Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Pada zaman kontemporer ini, jabat tangan antara  laki-laki dengan perempuan hampir menjadi tradisi. Tradisi bejat itu mengalahkan akhlak islami yang semestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya dari pada syari’at Allah Subhanahu wata’ala  yang mengharamkannya. Sehingga jika salah seorang dari mereka engkau ajak dialog tentang hukum syari’at dengan dalil-dalil yang kuat dan jelas, tentu serta merta ia akan menuduhmu sebagai orang yang kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali  silaturrahim, menggoyahkan niat baik… dan sebagainya.

Sehingga dalam masyarakat kita, berjabat tangan dengan anak (perempuan) paman atau bibi, dengan istri saudara atau istri paman, baik dari pihak ayah maupun ibu lebih mudah dari pada minum seteguk air.

Seandainya mereka melihat secara jernih dan penuh pengetahuan, tentang bahaya persoalan tersebut menurut syara’, tentu mereka tidak akan melakukan hal tersebut.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

”Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum besi, lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”[1]

Kemudian tak diragukan lagi, hal ini termasuk zina tangan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam,

”Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina.” [2]

Dan adakah orang yang hatinya lebih bersih dari hati Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wassalam. Walaupun demikian beliau mengatakan:

”Sesungguhnya aku tidak pernah menyentuh tangan wanita.”[3]

Beliau Shallallahu’alai wassalam juga bersabda:

”Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan wanita.”[4]

Dan dari Aisyah radliallahu ‘anha, dia berkata,

”Dan Demi Allah, sungguh tangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam tidak (pernah) menyentuh tangan wanita sama sekali, tetapi beliau membai’at mereka dengan perkataan”.

Hendaknya takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, orang-orang  yang mengancam cerai istrinya yang shalehah, karena ia tidak mau berjabat tangan dengan kolega-koleganya.

Perlu juga diketahui, berjabat tangan dengan lawan jenis, meski memakai alas (kaos tangan) hukumnya tetap haram.

Sumber:

Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H


[1] Hadits riwayat Thabrani dalam  Shahihul Jami’, hadits; No: 4921.

 

[2] Hadits riwayat Ahmad; 1/ 412, Shahihul Jami’; 4126.

[3] Hadits riwayat Ahmad; 6/ 357, dalam Shahihul Jami’, hadits; No: 2509

[4] Hadits riwayat Thabrani dalam Al Kabir; 24/ 342, Shahihul Jami’; 70554, lihat; Al Ishabah; 4/ 354, cet. Darul Kitab Al ‘Arabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: