Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

kisah sapi dan serigala berbicaraImam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu  Hurairah berkata, “Rasulullah shalat   Subuh,   kemudian beliau  menghadap  kepada  orang-orang. Beliau bersabda, ‘Seorang laki-laki menuntun seekor sapi, tiba-tiba menaikinya dan memukulnya. Sapi itu berkata, ‘Kami tidak diciptakan  untuk  ini,  tetapi  kami diciptakan  untuk membajak sawah.’ Maka orang-orang berkata, ‘Subhanallah, seekor sapi berbicara.’ Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya aku beriman kepadanya, begitu  pula Abu Bakar dan Umar.’ Padahal keduanya tidak ada di tempat.” Ketika  seorang menggembala dombanya, tiba-tiba seekor serigala menyerang dan membawa lari seekor domba. Penggembala itu mengejarnya, sehingga seolah-olah  dia menyelamatkannya  darinya.  Serigala  itu  berkata  kepada penggembala, ‘Kamu menyelamatkannya dariku. Lalu siapa yang menyelamatkannya pada hari datangnya binatang   buas,   pada   hari   itu   tidak   ada   penggembala kecuali aku?’ Orang-orang berkata, “Subhanallah, serigala berbicara.”  Nabi  bersabda,  “Aku  beriman  kepada  hal  ini, begitu   pula   Abu   Bakar   dan   Umar.”   Padahal   keduanya tidak ada  di tempat.

TAKHRIJ  HADITS

Hadis  ini  diriwayatkan  oleh  Bukhari  di  beberapa  tempat dalam   Shahih-nya   yang   paling   komplit   adalah   riwayat dalam   Kitab Ahadisil Anbiya’,   6/512, no. 3471. Diriwayatkan  pula  dalam  Kitab  Fadhoilus  Shahabah, bab sabda Nabi, “Seandainya aku mengangkat seorang kekasih.” (7/18, no. 2663)

Diriwayatkan   dalam   Kitabul   Hartsi   wal  Muzaroah,  bab menggunakan sapi untuk membajak, 5/8,   no.   2324. Bukhari menyebutkan dalam bab keutamaan Umar, Kitab Fadhoilus Shahabah tentang kisah serigala yang berbicara  kepada  penggembala  (tanpa  kisah sapi), 7/42, no. 3690.

PENJELASAN  HADITS

Di  dalam  hadis  ini  Rasulullah  menyampaikan  kepada  kita tentang   sebagian   keajaiban   dan  keunikan  yang  terjadi pada sebagian orang pada masa umat sebelumnya. Beliau menyampaikan tentang seorang laki-laki yang menaiki  punggung  seekor  sapi  sebagaimana  orang-orang menunggang  punggung  kuda,  keledai  dan  baghl.  Sapi  ini ogah-ogahan,   maka   penunggangnya   memukulinya   agar berjalan lebih cepat. Tiba-tiba sapi itu menoleh kepadanya, lalu berkata kepadanya dengan ucapan manusia  yang mengingkari perbuatannya  yang menyalahi sunnatullah   pada   makhluknya,   “Kami   tidak   diciptakan untuk ini, tetapi kami diciptakan untuk membajak sawah.” Seolah-olah sapi ini berkata kepada pengendara, “Kamu telah berbuat dzalim kepadaku dengan mengendaraiku, karena kamu telah menggunakanku untuk  sesuatu di mana  Allah menciptakanku bukan untuk hal   itu.”   Kedzaliman   adalah   meletakkan   sesuatu   yang tidak pada  tempatnya.

Para sahabat takjub.   Kisah   ini   memang   mengundang ketakjuban.  Mereka   berkata,  “Subhanallah,  seekor  sapi berbicara.”   Ucapan  mereka   ini  bukan  merupakan  sikap mendustakan Rasulullah. Tidak mungkin mereka mendustakan. Akan tetapi, para sahabat mendengar sesuatu  di  luar  adat  kebiasaan  yang  terlihat.  Maka  Nabi menegaskan  lagi  berita   ini  dan  menetapkannya  dengan mengatakan bahwa dirinya beriman kepada hal itu, begitu pula Abu Bakar dan   Umar.   Pada saat beliau menyampaikan   hadis   ini   Abu   Bakar   dan   Umar   sedang tidak hadir  di masjid bersamanya. Nabi mengucapkan hal ini ketika keduanya tidak hadir karena beliau mengetahui besarnya kepercayaan keduanya kepada Allah dan besarnya keyakinan dan iman keduanya terhadap  kodrat  Allah  di  atas  segala  sesuatu,  termasuk atas  sapi yang   berbicara  ini.

Nabi juga  menceritakan kisah lain di mana pembicaranya adalah   seekor   serigala.   Serigala   ini   menyerang   domba milik seorang penggembala. Ia mengambil seekor domba.  Penggembala  ini  adalah  seorang  yang  kuat  dan berani. Dia pun mengejar serigala itu dan menyelamatkan   domba   itu   darinya.   Maka   serigala   itu memandang penggembala dan mengingkari perbuatannya  yang  mengambil  domba  darinya.  Serigala ini   berkata,   “Kamu   menyelamatkan   domba   ini   dariku. Lalu siapa yang akan  enyelamatkannya pada hari datangnya  binatang buas  di mana  pada  hari itu tidak ada penggembala  selainku?”  Serigala  ini  mengisyaratkan  hari datangnya   binatang   buas   di   masa   yang   akan   datang. Pada hari itu ternak-ternak dibiarkan bebas, maka binatang-binatang  buas   menyerangnya   dan  merusaknya karena tidak ada yang menjaga dan melindunginya. Sepertinya   hal  ini  terjadi  menjelang  datangnya  Kiamat pada  saat  puncak fitnah.

Sebagaimana   orang-orang   takjub   terhadap   seekor   sapi yang   berbicara,   mereka   juga   takjub   terhadap   seekor serigala  yang  berbicara.  Mereka  mengucapkan  apa  yang mereka   ucapkan   dan   Nabi   menjawab   mereka   dengan jawaban yang sama.

Sesuatu yang aneh bagi para sahabat adalah berbicaranya hewan kepada manusia dengan bahasa

manusia. Adapun manusia berbicara dengan hewan dengan  bahasanya,  ini  perkara  lain.  Nabiyullah Sulaiman mengerti bahasa burung dan hewan. Allah telah menyampaikan bahwa ketika pasukan Sulaiman

mendatangi   lembah   semut,   “Berkatalah   seekor   semut, ‘Hai  semut-semut,  masuklah  ke  dalam  sarang-sarangmu agar  kamu  tidak  diinjak  oleh  Sulaiman  dan  tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari.’ Maka Sulaiman tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. ” (QS. An-Naml: 18-19)

Ketika   Sulaiman   memeriksa   bala   tentaranya   di   mana salah  satunya  adalah  pasukan  burung,  dia  tidak  melihat hudhud, salah seorang bala tentaranya. Sulaiman mengancam  akan  menyembelihnya  jika  ia  pulang  tanpa memberi  alasan  yang  benar  tentang  ketidakhadirannya. Ketika hudhud hadir dan berdiri di depannya, dia berkata kepada Sulaiman, “Aku telah mengetahui sesuatu  yang  kamu  belum  mengetahuinya  dan  aku  bawa kepadamu   dari   negeri   Saba   suatu  berita   penting  yang diyakini.  Sesungguhnya   aku  menjumpai  seorang  wanita yang   memerintah   mereka   dan   dia   dianugerahi   segala sesuatu  serta   mempunyai   singgasana  yang  besar.”  (QS.An-Naml: 22-23). Dan seterusnya, seperti yang dikatakan kepada  Sulaiman.

Hudhud   menyampaikan   berita   tentang   Ratu   Saba’   dan rakyatnya, juga kesyirikan mereka. Lalu Sulaiman memintanya  agar  menyampaikan  suratnya  kepada  Ratu Saba’ dan meminta balasan Ratu Saba’ atas surat Sulaiman.

Sebagian  binatang  ada  yang berbicara  kepada  Rasulullah dan  beliau  mengerti  apa  yang  mereka  katakan.  Seekor unta  pernah  mengadu  kepada  beliau  tentang  perlakuan buruk majikannya  yang selalu memukulinya.

Adapun binatang berbicara kepada manusia dengan bahasa  manusia,  hal  itu  telah  terjadi  sebagaimana  yang diberitakan  oleh  Rasulullah  dalam  hadis  ini.  Abu  Nuaim meriwayatkan   dalam   Dalailin   Nubuwah,   bahwa   hal  ini terjadi  pada  seorang  sahabat  yang  bernama  Uhban  bin Aus.  Seekor  serigala  menyerang  dombanya.  Serigala  itu menerkam  seekor  domba.  Uhban  berteriak,  lalu  serigala itu duduk di atas ekornya. Serigala itu berbicara kepadanya,  “Siapa  yang  akan  menjaganya  di  hari  ketika kamu  sedang  sibuk  darinya?  Kamu  telah  menghalangiku mendapatkan  rizki  dari  Allah.”  Uhban berkata,  “Lalu  aku menepuk  tanganku.  Aku  berkata,  ‘Demi  Allah  aku  tidak melihat  sesuatu  yang lebih aneh dari ini.” (Hal ini terjadi setelah Nabi diangkat menjadi Nabi). Serigala itu berkata,  “Ada  yang  lebih  aneh  dari  itu,  seorang  utusan Allah di kota yang ditumbuhi kurma, dia mengajak kepada  Allah.”  Lalu  Uhban  datang  kepada  Rasulullah,  ia menceritakan hal itu dan masuk Islam.

Rasulullah telah menyampaikan bahwa Kiamat tidak terjadi  hingga  binatang  buas  berbicara  kepada  manusia dengan   bahasa   mereka.   Ini   pasti   terjadi   karena   Nabi telah menyampaikannya.

Walaupun kita takjub bahwa ada binatang yang berbicara  kepada  manusia  dengan bahasanya, kita  tetap beriman dan mempercayai berita Nabi Shallallahu ‘alaihi wa  Salam,  orang  yang  jujur  dan  terpercaya.  Kita  tetap percaya  kepada  kodrat  (kekuasaan)  Allah  Subhanahu  wa Ta’ala.   Dan   Allah   telah   memberitakan  bahwa   anggota tubuh   manusia   pada   hari   Kiamat   akan   berbicara   dan menjadi   saksi   atasnya.   “Dan   mereka   berkata   kepada kulit   mereka,   ‘Mengapa   kamu   menjadi   saksi   terhadap kami?’   Kulit   menjawab,   ‘Allah  yang  menjadikan  segala sesuatu  pandai  berkata,  telah  menjadikan  kami  pandai pula  berkata.” (QS. Fusshilat: 21)

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADITS

  1. Anjuran  memberi  nasihat  dengan peristiwa-peristiwa yang  menunjukkan  besarnya  kodrat  Allah.  Rasulullah menyampaikan hadis  ini kepada  para  sahabat  setelah shalat  Subuh.
  2. Boleh memberi nasihat  ba’da  Subuh.
  3. 3. Keagungan kodrat Allah   dalam   makhluknya.   Allah mampu  mengajarkan  hewan  untuk  berbicara  dengan bahasa  manusia.
  4. 4. Seorang muslim harus mempercayai berita-berita yang  disampaikan  oleh  Al-Qur’an  atau  hadis  dengan sanad yang shahih kepada Rasulullah, walaupun berita-berita itu aneh. Dalam hal ini tidak ada perbedaan  antara   hadis  mutawatir  dan  hadis  ahad. Adapun  kisah-kisah  palsu,  dusta   dan  hadisnya  tidak shahih,   maka   tidak   boleh   diriwayatkannya   kecuali untuk menjelaskan kelemahan dan kepalsuannya.
  5. 5. Tidak   boleh   menggunakan   hewan   untuk   sesuatu   di mana  Allah  tidak  menciptakannya  untuk  itu,  seperti menggunakan  kambing  untuk  membajak  sawah  atau sapi   untuk   ditunggangi  dan  membawa   beban.  Allah telah  menciptakan  binatang  untuk  menunaikan tugas yang sesuai dengan penciptaan dan kemampuannya.
  6. 6. Keutamaan   Abu   Bakar   dan   Umar.   Rasulullah   telah menyampaikan  bahwa   iman  keduanya  begitu  besar, keyakinan keduanya begitu kuat, pengetahuan keduanya terhadap besarnya kekuatan dan sempurnanya kodrat Allah begitu sempurna. Keduanya  membenarkan  apa  yang  disampaikan  oleh Rasulullah  tanpa   maju-mundur,  walaupun  keduanya tidak  hadir  saat  shalat  Subuh tersebut. Dan biasanya keduanya tidak pernah tidak hadir kecuali jika keduanya sedang tidak berada di kota Madinah bergabung dengan pasukan yang diutus oleh Rasulullah atau mengemban tugas lain yang dibebankan oleh Rasulullah. Telah diketahui dari kehidupan  Abu  Bakar  dan  Umar  bahwa  kedua  orang ini  tidak  pernah  tertinggal  shalat  bersama  Rasulullah jika  keduanya  sedang berada  di dalam kota.

Kisah-kisah shahih dalam al Qur’an dan Sunnah, Syaikh Dr. Sulaiman al-Asyqor

Artikel http://ELSUNNAH.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: