Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Hadis qudsi adalah apa-apa yang diriwayatkan oleh Nabi sholallohu alaihi wassalam dari Rabb-Nya, makna hadis tersebut dari Alloh ta’ala sedangkan lafadznya dari Nabi sholallohu alaihi wassalam (berbeda dengan al-Qur’an yang lafadz dan maknanya dari Alloh ta’ala). Hal ini disebabkan dua hal:

  1. Jika hadis qudsi makna dan lafadznya dari Alloh ta’ala niscaya ia lebih tinggi drajat sanadnya dibandingkan al-Qur’an, karena Nabi sholallohu alaihi wassalam meriwayatkannya langsung tanpa perantara dari Rabb. sedangkan al-Qur’an turun kepada Rosululloh sholallohu alaihi wassalam dengan perantara jibril alaihissalam sebagaimana firman Alloh ta’ala:

    “Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“. (QS. an-nahl 102)

    Dia berfirman “Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril).” (QS. as-Syu’aro 192-193)

  2. Jika lafadz hadis qudsi itu dari Alloh berarti tidak ada perbedaan dengan al-Qur’an yang akan mengandung persamaan antara keduanya dalam hukum karena persamaan asalnya. Di sana ada perbedaan antara al-Qur’an dan hadis qudsi yang sudah diketahui oleh khalayak umum, yaitu:

    1. Membaca hadis qudsi tidak termasuk ibadah, sedangkan membaca al-Qur’an merupakan ibadah yang setiap hurufnya akan mendapatkan pahala sepuluh kebaikan.

    2. Alloh ta’ala menentang manusia untuk mendatangkan walau hanya satu ayat semisal (menunjukan al-Qur’an itu benar-benar datang dari Alloh) dan hal ini tidak ada dalam hadis qudsi.

  3. Al-Qur’an itu akan tetap terjaga  sebagaimana firman Alloh:

    Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS.al-Hijr: 9).

    Sedangkan hadis qudsi ada yang shohih, hasan, dho’if bahkan palsu.

  4. Al-Qur’an tidak boleh dibaca secara maknanya sebagaimana ijma’ kaum muslimin. sedangkan hadis qudsi di perbolehkan.
  5. Al-Qur’an disyari’atkan membacanya di dalam sholat bahkan ada sholat yang tidak sah tanpa membacanya (al-Fatihah) berbeda halnya dengan hadis qudsi.
  6. Al-Qur’an tidak boleh di pegang kecuali orang yang suci (berwudhu) berbeda halnya dengan hadis qudsi.
  7. Al-Qur’an tidak diperkenankan dibaca oleh orang yang junub. berbeda halnya dengan hadis qudsi.
  8. Bahwasannya al-Qur’an telah tsabat dengan mutawatir secara qot’i (pasti) yang mengandung faidah ilmu yang menyakinkan. Dan barangsiapa mengingkari satu huruf yang di sepakti oleh para al-Quro maka ia kafir. Sedangkan hadis qudsi, jika ada yang mengingkari sesuatu darinya karena menganggap tidak tsabat maka ia tidak kafir kecuali dia mengingkarinya sepengetahuan dia bahwa Nabi memang berkata seperti itu maka ia kafir karena kedustaannya.

Di terjemahkan dan di ringkas dari: Kitab al-Qaulul mufid karya Syaikh Muhammad bin sholih al-utsaimin, halaman 53-54. Cetakan Dar ibnu aljauzi. cetakan kedua 1424 H.

LIPIA – Jakarta – 19 Maret 2010
Abu Mujahidah al-Ghifari Ibnu Wurjan, Lc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: