Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘persiapan puasa ramadhan’

Hikmah Dilarangnya Puasa Mukadimah Ramadhan, Tentang Yaumu Syak, serta Permasalahan Ru’yatul Hilal dan Hisab

III. Hikmah Dilarangnya Puasa Mukadimah Ramadhan, Tentang Yaumu Syak, serta Permasalahan  Ru’yatul Hilal dan Hisab

Pada tulisan sebelumnya pada Seri Persiapan Menyambut Ramadhan telah dibahas tentang permasalahan puasa Sya’ban, hukum mengkhususkan nishfu Sya’ban dengan puasa dan menyambut Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari.

Pada kali ini akan dibahas hikmah dilarangnya puasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan. Para ulama menjelaskan ada beberapa hikmah, diantaranya:

  1. Memperkuat diri/badan dengan berbuka untuk puasa Ramadhan supaya ketika masuk bulan Ramadhan dalam keadaan kuat dan semangat untuk berpuasa.
  2. Dikhawatirkan tercampurnya antara puasa yang sunah dengan puasa yang wajib dikarenakan tidak ada pemisah.
  3. Untuk kehati-hatian

Sekali lagi apapun hikmahnya atu apapun alasannya, yang jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam telah melarang kita untuk melakukan puasa mukadimah Ramadhan sehari atau dua hari. Kita diwajibkan untuk meninggalkan apa-apa yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam baik diketahui maupun tidak diketahui hikmahnya.

Pembahasan yang terakhir mengenai permasalahan-permasalahan sebelum Ramadhan adalah permasalahan shiyam yaumu syak (puasa pada hari-hari yang meragukan). Yanng dimaksud dengan hari meragukan disini adalah pada tanggal 29 Sya’ban dimana waktunya orang-orang untuk ru’yatul hilal tetapi terhalangi oleh mendung,  awan, asap atau yang semisalnya sehingga apakah keesokan harinya puasa atau tidak.

Tentang permasalahan ini terdapat khilaf di antara para ulama. Ada beberapa pendapat dikalangan para ulama, yaitu:

  • Jumhur ulama berpendapat hukumnya haram berpuasa pada hari itu. Mereka berhujah dengan hadis dari Ammar ibnu Yasir Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Bukhari dan disambung sanadnya oleh Al Khamsah serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم

Ammar Ibnu Yasir Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa shaum pada hari yang meragukan, maka ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad) Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam[1]

Mereka juga berhujah dengan hadis Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

َوَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ:   ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ:( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا  لَهُ  ثَلَاثِينَ ). وَلِلْبُخَارِيِّ: ( فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

“Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian melihatnya (hilal) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (hilal) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari.” Menurut riwayat Bukhari: “Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari.” [2]

Keadaan dimana pada malam 29 Sya’ban hilal tidak terlihat dikarenakan mendung, awan, asap, atau yang semisalnya sehingga menggenapkan atau menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari disebut dengan istilah ikmal.

  • Pendapat yang kedua yaitu pendapat yang mashur dari Iman Ahmad Rahimahullah, beliau berpendapat wajib berpuasa ketika itu dengan keyakinan telah masuk Ramadhan. Beliau juga berhujah dengan hadis Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu di atas dengan lafadz

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

”Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah ”,

Menurut beliau makna “faqduruulah” adalah ”persempitlah” yakni mempersempit bulan Sya’ban cukup dengan 29 hari saja dan keesokan harinya sudah memasuki bulan Ramadhan. Beliau juga berhujah dengan perbuatan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu dan sebagian sahabat yang lain.

  • Pendapat yang ketiga adalah kalau keadaanya mendung  maka dikembalikan kepada keputusan penguasa atau pemerintah dalam hal puasa dan hari raya.

Dari ketiga pendapat  tersebut, pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa haram berpuasa pada yaumu syak. Adapun argumentasi yang dibawakan oleh pendapat yang kedua ini dijelaskan dalam riwayat-riwayat yang lainnya, bahwa pengertian ”faqduruulah” ialah dikira-kirakan dalam sisi hisabnya atau hitungan bilangan Syaban yakni digenapkan menjadi 30 hari. Hal ini dijelaskan dengan riwayat yang sama dari hadis Abdullah bin Umar  Radhiyallahu ‘anhu dan juga dikuatkan dengan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

َوَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ )

Menurut riwayatnya dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu: “Maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban 30 hari.”[3]

Adapun yang meraka nukil dari perbuatan sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhuma maka jawabannya ialah mengikuti kaidah bahwa yang dianggap atau yang dijadikan pegangan ialah apa yang diriwayatkan oleh sahabat tadi bukan pendapat sahabat tadi, sebab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan hadis dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan makna pendapat jumhur ulama, sedangkan pendapat beliau sendiri pendapatnya tidak sesuai dengan riwayat yang beliau bawakan.

Pendapat jumhur ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, SyaikhulIslam Ibnu Qayim Al Jauziyah rahimahullah, Al Imam Ibnu Abdil Hadi Rahimahullah, Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah, Al Imam As Shon’ani Rahimahullah, Al Imam As Syaukani Rahimahullah,  dan lain-lainnya dari kalangan ulama kaum muslimin.

SEPUTAR RU’YATUL HILAL DAN HISAB

Kalau kita lihat di sini tidak ada satu pendapat pun dari pendapat-pendapat yang dsebutkan tadi yang mengatakan kalau terjadi mendung maka dilakukan hisab. Tidak ada satu ulama pun yang menoleh atau membicarakan masalah hisab dalam hal ini melainkan tiga pendapat di atas.

Disyariatkan untuk melihat hilal (bulan sabit) untuk menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Ini adalah salah satu prinsip kaum muslimin, salah satu prinsip agama Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini didasarkan dengan ayat Allah Subhanahu wata’ala ,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

”Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” [QS. Al Baqarah (2) : 189]

Juga berdasarkan hadis-hadis shahih, di antaranya,

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata:Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (HR. Muslim no. 1808 )

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi (Abul Qasim) bersabda, ‘Berpuasalah bila kamu melihatnya (hilal tanggal satu Ramadhan), dan berbukalah bila kamu melihatnya (hilal tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari.'” (HR. Bukhari no. 924)

Dari ayat dan hadis-hadis tersebut sangat jelaslah bahwa penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal dikaitkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ru’yatul hilal (melihat hilal/bulan sabit). Hal ini tidak hanya disabdakan tetapi juga dipraktikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Abu Dawud, Hakim, dan Ibnu Majah dengan sanad shahih dari Abdullah Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengkisahkan,

َ وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat hilal, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.[4]

Juga hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu,

َوَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: (إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا”)  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ إِرْسَالَهُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang Arab Badui menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu berkata: “Sungguh aku telah melihat hilal”. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Ia berkata: “Ya”. Beliau bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah?” Ia menjawab: “Ya”. Beliau bersabda: “Umumkanlah pada orang-orang wahai Bilal, agar besok mereka shaum.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, sedang An Nasa’i menilainya mursal.

Inilah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga diamalkan oleh para sahabat, padahal pada waku itu ilmu perbintangan/ilmu nujun/ilmu falak sangat mashur. Mereka sangat terbiasa menggunakan bintang untuk menunjuk arah termasuk arah kiblat dan yang semisalnya. Namun hal ini (penggunaah ilmu nujum/ilmu hisab) tidak ditoleh sama sekali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi beliau menggunakan cara ru’yatul hilal. Hal ini menunjukkan suatu ketetapan baku dari sunnah (red-perbuatan Rosulullah bukan hukumnya sunah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa untuk penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal menggunakan cara ru’yatul hilal bukan hisab.

Begitu juga dengan para ulama,  meraka menyatakan larangan untuk menggunakan hisab dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Diantaranya yang dikatakan oleh Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah dalam Kitab Fathul Baari. Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah berkomentar tentang hisab, beliau mengatakan,

”Madzhabnya ahli nujum atau ahli hisab ialah madzhab yang bathil. Syariat islam telah melarang kita untuk berjalan-jalan dalam mempelajari ilmu nujum (ilmu perbintangan)  sebab yang namanya ilmu nujum itu hanyalah praduga (prakiraan) dan tidak ada kepastian di dalamnya.”

Ilmu nujum adalah ilmu yang berdasarkan prasangka atau perkiraan saja di mana tidak ada kepastian di dalamnya. Islam telah melarang kaum muslimin untuk beragama seperti ini sehingga Al Imam Ibnu Badzizah Rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah madzhab yang bathil.

Al Imam Ibnu Daqiq al-‘Id Rahimahullah, seorang ulama besar dari Mesir pada jamannya, beliau mengatakan bahwa hisab tidak boleh menjadi pegangan dalam urusan puasa. Beliau juga mengatakan bahwa mengganggap hisab dalam puasa Ramadhan atau Idul Fitri berarti mengada-adakan syariat baru yang tidak diijinkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Begitu juga dengan imam madzhab yang empat juga kesemuanya menggunakan ru’yatul hilal. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik dan Imam Syafi’i Rahimakumullah semuanya sepakat penggunaan metode ru’yatul hilal dan menolak penggunaan metode hisab dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, yang berada di Saudi Arabia yang dipimpin oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah, mengeluarkan fatwa ketika ditanya tentang masalah hisab. Setelah menjabarkan panjang lebar, pada kesimpulannya mereka mengatakan bahwa merujuk kepada ilmu nujum di dalam menetapkan bulan-bulan hijriah, di dalam menetapkan awal atau akhir ibadah dengan tanpa mengamalkan ru’yatul hilal merupakan kebidahan yang tidak ada kebaikannya sama sekali dan tidak ada sandaran syariatnya sama sekali”.

Syaikh Ibnu Hutsaimin Rahimahullah, Syaikh Al Albani Rahimahullah dan ulama-ulama besar lainnya sekarang ini juga mengatakan dan memfatwakan hal yang sama. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bolehnya menggunakan hisab.

Apa hukumnya menggunakan teropong ketika Ru’yatul hilal?

Untuk masalah ini Lajnah Daimah, juga fatwa Syaikh Ibnu Hutsaimin Rahimahullah mengatakan bahwa menggunakan teropong untuk memperjelas hilal diperbolehkan, akan tetapi tidak wajib sebab dhohir hadis tentang masalah hilal itu dengan mata kepala. Namun kalau menggunakan teropong supaya lebih jelas, maka tidak mengapa karena tidak melanggar. Hal ini termasuk dalam kaidah besar para ulama yaitu bahwa yang namanya wasilah (media atau perantara) tidaklah mengapa.

Wallahu ’alam bishawab

Referensi:

-          Kajian Ramadhan Ust. Muhammad Afif

-          Bulughul Maram

Materi ini bisa di download di sini


[1] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 670.  Hadits mu’allaq riwayat Bukhari, Imam Lima menilainya maushul, sedang Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menilainya hadits shahih.

[2] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 671

[3] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 672

[4] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 673

[5] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 674

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat hilal, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.[1]


[1] Bulughul Maram, Kitab Shiyam hadis no. 673

Persiapan, Pengertian, dan Wajibnya Puasa Ramadhan

Tidak terasa puasa tinggal kurang dari dua bulan atau kira-kira satu bulan setengah lagi. Oleh karena itu marilah kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah dengan mengkaji ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Puasa Ramadhan. Agar amalan kita menjadi ihsan maka sudah seharusnya memegang prinsip berilmu sebelum beramal, karena dengan ilmu maka amalan kita akan sesuai dengan tuntunan atau yang di ajarkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Sehingga kita tidak melaksanakan apa-apa yang Allah dan Rasululullah perintahkan melainkan melaksanakannya di atas hidayah dan petunjuk. Dan ini merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk tidak melaksanakan apa-apa yang ada pada syariat agama kecuali dengan ilmu, petunjuk, dan tidak serampangan dalam mengamalkan agama Allah Subhanahu wata’ala, sebab apabila seseorang beramal tidak bersumber pada sumber yang jelas yaitu Al Quran dan As Sunnah maka akan didapati perselisihan-perselisihan diantaranya.

Misalkan ketika menjalankan shalat, ada yang menjalankan shalat berdasarkan perasaan-perasaanya yang dia menyangka bahwa shalatnya sudah benar. Atau ada juga orang yang shalat dengan melihat bagaimana tata cara orang tua mereka dalam menjalankan shalat, ada juga yang melihat bagaimana orang-orang di masjid dalam menjalankan shalat. Apakah semua di antara mereka yang mengerjakan shalat berdasarkan ayat-ayat Al Quran dan As Sunnah? Kita ingat hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah tatkala ada seseorang yang masuk ke dalam masjid Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pada waktu itu Nabi Shallallahu alaihi wassalam ada di dalam masjid tersebut. Orang itu kemudian shalat dan setelah selesai shalat orang tersebut mendatangi dan mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam, kemudian Nabi Shallallahu alaihi wassalam pun menjawab salamnya. Kemudian beliau Shallallahu alaihi wassalam pun berkata kepada orang tersebut ”Kembali kamu shalat lagi, karena tadi kamu belum shalat”, kemudian orang tersebut shalat lagi dan setelah itu orang tersebut mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wassalam, Nabi pun berkata dengan perkataan yang sama ”Kembali kamu shalat lagi, karena tadi kamu belum shalat” dan hal ini berulang sampai tiga kali orang tersebut shalat. Kemudian sahabat tersebut pun bertanya, ”Ya Rasulullah saya tidak bisa lagi lebih baik dalam melaksanakan shalat kecuali apa yang telah aku kerjakan tadi.” Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengajarkan kepadanya bagaimana tata cara pelaksanaan shalat berdasarkan contoh sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ajarkan. Berdasarkan hadis ini maka jelaslah tidak setiap yang mereka laksanakan dalam shalat itu benar, tetapi yang benar adalah bagaimana shalat dengan meniru bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ajarkan. Demikian juga dengan ibadah-ibadah yang lain, salah satunya adalah ibadah Puasa Ramadhan.

Hendaknya kita sebagai seorang muslim menyandarkan diri kepada ilmu sehingga kita mengamalkan agama Allah Subhanahu wata’ala di atas petunjuk yang benar. Benarlah apa yang dikatakan oleh Al Imam Al Bukari Rahimullah ketika beliau mengatakan dalam shahihnya,

Al ilmu qablal qauli wal amal

”Ilmu itu harus didahulukan sebelum berkata dan berbuat”

Jangan seseorang mengucapkan sesuatu kecuali dia mengucapkannya dengan ilmu dan jangan mencoba-coba untuk berbuat sesuatu dalam agama Allah Subhanahu wataala kecuali mengamalkannya dengan ilmu.

Dalam mengamalkan ibadah setiap muslim diharuskan dan diwajibkan untuk menuntuk ilmu, memahami dan mengamalkan apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadis Anas bin Malik dan juga datang dari riwayat-riwayat lain bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengatakan yang artinya

”Menuntut ilmu adalah wajib bagi muslim dan muslimah.”

Termasuk yang wajib kita mengerti tentang ilmunya yaitu hukum-hukum mengenai ibadah puasa bulan Ramadhan yang insya Allah sebentar lagi akan kita jumpai. Sehingga jika telah datang maka kita tidak dibingungkan dengan bertanya-tanya apa hukumnya ini dan apa hukumnya itu.

Pengertian Puasa Ramadhan

Menurut bahasa ”Puasa” atau ”As Shaum” berarti menahan diri. Secara syariat yang dimaksud dengan ”Puasa”  atau ”As Shaum” adalah beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan maupun merusak puasa mulai dari terbit fajar(fajar shadiq) sampai dengan tenggelamnya matahari dengan persyaratan-persyaratan yang khusus.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun islam yang wajib ditegakkan oleh kaum muslim yang telah baligh. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam,

(( اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً ))

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Alloh dan Muhammad adalah rosul-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, shoum di bulan Romadhon dan pergi haji jika engkau mampu (mela-kukan perjalanan).” (HR. Muslim No. 8, Abu Dawud No. 4695, Tirmidzi No. 2610, Ibnu Majah No. 63 dan Nasa’i  No. 5005)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”[QS. Al Baqarah 183]

Jadi puasa ini telah diwajibkan atas umat-umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam , hanya saja berbeda tentang tata caranya.

Sampai sini dulu tulisan perdana mengenai Puasa Bulan Ramadhan dan insya Allah nanti akan dilanjutkan mengenai materi-materi lain berkaitan dengan persiapan dalam rangka menyamput bulan suci Ramadhan.

Materi ini bisa didownload di sini

Lihat juga tulisan lain pada “Seri Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Daftar Pustaka:

-          Al Quran dan Terjemahnya

-          Syaikh Salem Al-‘Ajmi. “Ash-Shiyamu… Su’alun wa Jawab”. 2006.
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Soal-Jawab Seputar Masalah Puasa oleh” oleh Ahmad Sufyan Hadi.

-          Rekaman Kajian Ramadhan dari darussunah.com

Awan Tag