufurnya Syiah.

Dengan sikapnya yang menolak ribuan hadits-hadits shohih tersebut, maka Syi’ah telah kafir dan keluar dari agama Islam. Karena, landasan utama Islam adalah al-Qur’an dan hadits. Keduanya adalah wahyu Alloh ta’ala. Menolak salah satunya berarti kafir.

Alloh ta’ala  telah menegaskan bahwa orang yang beriman tidak akan memiliki alternatif lain dari apa yang telah diputuskan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Alloh   berfirman:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.(QS. al-Ahzab [33]: 36)


[1] Lihat M. Quraish Shihab, Sunni Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?. Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2007, hal 154

[2] Al-Khatiib, al-Khuthuuth al-‘Ariidhah, hal. 47. Penjelasan: kalimat “dari sebagian sahabat kami”, itu siapa? (majhul) “Dari seorang” itu siapa?

[3] Syarah Nahjul Balaghoh, jilid I hal.789

[4] Tarikh al-Ya’qubi (kitab rujukan syiah) jilid 2 hal. 213. Keterangan yang sama juga disebutkan dalam kitab rujukan ahlus sunnah yaitu dalam al-Bidaayah wa an-Nihayah (karya Ibnu Katsir rahimahullah) jilid 7 hal. 355

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: