Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

[audio http://archive.org/download/RiyaPenghapusAmalan/RecordedAudioJul-06-200902-29-23PmRiya.mp3]

Download

menata hati - riya penghapus amal

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

”Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Maka ia menjawab, ”Sungguh aku telah berperang karena Engkau, sehingga aku mati syahid.” Maka Allah berfirman, ”Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang supaya dikatakan pemberani, dan pujian itu telah engkau dapatkan,” kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), maka diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau.” Maka Allah berfirman, ”Engkau berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan‘alim dan membaca Al-Qur’an supaya dikatakan qarri’, dan pujian itu telah engkau dapatkan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah, maka Allah memberikan kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini didatangkan (menghadap Allah). Diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Tidaklah aku meninggalkan satu jalan yang Engkau cintai atau diinfakkan di dalamnya, kecuali aku menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,” maka Allah berfirman, ”Engkau dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan, dan pujian itu telah dikatakan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. (HR Muslim)

Apa yang menyebabkan tiga orang ini dicampakkan Allah ke dalam neraka jahannam? Bukankah mereka telah melakukan amalan-amalan yang mulia? Bukankah mereka telah bersusah payah melakukannya? Tiada lain karena mereka melakukan semua itu bukan karena Allah, tapi karena ingin dipandang oleh manusia.

Jihad di Jalan Allah

Jihad, merupakan amalan yang mulia, bahkan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

”Dan puncak agama adalah jihad fi sabilillah.” (HR. Tirmidzi)

Dan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

”Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”(QS Al-Baqarah: 154)

Dan masih banyak lagi ayat maupun hadits yang menjelaskan keutamaan jihad dan orang yang mati syahid. Akan tetapi, tatkala amalan yang agung ini dicampuri dengan perbuatan riya’, maka hilanglah pahalanya. Dari sini, maka kita perlu mengetahui yang disebut dengan jihad fi sabilillah dan ciri-cirinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan sahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: Seorang Badui datang kepada Rasulullah dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena harta rampasan, seseorang berperang karena ingin terkenal, dan seseorang berperang agar dilihat oleh manusia. Siapakah yang di jalan Allah?” Maka Rasulullah menjawab, ”Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada di jalan Allah. (muttafaqun ‘alaih).

Inilah jihad yang sebenarnya, yaitu tidak ada tujuan lain, kecuali dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Mencari dan Mengajarkan Ilmu serta Membaca Al-Qur’an

Selanjutnya diantara orang yang pertama akan dihakimi oleh Allah adalah seseorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang membaca Al-Qur’an. Tiga amalan ini merupakan amalan yang sangat mulia dan banyak pahalanya. Akan tetapi, tatkala tiga amalan tersebut bukan karena Allah semata, maka menjadi hilanglah pahalanya, bahkan pelakunya diancam oleh Allah dengan neraka. Dalam sabdanya, Rasulullah mengancam seseorang yang mencari ilmu bukan karena Allah,

”Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya diharapkan wajah Allah, kemudian dia tidak mempelajarinya, kecuali karena ingin mendapatkan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga dan pada hari kiamat. (HR Abu Dawud).

Berinfaq di Jalan Allah

Adapun orang yang ketiga adalah orang yang berinfak. Banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya firman Allah:

”Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki danm Allah Maha Luas karunia-Nya, lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 261)

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

”Baransiapa yang bersedekah dengan seukuran buah kurma dari hasil usaha yang halal -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka Allah akan menerima dengan tangan kanannya, kemudian akan mengembangkan (shadaqah tersebut) untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang diantara kalian mengembangkan anak kudanya, sehingga menjadi seukuran gunung uhud (muttafaqun alaih).

Ini merupakan keutamaan besar yang Allah berikan kepada orang-orang yang mau bersedekah. Akan tetapi, apabila seseorang menginfakkan hartanya bukan karena Allah, yang karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka didapat bukan pahala, tetapi siksa dari Allah.

Hadits yang disebutkan di atas menunjukkan pentingnya masalah ikhlas dalam beribadah, dan menunjukkan betapa berbahayanya perbuatan riya’, hingga dapat menghapus amalan yang dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, riya’ termasuk perbuatan yang sangat ditakutkan Rasullah, sebagaimana sabda Beliau shalallahu alaihi wa salam:

”Sesungguhnya yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil. Beliau ditanya tentangnya, maka Beliau mejawab, yaitu riya’ (HR Ahmad).

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada umatnya agar selalu meminta perlindungan Allah dari perbuatan syirik, baik yang besar maupun yang kecil. Ketahuilah, bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah seseorang. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang, kecuali jika hanya diberikan kepada Allah.

Semoga amalan Allah melindungi kita dari perbuatan riya’ dan menjadikan kita sebagai orang yang ikhlas. Amin

Artikel ELSUNNAH.wordpress.com

Silakan like FB Fans Page ELSUNNAH

iklaniklan2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: