Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Arti bahasa dari kata Furqoh atau Iftiroq adalah perpecahan atau perpisahan. Arti Syar’inya adalah keluar dari manhaj yang benar dalam mengerti dan me-niti agama Islam dan masuk ke manhaj bid’i. [1]Furqoh dan Iftiroq telah terjadi pada umat-umat sebelum umat nabi Muhammad shallallohu `alaihi wa sallam, dan akan terjadi pada umat beliau. Hal ini telah dikhabarkan oleh Rosululloh shallallohu `alaihi wa sallam di hadits-hadits beliau. Oleh karena itu furqoh pada umat ini adalah suatu kepastian.[2] Marilah kita simak hadits-hadits di bawah ini:

لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : اَلجَمَاعَةُ.

“Sesungguhnya umatku berpecah-belah menjadi 73 go-longan. Satu golongan di dalam surga dan 72 golongan di dalam neraka. Ditanyakan kepada beliau: ”Siapakah mereka (yang satu golongan) itu ya Rosululloh ? Beliau menjawab: Al Jama`ah”. [3]

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ على مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.

“Sesungguhnya Bani Israil berpecah-belah menjadi 72 ke-lompok keagamaan, dan umatku akan berpecah-belah men-jadi 73 kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para sahabat) ber-tanya: Siapakah satu kelompok itu ya Rosululloh?  Beliau menjawab: “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak sahabat-sahabatku”.[4]

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: اِفْتَرَقَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فُرْقَةً، أَوْ قَالَ اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فُرْقَةً، وَتَزِيْدُ هَذِهِ الأُمَّةُ فُرْقَةً وَاحِدَةً، كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ السَّوَادُ الأَعْظَمُ. فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا أَبَا أُمَامَةَ، مِنْ رَأْيِكَ أَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ؟ قَالَ: إِنِّي إِذًا لَجَرِئٌ، بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثَةٍ.

“Abu ‘Umamah berkata: Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 71 atau 72 golongan, pada ummat ini bertambah satu golongan lagi yang kesemuanya masuk neraka kecuali As-sawad al-a’zhom. Ditanyakan kepada beliau: Wahai Abu ‘Umamah, apakah ini menurut pendapatmu atau-kah engkau mendengarnya dari Rosululloh shallallohu `alaihi wa sallam? Dijawab: Kalau hanya sekedar pen-dapatku, itu berarti aku telah bersikap lancang. Aku men-dengarnya langsung dari Rosululloh shallallohu `alaihi wa sallam, tidak hanya satu, dua atau tiga kali [5][6]

Walaupun furqoh telah menjadi Irodatullah Kau-niyah[7], yang kejadiannya adalah suatu kepastian, akan tetapi sejak dini Alloh Subhanahu wa Ta`ala telah memperingatkan kita untuk tidak terjatuh di dalamnya. Sebaiknya kita renungkan ayat-ayat di bawah ini:

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-nya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada me-reka apa yang telah mereka perbuat”. {QS. Al An’am [6]: 159}

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. {QS. Ar Rum [30]: 32}

 

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. {QS. Ali Imran [3]: 105}

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai“. {QS. Ali Imran [3]:103}

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

Dia telah mensyari’atkan bagi kalian agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohim, Musa dan `Isa yaitu: Tegak-kanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentang-nya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Alloh menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. {QS. Asy Syura’ [42]: 13}

Firqoh disebabkan oleh dua sebab utama yaitu tidak benar dalam menentukan sumber pengambilan dalil dan kesalahan dalam memilih metode pemahaman dalil atau salah satu dari dua hal tersebut. Kedua sebab di atas di-lahirkan oleh dua penyakit yaitu penyakit Syubhah (kejahilan) dan penyakit Syahwah (hawa nafsu) atau oleh salah satu dari kedua penyakit tersebut.[8] Arti kata firqoh adalah kelompok atau golongan. Firqoh-firqoh yang keluar dari manhaj yang haq dinamakan firoq dollah[9]  yaitu golongan-golongan yang sesat. Sedangkan firqoh yang tidak keluar dari manhaj yang haq dinamakan firqoh najiah (golongan yang selamat).

Firqoh di hadits-hadits tadi diancam masuk neraka, tetapi hadits-hadits itu tidak memastikan kekalnya mereka di neraka. Firqoh yang kesesatan-nya belum sampai pada tingkat kekufuran, tidak akan kekal di neraka. Sedangkan firqoh yang kesesa-tannya sampai pada tingkat kekufuran, para ulama salaf tidak menganggap mereka bagian dari 72 go-longan yang disebutkan di hadits-hadits tadi.

Ancaman ini adalah secara umum bahwa 72 go-longan itu harus memasuki neraka terlebih dahulu sebelum memasuki jannah (selama mereka belum kufur). Tetapi hal ini tidak menyangkal adanya orang-orang dari golongan-golongan tersebut yang teram-puni, sehingga tidak harus masuk neraka terlebih da-hulu, yang demikian itu karena kapasitas kesesatan dan sebab-sebab kesesatan mereka bermacam-macam dan berbeda-beda. Demikian juga hasanah (kebaikan) mereka pun bertingkat-tingkat di samping semua dosa selain syirik akan berada di bawah kehendak Alloh. Jika Alloh berkehendak, dosa-dosa itu akan diampuni, dan jika Alloh tidak menghendaki untuk-nya ampunan maka si pendosa harus dicuci di neraka jahannam.

Demikian juga secara umum firqoh najiah dijanji-kan masuk jannah. Tetapi hal ini tidak menyangkal adanya pelaku dosa-dosa besar dari golongan yang selamat ini yang tidak terampuni dosa-dosa besar-nya dan harus memasuki neraka terlebih dahulu. Akan tetapi sudah barang tentu dosa-dosa bid’ah yang sesat itu lebih besar dari dosa-dosa besar lain-nya selain syirik. Dan penghuni Jahannam pun ber-beda-beda dalam hal kepedihan siksaan dan lama-nya mereka menetap di sana. [10]


[1] Lihat Kitab “Dirosat Fi Al Ahwa wa Al Firoq wa Al Bida` wa Mawqif As Salaf Minha“, Prof. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al `Aql” : 19-23

[2] Lihat Kitab ” Ma Ana `Alaihi wa Ashabi “, karya Ahmad Salam : 15-16

[3] (HR. Ibnu Majah, no.3992; Ibnu Abi `Ashim, no.63; dan Al Lalikai, 1/101)

[4] (HR. Tirmidzi, no.2643; Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/218; dan Al Lalikai, 1/99)

[5] (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Al Lalikai dan Thobroni)

[6] Penilaian para ulama tentang hadits-hadits iftiroq :

Al Hafidz Al `Iroqi dalam Takhrij Al Ihya mengatakan : “Sanad-sanadnya jayyid“.

Ibnu Hajar dalam Takhrij Al Kasysyaf mengatakan : “Isnadnya hasan“.

Ibnu Taimiyyah dalam kitab Iqtidho Ash Shiroth Al Mustaqim : “ini hadits yang dipelihara…”. (Lihat kitab ” Hadits Iftiroq Al Ummah“, karya Ash Shon`ani dengan takhrij hadits Sa`ad bin Abdulloh bin Sa`ad As Sa`dan)

[7] Kehendak Alloh di alam semesta

[8] Baca Kitab “Dirosat Fi Al Ahwa Wa Al Firoq wa Al Bida` wa Mawqif As Salaf Minha“, karya Prof. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al `Aql : 297 dan 317

[9] (firoq adalah plural dari firqoh)

[10] Baca Kitab “Hadits Iftiroq Al Ummah Ila Nayyif wa Sab`in Firqoh“, Muhammad bin Isma`il Al Amir Ash Shon`ani : 68-71

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: