Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Zawwajakallohu ya akhi” (wahai saudaraku… semoga Allah menganugerahimu isteri).

Sebuah ucapan atau do’a yang lagi ngetrend saat-saat sekarang ini bahkan sudah menyaingi doa “barokallohu fiika” yang sering diucapkan baik antara sesama thullab (mahasiswa) ataupun antara ustad dan murid-muridnya.

Yah… memang sih bicara tentang masalah pernikahan adalah hal yang selalu aktual, hangat dan tidak membosankan tak terkecuali di kalangan thullabul ilmi serta para da’i.

Jika di kelas sang ustadz berbicara tentang “pernikahan” sontak ketika itu suasana kelaspun berubah, semua thullab serius pasang mata buka telinga, rasa kantukpun tiba-tiba lenyap menghilang, thullab yang duduk dibelakangpun sebagian mereka segera menggeser kursinya agak depan biar bisa lebih konsen dan fokus mendengarkannya.

Subhanalloh….

Seolah tidak mengenal istilah usang, kapan dan dimanapun topik ini selalu terasa update dibahas. Namun, disayangkan sebagian penuntut ilmu dan para da’i terlalu berlebihan dalam membicarakan masalah nikah (dan qodarullah belum ditakdirkan menikah), sehingga menghabiskan waktu hanya untuk berbicara perkara tersebut dan bahkan tak jarang menimbulkan penyakit dalam dada, hatipun galau, pikiran selalu disibukkan dengan bayangan nikah dan jodoh. Allohu musta’an….

Tercelakah bicara tentang nikah?

Tidak tercela bicara masalah nikah atau berdiskusi tentangnya untuk menambah ilmu sebagai persiapan menuju pernikahan. Namun, tentunya harus kita perhatikan porsi dan kadarnya, jangan terlalu berlebihan dalam membicarakan masalah ini sehingga lupa waktu bahkan menjurus ke zona terlarang. Intabihuu ya ikhwah!!!

Dan tentunya kita pun tahu dan sadar betul, betapa berharganya waktu ini, terlebih bagi kita yang berstatus sebagai tholibul ilmi, selain tugas yang seabreg dari kelas plus muroja’ah pelajaran, belum ditambah tugas hafalan quran di raudhotul hufadz, belum lagi jadwal kajian mingguan, jadwal main futsal, de el el…. seandainya kita agendakan rangkaian kegiatan kita dari A sampai Z, sungguh waktu yang tersedia ini tidaklah cukup.

Marilah kita berusaha untuk selalu menjadi seorang muslim yang baik, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:

من حسن إسلام المرء ترك ما لا يعنيه

“merupakan dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya”[Hadist hasan diriwayatkan Tirmidzi (no. 2318)].

Selain itu bisa jadi atsar (pengaruh) akibat keseringan bicara masalah nikah adalah timbul dalam hatinya “virus ganas”. Hatinya gak bisa konsentrasi, gundah gulana karena pikirannya melayang-layang membayangkan nikah dan akhwat. Yang awalnya semangat belajar dan mengamalkan sunnah akhirnya jadi sering merenung sendirian. Wajahnya yang sebelumnya senantiasa ceria, cerah dan bersinar (karena kebahagiaan menjalankan sunnah) berubah menjadi sayu, lesu seolah menyimpan kesedihan dan kerinduan.

Rekan-rekan Saudaraku, apakah antum mengalami keadaan seperti ini?? Semoga tidak (dan kita berlindung kepada Allah dari itu semua).

Lantas solusinya gimana…?

Na’am, antum semua sudah tahu solusinya, yaitu “nun-kaf-alif-ha” N I K A H,

ya ikhwah janganlah ragu jika antum sudah mampuh, bersegeralah untuk menikah, bukankah Allah telah memberikan suatu motivasi yang luar biasa kepada kita semua?,

“dan nikahkanlah orang-orang yang membujang diantara kalian dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. An Nur: 32)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam  bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَر وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لمَ ْيَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu untuk menikah, hendaknya bersegera menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu hendaknya dia bershaum (puasa) karena itu adalah pemutus syahwatnya.” [HR. Al Bukhari no. 1905 dan Muslim no. 1400].

Sungguh nikah adalah solusi yang paling manjur untuk meredam fitnah wanita khususnya di saat sekarang ini. Namun di sisi lain dituntut kecerdasan dalam menimbang dampak serta pengaruhnya terhadap cita-cita dan kondisi kita sekarang ini sebagai tholibul ilmi.

Berpikirlah dengan matang dan jangan terlalu tergesa-gesa…

Ingat ikhwah…!!!

Menikah memang sunnah, namun ada konsekuensi moral dan material jika kita sudah mengayuh di bahtera pernikahan.

Indah memang indah, namun dibalik keindahan itu semua ada pengorbanan dan perjuangan yang tiada tara…

Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sudah memberikan alternatif  ke dua jika kita belum mampu untuk menikah, yaitu berpuasa dan bersabar.

Nah… Mintalah dengan serius kepada Allah agar kita diberikan kesabaran dalam belajar, beribadah dan berdakwah.

Sungguh hidup di dunia hanya sebentar… Bersabarlah dan terus bersabar sampai tiba saatnya Allah memperkenankan kita untuk meminang sang “Puteri” idaman kita, dan jika tidak… maka Allah telah menyediakan sang bidadari yang bermata jeli “huurun ‘iin” di jannah Nya InsyaAllah…

Abu Hamzah Deden
Jakarta, 09 oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: