Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

ilmu iman amalDi antara dorongan-dorongan untuk beramal adalah

  • a.     Bertambahnya Iman

Sesungguhnya motif terbesar yang mendorong seseorang untuk beramal shalih adalah keimanan kepada Allah Swt. Setiap kali iman di dalam hati bertambah, setiap kali itu pula dorongan untuk beramal semakin membara.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. 49:15)

  • b.    Berilmu untuk beramal

Ilmu pada dasarnya adalah motif untuk beramal bagi seseorang yang mewajibkan dirinya untuk beramal dengan ilmunya. Seperti yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau tidaklah menulis satu buah hadits dalam musnadnya yang di dalamnya mencakup sebuah amal melainkan ia mengamalkannya. Saat beliau menulis hadits tentang tinggalnya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di Gua Hiro selama 3 hari, maka beliaupun mencari tempat menyendiri selama tiga hari.

Abu Darda radhiallahu ‘anhu:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ إِذَا وَقَفْتُ عَلَى الْحِسَابِ أَنْ  يُقَالَ : قَدْ عَلِمْتَ فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيْمَا عَلِمْتَ

Sesungguhnya yang paling aku takuti adalah apabila aku berdiri untuk dihisab, aku  akan ditanya : “Kamu mengetahui? Maka apakah yang telah engkau perbuat dari yang  telah engkau ketahui?” (Hr. Ad Darimi : 267)

  • c.     Amal Jama’i

Seseorang sangat lemah jika sendiri, akan tetapi akan kuat bersama saudara lainnya.  Apabila ia lupa, mereka mengingatkannya.  Apabila ia sadar, mereka membantunya. Mereka adalah kekuatan imaniyah yang memberikan dorongan/ motivasi serta keberanian untuk beramal.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. 5:2)

Ini merupakan tafsir ta’awun imaniyah, manhajnya adalah ketaqwaan, dan tujuannya adalah kebaikan. Betapa banyak orang yang meninggalkan saudaranya yang akhirnya diterkam srigala, mati seperti sedia kala.

  • d.    Memiliki tanggung jawab diri

Setiap masing-masing kita akan dimintakan pertanggung jawaban sendiri-sendiri, dan akan dihisab tentang amalnya, seperti firman Allah subhanahu wata’ala:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (QS. 74:38)

Banyak sekali di antara kita yang mengubur keahliannya dan menyia-nyiakan kemampuannya, menunggu adanya orang lain yang akan menggerakan dan mengarahkannya. Mereka kehilangan rasa percaya diri untuk mengembangkan kemampuannya dan keahliannya.

  • e.     Mengingat Hari Kiamat

Hal yang terbesar mendorong seseorang untuk beramal shalih adalah perenungannya akan keadaan manusia nanti pada hari kiamat dan ketika di alam Barzakh.

Ia akan mengingat, apabila ia diletakkan di dalam kuburnya, apa yang ada hadits al bara’ bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Datang kepada mayit dalam kuburnya, seseorang dengan wajah baik, pakaian yang baik dan wangi yang harum, ia berkata: “Bergembiralah dengan yang memudahkanmu, ini adalah harimu yang dijanjikan”. Mayit itu berkata kepadanya: “Siapakah Engkau? Wajahmu datang dengan penuh kebaikan, maka ia menjawab: “Aku adalah amal sholih mu“.

Ia akan mengingat akan dahsyatnya situasi di padang mahsyar, manusia dalam keadaan haus yang amat sangat dan matahari membakar kepada mereka ia mengingat: “Ada tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, dalam …pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya”.

Ia mengingat shirat dan kegelapannya, kemudian ia mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam : “Manusia akan diberikan cahaya sesuai batasan amal mereka, beliau bersabda: “Diantara mereka ada yang diberi cahaya seperti gunung yang berada di hadapannya, ada yang diberi lebih dari itu dan diantara mereka ada diberi cahaya seperti pohon kurma di tangan kananya, hingga orang yang terakhir diberi cahaya pada jempol kakinya, kadang bercahaya dan terkadang padam. Apabila bercahaya ia melangkahkan kakinya dan apabila padam ia diam berdiri. Dia bersabda : “Maka ia berjalan, mereka berjalan di atas siroth (jembatan), seperti setajam pedang, dikatakan kepada mereka :”Berjalanlah kalian sesuai cahaya kalian“.

  • f.      Do’a

Sesungguhnya amanat yang diemban manusia sangatlah berat kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan Allah. Maka Allah menjadikan ia mencintai keimanan dan amal shalih oleh karena itu senantiasa Rasulullah dalam do’nya berkata:”Ya Allah tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan baik dalam beribadah kepada-Mu“. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memohon perlindungan dari kelemahan dan kemalasan, bahkan beliau memperbanyak memohon perlindungan dari keduanya.

Anas bin Malik radhiallahu’anhu berkata: “Aku membantu nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan aku mendengar beliau banyak berkata: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan ketakutan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memohon perlindungan dari amal yang tidak membuahkan amal shalih yang bermanfaat, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak takut, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat serta do’a yang tidak diijabah.

  • g.     Introspeksi Diri/ Muhasabah

Seyogyanya  bagi seorang muslim  untuk menilai dirinya akan kekurangan dan kelebihannya, serta merasa takut kehilangan hal-hal yang utama dan tertinggal dari ahlu fadhl dalam beramal dan kesungguhan mereka.

Ibnu Rajab berkata: “Seharusnya seorang mu’min senantiasa melihat dirinya rendah pada derajat-derajat yang tinggi, sehingga ia dapat mengambil dua manfaat bagi jiwanya, yaitu bersungguh-sungguh dalam menggapai keutamaan dan berupaya meningkatkannya serta senantiasa memandang kepada dirinya dengan pandangan serba kurang.

Orang yang cerdik adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk akhirat, sedang orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah“.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: