Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

A.  Definisi Malaikat.

Secara bahasa (etimologi), malaikat atau al-malā’ikah  ( اَلْمَلاَئِكَةُ )adalah bentuk jama’ (plural) dari al-mal’ak ( اَلْمَلْأَكُ ). Kata al-mal’ak ( اَلْمَلْأَكُ ) sendiri berasal dari al-ma’lak ( اَلْمَأْلَكُ ) yang berasal dari kata dasar al-alūkah ( َاْلأَلُوْكَةُ ) yang berarti ar-risālah ( اَلرِّسَالَةُ ), yaitu pengutusan atau pengiriman[i].

Adapula yang berpendapat bahwa al- malā’ikah  ( اَلْمَلاَئِكَةُ )adalah bentuk jama’ dari al-malak ( اَلْمَلَكُ ) yang berasal dari al-alūkah ( َاْلأَلُوْكَةُ ) yang berarti ar-risālah ( اَلرِّسَالَةُ )[ii].

Dan terkadang bentuk jama’ dari al-malak ( اَلْمَلَكُ ) adalah al-malā’ik ( اَلْمَلاَئِكُ )[iii].

Dari sini dapat difahami bahwa malaikat adalah hāmil ar-risālah ( حَامِلُ الرِّسَالَةِ ) yaitu pengemban risalah, atau ( رَسُوْلٌ مُنَفِّذٌ ِلأَمْرِ مُرْسِلِهِ ) yaitu utusan yang menjalankan perintah Yang mengutusnya, Allah U (Lihat: QS. Faathir (35): 1)[iv].

Sedangkan secara istilah (terminologi, syar’i), malaikat adalah:

( عَالَمٌ غَيْبِيٌّ خَلَقَهُمُ اللهُ مِنْ نُوْرٍ وَجَعَلَهُمْ طَائِعِيْنَ لَهُ مَتَذَلِّلِيْنَ لَهُ وَلِكُلٍّ مِنْهُمْ وَظَائِفُ خَصَّهُ اللهُ بِهَا )

“(Makhluk) alam ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya yang dijadikan sebagai makhluk yang taat dan tunduk patuh kepada-Nya, yang masing-masing mempunyai tugas tertentu”[v]

( أَجْسَامٌ نُوْرَانِيَّةٌ لَطِيْفَةٌ أُعْطِيَتْ قُدْرَةً عَلَى التَّشَكُّلِ بِأَشْكَالٍ مُخْتَلِفَةٍ وَمَسْكَنُهَا السَّمَوَاتُ )

“Makhluk cahaya lagi halus yang mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi beragam bentuk dan tinggal di langit”[vi]

B.  Pandangan Tentang Malaikat.

Ringkasnya sebagai berikut [vii]:

  • Wujud malaikat diakui dan tidak diperselisihkan oleh ummat manusia sejak dahulu kala.
  • Tidak ada seorangpun pada masa jahiliyyah yang diketahui mengingkari wujud malaikat, meskipun cara penetapannya berbeda-beda antara pengikut para nabi dengan yang lainnya.
  • Orang-orang musyrik menyangka bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah Ta’ala. Hal ini telah Allah Ta’ala bantah dan sekaligus Allah Ta’ala jelaskan tentang ketidaktahuan mereka. (QS. Az-Zukhruf (43): 19, Ash-Shaaffaat (37): 150-152)
  • Barangsiapa mengingkari wujud malaikat, maka dihukumi kafir berdasarkan ijma’ (konsensus, kesepa-katan) kaum muslimin, bahkan berdasarkan nash Al-Qur’an yang qath’i dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. (QS. An-Nisaa’ (4): 136)
  • Bukan hanya kaum muslimin yang berijma’ terhadap wujud malaikat, bahkan ummat yang lainpun mengakuinya, seperti Nashara, Majusi, Sha’biun dan mayoritas Yahudi.
  • Sebagian orang yang tersesat mengingkari wujud malaikat dengan menganggapnya hanya sebagai ke-kuatan kebaikan yang dimiliki para makhluk. Hal ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap Kitab Allah Ta’ala, Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam dan ijma’ ummat Islam.

C.  Urgensi Iman Kepada Malaikat.

Iman kepada malaikat termasuk salah satu dari rukun iman yang enam, yaitu sebagai rukun iman yang kedua [viii]. Dan urgensi iman kepada malaikat lebih nampak jelas dikarenakan banyaknya penyebutan tentang malaikat, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah [ix]. Di antaranya:

  1. Penyebutan nama malaikat digandengkan dengan penyebutan nama Allah Ta’ala. (QS. Al-Baqarah (2): 177 dan 285, Ali ‘Imran (3): 18)
  2. Persaksian malaikat digandengkan dengan persaksian Allah Ta’ala. (Ali ‘Imran (3): 18)
  3. Shalawat malaikat digandengkan dengan shalawat Allah Ta’ala. (QS. Al-Ahzaab (33): 43 dan 56, Al-Baqa-rah (2): 98 dan 285, An-Nisaa’ (4): 136)
  4. Allah Ta’ala menyandarkan malaikat kepada-Nya sebagai penghormatan bagi mereka. (QS. Az-Zumar (39): 75)
  5. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa para malaikat berkeliling di sekitar ‘Arsy untuk memikulnya. (QS. Ghaafir (40): 7)
  6. Allah Ta’ala menyifati mereka dengan sifat mulia lagi dimuliakan, dekat kedudukan dengan-Nya, suci, kuat dan ikhlash. (QS. Al-Anbiyaa’ (21): 26, Al-Muthaffifiin (83): 21, Ash-Shaaffaat (37): 8, ‘Abasa (80): 16, Fushshilat (41): 38)

Di samping itu, keimanan seseorang tidak akan sempurna hingga beriman kepada wujud malaikat. Iman kepada malaikat termasuk pangkal iman kepada wahyu, maka lebih dahulu disebutkan daripada iman kepada kitab dan para rasul. Maka dapat dipastikan bahwa orang yang mengingkari wujud malaikat adalah orang yang mengingkari nubuwwah, arwah dan hari akhir. Oleh karena itu pula, iman seseorang kepada kitab dan para rasul tidak akan sempurna kecuali setelah beriman kepada malaikat. (QS. Al-Baqarah (2): 177, Asy-Syuu’araa’ (26): 193-195) [x]

D.  Makna Iman Kepada Malaikat.

Yaitu:

( َاْلاِعْتِقَادُ بِوُجُوْدِهِمْ اِعْتِقَادًا جَازِمًا لاَ يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ شَكٌّ أَوْ رَيْبٌ )

“Meyakini wujud mereka (malaikat) secara pasti, tanpa ada keraguan atau kebimbangan” [xi]

( اَلتَّصْدِيْقُ الْجَازِمُ بِأَنَّ للهِ مَلاَئِكَةً مَوْجُوْدِيْنَ مَخْلُوْقِيْنَ مِنْ نُوْرٍ وَأَنَّهُمْ كَمَا وَصَفَهُمُ اللهُ عِبَادٌ مُكْرَمُوْنَ يُسَبِّحُوْنَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُوْنَ، وَأَنَّهُمْ لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ، وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ، وَأَنَّهُمْ قَائِمُوْنَ بِوَظَائِفِهِمِ الَّتِي أَمَرَهُمُ اللهُ بِالْقِيَامِ بِهَا )

“Meyakini dengan pasti terhadap wujud para malaikat Allah yang diciptakan dari cahaya, yang mempunyai sifat-sifat sebagaimana Allah sebutkan, yaitu sebagai hamba-hamba mulia yang selalu bertasbih siang dan malan tanpa jemu, tidak pernah mendurhakai perintah Allah, senantiasa setia menjalankan perintah-Nya dan selalu menunaikan kewajiban-kewajiban yang diembankan Allah kepada mereka” [xii]

E. Sifat Penciptaan Malaikat.

Sifat malaikat, bagaimana penciptaan mereka dan penjelasan rinci lainnya tentang hal-ihwal mereka merupakan rahasia Allah Ta’ala. Dan hal ini merupakan kekhususan umum dari sebagian kekhususan aqidah Islamiyyah. Maka seorang mu’min hakiki adalah seorang yang membenarkan apa yang telah dikhabarkan Al-Khaliq, baik secara global maupun terperinci, tidak menambah atau mengurangi serta tidak berusaha membebani diri untuk mencari pembahasan lebih lanjut. Berdasarkan hal tersebut, maka di antara sifat penciptaan malaikat yang dikhabarkan Allah Ta’ala adalah [xiii]:

  1. Penciptaan malaikat sebelum penciptaan Adam ‘alaihissalam. (QS. Al-Baqarah (2): 30)
  2. Malaikat diciptakan dari cahaya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(( خُلْقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ ))

“Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api. Sedangkan Adam diciptakan dari sesuatu yang disifatkan kepada kalian” (HR. Muslim dan Ahmad)

Dari sini dapat difahami bahwa malaikat tidak mempunyai badan materi yang dapat ditangkap oleh indera, tidak serupa dengan manusia (tidak makan, tidak minum, tidak tidur dan tidak menikah) serta bebas dari nafsu hewani dan noda dosa. Dan juga mereka tidak memiliki sifat-sifat materi lainnya yang ada pada manusia.

  1. Malaikat mempunyai kemampuan untuk berubah wujud dalam berbagai bentuk, terka-dang menyerupai manusia dengan seizin Allah Ta’ala. (QS. Maryam (19): 16-19, Adz-Dzariyat (51): 24-28, Hud (11): 70 dan 77; HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang kisah Jibril ‘alaihissalam)
  2. Malaikat memiliki sayap, yang jumlah bilangannya berbeda-beda antara sebagian dengan sebagian lainnya. (QS. Faathir (35): 1)
  3. Malaikat adalah makhluk yang berparas elok lagi rupawan. (QS. An-Najm (53): 5-6, Yusuf (12): 31)
  4. Malaikat tidak disifati dengan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. (QS. Ash-Shaaffaat (37): 149-156, Az-Zukhruf (43): 19)
  5. Malaikat tidak makan dan tidak minum. (QS. Adz-Dzariyaat (51): 24-28, Hud (11): 70)
  6. Malaikat tidak pernah capai ataupun malas. (QS. Al-Anbiya’ (21): 20, Fushshilat (41): 38)
  7. Malaikat adalah makhluk ghaib yang tidak sedikitpun memiliki sifat ‘uluhiyyah maupun rububiyyah, tetapi mereka adalah hamba Allah Ta’ala yang dimuliakan, yang senantiasa tunduk patuh dalam mentaati perintah-Nya.

F.   Bilangan Malaikat.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui jumlah malaikat kecuali Allah Ta’ala, karena sangat banyak, tiada terhitung [xiv]. (QS. Al-Muddatstsir (74): 31)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(( يَدْخُلُ الْبَيْتَ الْمَعْمُوْرَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُوْنَ أَلْفٍ لاَ يَعُوْدُوْنَ إِلَيْهِ ))

“Setiap hari masuk ke dalam Al-Bait Al-Ma’mur sebanyak 70.000 malaikat mereka tidak pernah kembali lagi” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

(( أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا مِنْ مَوْضِعِ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلاَّ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا ِللهِ ))

“Langit berderit dan sudah selayaknya ia berderit, karena tidak ada tempat di langitpun seluas empat jari kecuali pasti ada malaikat yang sedang sujud meletakkan keningnya kepada Allah” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

(( إِنِّي َلأَسْمَعُ أَطِيْطَ السَّمَاءِ، وَمَا تُلاَمُ أَنْ تَئِطَّ، وَمَا فِيْهَا مَوْضِعُ شِبْرٍ إِلاَّ وَعَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ أَوْ قَائِمٌ ))

“Sesungguhnya aku mendengar berderitnya langit dan hal itu tidaklah tercela baginya, karena tidak ada tempat sejengkalpun di langit kecuali pasti dihuni malaikat yang sedang sujud atau berdiri (beribadah)” (HR. Ath-Thahawi dan Ath-Thabrani serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

G. Apakah Malaikat Mempunyai Akal?

Jika ada seseorang bertanya: Apakah malaikat mempunyai akal?, maka jawabannya [xv]:

“Apakah andapun mempunyai akal? Karena tidak ada yang bertanya seperti ini kecuali orang gila! Bukankah Allah Ta’ala berfirman: (QS. At-Tahriim (66): 6), apakah mungkin pujian-Nya diperuntukan bagi yang tidak berakal? Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman: (QS. Al-Anbiyaa’ (21): 20), apakah pujian inipun diperuntukan bagi yang tidak berakal? Mereka senantiasa mentaati dan melaksanakan perintah Allah Ta’ala serta menyampaikan wahyu-Nya, kemudian dikatakan bahwa mereka tidak mem-punyai akal! Sesungguhnya yang berhak dianggap tidak berakal adalah orang yang beranggapan bah-wa mereka tidaklah berakal!”

H.  Kandungan Iman Kepada Malaikat.

Iman kepada malaikat mempunyai 4 (empat) kandungan, yaitu [xvi]:

  1. Iman kepada wujud (keberadaan, eksistensi) malaikat.
  2. Iman kepada nama-nama malaikat yang kita ketahui namanya, seperti Jibril ‘alaihissalam dan Israfil ‘alaihissalam. Adapun yang tidak kita ketahui namanya, maka kita mengimaninya secara global.
  3. Iman kepada sifat-sifat malaikat.
  4. Iman kepada tugas atau pekerjaan malaikat yang kita ketahui. Adapun yang tidak kita ketahui tugasnya, maka kita mengimaninya secara global.

I.     Perusak Iman Kepada Malaikat.

Apabila telah terpatri dalam hati seorang mu’min tentang kewajiban iman kepada malaikat, maka hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa keyakinan tersebut akan dirasuki oleh virus perusak yang berkaitan dengan perkataan, yaitu [xvii]:

  1. Mengingkari wujud malaikat.
  2. Mencela atau mencaci-maki malaikat.
  3. Mengolok-olok malaikat.

Virus tersebut di atas dikategorikan sebagai perusak iman kepada malaikat dikarenakan beberapa alasan, yaitu [xviii]:

  1. Mengingkari wujud malaikat merupakan bentuk pengingkaran dan ketidakpercayaan terhadap dalil-dalil shahihyang gamblang dan sangat banyak sekali, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.Maka wujud malaikat dikategorikan sebagai hal yang mutawatir dan merupakan suatu kepastian dalam beragama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
  2. Adanya ijma’para ulama atas kafirnya orang yang mengingkari wujud malaikat, mencaci-maki ataupun yang mengolok-olok mereka.Dari sini dapat difahami bahwa wujud malaikat selain ditetapkan berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga ditetapkan berdasarkan ijma’.
  3. Iman kepada malaikat menuntut sikap untuk menghormati dan memuliakan mereka.Hal ini dikarenakan mereka adalah hamba-hamba Allah Ta’ala yang dimuliakan, tidak pernah mengkhianati perintah-Nya, senantiasa menunaikan perintah-Nya serta mereka senantiasa bertasbih siang-malam dan mereka tidak pernah putus asa.
  4. Iman kepada malaikat menuntut sikap untuk mencintai dan menyayangi mereka.Sebaliknya sikap mencela dan mencaci-maki mereka merupakan bukti permusuhan, dan hal ini ber-tentangan dengan iman kepada mereka itu sendiri.

J.    Iman Kepada Malaikat dan Kehidupan.

Sesungguhnya tidak ada satu aktifitaspun yang terjadi di dunia, kecuali pasti berkaitan dengan tugas malaikat, karena merekalah yang diserahi pengaturannya [xix]. Maka hubungan mereka dengan alam dan manusia – secara khusus – merupakan keterkaitan mereka kepada Allah Ta’ala sebagai bentuk ‘ubudiyyah (peribadatan) dan ketaatan mereka yang sempurna kepada-Nya [xx]. Oleh karena itu, malaikat senantiasa menyertai kehidupan manusia, dalam berbagai aspeknya [xxi]. Di antara jalinan hubungan yang terjadi antara malaikat dan seorang mu’min adalah [xxii]:

1. Malaikat mencintai kaum mu’minin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(( إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيْلَ: إِنَّ اللهَ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. ثُمَّ يُنَادِيْ جِبْرِيْلُ فِي السَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَيُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي الأَرْضِ ))

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril seraya berseru: Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka Jibrilpun men-cintainya, kemudian dia berseru kepada penghuni langit: Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka penghuni langitpun mencintainya dan bahkan kecintaan ter-sebut juga diberikan oleh penghuni bumi” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Malaikat mendoakan dan memohonkan ampunan bagi kaum mu’minin. (QS. Al-Ahzaab (33): 43, Asy-Syuuraa’ (42): 5, Ghaafir (40): 7-9)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى اْلحُوْتَ فِي الْبَحْرِ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ ))

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di liangnya dan bahkan ikan yang ada di lautan, mereka senantiasa mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (HR. Ath-Thabrani dan Dhiya’ Al-Maqdisi serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصَّفِّ الأَوَّلِ ))

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mendoakan orang yang berada di shaf pertama” (HR. Muslim)

(( المَلاَئِكَةُ تُصَلِّيْ عَلَى أَحَدِكُمْ مَادَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذِيْ صَلَّى فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ، أَوْ يَقُمْ: الَلَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ ))

“Para malaikat akan mendoakan salah seorang di antara kalian, selama dia masih berada di tempat shalatnya dan belum berhadats atau belum berdiri, dengan ucapan: Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah kasihilah dia!” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

4. Malaikat menyaksikan majlis ilmu kaum mu’minin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(( مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيَنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ))

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) dengan maksud untuk membaca Al-Qur’an dan saling bertadarrus, kecuali akan diturunkan kepada mereka kete-nangan dan rahmat serta malaikat akan menaungi mereka (dengan sayapnya) dan Allah akan menyebutkan nama mereka di hadapan para makhluk yang berada di sisi-Nya” (HR. Muslim)

5. Malaikat mencatat kaum mu’minin yang menghadiri shalat Jum’at.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(( إِذَا كَانَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ كَانَ عَلََى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلاَئِكَةُ يَكْتُبُوْنَ اْلأَوْلَ فَالأَوَّلُ، فَإِذَا جَلَسَ الإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ وَجَاءُوْا يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ ))

“Apabila datang hari Jum’at, maka di setiap pintu masjid dijaga para malaikat yang akan men-catat orang yang pertama kali datang dan orang-orang sesudahnya. Dan apabila imam duduk (untuk memulai khuthbah), maka merekapun menutup buku catatannya dan bersegera datang untuk mendengarkan khuthbah” (HR. Al-Bukhari)

6. Malaikat berperang bersama kaum mu’minin untuk meneguhkan hati mereka. (Al-Anfaal (8): 9-12, Ali ‘Imran (3): 123-127, Al-Ahzaab (33): 9)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda pada saat Perang Badar:

(( هَذَا جِبْرِيْلُ آخِذٌ بِرَأْسٍ فَرَسٍ، عَلَيْهِ أَدَاةُ الْحَرْبِ ))

“Ini adalah Jibril yang sedang menuntun kudanya dengan membawa perlengkapan perang” (HR. Al-Bukhari)

Berdasarkan hal tersebut, maka iman kepada malaikat bagi seorang mu’min mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam kehidupannya, yaitu [xxiii]:

  1. Mengetahui keagungan Allah Ta’ala, kebesaran dan kekuasaan-Nya, karena pada hakikatnya keagungan atau kemuliaan makhluk (seperti malaikat) merupakan keagungan Penciptanya, yaitu Allah Ta’ala.
  2. Bersyukur kepada Allah Ta’ala atas perhatian-Nya kepada manusia yaitu dengan menugaskan malaikat untuk memelihara, mencatat amal perbuatan dan berbagai kemashlahatan lainnya.
  3. Mencintai malaikat, karena ketinggian peribadatan mereka kepada Allah Ta’ala.
  4. Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, karena keberadaan malaikat sebagai tentara-Nya yang selalu mengawasi gerak-geriknya.
  5. Sabar, terus berjihad di jalan Allah Ta’ala, tidak putus asa dan senantiasa merasakan thuma’ninah.
  6. Waspada bahwa kehidupan dunia bersifat fana dan tidak kekal, yaitu ketika malak al-maut mencabut nyawanya.

Oleh karena itu, seorang mu’min harus semakin giat mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir, dengan beriman dan beramal shaleh.


[i] Muhammad ash-Shālih al-‘Utsaymīn, Syarh al-‘Aqīdah al-Wāsithiyyah (Dammam: Dār Ibn al-Jawziy wa Maktabah Syams, 1415 H), vol. I hal. 59; Muhammad Khalīl Harrās, Syarh al-‘Aqīdah al-Wāsithiyyah, ed. ‘Alwī bin ‘Abd al-Qādir as-Saqqāf (Riyadh: Dār al-Hijrah, 1415 H), hal. 62.

[ii] Tim Ahli Tauhid, Kitab Tauhid 2 (Jakarta: Darul Haq, 1419 H), hal. 47.

[iii] Nashir bin ‘Ali ‘Ayidh Hasan asy-Syaikh, Mabahits al-‘Aqidah fi Surah az-Zumar (Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 1995), hal. 435.

[iv] Ibid.; ‘Ali bin ‘Ali bin Abi al-‘Izz, Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, ed. Dr. ‘Abdullah bin ‘Abd al-Muhsin at-Turki dan Syu’aib al-Arna’uth (Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 1992), hal. 407; ‘Abd al-Akhir Hammad al-Ghunaimi, aAl-Minhah al-Ilahiyyah fi Tahdzib Syarh ath-Thahawiyyah (Dammam: Dar ash-Shahabah, 1995), hal. 181.

[v] Al-‘Utsaimin, Op. Cit., hal. 59; Ahmad bin Shalih Ath-Thuwaiyyan, Hasyiyah Ad-Durus Al-Muhimmah li ‘Ammah Al-Ummah (Riyadh: Dar Thuwaiq, 2000), hal. 58. Lihat pula: ‘Abd Al-‘Aziz bin Dawud Al-Fayiz, Al-Ahkam Al-Mulimmah ‘ala Ad-Durus Al-Muhimmah (Zulfa: Haiah Muhafazhah, 1417 H), hal. 18; Muhammad bin Jamil Zainu, Syarh Arkan Al-Islam wa Al-Iman wa Ma Yajibu An-Ya’rifahu Al-Muslim ‘an Dinihi (Riyadh: Dar Al-Manar, 1997), hal. 6.

[vi] Asy-Syaikh, Op. Cit., hal. 435.

[vii] Tim Ahli Tauhid, Op. Cit., hal. 48-49; Asy-Syaikh, Op. Cit., hal. 438; Muhammad Na’im Yasin, Al-Iman – Arkanuhu, Haqiqatuhu, Nawaqidhuhu (Kairo: Maktabah As-Sunnah, 1991), hal. 30-31; Dr. ‘Abd Al-‘Aziz bin Muhammad Al-‘Abd Al-Lathif, Nawaqidh Al-Iman Al-Qauliyyah wa Al-‘Amaliyyah (Riyadh: Dar Al-Wathan, 1415 H), hal. 213; Al-‘Utsaimin, Nubdzah, hal. .

[viii] Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad wa Ar-Radd ‘ala Ahl Asy-Syirk wa Al-Ilhad (Riyadh: Jami’ah Al-Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyyah, 1990), hal. 126.

[ix] Asy-Syaikh, Qp. Cit., hal. 138; Al-’Izz, Op. Cit., hal. 409-410; Al-Ghunaimi, Qp. Cit., hal. 181-182; Al-Fauzan, Op. Cit., hal. 126-127.

[x]Al-‘Abd Al-Lathif, Op. Cit., hal. 209.

 [xi]‘Abdullah bin ‘Abd Al-Hamid Al-Atsari, Al-Wajiz fi ‘Aqidah As-Salaf Ash-Shaleh (Riyadh: Dar Ar-Rayah, 1418 H), hal. 59.

 [xii]‘Abd Al-‘Aziz Al-Muhammad As-Salman, Al-As’ilah wa Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah ‘ala Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah (Riyadh: Mathabi’ Al-Madinah, 1999), hal. 25. Lihat pula: Tim Ahli Tauhid, Op. Cit., hal. 49; Harras, Op. Cit., hal. 15; Hafizh bin Ahmad Al-Hakami, A’lam As-Sunnah Al-Mansyurah li I’tiqad Ath-Thaifah An-Najiyyah Al-Manshurah, ed. Mushthafa Abu An-Nashr Asy-Syalbi (Jeddah: Maktabah As-Sawadi, 1989), hal. 78; Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani, Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, ed. Dr. ‘Abdullah bin ‘Abd Ar-Rahman Al-Jibrin (—–: —–, 1411 H), hal. 12-13; Al-‘Abd Al-Lathif, Op. Cit., hal. 209 dan Pelajaran Tauhid Untuk Tingkat Lanjutan (Jakarta: Ya-yasan Al-Sofwa, 1998), hal. 36.

[xiii] Asy-Syaikh, Op. Cit., hal. 436-437; Na’im Yasin, Op. Cit., hal. 31-32; Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqar, ‘Alam Al-Malaikah Al-Abrar (Kuwait: Maktabah Al-Falah, 1989), hal. 9-15; Al-‘Abd Al-Lathif, Pelajaran Tauhid, hal. 38-39. Lihat pula: ‘Abd Al-Malik ‘Ali Al-Kulaib, Shifat At-Tabi’in Ahl Al-Kitab wa As-Sunnah wa Al-Jama’ah (Kuwait: Dar Al-Arqam, 1986), hal. 31-32; ‘Abd Ar-Rahman bin Muhammad bin Qasim, Hasyiyah Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Riyadh: Mathabi’ Dar Thayyibah, 1413 H), hal. 61; Al-Fauzan, Prinsip-Prinsip Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah (Jakarta: Daarus Sunnah, —–), hal. 26.

[xiv] As-Salman, Op. Cit., hal. 26; Al-Hakami, Op. Cit., hal. 78; Tim Ahli Tauhid, Op. Cit., hal. 49; Na’im Yasin, Op. Cit., hal. 39; Al-Asyqar, Op. Cit., hal. 16; Jasim bin Muhammad Muhalhil Al-Yasin, et. al., Al-Jadawil Al-Jami’ah fi Al-‘Ulum An-Nafi’ah (Kuwait: Dar Ad-Da’wah,—–), hal. 24; Al-‘Utsaimin, Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama (Jakarta: Darul Haq, 1999), hal. 153.

[xv] Al-‘Utsaimin, Op. Cit., hal. 64-65.

[xvi] Al-‘Utsaimin, Syarh Ushul Al-Iman (—–:—–.—–), hal. 27-29 dan dan Penjelasan Kitab, hal. 153-154, Ta’liq ‘ala Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah (Riyadh: Dar Al-Wathan, 1412 H), hal. 5; Ath-Thuwaiyyan, Op. Cit., hal. 58-59; Al-‘Abd Al-Lathif, Pelajaran Tauhid, hal. 36-37; Al-Fayiz, Op. Cit., hal. 19. Lihat pula: ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz, Al-‘Aqidah Ash-Shahihah wa Ma Yudhadduha wa Nawaqidh Al-Islam (Riyadh: Dar Al-Qasim, 1415 H), hal. 12.

[xvii] Al-‘Abd Al-Lathif, Nawaqidh, hal. 210.

[xviii] Ibid., hal. 210-218.

[xix] Asy-Syaikh, Op. Cit., hal. 446; Al-Yasin, et. al., Op. Cit., hal. 24.

[xx] Na’im Yasin, Op. Cit., hal. 34.

[xxi] Ibid., hal. 35.

[xxii] Al-Yasin, Op. Cit., hal. 25; Al-Asyqar, Op. Cit., hal 52-67.

[xxiii] Ibid., hal. 42-43; Al-‘Utsaimin, Syarh Ushul Al-Iman, hal. 29-30 dan Penjelasan Kitab, hal. 154-155; Al-‘Abd Al-Lathif, Pelajaran Tauhid, hal. 40-41.

Comments on: "Iman Kepada Malaikat" (2)

  1. Assalamu’alaikum
    semoga artikel ini bermanfaat bagi semua kaum muslimin, amin. semoga limpahan pahala Alloh Ta’ala bisa kita raih, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: