Menghidupkan Sunnah, Menebar Hidayah

Posts tagged ‘allah ada di mana’

Dimana Allah (2)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan tanggapan terhadap tulisan saya sebelumnya. Tanggapan-tanggapan tersebut menjadikan saya lebih berhasrat untuk mencari ilmu tentang hal ini.

Sampai saat ini paling tidak, ada beberapa tanggapan terhadap tulisan saya. Di antaranya ada memberi nasihat supaya saya berhati-hati dalam mengkaji terutama untuk masalah tauhid dan akidah, jazakumullah khairan atas nasehatnya. Ya, saya sependapat bahwa kita harus hati-hati dalam mengkaji, tidak hanya untuk masalah tauhid dan akidah saja tetapi untuk setiap masalah. Kita tidak boleh serta merta menerima dengan mentah apa yang kita perol eh dari orang (guru, ustad, kyai, bahkan buku atau kitab). Kita harus mengkaji apakah hal tersebut sesuai dengan ajaran Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam atau tidak. Karena dengan berpegang dengan apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam (Al Quran dan Al Hadis) kita tidak akan tersesat selamanya, sebagaimana sabda Beliau Shalallahu ’alaihi wassalam,

(( تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ ))

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang tidak akan sesat kalian selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Kitabulloh (al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

Dan bahwasanya agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. [QS. Al Maa’idah (5): 3]

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)” [QS. An Nisaa’ (4) : 59]

Dari tulisan tersebut terdapat tanggapan dari teman-teman, diantaranya

  1. Kalo Allah di langit, sebelum ada langit Allah di mana yah?
  2. Langit itu lebih “besar” dari Allah ya, kok bisa “menampung” Allah?
  3. Allah Subhānahu wa Ta’ālā  brsifat “Qiyamuhu Binafsihi” yang berarti Allah Subhānahu wa Ta’ālā  berdiri sendiri, dalam arti tidak membutuhkan makhlukNya, baik makhluk bernama “waktu” maupun makhluk bernama “ruang”. Bukankah langit itu merupakan ruang ciptaan Allah SWT?

Selain pertanyaan tersebut, seorang yang memberi nasehat tersebut di atas juga memberikan tulisan yang mengatakan bahwa Allah Subhānahu wa Ta’ālā  itu ada tanpa tempat. Ketika saya baca tulisan tersebut, saya tidak mendapati pada pembahasannya dalil Al Qur’an maupun Hadits yang jelas yang menguatkan pendapat tersebut. Justru penjelasan yang diungkapkan adalah dengan mempertentangkan ayat-ayat Al Quran dan Al  Hadits dengan menggunakan logika untuk menolak bahwa Allah beristiwa di arsy. Ayat-ayat Al Qur’an berkenaan dengan istiwa dan arsy dipertentangkan dengan sebuah hadits yang mengatakan bahwa Allah Subhānahu wa Ta’ālā turun ke langit yg terendah saat sepertiga malam terakhir.

Tulisan tersebut menolak pendapat bahwa Allah bersemayam di arsy karena menurutnya hal itu berarti menyamakan dengan makhluk. Kemudian pada penjelasannya kurang lebih isinya sbb:

”Bahwa yang namanya malam terus bergulir tidak pernah terputus hanya saja belahan buminya yang berubah. Karena Allah turun ke langit terendah pada sepertiga malam terakhir, jadi Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg terendah, sehingga hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan hadits tersbut, yang berarti Allah itu tetap di langit yg terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yg terendah.”

Penjelasan tersebut dimaksudkan untuk menolak bahwa Allah beristiwa di arsy karena menurutnya hal itu berarti Allah membutuhkan ruang (makhluk). Menurut saya,  pejelasan tersebut (yang menggunakan akal) justru yang kemudian membatasi kekuasaan Allah, dimana dalam penjelasan tersebut Allah terjebak dalam ruang dan waktu (langit dan malam).

Sesunguhnya ilmu manusia ini terbatas (sebatas yang pernah kita lihat atau dengar) dan ilmu Allah itu maha luas meliputi seluruh makhluknya, sehingga jika kita menggunakan akal/logika, kita tidak akan sampai pada bagaimana hakikat-Nya. Oleh karena itu, untuk menjelaskan hal ini kita harus berpegang pada keterangan-keterangan yang Allah informasikan kepada kita baik dalam Al Quran maupun Al Hadis.

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً

”Katakanlah: ’Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’”. [QS. Al Kahfi (18) : 109]

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْماً

”Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” [QS Thaahaa (20) : 110]

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. [QS. Al Baqarah (2) : 255]

Pada ”Tafsir Ibnu Katsir”, Ibnu Katsir rahimullah menjelaskan ayat tersebut [QS. Al Baqarah (2) : 255], firmanNya Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka”, beliau rahimullah mengatakan bahwa yang demikian itu sebagai bukti yang menunjukkan bahwa ilmu-Nya meliputi segala yang ada, baik yang lalu, kini, dan yang akan datang.  Selanjutnya penggalan ayat,  ”Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”.  Ibnu Katsir rahimullah mengartikan seperti berikut: Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sedikit pun dari ilmu Allah kecuali yang telah diajarkan dan diberitahukan oleh Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Manusia tidak akan dapat mengetahui sedikit pun ilmu Allah, Dzat dan sifat-Nya melainkan apa yang telah Allah perlihatkan kepadanya. Hal itu seperti firmanNya dalam QS. Thaha ayat 110 di atas, ”ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.

Jadi sudah sepatutnya akal/rasio/logika tidaklah didahulukan daripada syariat, karena syariat berasal dari Allah Subhānahu wa Ta’ālā dan rasul-Nya bahkan rasio diletakkan pada bagian paling belakang.

Dalam kitab ”Ringkasan Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyah” versi bahasa Indonesia hal 59 diterangkan bahwa Allah Subhānahu wa Ta’ālā disifati dengan sifat yang Dia Subhānahu wa Ta’ālā  tetapkan bagi diri-Nya maupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapkan bagi Allah Subhānahu wa Ta’ālā , tanpa melakukan tahrif [1](mengubah) atau ta’thil [2](menghilangkan maknanya), serta tanpa takyif [3](menggambarkan) ataupun tamtsil (menyamakannya dengan makhluk). Dan juga menafikan adanya kesamaan antara Allah Subhānahu wa Ta’ālā dengan makhluk.

Ibnu Katsir rahimullah juga mengatakan dalam ”Tafsir Ibnu Katsir” ketika menjelaskan surat Al Baqarah ayat 255, beliau mengatakan

”Jalan terbaik dalam memahami ayat-ayat di atas berikut maknanya yang terkandung dalam beberapa hadits shahih adalah dengan metode yang digunakan para ulama Salafus Shaleh; Mereka memahami makna ayat-ayat tersebut (sebagaimana arti bahasa yang digunakan dalam ayat-ayat atau hadits itu,-pent) tanpa takyif (menanyakan kaifiatnya/hakekatnya) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk) .”

Di dalam ”Ringkasan Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyah” hal 62 disebutkan ada dua jenis ucapan:

  1. Apa yang dinashkan oleh Al Quran dan As-Sunnah, maka wajib atas setiap muslim untuk membenarkannya.
  2. Apa yang tidak mempunyai dasar dari nash maupun ijma’, maka tidak wajib untuk diterima dan tidak pula dibantah sampai diketahui maknanya.

Kaidah penting dalam manhaj Ahlus Sunnah wal jama’ah yang dicetus-kan oleh Imam Malik rahimahullah mengenai hal ini adalah:

اَلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“al-Istiwa (bersemayamnya Allah) dapat dipahami artinya, hakikat (ke-bagaimana-annya) tidak diketahui, mengimaninya wajib dan bertanya tentang hakikatnya adalah bid’ah.”

Jadi arti dari sifat-sifat sangatlah jelas, adapun hakikatnya, maka tidak kita ketahui (karena Allah Subhānahu wa Ta’ālā tidak menjelaskannya kepada kita). Menentukan hakikat sifat-Nya berdasarkan khayalan manusia, atau hasil pemikiran akal manusia, adalah takyif. Jangankan menentukan hakikatnya, menanyakan bagaimana hakikatnya saja sudah termasuk bid’ah.

Pertanyaan yang sudah saya sebutkan di atas, pada dasarnya pertanyaan yang datangnya dari akal manusia yang terbatas yang mencoba menanyakan kebagaimanaanya . Pada dasarnya akal ini tidak dapat mengungkap hal-hal ghaib kecuali yang Allah Subhānahu wa Ta’ālā kabarkan kepada kita. Mungkin ketika kita disodorkan pertanyaan tersebut, otak atau akal kita akan spontan bereaksi, namun demikian saya tidak akan menjawab pertanyaan tersebut dengan logika akal oleh karena keterbatasan akal ini. Coba perhatikan perkataan Asy-Syaikh Abul Fadhl Al-Hamdani kepada orang yang mengingkari istiwa, yang terdapat dalam kitab ”Ringkasan Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyah” hal. 76.

”Sesungguhnya istiwa’ itu diketahui dengan nash.  Andaikata tidak ada nash yang mengatakannya, tentu kita pun tidak mengetahuinya.”

Di dalam Kitab ”Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah” versi bahasa Indonesia hal 51 dijelaskan bahwa tidak ada yang mengetahui Bagaimana Dzat Allah kecuali Dia sendiri. Iman At-Thohawi berkata: ”Tidak dapat digapai oleh pikiran, tak juga dicapai oleh pemahaman”.

Maksundya adalah bahwa Dzat-Nya tidak dapat dicapai oleh pikiran/sangkaan dan tidak dapat dikuasai oleh pemahaman/pengetahuan. Arti pikiran adalah apa yang diharapkan keberadaannya, maksudnya adalah diperkirakan Dia memiliki kriteria begini. Arti pemahaman adalah apa yang diproses melalui akal dan diliputinya.  Sedangkan yang mengetahui bagaimana Allah, hanyalah diri-Nya sendiri. Kita hanya bisa mengenal Allah melalui sifat-sifat yang diberitakan-Nya.

Lebih lanjut dalam ” Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah” hal 114 diterangkan bahwa adapun ungkapan bagian, anggota dan perangkat tubuh, itu sering dipolitisir oleh kaum yang menolak sifat untuk menafikan sebagian sifat Allah yang telah ditetapkan dengan dalil-dalil yang pasti (qath’i); seperti wajah dan telapak tangan. Abu Hanifah menyatakan dalam ”Al-Fiqhu Al-Akbar”: ”Dia memiliki tangan, wajah, dan jiwa. Semua itu merupakan kriteria yang tidak diketahui bagaimananya. Tidak bisa dikatakan bahwa tangan-Nya berarti kekuasaan dan kenikmatan dari-Nya, karena itu mengandung pembatalan sifat Allah”.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ

”Allah berfirman: ’Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?’”.[QS. Shaad (38) : 75]

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

”Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. [Qs. Az Zumar (39) : 67]

Apakah Allah Subhānahu wa Ta’ālā membutuhkan makhluk yang bernama arsy atau ”langit”?

Untuk menjawab hal tersebut, berikut saya kutipkan dari Kitab ” Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah” hal 129.

Iman At-Thahawi barkata: ”Dia tidak membutuhkan ’Arsy-Nya itu dan apa yang ada di bawahnya. Dia menguasai segala sesuatu dan apa-apa yang ada di atasnya. Dan Dia tak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk menguasai segala sesuatu.

Sebagai mana firman Allah:

وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

”Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. [QS. Al Ankabut (29) : 6]

“Allah mencipatkan arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Dia membutuhkan arsy itu. Tetapi Allah memiliki kebijakan tersendiri yang mengharuskan hal itu. Apabila sesuatu yang tinggi berada di atas sesuatu yang lain yang lebih rendah, itu tidak harus berarti yang rendah itu meliputi, menguasai dan membawa yang tinggi. Juga tidak harus berarti bahwa yang tinggi itu membutuhkan yang rendah.”


Wallahu ’alam bishawab,

Referensi:

  • Al Qur’an dan Terjemahnya
  • Ringkasan Minhajus Sunnah IBNU TAIMIYAH” disusun oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan
  • ”Tafsir Ibnu Katsir” dengan judul asli ”Lubaahut Tafsiir Min Ibni Katsiir ”, pentahqiq Dr. ’Abdullah bin Muhammad bin ’Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh,
    penerjemah M. Abdul Ghoffar E.M
  • ”Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah” versi bahasa Indonesia, disusun oleh Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi, diterjemahkan oleh Abu Umar Basyir Al-Medani

[1] Tahrif, artinya pengubahan arti dari sifat-sifat Allah Subhānahu wa Ta’ālā, baik dengan merubah huruf-hurufnya atau menolak arti yang benar.

Seperti mengubah kata al-istiwa’ yang berarti bersemayam dengan kata al-istaula’ yang berarti menguasai. Biasanya penggantian seperti ini dilakukan oleh suatu golongan dengan alasan bahwa penggantian atau pengubahan itu adalah suatu keharusan, karena kalau tidak dirubah, maka akan terjadi tasybih (menyamakan dengan makhluk).

Pemahaman seperti ini ditolak oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan hujjah-hujjah sebagai berikut:

  1. Allah Subhānahu wa Ta’ālā lebih tahu dan lebih pandai menjelaskan tentang diri-Nya, dan tidak butuh kepada makhluk-Nya untuk meru-bah kata-katanya supaya menjadi lebih tepat.
  2. Seperti sudah dijelaskan, bahwa kesamaan lafadz sifat tidak berarti tasybih, sebab hakikat dari sifat-sifat itu berbeda antara satu dengan yang lainnya, menurut perbedaan zat si empunya sifat.
  3. Kalau benar bahwa tidak adanya pengubahan akan menghasilkan tasy-bih, bagaimana dengan kata-kata atau sifat-sifat yang baru yang dijadi-kan pengganti, tidakkah padanya juga akan terjaditasybih?

 

[2] Ta’thil, dalam bahasa Arab berarti meniadakan sesuatu atau meniada-kan fungsinya. Sedangkan secara istilah, ta’thil berarti menolak (meni-adakan) sebagian atau semua sifat-sifat Allah Subhānahu wa Ta’ālā atau mengosongkannya dari artinya. Hal ini dilakukan oleh beberapa golongan dikarenakan kekhawatiran mereka akan terjadinya tasybih. Sehingga mereka dengan berani keluar dari ketentuan-ketentuan yang telah digariskan al-Kitab dan as-Sunnah, dan keluar dari akal yang sehat.

 

[3] Takyif; berasal dari kata kaif, yang dalam bahasa Arab berarti bagai-mana”. Arti takyif dalam pembahasan ini adalah “penentuan ke-bagai-mana-an” hakikat sifat-sifat Allah Subhānahu wa Ta’ālā, seperti me-nentukan bagaimana hakikat yang sebenarnya dari wajah Allah, bagai-manakah Allah bersemayam di atas Arsy-Nya, bagaimanakah Allah mendengar dan melihat, dan lain sebagainya.

 

Dimana Allah

Barang kali banyak di antara kita termasuk saya pernah bertanya atau mungkin ditanya oleh seseorang bahwa sesungguhnya Allah SWT berada dimana? Dan barang kali juga banyak yang menganggap bahwa ini adalah masalah sepele. Oleh karena itu, sedikit ilmu yang ingin saya bagikan yang pernah saya dapat dari kajian, semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman semua.

Mungkin bagi yang bertanya-tanya tentang hal tersebut,  tulisan saya berikut ini bisa membantu mengobati rasa haus akan ilmu. Dan bagi seseorang yang ditanya atau pernah ditanya hendaklah menjawab pertanyaan tersebut dengan ilmu, bukan hanya berdasarkan perkiraan atau menebak-nebak saja karena agama islam ini bukan berdasarkan pikiran atau tebak-tebakan manusia melainkan bersumber dari Allah yang disampaikan melalui Rasulnya.

Bagaimankah hukum syariat terhadap pertanyaan ini? Jawaban-jawaban yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berada di setiap tempat atau ada dimana-mana merupakan jawaban yang batik. Jawaban yang sesuai dengan syariat adalah bahwa Allah berada di langit, di arsy, di atas semua makhluknya, dan ilmunya meliputi semua tempat sebagaimana yang di dukung dalam ayat-ayat Al Quran, hadits-hadits Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam dan ijma para ulama.

Dalam Al Quran, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

” Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” (QS. Al A’raaf ayat 54)

Istiwa atau bersemayam mempunyai makna tinggi dan naik di atas arsy dengan keagungan Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan mengenai bagaimana caranya tidak ada yang mengetahui kecuali Allah Subhanahu wata’ala.

Imam Malik rahimullah ketika ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab

”Yang namanya istiwa itu sudah dimaklumi, sedangkan caranya tidak diketahui. Beriman dengannya adalah wajib dan bertanya tentangya adalah bidah”.  Yang dimaksud beliau adalah bertanya bagaimana caranya.

Beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang menegaskan hal ini adalah

”…. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Mu’min ayat 12)

”…. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik[1249] dan amal yang saleh dinaikkan-Nya….”. (QS Faathir ayat 10)

” ….Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” . (QS Al Baqarah ayat 255)

” Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang  di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”.(QS. Al Mulk ayat 16-17)

Dengan demikian, perkataan-perkataan yang mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana atau di setiap tempat adalah sebatil-batik perkataan. Bahkan hal ini merupakan kekufuran terhadap dan pendustaan terhadap Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam karena Rasulullah pernah bersabda dalam hadits yang shahih

”Tidakkah kalian percaya kepadaku, padahal aku ini adalah amil, orang kepercayaan Dzat yang berada di langit”. Hadits ini terdapat dalam shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Demikian pula yang terdapat pada hadits-hadits yang menjelaskan seputar peristiwa isra dan miraj seta lainnya.

Jadi setela kita mengetahui permasalahan ini hendaknya ketika ditanya dengan pertanyaan ini hendaklah kita menjawab bahwa Allah swt berada di langit, sebagaimana jawaban seorang wanita ketika ditanya oleh Rasul shalallahu ’alaihi wassalam dan dia menjawab bahwa Allah berada di langit. Sedangkan bagi orang yang hanya mengatakan bahwa Allah itu ada, ini merupakan hanyalah jawab menghindar atau mengelak atau berkelit lidah saja. Bagi orang yang mengatakan bahwa Allah ada di setiap tempat dan ada dimana-mana jika yang dimaksud adalah Dzat Allah maka ini adalah kekufuran sebab merupakan pendustaan terhadap nash-nash yang menerangkan hal itu.

Wallahu ’alam bishawab

oleh muhamad ilyas

Referensi :

Kajian radio Fajri FM yang membahas Kumpulan Fatwa dan Risalah Syekh Ibnu Hutaimin Jus 1 halaman 132-133

Awan Tag