Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab)”. (QS. Ath-Thuur: 26)

Seorang anak yang cerdas bertanya kepada ayahnya di suatu malam halaqah keluarga, ” Boleh nggak orang yang takut masuk neraka tidurnya nyenyak?” Sepertinya bahasan kali itu membuat seluruh anggota keluarga ketakutan, hingga si anak dengan rasa kantuknya bertanya demikian. Ayahnya bangga mendengar pertanyaan yang terkesan polos namun menggetarkan. Teringat dengan firman Allah, ‘Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?’ (QS. Al-’Araf: 97)

Membahas neraka membutuhkan kejernihan hati, sebab apa? hati yang keras lagi kotor akan jauh dari rasa takut, sedangkan khauf (takut) ialah satu ibadah yang pahalanya melebihi ibadah lainnya. Ibnu Iyadh berkata, “Khauf lebih utama daripada raja’ (harap), bagi orang yang betul-betul normal.” Mereka akan benar-benar melihat bagaimana dahsyatnya tempat kembalinya orang-orang yang durhaka lagi kafir itu saat hati mereka jernih.

Hendaklah Takut

Kita akan menilik sedikit kepada apa yang telah sang ayah dalam keluarga tadi sampaikan dalam halaqah. Neraka!! tapi sebelumnya atur posisi duduk anda lebih nyaman dan fokus.

“Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan adzab itu.” (QS. Az-Zumar: 15-16)

Inilah alasan kenapa sang ayah tak ingin keluarganya dalam kerugian. Berada dalam gumulan api yang menyala-nyala, berlapis-lapis di atas dan di bawahnya, sungguh kerugian yang nyata.

Telah diketahui sekarang, Allah berfirman, “Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatanginya (neraka).” (QS. Maryam: 71) Setiap kita, manusia, anak cucu Adam , telah menjadi ketetapan dari Allah Yang Maha Kuasa pasti akan mendatangi neraka itu. Qatadah menafsirkan kata ‘mendatangi’ dengan melewati.

Rasulullah bersabda, “Manusia pasti akan melewatinya sesuai dengan amalnya masing-masing.” Mereka yang beriman, menyakini dengan sepenuh hati, tulus takut (baca: bertakwa) pasti akan diselamatkan, sedang mereka yang durhaka, menyembah kepada selain Allah akan diseret di atas mukanya dan didorong ke dalam neraka, seburuk-buruknya tempat yang didatangi dengan paksa seperti binatang yang kehausan.

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا

“Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga.” (QS. Maryam: 86)

Allah mengumpulkan orang-orang durhaka pada hari kiamat dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Mereka dijadikan kayu bakar bagi neraka, setiap kali panas neraka itu menurun, ditambah lagi nyala apinya untuk mereka. Merasakan tamparan api neraka di wajah, dibolak-balikkan dalam kobaran api dan cairan tembaga disiramkan pada tubuh dan tidak dapat menyelamatkan diri darinya dan di antara air yang mendidih yang telah memuncak panasnya.

Apa belum ada juga yang bergetar takut dengan adzab Allah ini? Anak-anak dalam keluarga tadi tambah ketakutan ketika sang ayah melanjutkan pembahasan.

Neraka memiliki tujuh pintu yang bertingkat-tingkat yang terdiri dari Jahanam, Lazha, Al-Huthamah, As-Sa’ir, Saqar, Jahim, dan Al-Hawiyah. Abu Hurairah berkata, “Mereka yang dilempar ke dalam Jahanam pada Hari Kiamat, api membakar mereka. Tidak ada daging yang menempel pada tulang, kecuali akan terbakar dan binasa.”

Mereka terkurung dalam neraka tertutup rapat dengan api yang berwarna kemerah-merahan lebih hitam dari aspal, sedang mereka dibelenggu di tiang yang panjang melintang.

Panasnya neraka itu melontarkan bunga api laksana istana pencakar awan. Apinya merupakan salah satu bagian dari seratus macam neraka Jahanam, tiada yang masuk ke dalamnya melainkan orang-orang yang paling celaka, yakni generasi yang jahat, mengabaikan shalat, dan mengikuti syahwat, karena itu mereka akan menemui kebinasaan, dimasukkan ke dalam jurang neraka Jahanam yang sangat dalam dan baunya tidak sedap.

Pohon zaqqum yang tumbuh di lembah-lembah Jahanam menjadi hidangan. Pohon yang dijadikan sebagai siksaan yang memiliki mayang seperti kepala-kepala setan yang menakutkan. Kemudian sesudah mendapatkan makan buah zaqqum akan disediakan minuman dari air yang panas lagi mendidih yang harus diminum seperti minumnya unta yang kehausan. Duh, sungguh mengerikan.

“Maka bagi orang-orang yang kafir akan dibuatkan pakaian dari api (neraka).” (QS. Al-Hajj: 19).

Ketika membaca ayat ini Ibrahim At-Taimi berkata, “Mahasuci Allah yang menciptakan pakaian dari api neraka.” Bayangkan pakaian yang terbuat dari api neraka seperti apa, pakaian dari tembaga yang panas, yang tentunya membakar seluruh tubuh yang asalnya indah. Ini ancaman bagi mereka yang melanggar tuntunan Nabi dalam kitab shahih Bukhari yang diriwayatkan Abu Hurairah , “Pakaian yang panjangnya sampai di bawah dua mata kaki akan menarik seseorang ke dalam neraka.” Sendal di neraka pun terbuat dari api yang terbakar hingga mendidihkan otak, dan dipakaikan sendal ini seringan-ringannya adzab di Jahanam.

Kemudian Allah berfirman,

“Mereka mendapat alas tidur dari neraka Jahanam dan di atas mereka selimut api neraka. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-’Araf: 41)

Maksudnya seperti itulah kelak balasan bagi mereka yang zhalim dan melampaui batas, memperoleh tikar dan alas dari api neraka serta selimut api neraka. Lantas bagaimana mereka dapat tidur nyenyak? Mereka tidak mungkin mendapatkannya, mereka dikepung oleh api neraka dari segala penjuru, dari bawah, atas, samping kanan, kiri, depan dan belakang.

Tiba-tiba terdengar suara adzan Isya’, kajianpun dihentikan sejenak, sang ayah mengajak tiga anak laki-lakinya berangkat menuju masjid dekat rumah. Seusai menunaikan shalat Isya’ berjama’ah, keluarga tersebut melanjutkan kajiannya membahas tentang neraka. Mereka sangat takut sekali dengan apa yang disampaikan sang ayah.

Ketakutan Mereka

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan neraka, kemudian menciptakan penghuni bagi masing-masing keduanya. Kemudian Allah mengeluarkan keturunan Nabi Adam kemudian berfirman, ‘Aku meminta persaksian kepada mereka, ‘Bukankah Aku adalah Rabb kalian?’ Mereka berkata, ‘Benar.’ Kemudian Dia membalikkan mereka dan berfirman, ‘Mereka ini masuk surga dan mereka ini masuk neraka. Ahli surga mudah melakukan amalan ahli surga dan ahli neraka mudah melakukan amalan ahli neraka.’” (HR. Thabrani)

Kalau kita menengok kehidupan dan kondisi ulama salaf, maka kita akan mengetahui bahwa mereka sangat takut beramal amalan-amalan penghuni neraka, takut menjadi penghuni neraka yang akan merasakan siksaan neraka. Mereka sangat percaya, siapa yang Allah tetapkan masuk neraka maka masuklah ia ke dalamnya.

Adalah Umar bin Al-Khaththab berkata,

“Jika penyeru dari langit menyerukan, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan masuk surga, kecuali seorang saja. Tentu saya takut jika seorang itu adalah saya.”

Abu Nuh Al-Anshari berkata,

“Rumah Ali bin Husain terbakar saat ia sedang sujud, kemudian orang-orang memanggilnya, Wahai cucu Rasulullah, ada api. Ia tetap sujud dan tidak mengangkat kepalanya sampai api itu padam. Seseorang berkata kepadanya, Apa yang membuat engkau tidak menghiraukan rumahmu yang terbakar api? Ia menjawab, Api yang lain (api neraka).”

Yazid Ar-Ruqqasyi banyak menangis dan dikatakan kepadanya,

“Apabila api neraka benar-benar diciptakan untukmu, tentu kamu akan menangis lebih banyak lagi melebihi hal ini. Ia berkata, Bukankah api diciptakan untuk saya, sahabat-sahabat saya, jin dan manusia? Bacalah, ‘Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepada kalian hai manusia dan jin.’ (QS. Ar-Rahman: 31), dan “Kepada kalian (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kalian tidak dapat menyelamatkan diri daripadanya.”(QS. Ar-rahman: 35).”

Dari Atha’ Al-Khurasani ia berkata,

“Uwais Al-Qarni pernah berhenti pada dua tempat pengolahan besi, kemudian ia memperhatikan para pekerja, bagaimana mereka memanaskan besi sehingga meleleh. Ia juga mendengarkan suara api membakar besi itu, kemudian ia terdiam.”

Di antara ulama salaf ada yang apabila memikirkan neraka maka bergetar hatinya dan berubah keadaannya.

Dari Mahdi ia berkata,

“Sufyan Ats-Tsauri selalu tidur lebih awal dan terbangun pada malam harinya, kemudian ia menyeru, Ada api.. ada api.. saya sibuk memikirkan api neraka daripada tidur dan syahwat. Kemudian ia wudhu dan setelah itu berdoa, Ya Allah sesungguhnya Engkau lebih mengetahui kebutuhanku yang tidak diketahui orang lain. Saya hanya memohon kepada-Mu agar selamat dari api neraka.”

Malik bin Dinar berkata,

“Putri Rabi’ bin Khatsim berkata, Wahai ayah kenapa engkau tidak tidur di kala manusia sedang tidur? Ia berkata, Sesungguhnya neraka yang menyebabkan ayahmu ini tidak bisa tidur.”

Itulah beberapa riwayat yang menjelaskan keadaan para ulama salaf yang sangat takut kepada adzab neraka. Mereka memperbanyak ibadah kepada Allah , mereka terjaga di malam hari dan mereka berusaha mengekang nafsu syahwatnya.

Dan nampaknya malam pun semakin larut, melihat sayup mata anak-anaknya sang ayah mulai berinteraktif memberi kesempatan untuk bertanya, siapa yang ingin bertanya? Seorang anaknya sekilas tangkas mengacungkan tangan, “Boleh nggak orang yang takut masuk neraka tidurnya nyenyak?” namun ia terlihat begitu kantuk. Sang ayah tersenyum.

Lima Golongan dan Mayoritas Ahli Neraka

Dalam kitab shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Iyadh bin Himar bahwa Rasulullah bersabda di dalam khutbahnya,

“Ahli surga ada tiga golongan, yaitu para penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk keadilan dan kebenaran, seorang yang penyayang dan lembut hatinya kepada siapa saja, dan orang muslim yang yang bisa menjaga diri dari kemaksiatan. Sedangkan ahli neraka ada lima golongan, yaitu orang lemah yang tidak peduli dengan sesamanya, para pengkhianat, penipu yang memperdaya keluarga dan harta orang lain, kikir dan pendusta, serta orang yang berakhlak tercela.”

Dijelaskan oleh Rasulullah bahwa golongan pertama ahli neraka yakni orang lemah yang tidak mempunyai daya untuk menjaga dirinya dan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Adalah mereka tidak berusaha untuk melakukan amal-amal shalih dan amalan ketakwaan lainnya. Golongan ini merupakan golongan manusia yang paling jelek, karena mereka tidak mempunyai usaha untuk sukses di dunia dan akhirat, cita-citanya hanya seputar perut dan kemaluan.

Golongan kedua, para pengkhianat yang merusak persatuan umat dan menjadi penyebab kegagalan dalam sebuah perjuangan. Sebagian ulama salaf berkata,

“Kami membicarakan tentang penghuni neraka, di antaranya adalah pengkhianat yang tidak takut kepada Allah .”

Golongan ketiga, para penipu yang pekerjaannya siang dan malam memperdaya orang lain, keluarga dan hartanya. Penipu merupakan salah satu sifat munafik, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah karena karakternya adalah menampakkan kebaikan, padahal yang ada dalam benaknya dan apa yang direncanakannya adalah kejahatan. Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukanlah termasuk golongan kami, orang yang melakukan konspirasi dan tipu daya tempatnya adalah neraka.” (HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud)

Golongan keempat, pembohong dan orang yang bakhil. Keduanya merupakan embrio dari sifat tamak, yang berarti mengambil harta orang lain yang bukan haknya, sedangkan seorang yang bakhil berusaha menguasai harta miliknya secara berlebihan. Ibnu Mas’ud meriwayatkan,

“Sesungguhnya setan berkata, ‘Barangkali keturunan Adam akan mengalahkanku, tetapi aku akan mengalahkan mereka dengan tiga hal; membujuk mereka mengambil harta orang lain yang bukan haknya, atau menafkahkan harta bukan pada jalan yang benar, atau menguasai hartanya dan tidak mau menafkahkannya ke jalan Allah.’”

Dari sifat tamak pula, muncul sifat-sifat lain seperti pembohong, tipu daya dan mengharapkan sesuatu yang bukan haknya, sehingga ia ingin mendapatkannya dengan jalan yang haram. Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya kebohongan itu mendorong seseorang untuk berbuat dosa dan perbuatan dosa mendorong seseorang masuk neraka.” (HR. Bukhari)

Adapun golongan kelima ahli neraka adalah mereka yang berakhlak tercela, Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang pada Hari Kiamat di sisi Allah adalah siapa yang ditinggalkan oleh manusia lain (di dunia) karena mereka takut akan bahaya perbuatannya.” (HR. Bukhari)

“Oleh karena itu kamu harus senantiasa menjaga akhlak dengan baik, di saat sendiri maupun dalam keramaian. Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tersembunyi maupun yang nampak.” Papar sang ayah saat-saat mengakhiri halaqah malam itu. “Dan semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada keluarga kita yakni terhindar dari adzab neraka.”

Rasulullah juga menyebutkan dua golongan lainnya seperti dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ,

“Dua golongan ahli neraka yang tidak akan saya lihat yaitu, kaum yang membawa cambuk seperti cambuk sapi yang dipergunakan untuk mencambuk manusia, serta wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma surga dapat dicium seseorang dari jarak yang jauh.” (HR. Muslim)

Kemudian mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita, sebuah hadits dari Ibnu Abbas dari Nabi beliau bersabda,

“Saya menengok neraka dan saya melihat isinya kebanyakan adalah wanita.” (HR. Muslim)

“Dengan selalu menjaga sunnah-sunnah Rasulullah , seperti mengerjakan shalat tepat waktu, menambah shalat-shalat nafilah (yang disunnahkan), membaca doa berlindung dari adzab Jahanam setiap selesai membaca doa tasyahud akhir,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku ber-lindung kepada-Mu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Al-masih Dajjal.”

Berbuat baik kepada orang tua, mentaati suami. Membaca dzikir-dzikir sebelum tidur, seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi mengajarkan doa sebelum tidur,

“Ya Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan nabi yang Engkau utus.”

Insya Allah, kalian akan dijaga ketika tidur, sehingga cukup istirahatnya.” Nasihat sang ayah sebelum membaca doa kafaratul majelis sekaligus menjawab pertanyaan anak laki-lakinya yang cerdas tadi yang tampak telah bersandar pada pundak sang ibu tercinta.

Sampaikan Peringatan Ini..

Fenomena laknat-melaknat antara manusia akan terjadi di neraka, para penghuninya saling mendoakan serta berharap kepada Allah untuk menimpakan siksaan dan menambah siksaan tersebut. Mereka bertengkar, orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang sombong lagi kafir, “Sesungguhnya kami ini dahulu pengikut kalian.”

Allah selalu mengingatkan mereka untuk introspeksi sebelum masuk neraka itu, karena Dia tidak akan memasukkan hamba-Nya dengan zhalim. Dia adalah Dzat Yang Maha Adil atas segala hukum yang diberlakukan kepada hamba-Nya. Bahkan penghuni neraka mengakui bahwa mereka mendustakan para rasul dan tidak beriman kepada mereka dan kepada Allah . Merekalah yang telah menzhalimi diri mereka sendiri dengan mengikuti pemimpin-pemimpin yang kafir lagi enggan mengikuti petunjuk.

Kemudian para ahli neraka akan melihat orang-orang mukmin yang dahulunya mereka hina dan mereka cela berhasil mendapatkan ridha Allah dan selamat dari murka-Nya. Mereka telah mendapatkan kenikmatan yang tiada tara seraya berkata, “Kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kami kepada kami.” (QS. Al-’Araf: 44)

Jangan mau dihinakan oleh iblis laknatullah’alaihi, di neraka nanti iblis akan berkelit tidak ingin menanggung siksa atas apa yang telah dia serukan sewaktu di dunia, sebagaimana orang-orang yang kafir mengelak, “Sesungguhnya kita semua berada di neraka.” Dan memang,

“Orang-orang kafir yang pernah menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan yang semestinya, sebagai balasan atas pengrusakan yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 88)

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS. Fathir: 36)

“Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada adzab yang berat.” (QS. Ibrahim: 17)

Rasulullah bersabda,

“Sedangkan orang-orang yang betul-betul ahli neraka, mereka tidak mati dan tidak hidup, mereka mendapatkan siksaan di neraka karena dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, Nasa’i)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 56)

Hilangnya kasih sayang sesama mereka di dunia,

“Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, dan istrinya atau saudaranya, dan sanak keluarganya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi selu-ruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al-Ma’arij: 11-18)

Maka berbahagialah manusia yang menyambut seruan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahriim: 6)

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa: 214-215)

Mereka yang membersihkan diri, menyucikan hati serta mejernihkannya dengan pendekatan Ilahiyah dalam rangka meningkatkan takwa, akan bisa merenungkan ini sebagai peringatan dan menjadikannya tuntunan hidup di dunia yang fana lagi sementara. Sampaikanlah kepada orang di dekat Anda, bahwa kita akan mendatanginya.

Wallahu’alam

(bacagerimis.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: